“Tokesan Ulu“ ludiomai dua kada yamo tokesan anna ulu, situru' pa'pikadanna tomatua unggaraga mesa benteng nangei sirari tomatua, tokesan ulu. Yatonna lino yolopao inde tomatua sipawali-wali dengan uka' to Mamasa anna Toraya sisae ma'bundu napaolan inde tokesan ulu,si nangei untoke' ulunna walinna, yamo kedengan omi napatei nabawa omi sae natoke' yao tanete. Napolan inde sidingei untoke' ulu disangai tokesan ulu, napolan inde tokesan ulu tama anna kaissanan tiku lao. Kumua inde tokesan sidigeiria untoke ulu lako to'pabarani,inde tomatua yoloee taek iya naissan dikuan marea'rea' lah umpatei tau lambi lanapoli ulunna, anna inde tomatua e tae'iya lao siala bu'dak ii sapo siangga simesai ii, aka'dengan uka' ade' sinapake kela umpatei omi walinna.
Inde tomatua yoloe sikabassi to Mamasa anna to Toraya, sola sisikabasi liupi ke saeii to Toraya sae inde Mamasa tokke dengan liupi unganjal penawanna susi tomi duka to to Toraya kedengan to Mamasa lao tama Toraya. Inde tomatua yoloe taek tongan dengan marea' rea lako walinna, anna mane inde tomatua yolo e e taek denga dukua ma' kada manappa. Tokke siumpongko tau lambi na alainni ulunna anna lao untoke langgab tanete dikuan tokesan ulu lambi sae lako temo digara dikuan pariwisata, yamo dengei unggara anggenan aja' situr sanganna.
“Puhang!”
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu para orang tua selalu berperang antar suku Mamasa dengan Toraja. Mereka berperang antarsuku dan setiap musuh yang kalah akan digantung kepalanya. Tokesan Ulu ini adalah tempat untuk menggantung kepala musuh. Para pendahulu pada saat pulang dari peperangang mereka menggantung kepala lawan di sebuah gunung dan gunung inilah dinamakan “Tokesan Ulu.” Setelah menggantung kepala-kepala lawan, para pendahulu membunyikan gendang sebagai tanda bahwa ada kepala yang digantung di bukit tersebut. Mereka akan merayakan kemenangan karena sudah puas setelah menggantung kepala musuh.
Tidak sampai di situ, para pendahulu ini belum puas. Selalu ada dendam antarsuku Mamasa dan Toraja. Setiap kali masyarakat Mamasa pergi ke Tana Toraja mereka selalu bermusuhan begitupun orang Toraja yang datang di Mamasa. Para orang tua dari Mamasa memiliki cara unik dalam menandai dan memilih target mereka. Mereka mencari orang-orang yang dianggap pemberani dan kaya, lalu merencanakan aksi pemenggalan kepala dengan cermat. Dengan keberanian yang luar biasa, mereka mampu melaksanakan aksi tersebut sendirian tanpa bantuan banyak orang. Keberanian dan kekuatan mereka menjadi legenda, namun begitu juga dengan kekejaman yang mereka lakukan.
Dalam dunia yang diwarnai oleh kekerasan dan dendam, para pejuang Mamasa tidak mengenal kata maaf. Bagi mereka, membalas dendam adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan kehormatan suku. Kepala-kepala yang digantung di Gunung Tokesan Ulu menjadi simbol dari keberanian dan kekejaman yang diwariskan turun-temurun.
Cerita tentang Tokesan Ulu ini menggambarkan betapa dalamnya kebencian dan dendam yang ada antara suku Mamasa dan Toraja. Di sisi lain, cerita ini juga menunjukkan keberanian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh para pejuang Mamasa. Gunung Tokesan Ulu, dengan kepala-kepala yang tergantung, menjadi saksi bisu dari sejarah kelam namun heroik dari suku Mamasa.
“Tamat!”
Diceritakan kembali oleh Yusuf
Tokesan Ulu
Full Story