Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA
Desa Battetangnga, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA

Jadi Mangondang itu harfiah na tae songgona ku paham kona bahasa Pattae Klasik, Mangondang dapat diartikan pemburu, na ondang I, na lolai. Jadi Mangondang itu putra asli Batetangnga, tepatnya di Kampung Rappoan. Mangondang itu adalah Kapala Matoa Kampung Rappoan. Iya te Mangondang lao I musuq (baca : musu") Balanda dao Bungin, dengan pos na Balanda dao Bungin pas pertigaan lao taman Rajang. Iya ke na saqding (baca : na sa"ding) I sanganna Mangondang, kirrangi bulu-bulunna Balanda, kona pimbuda mi lao musuq (Baca : musu") Balanda na tae na kulle sakai. Insiden terakhir na disakai Mangondang, ke tae na salah tahun 1927. Mangondang bersama laskarnya menyerang Pos Balanda di Bungin. Kona na pattuan I Kalena Mangondang, tae na paduli, hampir iya tu strategi tae mo na pake, kona den kelebihanna, tae I na kande peluru, kaqbangi (Baca: ka"bangi). jadi iya tu bala tangsina Balanda na tekai I, mane na goncing si mesa-mesa. Iya ke peluru biasa ra, tae I na bellu. Iya mora namasessa, pelurunna mora meriam kanna I, pas ato panggena nan a kanna. Remuk, tipa"reba I sekian ratus meter, tipaqreba I (Baca : tipa"reba I) lako Galung. Taera den kojong, tapi lannyaq I (baca : lannya" I) buku. Lalan siapi nyawana batang kalena. Akhirnya kona taemo na kulle minono, kumesok mi lao taman allana boqbo (baca : bo"bo). Wattuna iya tudio o, maririmi pare, e lalammi kasiq (baca : kasi") tangngana galung. Na sea-na sea, lalammi tu dio maqdareke (baca: ma"dareke) na paten paqdiq (baca : pa"di"). Sae mi puangnga galung, na saqdingmi (Baca: sa"dingmi) "apa na den tau maqdareke (baca : ma"dareke)" na se mi pare, na kita den tau lalan. Nakua mo Mangondang "yaku kapala Kappung Rappoan, dau ta tulana purana musuq (Baca : musu") Balanda". Jadi na alami kasiqna na paqbiring (Baca : kasi" na pa"biring) nabawa lako Biring Salu Bungin, na kabuaran mi banua-banua nasingi, na paccing mi kalena. Iya te lettek lanynya mi bukunna. Nakuammi te paqgalung dau ta tulaqna le (baca : pa"galung dau ta tula"na le), tapi pasanan na batiqku (baca : bati"ku) dokko kua tuo sia pa, indenaq (baca : indena") te e, na sae I malana". Lattuk I kareba domain kona den siapa laskarna pira salamaq (Baca : salama"). E laomi diala langngan Bungin, diala bongi di bawa domain, di palalan I Rappoan. Sae I lalan, kan Balanda buda mata-matanna na issenan I kua salamaq (Baca : salama") I Mangondang. Na kuamo balanda musti mu lolongan I, musti musaka i tuo troika mate" trika bawai mai. Jadi kona den te ngena kareba kua di peang I mangondang na peang balanda, di bawami mangondang di buni lao langngan buttu pusuk. Tapi yah namanya balanda, na runtu I, di saka mane di bawa langngan bungin. Kona putus asami balanda, jadi di seo I dio oto jeep, mane di pabesoi oto di saremben, mappamula inde jambatan bungin dibeso sae langngan daerah data". Dio mi tudio di beso, di pasule-sule. Dia meninggal itu bukan karena cidera, mate" I kona tae mo nakulle bawa I tudio pa"dina. Na iya batang kale iyya taera mangapa, tae den kojong nga. "Cappu!" Terjemahan Bahasa Indonesia Secara harfiah mangondang merupakan Bahasa Pattae klasik, yang dapat diartikan pemburu, menargetkan, dan mengejar. Mangondang merupakan putra asli Batetangnga, tepatnya di kampung Rappoan. Mangondang saat itu adalah seorang kepala Matoa Kampung Rappoan. Adapun kisah perjuangan Mangondang, pada saat itu Mangondang melakukan penyerangan ke markas/pos Belanda yang ada di Bungin, tepatnya di Pertigaan menuju Rajang. Nama Mangondang begitu disegani dan sangat ditakuti oleh Belanda, sebab Mangondang telah banyak melakukan penyerangan dan banyak menimbulkan kerugian di terhadap pihak belanda, dan tidak sekali pun mampu menangkap Mangondang. Sampai pada insiden yang akhirnya membuat Mangondang tertangkap pada tahun 1927, saat itu mangondang bersama laskarnya kembali menyerang pos Belanda yang ada di Bungin. Karena mangondang dikenal dengan wataknya yang keras dan pemberani, Mangondang tidak lagi memperdulikan yang namanya strategi perang, hal ini dikarenakan Mangondang juga memiliki kelebihan, kulitnya tidak dapat ditembus peluru dan senjata apapun, dia kebal terhadap senjata. Saat itu Mangondang memanjat pagar Belanda, kemudian menggunting-gunting kawat berduri guna membukakan jalan bagi pasukannya agar dapat masuk menyergap ke Markas Belanda. Melihat itu, tentara Belanda kemudian menghujani Mangondang dengan ratusan peluru, karena kekebalannya terhadap senjata, hal itu tentunya tidak berkesan terhadap Mangondang. Pada akhirnya belanda kemudian menembakkan meriam ke arah Mangondang yang tepat mengenai pangkal pahanya. Akibat dari peluru meriam itu, mangondang terpental hingga ratusan meter ke persawahan, tulang pahanya remuk. Tidak ada luka pada kulit, akan tetapi tulangnya remuk, dan beliau masih hidup. Karena sudah tidak sanggup berjalan, Mangondang merangkak ke tengah tanaman padi yang saat itu sudah mulai menguning dan masuk masa panen. Di tengah tanaman padi Mangondang bersembunyi, karena tidak tahan dengan sakitnya, Mangondang menjerit kesakitan yang akhirnya didengar oleh warga lokal yang hendak menuju sawahnya. Orang itu kemudian mencari asal suara dan menemukan Mangondang dalam keadaan terluka. Mangondang kemudian berkata pada orang itu "sayalah kepala Kampung Rappoan, tolong sembunyikan saya, malam tadi saya melakukan penyerangan ke Markas Belanda" Akhirnya Mangondang dipapah dan dibawa ke tepian Sungai Bungin, dibuatkanlah gubuk sebagai tempat persembunyiannya. Mangondang kemudian membersihkan badannya yang dipenuhi lumpur, dan memeriksa bekas tembakan meriam yang membuat tulang kakinya remuk. Berkatalah Mangondang kepada orang yang menolongnya "tolong rahasiakan keberadaan saya dari Belanda, saya juga minta tolong, sampaikan ke kerabat dan sanak saudara saya yang ada di Rappoan bahwa saya masih hidup dan sedang terluka, agar mereka datang dan menjemput saya di sini". Akhirnya disampaikanlah pesan Mangondang ke Rappoan yang dibawa oleh lascar pasukannya yang selamat setelah penyerangan ke Markas Belanda. Mendengar kabar itu Masyarakat Rappoan kemudian berangkat ke Bungin untuk menjemput Mangondang, perjalanan itu dilakukan pada malam hari, Mangondang berhasil diselamatkan dan dibawa ke kediamannya di Kampung Rappoan. Karena pada saat itu belanda memiliki banyak mata-mata, kabar selamatnya Mangondang sampai kepada pihak tentara Belanda. Petinggi tentara Belanda kemudian memerintahkan bahwa Mangondang harus ditangkap dan dibawa kehadapannya bagaimanapun caranya, dalam keadaan hidup-hidup maupun dalam keadaan mati. Mengetahui kabar itu masyarakat Rappoan kemudian membawa Mangondang ke gunung tertinggi di Batetangnga (Buttu Pusuk) untuk disembunyikan dan menghindari Pasukan Belanda. Akan tetapi karena kelicikannya tentara Belanda mengetahui persembunyian Mangondang, yang membuat Mangondang akhirnya tertangkap dan dibawa ke Markas Militer Belanda yang ada di Bungin. Mangondang disiksa sedemikian rupa, pihak belanda frustasi sebab tidak ada satupun senjata yang mampu melukai Mangondang, akhirnya Mangondang diikat ada mobil jeep dan di seret sepanjang jalan, mulai dari jembatan bungin sampai ke daerah data. Tubuh Mangondang di seret mondar-mandir secara terus menerus, setelah sekian lama mengalami penyiksaan itu Mangondang sudah tidak mampu yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya, dalam keadaan tubuh yang tidak terluka sedikit pun. Menurut cerita Mangondang dimakamkan di Pekuburan Massal pada waktu itu di Bungin. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Abd. Rahman Matta

admin Baca