Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
✦ Sastra Lisan & Peradaban Maritim Sulawesi Barat ✦

Menjaga Denyut Kisah Leluhur di Samudra Kata

Dokumentasi terpadu naskah kuno, rekaman suara penutur asli, dan pemetaan spasial 113 legenda rakyat di 6 wilayah adat Mandar & Sulawesi Barat.

Bait Kalindaqdaq Mandar
/

113+ Kisah Terpelihara
6 Wilayah Adat
113 Titik Koordinat GPS
4+ Dokumentasi Media
Puccecang & Pullando
★ Koleksi Utama #1 Pusaka Digital Terverifikasi

Puccecang & Pullando

Kehidupan Dua Sahabat

Tomenjari Luyung
★ Koleksi Utama #2 Pusaka Digital Terverifikasi

Tomenjari Luyung

Ana' Towiu
★ Koleksi Utama #3 Pusaka Digital Terverifikasi

Ana' Towiu

Cerita Kehidupan Anak Yatim

Lembang Dehata
★ Koleksi Utama #4 Pusaka Digital Terverifikasi

Lembang Dehata

Arsip Tuturan Lisan Aktif

Dengarkan Pelafalan Dialek Asli & Irama Kisah Leluhur

Buka Studio Suara
Topografi Budaya

Pustaka 6 Wilayah Tradisi Luhur

Warisan Konfederasi Pitu Babana Binanga (Pesisir Bahari) dan Pitu Ulunna Salu (Pegunungan), menyimpan filosofi hidup dan legenda yang diwariskan turun-temurun.

Buka Seluruh Wilayah
Koleksi Utama

Mahakarya Cerita Pilihan

Hikayat legenda terverifikasi yang dilengkapi transkrip naskah, koordinat GPS, dan rekaman suara penutur.

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA
Desa Battetangnga, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar
Arsip Primadona
Sorotan Sastra Mandar Pilihan

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA

Jadi Mangondang itu harfiah na tae songgona ku paham kona bahasa Pattae Klasik, Mangondang dapat diartikan pemburu, na ondang I, na lolai. Jadi Mangondang itu putra asli Batetangnga, tepatnya di Kampung Rappoan. Mangondang itu adalah Kapala Matoa Kampung Rappoan. Iya te Mangondang lao I musuq (baca : musu") Balanda dao Bungin, dengan pos na Balanda dao Bungin pas pertigaan lao taman Rajang. Iya ke na saqding (baca : na sa"ding) I sanganna Mangondang, kirrangi bulu-bulunna Balanda, kona pimbuda mi lao musuq (Baca : musu") Balanda na tae na kulle sakai. Insiden terakhir na disakai Mangondang, ke tae na salah tahun 1927. Mangondang bersama laskarnya menyerang Pos Balanda di Bungin. Kona na pattuan I Kalena Mangondang, tae na paduli, hampir iya tu strategi tae mo na pake, kona den kelebihanna, tae I na kande peluru, kaqbangi (Baca: ka"bangi). jadi iya tu bala tangsina Balanda na tekai I, mane na goncing si mesa-mesa. Iya ke peluru biasa ra, tae I na bellu. Iya mora namasessa, pelurunna mora meriam kanna I, pas ato panggena nan a kanna. Remuk, tipa"reba I sekian ratus meter, tipaqreba I (Baca : tipa"reba I) lako Galung. Taera den kojong, tapi lannyaq I (baca : lannya" I) buku. Lalan siapi nyawana batang kalena. Akhirnya kona taemo na kulle minono, kumesok mi lao taman allana boqbo (baca : bo"bo). Wattuna iya tudio o, maririmi pare, e lalammi kasiq (baca : kasi") tangngana galung. Na sea-na sea, lalammi tu dio maqdareke (baca: ma"dareke) na paten paqdiq (baca : pa"di"). Sae mi puangnga galung, na saqdingmi (Baca: sa"dingmi) "apa na den tau maqdareke (baca : ma"dareke)" na se mi pare, na kita den tau lalan. Nakua mo Mangondang "yaku kapala Kappung Rappoan, dau ta tulana purana musuq (Baca : musu") Balanda". Jadi na alami kasiqna na paqbiring (Baca : kasi" na pa"biring) nabawa lako Biring Salu Bungin, na kabuaran mi banua-banua nasingi, na paccing mi kalena. Iya te lettek lanynya mi bukunna. Nakuammi te paqgalung dau ta tulaqna le (baca : pa"galung dau ta tula"na le), tapi pasanan na batiqku (baca : bati"ku) dokko kua tuo sia pa, indenaq (baca : indena") te e, na sae I malana". Lattuk I kareba domain kona den siapa laskarna pira salamaq (Baca : salama"). E laomi diala langngan Bungin, diala bongi di bawa domain, di palalan I Rappoan. Sae I lalan, kan Balanda buda mata-matanna na issenan I kua salamaq (Baca : salama") I Mangondang. Na kuamo balanda musti mu lolongan I, musti musaka i tuo troika mate" trika bawai mai. Jadi kona den te ngena kareba kua di peang I mangondang na peang balanda, di bawami mangondang di buni lao langngan buttu pusuk. Tapi yah namanya balanda, na runtu I, di saka mane di bawa langngan bungin. Kona putus asami balanda, jadi di seo I dio oto jeep, mane di pabesoi oto di saremben, mappamula inde jambatan bungin dibeso sae langngan daerah data". Dio mi tudio di beso, di pasule-sule. Dia meninggal itu bukan karena cidera, mate" I kona tae mo nakulle bawa I tudio pa"dina. Na iya batang kale iyya taera mangapa, tae den kojong nga. "Cappu!" Terjemahan Bahasa Indonesia Secara harfiah mangondang merupakan Bahasa Pattae klasik, yang dapat diartikan pemburu, menargetkan, dan mengejar. Mangondang merupakan putra asli Batetangnga, tepatnya di kampung Rappoan. Mangondang saat itu adalah seorang kepala Matoa Kampung Rappoan. Adapun kisah perjuangan Mangondang, pada saat itu Mangondang melakukan penyerangan ke markas/pos Belanda yang ada di Bungin, tepatnya di Pertigaan menuju Rajang. Nama Mangondang begitu disegani dan sangat ditakuti oleh Belanda, sebab Mangondang telah banyak melakukan penyerangan dan banyak menimbulkan kerugian di terhadap pihak belanda, dan tidak sekali pun mampu menangkap Mangondang. Sampai pada insiden yang akhirnya membuat Mangondang tertangkap pada tahun 1927, saat itu mangondang bersama laskarnya kembali menyerang pos Belanda yang ada di Bungin. Karena mangondang dikenal dengan wataknya yang keras dan pemberani, Mangondang tidak lagi memperdulikan yang namanya strategi perang, hal ini dikarenakan Mangondang juga memiliki kelebihan, kulitnya tidak dapat ditembus peluru dan senjata apapun, dia kebal terhadap senjata. Saat itu Mangondang memanjat pagar Belanda, kemudian menggunting-gunting kawat berduri guna membukakan jalan bagi pasukannya agar dapat masuk menyergap ke Markas Belanda. Melihat itu, tentara Belanda kemudian menghujani Mangondang dengan ratusan peluru, karena kekebalannya terhadap senjata, hal itu tentunya tidak berkesan terhadap Mangondang. Pada akhirnya belanda kemudian menembakkan meriam ke arah Mangondang yang tepat mengenai pangkal pahanya. Akibat dari peluru meriam itu, mangondang terpental hingga ratusan meter ke persawahan, tulang pahanya remuk. Tidak ada luka pada kulit, akan tetapi tulangnya remuk, dan beliau masih hidup. Karena sudah tidak sanggup berjalan, Mangondang merangkak ke tengah tanaman padi yang saat itu sudah mulai menguning dan masuk masa panen. Di tengah tanaman padi Mangondang bersembunyi, karena tidak tahan dengan sakitnya, Mangondang menjerit kesakitan yang akhirnya didengar oleh warga lokal yang hendak menuju sawahnya. Orang itu kemudian mencari asal suara dan menemukan Mangondang dalam keadaan terluka. Mangondang kemudian berkata pada orang itu "sayalah kepala Kampung Rappoan, tolong sembunyikan saya, malam tadi saya melakukan penyerangan ke Markas Belanda" Akhirnya Mangondang dipapah dan dibawa ke tepian Sungai Bungin, dibuatkanlah gubuk sebagai tempat persembunyiannya. Mangondang kemudian membersihkan badannya yang dipenuhi lumpur, dan memeriksa bekas tembakan meriam yang membuat tulang kakinya remuk. Berkatalah Mangondang kepada orang yang menolongnya "tolong rahasiakan keberadaan saya dari Belanda, saya juga minta tolong, sampaikan ke kerabat dan sanak saudara saya yang ada di Rappoan bahwa saya masih hidup dan sedang terluka, agar mereka datang dan menjemput saya di sini". Akhirnya disampaikanlah pesan Mangondang ke Rappoan yang dibawa oleh lascar pasukannya yang selamat setelah penyerangan ke Markas Belanda. Mendengar kabar itu Masyarakat Rappoan kemudian berangkat ke Bungin untuk menjemput Mangondang, perjalanan itu dilakukan pada malam hari, Mangondang berhasil diselamatkan dan dibawa ke kediamannya di Kampung Rappoan. Karena pada saat itu belanda memiliki banyak mata-mata, kabar selamatnya Mangondang sampai kepada pihak tentara Belanda. Petinggi tentara Belanda kemudian memerintahkan bahwa Mangondang harus ditangkap dan dibawa kehadapannya bagaimanapun caranya, dalam keadaan hidup-hidup maupun dalam keadaan mati. Mengetahui kabar itu masyarakat Rappoan kemudian membawa Mangondang ke gunung tertinggi di Batetangnga (Buttu Pusuk) untuk disembunyikan dan menghindari Pasukan Belanda. Akan tetapi karena kelicikannya tentara Belanda mengetahui persembunyian Mangondang, yang membuat Mangondang akhirnya tertangkap dan dibawa ke Markas Militer Belanda yang ada di Bungin. Mangondang disiksa sedemikian rupa, pihak belanda frustasi sebab tidak ada satupun senjata yang mampu melukai Mangondang, akhirnya Mangondang diikat ada mobil jeep dan di seret sepanjang jalan, mulai dari jembatan bungin sampai ke daerah data. Tubuh Mangondang di seret mondar-mandir secara terus menerus, setelah sekian lama mengalami penyiksaan itu Mangondang sudah tidak mampu yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya, dalam keadaan tubuh yang tidak terluka sedikit pun. Menurut cerita Mangondang dimakamkan di Pekuburan Massal pada waktu itu di Bungin. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Abd. Rahman Matta

AWAL MULA KERAJAAN BINUANG
Binuang, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

AWAL MULA KERAJAAN BINUANG

Kurang lebih satenga kilo dari kota kecamatan Binuang, ri sebelah barat, diang mesa kappung sanganna Ammassangan. Ri dio diang mesa komunitas napimpin mesa arung sanganna Sipajolangi. Ndang masae pura berdiri kappung e, masyarakat maita mesa aju kayyang sanganna aju anuang. Apa naita sanna marakke anna macoa dijadikan tempat massalindung, masyarakat massapakat memindahkan pemukimanna ri sakitar aju anuang e. Pura pindah ri dio, dibentukmi komunitas anna dipatettongmi Sipajolangi sabagai arung pertama. Pura terbentuk komunitas ri Binuang, polemi utusan dari kerajaan Bone. Wattu dio, iya pole merau tulung untuk mamussuq Arung Paniki ri Wajo. Sipajolangi tappa mappasadia pasukan pilihan sekitar walumpulu tau. Pasukan pilihan e diala melalui ujian ri mesa buttu sanganna Erang Batu. Ri dio pasukan e dipangajari ilmu perang, cara supaya ndang mempan senjata, anna ilmu laenna. Pura terbentuk walumpulu pasukan pilihan, Sipajolangi siola dua panglima perangna, Tapengo anna Takumba, lambami lao ri Bone. Tappana lambi ri Bone, Arung Bone makkecce ati maita pasukan Sipajolangi. Iya ma"pau, "Pasukanmu cuman walumpulu tau, sementara kami ribuan tau ndang mala menembus bentengna Arung Paniki. Apa gunana pasukanmu e"? Akhirna pasukan Binuang dipinggirkan anna cuman disuruh ma"ala wai anna mappasadia andeang. Pura mesa bulang ri Bone, masyarakat Pattae" makkecce ati apa merasa dikucilkan. Iya mamanya ri Sipajolangi, "Puang, ita pole ri te"e untuk perang, tapi mengapa ita cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak"? Sipajolangi tappa lao massita Arung Bone anna ma"pau, "Puang, yau melo malai pole." Arung Bone mamanya, "Mengapa melo mulai"? Sipajolangi menjawab, "Puang panggil kami untuk perang, tapi kami cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak." Arung Bone ma"pau, "Bagaimana kami mau ajakmu perang, pasukanmu cuman walumpulu tau." Sipajolangi menjawab, "Puang, bengai kami kesempatan untuk ikut perang." Akhirna Sipajolangi dibengang kesempatan ikut perang. Wattu perang berlangsung, Tapengo anna Takumba maita titik lema bentengna Arung Paniki. Benteng e susah dihancurkan dari luar, tapi gampang dihancurkan dari dalam. Tapengo anna Takumba lao massita Arung Paniki. Apa Arung Paniki ndang issang mua iya orang Bone. Iya ma"pau, "Puang, di luar diang kerbau liar. Kami mala membantu menangkap." Ri lontaraq dipau mua sekitar appampulu kerbau liar diikat ri bentengna Arung Paniki. Tappana subuh, kerbau e dipabali mengamuk, jari jebolmi benteng e dari dalam. Tappana benteng jebol, masukmi pasukan Bone. Tapengo anna Takumba langsung maccari Arung Paniki untuk dipatei. Ri lontaraq dipau mua Arung Paniki dipenggal kepalana. Pura perang dimenangkan, banyak kerajaan laen seperti Soppeng mengaku mua iya to mapatei Arung Paniki. Tapi Arung Bone ma"pau, "Yau melo maita buktinna." Ternyata Tapengo anna Takumba memegang buktinna mua iya to mapatei Arung Paniki. Arung Bone sanna gembira apa wilayahna Arung Paniki pura dikuasai. Pura perang selesai, Sipajolangi ma"pau ri Arung Bone, "Puang, yau melo malai pole apa tugasku pura selesai." Ri lontaraq dipau Arung Bone ma"pau, "Tunggu dolo, yau bengangko kuda untuk mupake mulai siola rakyatmu." Tapi Sipajolangi menolak. Iya ma"pau, "Daa bengang yau kuda. Mua ita sama-sama naik kuda, susah dibeda mana Arung Bone anna mana Arung Binuang." Arung Bone tappa menawarkan anakna untuk dinikahi Sipajolangi. Tapi Sipajolangi tetap menolak. Tappana Arung Bone ma"pau, "Mua begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi mamanya, "Apa battuanna"? Arung Bone menjawab, "Yang lima menjadi enam iyamo Massandre Pulu", anna yang enam menjadi tujuh iyamo Ba"bana Binanga." Sipajolangi menjawab, "Yang enam saja saya jadikan tujuh, apa dekat siola kappungku." Jadi ri wattuo, Binuang resmi masuk ri federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang tappa ikut ri perjanjian Allamungan Batu ri Luyo. Ri dio Sipajolangi hadir sabagai raja pertama Binuang. Termasuk toi Diku"bur anna I Manyambung To Mepayung. Pura itu, wilayah Binuang bertambah luas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, anna Kunyi. Dari situmi asal-usul sanganna Anreapi, apa wilayah e pura dibakar ri perang wattuo. Wilayah kekuasaan kerajaan Binuang mulai dari Paku sampai ri Matakali. Ri lontaraq dipau mua batas wilayahna iyamo Wai Madatte. Ri bawah Wai Madatte iyamo wilayah Balanipa. Jadi mua diang kerbau melewati Wai Madatte, orang Balanipa ndang mala ma"ala. Begitupun sebaliknya, mua pura melewati batas wilayah, orang Binuang toi ndang mala ma"ala. Ri lontaraq Pattae" Doloan dipau mua Binuang iyamo anak bungsunna Pitu Ba"bana Binanga, apa Binuang kerajaan terakhir masuk ri federasi e. Tappana terbentuk Temmajarra Dua napelopori To Mepayung. Pura Binuang dideklarasikan, To Mepayung mengutus mesa tau lao ri Binuang untuk mengundang Sipajolangi hadir ri pertemuan Allamungan Batu, pertemuan anu menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kurang lebih setengah kilometer dari kota Kecamatan Binuang, di sebelah barat, terdapat sebuah kampung bernama Ammassangan. Di kampung tersebut terdapat sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang arung bernama Sipajolangi. Tidak lama setelah kampung itu berdiri, masyarakat melihat sebuah pohon besar yang disebut pohon anuang. Karena pohon tersebut sangat rindang dan cocok dijadikan tempat berlindung, masyarakat kemudian sepakat memindahkan permukiman mereka ke dekat pohon anuang itu. Setelah berpindah, mereka membentuk komunitas baru dan menetapkan Sipajolangi sebagai arung pertama. Setelah komunitas di Binuang terbentuk, datanglah utusan dari Kerajaan Bone. Pada waktu itu, mereka meminta bantuan untuk memerangi Arung Paniki di Wajo. Menanggapi hal tersebut, Sipajolangi menyiapkan sekitar delapan puluh prajurit pilihan. Para prajurit ini dipilih melalui ujian di sebuah gunung bernama Erang Batu. Di tempat itu mereka dilatih berbagai ilmu perang, termasuk kemampuan agar tubuh mereka tidak mempan senjata. Setelah delapan puluh prajurit pilihan terbentuk, Sipajolangi bersama dua panglima perangnya, yaitu Tapengo dan Takumba, berangkat menuju Bone. Sesampainya di Bone, Arung Bone merasa kecil hati melihat jumlah pasukan yang dibawa Sipajolangi. Ia berkata bahwa pasukan Bone yang berjumlah ribuan saja belum mampu menembus benteng Arung Paniki, sedangkan pasukan Binuang hanya berjumlah delapan puluh orang. Akibatnya, pasukan Binuang dipinggirkan dan hanya diberi tugas mengambil air serta menyiapkan makanan. Setelah sebulan berada di Bone, masyarakat Pattae" merasa kecewa karena diperlakukan tidak layak. Mereka kemudian menyampaikan kepada Sipajolangi bahwa mereka datang untuk berperang, bukan untuk mengambil air dan memasak. Sipajolangi lalu menghadap Arung Bone dan menyampaikan keinginannya untuk pulang. Namun Arung Bone bertanya mengapa ia ingin kembali. Sipajolangi menjawab bahwa mereka dipanggil untuk berperang, tetapi justru diperlakukan seperti pelayan. Arung Bone menjelaskan bahwa ia ragu melibatkan pasukan yang hanya berjumlah delapan puluh orang. Sipajolangi pun meminta kesempatan untuk ikut bertempur. Akhirnya Sipajolangi diberi kesempatan untuk ikut berperang. Dalam peperangan itu, Tapengo dan Takumba menemukan titik lemah benteng Arung Paniki. Benteng tersebut sulit dihancurkan dari luar, tetapi mudah dirusak dari dalam. Mereka kemudian menemui Arung Paniki dengan menyamar sebagai orang biasa, karena Arung Paniki tidak mengetahui bahwa mereka adalah orang Bone. Mereka menawarkan bantuan untuk menangkap kerbau liar yang berada di sekitar benteng. Menurut lontaraq, sekitar empat puluh ekor kerbau liar diikat di bagian dalam benteng Arung Paniki. Ketika subuh tiba, kerbau-kerbau itu dibuat mengamuk sehingga benteng menjadi hancur dari dalam. Setelah benteng runtuh, pasukan Bone langsung menyerbu masuk. Tapengo dan Takumba segera mencari Arung Paniki untuk dibunuh. Dalam lontaraq disebutkan bahwa Arung Paniki dipenggal kepalanya. Setelah peperangan dimenangkan, banyak kerajaan lain, termasuk Soppeng, mengaku sebagai pihak yang membunuh Arung Paniki. Namun Arung Bone meminta bukti. Ternyata Tapengo dan Takumba memiliki bukti bahwa merekalah yang berhasil membunuh Arung Paniki. Arung Bone pun merasa sangat gembira karena berhasil menguasai wilayah Arung Paniki. Setelah peperangan selesai, Sipajolangi meminta izin kepada Arung Bone untuk kembali ke Binuang karena tugasnya telah selesai. Arung Bone menawarkan seekor kuda untuk digunakan Sipajolangi dan rakyatnya saat pulang. Namun Sipajolangi menolak dengan alasan jika mereka sama-sama menunggang kuda, maka akan sulit membedakan mana Arung Bone dan mana Arung Binuang. Arung Bone kemudian menawarkan putrinya untuk dinikahi Sipajolangi, tetapi tawaran itu juga ditolak. Setelah itu, Arung Bone berkata, "Kalau begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi bertanya maksud perkataan tersebut. Arung Bone menjelaskan bahwa "yang lima menjadi enam" berarti Massandre Pulu", sedangkan "yang enam menjadi tujuh" berarti Ba"bana Binanga. Sipajolangi memilih menjadikan yang enam menjadi tujuh karena lebih dekat dengan wilayahnya. Sejak saat itulah Binuang resmi masuk ke dalam federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang kemudian ikut dalam Perjanjian Allamungan Batu di Luyo. Dalam pertemuan itu, Sipajolangi hadir sebagai raja pertama Kerajaan Binuang bersama tokoh-tokoh lain seperti Diku"bur dan I Manyambung To Mepayung. Setelah Binuang masuk ke dalam federasi tersebut, wilayahnya diperluas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, dan Kunyi. Dari peristiwa itulah muncul nama Anreapi, karena wilayah tersebut pernah dibakar dalam peperangan sebelum diserahkan kepada Kerajaan Binuang. Wilayah kekuasaan Kerajaan Binuang membentang dari Paku hingga Matakali. Dalam lontaraq disebutkan bahwa batas wilayah Binuang adalah Sungai Madatte, sedangkan wilayah Balanipa berada di sebelah bawah sungai tersebut. Oleh karena itu, jika ada kerbau melewati Sungai Madatte, masyarakat Balanipa tidak boleh mengambilnya, begitu pula sebaliknya. Dalam Lontaraq Pattae" Doloan disebutkan bahwa Binuang adalah anak bungsu dari federasi Pitu Ba"bana Binanga karena menjadi kerajaan terakhir yang bergabung di dalamnya. Setelah itu terbentuk Temmajarra Dua yang diprakarsai oleh To Mepayung. Sesudah Binuang dideklarasikan masuk dalam federasi, To Mepayung mengutus seseorang ke Binuang untuk mengundang Sipajolangi menghadiri pertemuan Allamungan Batu yang kemudian menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Andi Ilham

23 Jun 2026 Baca Kisah
PEANG BULAWANG
Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

PEANG BULAWANG

Diolo"na, diang mesa carita sanganna Peang Bulawang. Iyae peang bulawang e menjari mesa tradisi anna carita to diolo" ri Mandar, utamana ri daerah Bau Tuing-Tuing. Diang mesa maraqdia ri Paria. Anakna maraqdia e biasanna lambai lao di sasi, tapi ndang rua mala bau. Mesa allo, diang tau ma"pau lao ri anakna maraqdia, "Diang tu"u peang bulawang, mua dipirau anna diala barakkana, mala mambawa dalle"." Tappana nairrangngi itu, anakna maraqdia maelo tongan mambali peang bulawang. Hari pertama peang bulawang e dipirau, tapi ndang dipindang. Hari kadua toi ndang mala. Sampai allo pitu, andang ndang mala tongan dibengang. Tappana maraqdia e makarras sanna atena, iya nawai peang bulawang e, "Mua pa"da-pa"dai dale"ba", dale"ba"mi." Jadi peang bulawang e lambami maneang ri sasi. Wattu maneang, peang bulawang e millor di wai. Tappana iya sempat miala mesa pisang. Tapi tiba-tiba diita rambu tulu"na anakna maraqdia. Tappana rambu tulu" e nattunu tama lindona, anakna maraqdia kaget sanna. Iya ma"pikir, "Apa upogau? Ndang mala di"e." Tapi iya tetap mappikir tanggung jawabna ri puangna. Tappana iya sitami maraqdiana ri songi, iya ma"pau, "Puang, pa"da-pa"da tongan peang bulawang e." Maraqdia e ma"pau, "Mating mua pa"dai." Tappana peang bulawang e dipapiangani atupe supaya lambai. Nabengang toi tawa-tawa, iyamo alat musik to diolo", supaya mala mambali luluarena. Lambai peang bulawang e lao di Palippis. Ri dio, iya mambali tawa-tawa anna mallangngang ri Wai Tawar. Tappana iya luluare pole ri Wai Tawar, masyarakat marondong sanna. Tau sisara-sara lao mambali luluarena. Tawa-tawa e dipilloa, anna peang bulawang e dipaissang sabagai to macoa sanna. Ri tangnga carita e, diang mesa tomanarang ri Mandar. Iya ma"pau mua peang bulawang e ndang biasa. Tappana peang bulawang e diala, iya dibawa lao di maraqdia Ura" Liung. Ri dio, peang bulawang e dipasangang ri pitu lapis paleko supaya ndang diita tau. Tappana pitu allo pitu bongi, peang bulawang e dipiara tongan. Tappana di allo katallu, anakna maraqdia mulai mappau pole. Maraqdia e massukur sanna karna anakna mulai macoa. Tappana maraqdia e ma"pau, "Mua pura mu pauli"i anakku, assal tania nyawa, mala mu alai apa saja." Di ruangan boyang, diang manu-manuk cantik sanna. Iyamo tu"u tuing-tuing. Maraqdia e ma"pau mua manu-manuk e nasayangngi sanna anakna. Tapi karna anakna pura macoa, iya ma"pau mua manu-manuk e mala diala barakkana. Tappana manu-manuk e mulai mattallo, tallona e dipaissang sabagai peang bulawang. Iyamo sababu"na sampai di te"e, tau Mandar maissang mua peang bulawang e dihubungang siola maraqdia anna manu-manuk to macoa. Carita e menjari cara tau Mandar menjelaskan secara mitologi asal-usul ikan terbang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, terdapat sebuah cerita tentang Peang Bulawang. Kisah ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Mandar, khususnya di daerah Bau Tuing-Tuing. Diceritakan ada seorang raja di Paria yang memiliki seorang anak. Anak raja tersebut sering pergi ke laut, tetapi tidak pernah mendapatkan ikan. Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada sang putra raja bahwa terdapat seekor ikan terbang bernama Peang Bulawang yang dipercaya memiliki berkah dan dapat membawa keberuntungan apabila berhasil ditangkap. Hari pertama ikan itu dicari, tetapi tidak berhasil ditangkap. Hari kedua pun demikian. Hingga hari ketujuh, ikan tersebut tetap tidak dapat diperoleh. Sang raja kemudian merasa sangat gelisah dan berkata kepada Peang Bulawang bahwa jika benar membawa rezeki, maka hendaknya memberikan tanda keberuntungan. Setelah itu, Peang Bulawang kembali pergi ke laut. Ketika berada di laut, Peang Bulawang muncul di permukaan air. Ia sempat mengambil sebuah pisang. Namun tiba-tiba, rambut anak raja terlihat olehnya. Ketika rambut itu jatuh mengenai wajah sang putra raja, ia merasa sangat terkejut dan bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun demikian, ia tetap mengingat tanggung jawabnya kepada ayahnya. Ketika sang putra raja bertemu kembali dengan ayahnya pada malam hari, ia berkata bahwa Peang Bulawang benar-benar memiliki tanda keberkahan. Raja kemudian memerintahkan agar disiapkan obor dan alat musik tradisional berupa tawa-tawa agar Peang Bulawang dapat dipanggil kembali. Peang Bulawang kemudian menuju daerah Palippis. Di sana, ia mendengar bunyi tawa-tawa dan muncul kembali di daerah Wai Tawar. Saat masyarakat melihat kemunculannya, mereka merasa kagum dan berbondong-bondong menyaksikannya. Sejak saat itu, Peang Bulawang dikenal sebagai makhluk yang luar biasa. Dalam kisah tersebut juga disebutkan adanya seorang tokoh sakti di Mandar yang mengatakan bahwa Peang Bulawang bukanlah ikan biasa. Setelah berhasil ditangkap, ikan tersebut dibawa ke istana Ura" Liung dan disimpan di balik tujuh lapis tirai agar tidak terlihat oleh masyarakat umum. Selama tujuh hari tujuh malam, Peang Bulawang dipelihara dengan baik. Pada hari ketiga, kondisi anak raja mulai membaik dan ia kembali dapat berbicara. Sang raja pun merasa sangat bersyukur karena anaknya mulai sembuh. Raja berkata bahwa siapa pun yang telah menyembuhkan anaknya boleh meminta apa saja selain nyawa. Di dalam istana terdapat seekor burung yang sangat indah, yaitu burung tuing-tuing. Sang raja mengatakan bahwa burung tersebut sangat menyayangi anaknya. Namun karena anaknya telah sembuh, burung itu dipercaya memiliki berkah yang besar. Ketika burung tersebut mulai bertelur, telurnya dipercaya sebagai asal-usul Peang Bulawang. Oleh sebab itu, hingga sekarang masyarakat Mandar percaya bahwa Peang Bulawang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan dan burung sakral tersebut. Kisah ini menjadi salah satu bentuk penjelasan mitologis masyarakat Mandar mengenai asal-usul ikan terbang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Dahri Dahlan

23 Jun 2026 Baca Kisah
INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)

Diolo"na, diang mesa carita mapia anna ma"andung pepatuduang. Caritae tentang mesa indo manu ri tangnga padang pasir. Indo manu e massarang ri mesa ponna ayu to marakke keringna. Di situ iya mappatello appaq. Pura mappatello, iya mulai mengerami tellona sampe berminggu-minggu. Akhirna, appaq tellona menetas menjari appaq ana" manu kacili". Ana"-ana"na e mulai tuo anna tiap allo indo manu e mallayang lao maccari ande-ande. Apa iya tuo ri tangnga padang pasir to tandus anna nde" diang ande-ande gampang dipole. Minggu pertama anna minggu kedua, indo manu e terus mallayang kiri kanan maccari ande-ande. Tapi nde"na pole apa-apa. Di lalang ate"na, iya terus mappikki", "Meapa ande la upaandeang lao di ana"-anakku? Ita tuo ri tampat to tandus anna kering." Ri minggu katallunna, indo manu e pole dari maccari ande sambil nawawa mesa belalang kacili" to le"ba mate anna kering. Iyamo tu"u ande mesa-mesanna to mala naala. Belalang e napaandeang lao di ana"-ana"na. Ana"-ana"na ummande, tapi cuma mala bertahan mesa allo. Pura itte, indo manu e mallayang pole maccari ande. Apa iyamo sifatna mesa indo", selalu massayang anna mappikki" kehidupan ana"-ana"na. Sampe ri minggu kaappa"na, indo manu e mulai putus asa. Appaq minggu iya terus maccari ande tapi nde"na pole apa-apa selain lapar anna kesusahan. Akhirna, indo manu e ma"ala keputusan to marakke matindona. Keputusan e nde" biasa dipikki" manusia. Iya mulai mencabut buluna sandiri anna menikam badanna sandiri sampe darahna mallili". Darah e napake ana"-ana"na sabagai wai minum. Dagingna napake sabagai ande supaya ana"-ana"na tetap tuo anna malai hidup. Iyamo carita to marakke matindona. Apa indo manu e rela mate demi kehidupan generasinna. Iya rela mappasorong nyawanna sandiri supaya ana"-ana"na tetap hidup. Pepatuduanna caritae, mua" di lino" e diang tongang indo" to rela mappakasiri", mappalappa" kesenanganna, anna bahkan rela mate demi masa depan ana"-ana"na. Carita indo manu e mappapoleang lao diita mua kasih sayang indo" nde" diang batasna. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kisah yang sangat menarik dan penuh makna. Kisah ini bercerita tentang seekor induk burung yang hidup di tengah padang pasir. Burung itu membuat sarang di sebuah pohon yang kering dan gersang. Di sanalah ia bertelur sebanyak empat butir. Setelah bertelur, induk burung itu mengerami telur-telurnya selama berminggu-minggu. Akhirnya, keempat telur itu menetas menjadi empat ekor anak burung kecil. Anak-anak burung tersebut mulai tumbuh, dan setiap hari induknya terbang ke mana-mana untuk mencari makanan. Akan tetapi, mereka hidup di tengah padang pasir yang tandus sehingga sangat sulit menemukan makanan. Pada minggu pertama hingga minggu kedua, induk burung itu terus terbang ke berbagai arah untuk mencari makanan, tetapi tidak menemukan apa pun. Di dalam hatinya, ia terus berpikir, "Makanan apa yang bisa kuberikan kepada anak-anakku? Kita hidup di tempat yang sangat tandus dan kering." Pada minggu ketiga, induk burung itu akhirnya menemukan seekor belalang kecil yang sudah kering dan mati. Hanya itu makanan yang berhasil ia dapatkan. Belalang tersebut dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Mereka memakannya, tetapi makanan itu hanya cukup untuk bertahan satu hari saja. Setelah itu, sang induk kembali terbang mencari makanan. Sebab, begitulah sifat seorang ibu, selalu memikirkan kehidupan anak-anaknya. Hingga memasuki minggu keempat, induk burung itu mulai putus asa. Selama empat minggu ia terus mencari makanan, tetapi hampir tidak menemukan apa-apa selain penderitaan dan kelaparan. Akhirnya, induk burung itu mengambil keputusan yang sangat luar biasa, bahkan sulit diterima oleh akal manusia. Ia mulai mencabut bulunya sendiri dan melukai tubuhnya hingga darahnya mengalir. Darah itu dijadikan minuman oleh anak-anaknya, sedangkan daging dari tubuhnya dijadikan makanan agar anak-anaknya tetap hidup dan tumbuh. Inilah kisah yang sangat menyentuh hati. Seekor induk burung rela mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup generasinya. Ia rela mati demi anak-anaknya. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa di dalam kehidupan ada sosok ibu yang rela berkorban apa saja demi masa depan anak-anaknya. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki batas. Kisah burung ini mengajarkan kepada manusia tentang arti pengorbanan, kasih sayang, dan perjuangan demi generasi yang akan datang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

23 Jun 2026 Baca Kisah
POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR

Diolo"na sejak zaman to diolo", kucing anna bau (tikus) nde" biasa massitai mapia. Begitu toi siola tikkor (kodok). Mua bau naitai kucing, iya langsung mappalappa". Begitu toi tikkor, apa marakke sanna me"dinna ri kucing. Jari, tallu rupa binatang e biasa saling menghindar. Mesa wattu, kucing e melo lao massiara anna naik haji. Bassa binatang laeng napalako lao massiara, tapi bau anna tikkor nde" lao. Tappana, diang binatang laeng mamanya, "Meapa bau anna tikkor nde" lao massiara lao di kucing"? Tappana di jawab, "Aihh" nde" namiande boi! Mua lao di kucing, pasti ita diterkam." Walaupun begitu, diang toi binatang laeng napauang, "Ahh, nde"mi iya begitu. Kucing pura haji. Pasti pura berubah perangaina." Akhirna, kucing pura pole dari tanah suci anna tersebar berita mua iya pura haji. Tappana, bassa binatang lao massiara lao di boyanna kucing. Angganna mappasalama anna berjabat tangan sambil mappau, "Alhamdulillah, pura haji mi kucing." Tappana, diang mamanya, "Di mana bau anna tikkor? Ndang diita lao massiara." Bau anna tikkor mendengar berita mua kucing pura haji. Tappana, bau masih me"dinna. Iya napauang lao di tikkor, "Aihh" jangan-jangan andangmi tia perangaina." Tapi tikkor napauang, "Ahh, pura haji mi. Pasti pura berubah." Akhirna, duai e sepakat lao massiara lao di boyanna kucing. Wattu lambi, bau mappau, "Assalamualaikum." Kucing menjawab, "Waalaikumsalam. Eh, baru boi mai kalian"? Tappana, bau masih mapattan. Iya napauang lao di tikkor, "Pissorono mai diolo." Battuanna, iya menyuruh tikkor maju diolo apa iya masih me"di. Wattu tikkor mendekat ri sisi kucing, tiba-tiba kucing langsung menerkam bau! Bau langsung ditangkap anna mau dimakan. Tikkor langsung melompat kaget sambil napauang, "Tuh kan! Kebiasaanna nde" mala berubah." Iyamo pepatuduanna caritae, mua sifat buruk mua nde" tongang-tongang dipappaccingi ri ate", iya mala dipogau pole. Apa di Mandar biasa dipauang, "Ala biasa karna biasa." "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, sejak masa lampau, kucing dan tikus memang tidak pernah bisa hidup rukun. Begitu pula dengan kodok. Jika tikus melihat kucing, ia pasti langsung menghindar karena takut diterkam. Kodok pun demikian. Ketiga binatang ini selalu saling menghindari satu sama lain. Suatu hari, si kucing pergi menunaikan ibadah haji. Banyak binatang lain datang mengantar dan berziarah kepadanya sebelum keberangkatan. Namun, tikus dan kodok tidak ikut datang. Ketika binatang lain bertanya mengapa mereka tidak datang berziarah, tikus menjawab, "Kami takut dimakan oleh kucing." Akan tetapi, ada binatang lain yang berkata, "Ah, sekarang kucing sudah berubah. Dia sudah pergi haji, jadi perilakunya pasti lebih baik." Akhirnya, setelah beberapa waktu, kucing pun pulang dari tanah suci dan kabar kepulangannya tersebar ke mana-mana. Semua binatang datang berziarah ke rumah kucing untuk mengucapkan selamat. Mereka berjabat tangan sambil berkata, "Alhamdulillah, sekarang kucing sudah menjadi haji." Lalu mereka bertanya, "Mengapa tikus dan kodok belum datang"? Ketika mendengar bahwa kucing telah pulang haji, tikus masih merasa takut. Ia berkata kepada kodok, "Jangan-jangan sifatnya masih tetap sama." Namun, kodok menjawab, "Ah, dia sudah haji. Pasti dia sudah berubah." Akhirnya, tikus dan kodok memutuskan untuk datang berziarah ke rumah kucing. Ketika tiba, tikus mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Kucing pun menjawab, "Waalaikumsalam. Baru sekarang kalian datang"? Namun, tikus masih merasa takut sehingga ia menyuruh kodok maju lebih dahulu mendekati kucing. Saat kodok mulai mendekat, tiba-tiba kucing langsung menerkam tikus yang berada di dekatnya. Kodok pun terkejut dan langsung melompat sambil berkata, "Benar kan! Kebiasaannya memang tidak berubah." Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sifat buruk seseorang tidak mudah berubah jika tidak benar-benar diperbaiki dari dalam hati. Dalam masyarakat Mandar dikenal pepatah, "Ala biasa karena biasa," yang berarti kebiasaan buruk akan terus dilakukan jika tidak sungguh-sungguh ditinggalkan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

23 Jun 2026 Baca Kisah
Eksplorasi Spasial Sastra Lisan

Peta Budaya Sulawesi Barat

Setiap pin pada peta mewakili koordinat presisi tempat legenda, mitos bahari, dan hikayat pegunungan dituturkan oleh para tetua adat di kampung-kampung bersejarah.

113 Titik Terverifikasi GPS
Fokus Wilayah:
Titik lokasi dikelompokkan secara otomatis (clustering). Klik lingkaran angka atau perbesar peta (*zoom in*) untuk melihat sebaran tiap legenda secara mendalam.
Studio Audio Visual Tradisi Lisan

Mendengar & Menatap Warisan Leluhur

Teknologi audio dan video digital memungkinkan generasi masa depan menyimak langsung intonasi, ekspresi tuturan lisan para tetua, dan dokumentasi visual tradisi Mandar secara langsung.

MESA ULA SAWA
Desa Makuang, Kec. Messawa, Kabupaten MamasaMamasa YouTube

MESA ULA SAWA

Naskah Cerita →
LIMBONG DIHATA
Majene GDrive

LIMBONG DIHATA

Naskah Cerita →
Desa Makuang, Kec. Messawa, Kabupaten MamasaMamasa

MESA ULA SAWA

Mekkalao lan tondok disanga Banua Sawa, den mesa" ula" sawa mandu kapua. Mallei tu ula" ummolai Salu Mamasa mbaik sekitar puluhan kilo kalandona, na lambi" mo mesa" tondok mbaik la nangei torro. Leppangmo tu ula" sawa inde to tondok mbaik dua tahun masaenna. Nakanganga tu sadangna susi lokko" batu. Den mesa" to rumangngan kenden duka" mentiongan lu tama lokko", sapo ya tu lokko" tannia lokko" tongan, sapo sadangna sawa. Ya tu to rumangngan umperrandukan dokena, na tappa kedo siami ya tu sawa annu naditi" doke lilana. Tikkedu" ii lari mi tu tau tassu" lammai sadang sawa. Naalai pa"dangna na mane umba"ta ya tu sawa. Lari mo tu ula" dokko salu. Iamo na disangai tu tondok Battasawa. Makkanna na ba"ta tu torumangngan, umpatarru pole lalanna ummolai salu mbaik ratusan kilo kalandona na olai. Lambi" omo mesa" tondok mbaik. Sapo ma" sule-sule liu tu ula", ummolai Salu Randanan, makka lu lako Salu Sumule, makka lu lako mi Salu Sakka". attappakanna umpatarru lalanna ummolai Salu Sakka" na unduk liu sae tama ulunna Salu Sakka". Uttombon kalena umpandanni inde to salu. Masae-masae pole" dadi batu motu ula" sawa. Na mane di sangai mo pole tu tondok katappakan nangei torro disanga Messawa temo. Ya tu ula" mendadi batu napemali" mo to dolo, mendadi nangei ma"aluk kabiasaanna lembang Messawa. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala di sebuah kampung bernama Banua Sawa (di daerah Sindagamanik), hiduplah seekor ular piton yang sangat besar. Suatu ketika, ular tersebut pergi meninggalkan sarangnya, menyusuri aliran Sungai Mamasa sejauh puluhan kilometer, hingga akhirnya ia tiba di sebuah kampung yang sunyi untuk beristirahat. Ular piton itu beristirahat di kampung kosong tersebut selama dua tahun lamanya. Ia berdiam diri dengan mulut terbuka lebar menyerupai sebuah gua batu. Suatu hari, seorang pemburu yang kelelahan lewat dan melihat "gua" tersebut. Ia masuk untuk berteduh sejenak, tanpa menyadari bahwa yang dimasukinya bukanlah gua sungguhan, melainkan mulut sang ular piton yang sedang menanti. Di dalam keremangan "gua" itu, si pemburu menancapkan tombaknya ke bawah, mengira itu adalah tanah. Ternyata, tombak itu menusuk lidah sang ular. Ular itu tersentak hebat karena kesakitan. Si pemburu terkejut bukan main menyadari kesalahannya, lalu lari pontang-panting keluar dari mulut ular. Dengan panik, ia mencabut parangnya dan menebas tubuh ular tersebut. Ular yang terluka itu segera melarikan diri ke sungai. Karena kejadian penebasan itulah, kampung tersebut kemudian dinamai Battasawa (tempat menebas). Setelah terluka akibat tebasan parang pemburu, ular itu kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai hingga ratusan kilometer jauhnya. Ia tiba di daerah baru yang tak berpenghuni. Namun, ular itu kebingungan mencari tempat peristirahatan terakhir. Ia mondar-mandir di antara aliran sungai; dari Sungai Randanan, beralih ke Sungai Sumule, dan kemudian menuju Sungai Sakka". Akhirnya, ia memutuskan untuk terus menyusuri Sungai Sakka" hingga tiba di hulunya yang kecil. Di sanalah ia membentangkan tubuh raksasanya di sungai, melingkar dengan posisi kepala di bagian paling atas. Lama-kelamaan, tubuh ular piton itu perlahan berubah menjadi batu. Kampung tempat berakhirnya perjalanan ular itulah yang kini dikenal dengan nama Messawa. Batu jelmaan ular tersebut kemudian dikeramatkan oleh penduduk setempat. Tempat itu menjadi lokasi bagi para tetua adat penganut kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) di Lembang Messawa untuk melakukan ritual meminta berkat dan perlindungan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Silele Buritta/Lidia Lepong/Sura'

Polewali Mandar

PULLADO DAN PUCCECANG

Di sebuah kampung antah berantah, hiduplah dua orang sahabat dengan watak yang bertolak belakang. Yang pertama bernama Pullado. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, bicaranya manis, namun sayangnya ia malas dan selalu mencari jalan pintas yang licik. Yang kedua bernama Puccecang. Ia adalah sosok yang sederhana, jujur, namun sering kali terlalu polos hingga mudah dimanfaatkan. Perjalanan Mencari Untung Suatu hari, di tengah musim pancaroba yang sulit, Pullado mengajak Puccecang mengembara. "Puccecang, ayo kita pergi berkelana. Di kampung ini rezeki sedang seret. Siapa tahu di kampung sebelah ada orang dermawan yang mau memberi kita emas atau makanan," ajak Pullado dengan penuh semangat. Berangkatlah mereka berdua. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sepanjang perjalanan, setiap pintu rumah yang mereka ketuk tertutup rapat. Penduduk desa yang mereka lewati ternyata sangat kikir. Tak ada seteguk air atau sesuap nasi pun yang diberikan kepada mereka. "Huh! Dasar orang-orang pelit!" gerutu Pullado sambil mengusap keringatnya. "Padahal aku sudah memasang wajah memelas. Kita benar-benar tidak beruntung hari ini." "Sabarlah, Pullado. Mungkin memang belum rezeki kita," hibur Puccecang. Bibit Pisang Sengketa Di tengah keputusasaan, mata jeli Pullado menangkap sesuatu di pinggir jalan. Ada seorang petani kikir yang sedang membuang satu bibit pohon pisang kecil. Petani itu hanya memberikan satu bibit itu saja, lalu pergi begitu saja. Pullado dan Puccecang memungut bibit itu. Masalah muncul karena bibit itu hanya satu, sedangkan mereka berdua yang menemukannya. "Ini milikku," kata Pullado. "Tapi aku yang menggendongnya tadi," sahut Puccecang. Karena tak ada yang mau mengalah, Pullado yang licik mendapatkan ide "brilian". "Begini saja, sobatku. Agar adil, kita potong saja bibit ini jadi dua! Kita bagi rata," usul Pullado. Puccecang yang polos mengangguk setuju. "Ide bagus. Tapi bagaimana membaginya?" Pullado tersenyum licik. Ia berpikir, bagian atas sudah ada daunnya, pasti lebih cepat berbuah. Bagian bawah cuma akar kotor dan batang keras, pasti butuh waktu lama. "Aku orang yang baik hati, Puccecang. Biarlah aku mengambil bagian atas (pucuk dan daunnya). Kau ambil saja bagian bawah (batang dan akarnya)," kata Pullado dengan percaya diri. Puccecang menerima bagian akar itu dengan ikhlas. "Baiklah, terima kasih, Pullado." Hasil Kesabaran vs Jalan Pintas Sesampainya di rumah, mereka menanam bagian masing-masing. Pullado menanam potongan pucuk pisangnya yang berdaun hijau itu dengan bangga. "Lihatlah, punyaku sudah punya daun! Sebentar lagi pasti berbuah," sombongnya. Sementara Puccecang mencangkul tanah, menanam bonggol akar yang tampak mati itu, lalu menyiramnya setiap hari dengan tekun. Seminggu berlalu. Tanaman Pullado mulai terlihat menyedihkan. Daun-daun hijaunya menguning, layu, dan akhirnya kering kerontang. Karena tidak punya akar, pucuk itu mati membusuk. Sebaliknya, dari dalam tanah tempat Puccecang menanam, muncul tunas hijau kecil yang segar. Tunas itu tumbuh semakin tinggi, batangnya kokoh, dan daunnya lebar-lebar. Tiga bulan kemudian, pohon pisang Puccecang berdiri gagah dan mengeluarkan jantung pisang yang besar. Tak lama, buah pisang yang ranum dan kuning bergantungan menggoda selera. Pullado datang dengan wajah masam dan perut lapar. "Hei Puccecang! Kenapa hanya pohonmu yang berbuah? Pohonku mati semua!" protesnya. Puccecang menjawab santai, "Ya jelas, Pullado. Kamu memilih daun tanpa akar, mana bisa hidup? Aku memilih akar, sumber kehidupan." Tipu Muslihat di Atas Pohon Melihat pisang-pisang kuning yang ranum itu, air liur Pullado menetes. Otak liciknya kembali bekerja. "Wah, Puccecang, pisangmu sudah matang! Tapi sayang, kamu kan tidak pandai memanjat. Biar aku saja yang memanjatkan untukmu. Nanti kita bagi dua," tawar Pullado. Tanpa menunggu jawaban, Pullado langsung melesat naik ke atas pohon seperti kera. Sesampainya di atas, ia langsung memetik satu buah pisang, mengupasnya, dan hap! Masuk ke mulutnya. "Hmm... manis sekali!" seru Pullado. Puccecang mendongak dari bawah. "Pullado, jatuhkan pisangnya untukku!" "Tunggu sebentar, aku cicipi dulu yang ini, takutnya busuk," kilah Pullado. Ia makan lagi. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh buah pisang habis ia lahap sendiri. "Pullado! Mana bagianku?" teriak Puccecang yang mulai kesal. "Nih, tangkap!" Pullado melemparkan sesuatu ke bawah. Bukan buah pisang, melainkan kulit pisang yang sudah kosong. "Enak sekali kulitnya, Puccecang! Hahaha!" tawa Pullado meledak di atas pohon. Ia terus memakan pisang itu sampai perutnya buncit, tak menyisakan satu pun untuk sahabatnya. Balas Dendam Sang Sahabat Kesabaran Puccecang habis sudah. Ia melihat sekeliling dan melihat lubang-lubang kecil di tanah yang becek. Di sana ada banyak kelomang (umang-umang) dan kepiting sungai yang sedang mencari makan. Puccecang tersenyum tipis. Ia mengumpulkan hewan-hewan bercapit itu. "Wahai kelomang dan kepiting, naiklah ke atas pohon itu. Di atas sana ada daging empuk yang sedang kekenyangan," bisik Puccecang sambil menaruh hewan-hewan itu di batang pohon pisang. Hewan-hewan itu merayap naik perlahan-lahan. Pullado yang sedang kekenyangan dan hampir tertidur di dahan pisang tidak menyadari bahaya yang mendekat. Tiba-tiba... "ADUH! AMPUN!" Seekor kepiting besar menjepit pantat Pullado dengan keras. Kaget dan kesakitan, Pullado kehilangan keseimbangan. "GUBRAKK!" Pullado jatuh dari pohon pisang dan mendarat di tanah becek dengan bunyi gedebuk yang keras. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi bokongnya yang merah dicapit kepiting. Puccecang hanya tertawa melihat temannya itu lari terbirit-birit dikejar kelomang. Itulah akibat bagi orang yang cerdas tapi serakah dan suka menipu teman sendiri.

Desa Battetangnga, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

PERJUANGAN MANGONDANG MELAWAN BELANDA

Jadi Mangondang itu harfiah na tae songgona ku paham kona bahasa Pattae Klasik, Mangondang dapat diartikan pemburu, na ondang I, na lolai. Jadi Mangondang itu putra asli Batetangnga, tepatnya di Kampung Rappoan. Mangondang itu adalah Kapala Matoa Kampung Rappoan. Iya te Mangondang lao I musuq (baca : musu") Balanda dao Bungin, dengan pos na Balanda dao Bungin pas pertigaan lao taman Rajang. Iya ke na saqding (baca : na sa"ding) I sanganna Mangondang, kirrangi bulu-bulunna Balanda, kona pimbuda mi lao musuq (Baca : musu") Balanda na tae na kulle sakai. Insiden terakhir na disakai Mangondang, ke tae na salah tahun 1927. Mangondang bersama laskarnya menyerang Pos Balanda di Bungin. Kona na pattuan I Kalena Mangondang, tae na paduli, hampir iya tu strategi tae mo na pake, kona den kelebihanna, tae I na kande peluru, kaqbangi (Baca: ka"bangi). jadi iya tu bala tangsina Balanda na tekai I, mane na goncing si mesa-mesa. Iya ke peluru biasa ra, tae I na bellu. Iya mora namasessa, pelurunna mora meriam kanna I, pas ato panggena nan a kanna. Remuk, tipa"reba I sekian ratus meter, tipaqreba I (Baca : tipa"reba I) lako Galung. Taera den kojong, tapi lannyaq I (baca : lannya" I) buku. Lalan siapi nyawana batang kalena. Akhirnya kona taemo na kulle minono, kumesok mi lao taman allana boqbo (baca : bo"bo). Wattuna iya tudio o, maririmi pare, e lalammi kasiq (baca : kasi") tangngana galung. Na sea-na sea, lalammi tu dio maqdareke (baca: ma"dareke) na paten paqdiq (baca : pa"di"). Sae mi puangnga galung, na saqdingmi (Baca: sa"dingmi) "apa na den tau maqdareke (baca : ma"dareke)" na se mi pare, na kita den tau lalan. Nakua mo Mangondang "yaku kapala Kappung Rappoan, dau ta tulana purana musuq (Baca : musu") Balanda". Jadi na alami kasiqna na paqbiring (Baca : kasi" na pa"biring) nabawa lako Biring Salu Bungin, na kabuaran mi banua-banua nasingi, na paccing mi kalena. Iya te lettek lanynya mi bukunna. Nakuammi te paqgalung dau ta tulaqna le (baca : pa"galung dau ta tula"na le), tapi pasanan na batiqku (baca : bati"ku) dokko kua tuo sia pa, indenaq (baca : indena") te e, na sae I malana". Lattuk I kareba domain kona den siapa laskarna pira salamaq (Baca : salama"). E laomi diala langngan Bungin, diala bongi di bawa domain, di palalan I Rappoan. Sae I lalan, kan Balanda buda mata-matanna na issenan I kua salamaq (Baca : salama") I Mangondang. Na kuamo balanda musti mu lolongan I, musti musaka i tuo troika mate" trika bawai mai. Jadi kona den te ngena kareba kua di peang I mangondang na peang balanda, di bawami mangondang di buni lao langngan buttu pusuk. Tapi yah namanya balanda, na runtu I, di saka mane di bawa langngan bungin. Kona putus asami balanda, jadi di seo I dio oto jeep, mane di pabesoi oto di saremben, mappamula inde jambatan bungin dibeso sae langngan daerah data". Dio mi tudio di beso, di pasule-sule. Dia meninggal itu bukan karena cidera, mate" I kona tae mo nakulle bawa I tudio pa"dina. Na iya batang kale iyya taera mangapa, tae den kojong nga. "Cappu!" Terjemahan Bahasa Indonesia Secara harfiah mangondang merupakan Bahasa Pattae klasik, yang dapat diartikan pemburu, menargetkan, dan mengejar. Mangondang merupakan putra asli Batetangnga, tepatnya di kampung Rappoan. Mangondang saat itu adalah seorang kepala Matoa Kampung Rappoan. Adapun kisah perjuangan Mangondang, pada saat itu Mangondang melakukan penyerangan ke markas/pos Belanda yang ada di Bungin, tepatnya di Pertigaan menuju Rajang. Nama Mangondang begitu disegani dan sangat ditakuti oleh Belanda, sebab Mangondang telah banyak melakukan penyerangan dan banyak menimbulkan kerugian di terhadap pihak belanda, dan tidak sekali pun mampu menangkap Mangondang. Sampai pada insiden yang akhirnya membuat Mangondang tertangkap pada tahun 1927, saat itu mangondang bersama laskarnya kembali menyerang pos Belanda yang ada di Bungin. Karena mangondang dikenal dengan wataknya yang keras dan pemberani, Mangondang tidak lagi memperdulikan yang namanya strategi perang, hal ini dikarenakan Mangondang juga memiliki kelebihan, kulitnya tidak dapat ditembus peluru dan senjata apapun, dia kebal terhadap senjata. Saat itu Mangondang memanjat pagar Belanda, kemudian menggunting-gunting kawat berduri guna membukakan jalan bagi pasukannya agar dapat masuk menyergap ke Markas Belanda. Melihat itu, tentara Belanda kemudian menghujani Mangondang dengan ratusan peluru, karena kekebalannya terhadap senjata, hal itu tentunya tidak berkesan terhadap Mangondang. Pada akhirnya belanda kemudian menembakkan meriam ke arah Mangondang yang tepat mengenai pangkal pahanya. Akibat dari peluru meriam itu, mangondang terpental hingga ratusan meter ke persawahan, tulang pahanya remuk. Tidak ada luka pada kulit, akan tetapi tulangnya remuk, dan beliau masih hidup. Karena sudah tidak sanggup berjalan, Mangondang merangkak ke tengah tanaman padi yang saat itu sudah mulai menguning dan masuk masa panen. Di tengah tanaman padi Mangondang bersembunyi, karena tidak tahan dengan sakitnya, Mangondang menjerit kesakitan yang akhirnya didengar oleh warga lokal yang hendak menuju sawahnya. Orang itu kemudian mencari asal suara dan menemukan Mangondang dalam keadaan terluka. Mangondang kemudian berkata pada orang itu "sayalah kepala Kampung Rappoan, tolong sembunyikan saya, malam tadi saya melakukan penyerangan ke Markas Belanda" Akhirnya Mangondang dipapah dan dibawa ke tepian Sungai Bungin, dibuatkanlah gubuk sebagai tempat persembunyiannya. Mangondang kemudian membersihkan badannya yang dipenuhi lumpur, dan memeriksa bekas tembakan meriam yang membuat tulang kakinya remuk. Berkatalah Mangondang kepada orang yang menolongnya "tolong rahasiakan keberadaan saya dari Belanda, saya juga minta tolong, sampaikan ke kerabat dan sanak saudara saya yang ada di Rappoan bahwa saya masih hidup dan sedang terluka, agar mereka datang dan menjemput saya di sini". Akhirnya disampaikanlah pesan Mangondang ke Rappoan yang dibawa oleh lascar pasukannya yang selamat setelah penyerangan ke Markas Belanda. Mendengar kabar itu Masyarakat Rappoan kemudian berangkat ke Bungin untuk menjemput Mangondang, perjalanan itu dilakukan pada malam hari, Mangondang berhasil diselamatkan dan dibawa ke kediamannya di Kampung Rappoan. Karena pada saat itu belanda memiliki banyak mata-mata, kabar selamatnya Mangondang sampai kepada pihak tentara Belanda. Petinggi tentara Belanda kemudian memerintahkan bahwa Mangondang harus ditangkap dan dibawa kehadapannya bagaimanapun caranya, dalam keadaan hidup-hidup maupun dalam keadaan mati. Mengetahui kabar itu masyarakat Rappoan kemudian membawa Mangondang ke gunung tertinggi di Batetangnga (Buttu Pusuk) untuk disembunyikan dan menghindari Pasukan Belanda. Akan tetapi karena kelicikannya tentara Belanda mengetahui persembunyian Mangondang, yang membuat Mangondang akhirnya tertangkap dan dibawa ke Markas Militer Belanda yang ada di Bungin. Mangondang disiksa sedemikian rupa, pihak belanda frustasi sebab tidak ada satupun senjata yang mampu melukai Mangondang, akhirnya Mangondang diikat ada mobil jeep dan di seret sepanjang jalan, mulai dari jembatan bungin sampai ke daerah data. Tubuh Mangondang di seret mondar-mandir secara terus menerus, setelah sekian lama mengalami penyiksaan itu Mangondang sudah tidak mampu yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya, dalam keadaan tubuh yang tidak terluka sedikit pun. Menurut cerita Mangondang dimakamkan di Pekuburan Massal pada waktu itu di Bungin. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh H. Abd. Rahman Matta

Transkrip Lengkap Baca Cerita →
Binuang, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar

AWAL MULA KERAJAAN BINUANG

Kurang lebih satenga kilo dari kota kecamatan Binuang, ri sebelah barat, diang mesa kappung sanganna Ammassangan. Ri dio diang mesa komunitas napimpin mesa arung sanganna Sipajolangi. Ndang masae pura berdiri kappung e, masyarakat maita mesa aju kayyang sanganna aju anuang. Apa naita sanna marakke anna macoa dijadikan tempat massalindung, masyarakat massapakat memindahkan pemukimanna ri sakitar aju anuang e. Pura pindah ri dio, dibentukmi komunitas anna dipatettongmi Sipajolangi sabagai arung pertama. Pura terbentuk komunitas ri Binuang, polemi utusan dari kerajaan Bone. Wattu dio, iya pole merau tulung untuk mamussuq Arung Paniki ri Wajo. Sipajolangi tappa mappasadia pasukan pilihan sekitar walumpulu tau. Pasukan pilihan e diala melalui ujian ri mesa buttu sanganna Erang Batu. Ri dio pasukan e dipangajari ilmu perang, cara supaya ndang mempan senjata, anna ilmu laenna. Pura terbentuk walumpulu pasukan pilihan, Sipajolangi siola dua panglima perangna, Tapengo anna Takumba, lambami lao ri Bone. Tappana lambi ri Bone, Arung Bone makkecce ati maita pasukan Sipajolangi. Iya ma"pau, "Pasukanmu cuman walumpulu tau, sementara kami ribuan tau ndang mala menembus bentengna Arung Paniki. Apa gunana pasukanmu e"? Akhirna pasukan Binuang dipinggirkan anna cuman disuruh ma"ala wai anna mappasadia andeang. Pura mesa bulang ri Bone, masyarakat Pattae" makkecce ati apa merasa dikucilkan. Iya mamanya ri Sipajolangi, "Puang, ita pole ri te"e untuk perang, tapi mengapa ita cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak"? Sipajolangi tappa lao massita Arung Bone anna ma"pau, "Puang, yau melo malai pole." Arung Bone mamanya, "Mengapa melo mulai"? Sipajolangi menjawab, "Puang panggil kami untuk perang, tapi kami cuman disuruh ma"ala wai anna mamasak." Arung Bone ma"pau, "Bagaimana kami mau ajakmu perang, pasukanmu cuman walumpulu tau." Sipajolangi menjawab, "Puang, bengai kami kesempatan untuk ikut perang." Akhirna Sipajolangi dibengang kesempatan ikut perang. Wattu perang berlangsung, Tapengo anna Takumba maita titik lema bentengna Arung Paniki. Benteng e susah dihancurkan dari luar, tapi gampang dihancurkan dari dalam. Tapengo anna Takumba lao massita Arung Paniki. Apa Arung Paniki ndang issang mua iya orang Bone. Iya ma"pau, "Puang, di luar diang kerbau liar. Kami mala membantu menangkap." Ri lontaraq dipau mua sekitar appampulu kerbau liar diikat ri bentengna Arung Paniki. Tappana subuh, kerbau e dipabali mengamuk, jari jebolmi benteng e dari dalam. Tappana benteng jebol, masukmi pasukan Bone. Tapengo anna Takumba langsung maccari Arung Paniki untuk dipatei. Ri lontaraq dipau mua Arung Paniki dipenggal kepalana. Pura perang dimenangkan, banyak kerajaan laen seperti Soppeng mengaku mua iya to mapatei Arung Paniki. Tapi Arung Bone ma"pau, "Yau melo maita buktinna." Ternyata Tapengo anna Takumba memegang buktinna mua iya to mapatei Arung Paniki. Arung Bone sanna gembira apa wilayahna Arung Paniki pura dikuasai. Pura perang selesai, Sipajolangi ma"pau ri Arung Bone, "Puang, yau melo malai pole apa tugasku pura selesai." Ri lontaraq dipau Arung Bone ma"pau, "Tunggu dolo, yau bengangko kuda untuk mupake mulai siola rakyatmu." Tapi Sipajolangi menolak. Iya ma"pau, "Daa bengang yau kuda. Mua ita sama-sama naik kuda, susah dibeda mana Arung Bone anna mana Arung Binuang." Arung Bone tappa menawarkan anakna untuk dinikahi Sipajolangi. Tapi Sipajolangi tetap menolak. Tappana Arung Bone ma"pau, "Mua begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi mamanya, "Apa battuanna"? Arung Bone menjawab, "Yang lima menjadi enam iyamo Massandre Pulu", anna yang enam menjadi tujuh iyamo Ba"bana Binanga." Sipajolangi menjawab, "Yang enam saja saya jadikan tujuh, apa dekat siola kappungku." Jadi ri wattuo, Binuang resmi masuk ri federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang tappa ikut ri perjanjian Allamungan Batu ri Luyo. Ri dio Sipajolangi hadir sabagai raja pertama Binuang. Termasuk toi Diku"bur anna I Manyambung To Mepayung. Pura itu, wilayah Binuang bertambah luas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, anna Kunyi. Dari situmi asal-usul sanganna Anreapi, apa wilayah e pura dibakar ri perang wattuo. Wilayah kekuasaan kerajaan Binuang mulai dari Paku sampai ri Matakali. Ri lontaraq dipau mua batas wilayahna iyamo Wai Madatte. Ri bawah Wai Madatte iyamo wilayah Balanipa. Jadi mua diang kerbau melewati Wai Madatte, orang Balanipa ndang mala ma"ala. Begitupun sebaliknya, mua pura melewati batas wilayah, orang Binuang toi ndang mala ma"ala. Ri lontaraq Pattae" Doloan dipau mua Binuang iyamo anak bungsunna Pitu Ba"bana Binanga, apa Binuang kerajaan terakhir masuk ri federasi e. Tappana terbentuk Temmajarra Dua napelopori To Mepayung. Pura Binuang dideklarasikan, To Mepayung mengutus mesa tau lao ri Binuang untuk mengundang Sipajolangi hadir ri pertemuan Allamungan Batu, pertemuan anu menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kurang lebih setengah kilometer dari kota Kecamatan Binuang, di sebelah barat, terdapat sebuah kampung bernama Ammassangan. Di kampung tersebut terdapat sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang arung bernama Sipajolangi. Tidak lama setelah kampung itu berdiri, masyarakat melihat sebuah pohon besar yang disebut pohon anuang. Karena pohon tersebut sangat rindang dan cocok dijadikan tempat berlindung, masyarakat kemudian sepakat memindahkan permukiman mereka ke dekat pohon anuang itu. Setelah berpindah, mereka membentuk komunitas baru dan menetapkan Sipajolangi sebagai arung pertama. Setelah komunitas di Binuang terbentuk, datanglah utusan dari Kerajaan Bone. Pada waktu itu, mereka meminta bantuan untuk memerangi Arung Paniki di Wajo. Menanggapi hal tersebut, Sipajolangi menyiapkan sekitar delapan puluh prajurit pilihan. Para prajurit ini dipilih melalui ujian di sebuah gunung bernama Erang Batu. Di tempat itu mereka dilatih berbagai ilmu perang, termasuk kemampuan agar tubuh mereka tidak mempan senjata. Setelah delapan puluh prajurit pilihan terbentuk, Sipajolangi bersama dua panglima perangnya, yaitu Tapengo dan Takumba, berangkat menuju Bone. Sesampainya di Bone, Arung Bone merasa kecil hati melihat jumlah pasukan yang dibawa Sipajolangi. Ia berkata bahwa pasukan Bone yang berjumlah ribuan saja belum mampu menembus benteng Arung Paniki, sedangkan pasukan Binuang hanya berjumlah delapan puluh orang. Akibatnya, pasukan Binuang dipinggirkan dan hanya diberi tugas mengambil air serta menyiapkan makanan. Setelah sebulan berada di Bone, masyarakat Pattae" merasa kecewa karena diperlakukan tidak layak. Mereka kemudian menyampaikan kepada Sipajolangi bahwa mereka datang untuk berperang, bukan untuk mengambil air dan memasak. Sipajolangi lalu menghadap Arung Bone dan menyampaikan keinginannya untuk pulang. Namun Arung Bone bertanya mengapa ia ingin kembali. Sipajolangi menjawab bahwa mereka dipanggil untuk berperang, tetapi justru diperlakukan seperti pelayan. Arung Bone menjelaskan bahwa ia ragu melibatkan pasukan yang hanya berjumlah delapan puluh orang. Sipajolangi pun meminta kesempatan untuk ikut bertempur. Akhirnya Sipajolangi diberi kesempatan untuk ikut berperang. Dalam peperangan itu, Tapengo dan Takumba menemukan titik lemah benteng Arung Paniki. Benteng tersebut sulit dihancurkan dari luar, tetapi mudah dirusak dari dalam. Mereka kemudian menemui Arung Paniki dengan menyamar sebagai orang biasa, karena Arung Paniki tidak mengetahui bahwa mereka adalah orang Bone. Mereka menawarkan bantuan untuk menangkap kerbau liar yang berada di sekitar benteng. Menurut lontaraq, sekitar empat puluh ekor kerbau liar diikat di bagian dalam benteng Arung Paniki. Ketika subuh tiba, kerbau-kerbau itu dibuat mengamuk sehingga benteng menjadi hancur dari dalam. Setelah benteng runtuh, pasukan Bone langsung menyerbu masuk. Tapengo dan Takumba segera mencari Arung Paniki untuk dibunuh. Dalam lontaraq disebutkan bahwa Arung Paniki dipenggal kepalanya. Setelah peperangan dimenangkan, banyak kerajaan lain, termasuk Soppeng, mengaku sebagai pihak yang membunuh Arung Paniki. Namun Arung Bone meminta bukti. Ternyata Tapengo dan Takumba memiliki bukti bahwa merekalah yang berhasil membunuh Arung Paniki. Arung Bone pun merasa sangat gembira karena berhasil menguasai wilayah Arung Paniki. Setelah peperangan selesai, Sipajolangi meminta izin kepada Arung Bone untuk kembali ke Binuang karena tugasnya telah selesai. Arung Bone menawarkan seekor kuda untuk digunakan Sipajolangi dan rakyatnya saat pulang. Namun Sipajolangi menolak dengan alasan jika mereka sama-sama menunggang kuda, maka akan sulit membedakan mana Arung Bone dan mana Arung Binuang. Arung Bone kemudian menawarkan putrinya untuk dinikahi Sipajolangi, tetapi tawaran itu juga ditolak. Setelah itu, Arung Bone berkata, "Kalau begitu, jadikan yang lima menjadi enam, atau yang enam menjadi tujuh." Sipajolangi bertanya maksud perkataan tersebut. Arung Bone menjelaskan bahwa "yang lima menjadi enam" berarti Massandre Pulu", sedangkan "yang enam menjadi tujuh" berarti Ba"bana Binanga. Sipajolangi memilih menjadikan yang enam menjadi tujuh karena lebih dekat dengan wilayahnya. Sejak saat itulah Binuang resmi masuk ke dalam federasi Pitu Ba"bana Binanga. Binuang kemudian ikut dalam Perjanjian Allamungan Batu di Luyo. Dalam pertemuan itu, Sipajolangi hadir sebagai raja pertama Kerajaan Binuang bersama tokoh-tokoh lain seperti Diku"bur dan I Manyambung To Mepayung. Setelah Binuang masuk ke dalam federasi tersebut, wilayahnya diperluas. Kerajaan Bone membantu menaklukkan Pokko, Papandanan, dan Kunyi. Dari peristiwa itulah muncul nama Anreapi, karena wilayah tersebut pernah dibakar dalam peperangan sebelum diserahkan kepada Kerajaan Binuang. Wilayah kekuasaan Kerajaan Binuang membentang dari Paku hingga Matakali. Dalam lontaraq disebutkan bahwa batas wilayah Binuang adalah Sungai Madatte, sedangkan wilayah Balanipa berada di sebelah bawah sungai tersebut. Oleh karena itu, jika ada kerbau melewati Sungai Madatte, masyarakat Balanipa tidak boleh mengambilnya, begitu pula sebaliknya. Dalam Lontaraq Pattae" Doloan disebutkan bahwa Binuang adalah anak bungsu dari federasi Pitu Ba"bana Binanga karena menjadi kerajaan terakhir yang bergabung di dalamnya. Setelah itu terbentuk Temmajarra Dua yang diprakarsai oleh To Mepayung. Sesudah Binuang dideklarasikan masuk dalam federasi, To Mepayung mengutus seseorang ke Binuang untuk mengundang Sipajolangi menghadiri pertemuan Allamungan Batu yang kemudian menghasilkan perjanjian Sipamandaq. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Andi Ilham

Transkrip Lengkap Baca Cerita →
Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

PEANG BULAWANG

Diolo"na, diang mesa carita sanganna Peang Bulawang. Iyae peang bulawang e menjari mesa tradisi anna carita to diolo" ri Mandar, utamana ri daerah Bau Tuing-Tuing. Diang mesa maraqdia ri Paria. Anakna maraqdia e biasanna lambai lao di sasi, tapi ndang rua mala bau. Mesa allo, diang tau ma"pau lao ri anakna maraqdia, "Diang tu"u peang bulawang, mua dipirau anna diala barakkana, mala mambawa dalle"." Tappana nairrangngi itu, anakna maraqdia maelo tongan mambali peang bulawang. Hari pertama peang bulawang e dipirau, tapi ndang dipindang. Hari kadua toi ndang mala. Sampai allo pitu, andang ndang mala tongan dibengang. Tappana maraqdia e makarras sanna atena, iya nawai peang bulawang e, "Mua pa"da-pa"dai dale"ba", dale"ba"mi." Jadi peang bulawang e lambami maneang ri sasi. Wattu maneang, peang bulawang e millor di wai. Tappana iya sempat miala mesa pisang. Tapi tiba-tiba diita rambu tulu"na anakna maraqdia. Tappana rambu tulu" e nattunu tama lindona, anakna maraqdia kaget sanna. Iya ma"pikir, "Apa upogau? Ndang mala di"e." Tapi iya tetap mappikir tanggung jawabna ri puangna. Tappana iya sitami maraqdiana ri songi, iya ma"pau, "Puang, pa"da-pa"da tongan peang bulawang e." Maraqdia e ma"pau, "Mating mua pa"dai." Tappana peang bulawang e dipapiangani atupe supaya lambai. Nabengang toi tawa-tawa, iyamo alat musik to diolo", supaya mala mambali luluarena. Lambai peang bulawang e lao di Palippis. Ri dio, iya mambali tawa-tawa anna mallangngang ri Wai Tawar. Tappana iya luluare pole ri Wai Tawar, masyarakat marondong sanna. Tau sisara-sara lao mambali luluarena. Tawa-tawa e dipilloa, anna peang bulawang e dipaissang sabagai to macoa sanna. Ri tangnga carita e, diang mesa tomanarang ri Mandar. Iya ma"pau mua peang bulawang e ndang biasa. Tappana peang bulawang e diala, iya dibawa lao di maraqdia Ura" Liung. Ri dio, peang bulawang e dipasangang ri pitu lapis paleko supaya ndang diita tau. Tappana pitu allo pitu bongi, peang bulawang e dipiara tongan. Tappana di allo katallu, anakna maraqdia mulai mappau pole. Maraqdia e massukur sanna karna anakna mulai macoa. Tappana maraqdia e ma"pau, "Mua pura mu pauli"i anakku, assal tania nyawa, mala mu alai apa saja." Di ruangan boyang, diang manu-manuk cantik sanna. Iyamo tu"u tuing-tuing. Maraqdia e ma"pau mua manu-manuk e nasayangngi sanna anakna. Tapi karna anakna pura macoa, iya ma"pau mua manu-manuk e mala diala barakkana. Tappana manu-manuk e mulai mattallo, tallona e dipaissang sabagai peang bulawang. Iyamo sababu"na sampai di te"e, tau Mandar maissang mua peang bulawang e dihubungang siola maraqdia anna manu-manuk to macoa. Carita e menjari cara tau Mandar menjelaskan secara mitologi asal-usul ikan terbang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, terdapat sebuah cerita tentang Peang Bulawang. Kisah ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Mandar, khususnya di daerah Bau Tuing-Tuing. Diceritakan ada seorang raja di Paria yang memiliki seorang anak. Anak raja tersebut sering pergi ke laut, tetapi tidak pernah mendapatkan ikan. Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada sang putra raja bahwa terdapat seekor ikan terbang bernama Peang Bulawang yang dipercaya memiliki berkah dan dapat membawa keberuntungan apabila berhasil ditangkap. Hari pertama ikan itu dicari, tetapi tidak berhasil ditangkap. Hari kedua pun demikian. Hingga hari ketujuh, ikan tersebut tetap tidak dapat diperoleh. Sang raja kemudian merasa sangat gelisah dan berkata kepada Peang Bulawang bahwa jika benar membawa rezeki, maka hendaknya memberikan tanda keberuntungan. Setelah itu, Peang Bulawang kembali pergi ke laut. Ketika berada di laut, Peang Bulawang muncul di permukaan air. Ia sempat mengambil sebuah pisang. Namun tiba-tiba, rambut anak raja terlihat olehnya. Ketika rambut itu jatuh mengenai wajah sang putra raja, ia merasa sangat terkejut dan bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun demikian, ia tetap mengingat tanggung jawabnya kepada ayahnya. Ketika sang putra raja bertemu kembali dengan ayahnya pada malam hari, ia berkata bahwa Peang Bulawang benar-benar memiliki tanda keberkahan. Raja kemudian memerintahkan agar disiapkan obor dan alat musik tradisional berupa tawa-tawa agar Peang Bulawang dapat dipanggil kembali. Peang Bulawang kemudian menuju daerah Palippis. Di sana, ia mendengar bunyi tawa-tawa dan muncul kembali di daerah Wai Tawar. Saat masyarakat melihat kemunculannya, mereka merasa kagum dan berbondong-bondong menyaksikannya. Sejak saat itu, Peang Bulawang dikenal sebagai makhluk yang luar biasa. Dalam kisah tersebut juga disebutkan adanya seorang tokoh sakti di Mandar yang mengatakan bahwa Peang Bulawang bukanlah ikan biasa. Setelah berhasil ditangkap, ikan tersebut dibawa ke istana Ura" Liung dan disimpan di balik tujuh lapis tirai agar tidak terlihat oleh masyarakat umum. Selama tujuh hari tujuh malam, Peang Bulawang dipelihara dengan baik. Pada hari ketiga, kondisi anak raja mulai membaik dan ia kembali dapat berbicara. Sang raja pun merasa sangat bersyukur karena anaknya mulai sembuh. Raja berkata bahwa siapa pun yang telah menyembuhkan anaknya boleh meminta apa saja selain nyawa. Di dalam istana terdapat seekor burung yang sangat indah, yaitu burung tuing-tuing. Sang raja mengatakan bahwa burung tersebut sangat menyayangi anaknya. Namun karena anaknya telah sembuh, burung itu dipercaya memiliki berkah yang besar. Ketika burung tersebut mulai bertelur, telurnya dipercaya sebagai asal-usul Peang Bulawang. Oleh sebab itu, hingga sekarang masyarakat Mandar percaya bahwa Peang Bulawang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan dan burung sakral tersebut. Kisah ini menjadi salah satu bentuk penjelasan mitologis masyarakat Mandar mengenai asal-usul ikan terbang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Dahri Dahlan

Transkrip Lengkap Baca Cerita →
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)

Diolo"na, diang mesa carita mapia anna ma"andung pepatuduang. Caritae tentang mesa indo manu ri tangnga padang pasir. Indo manu e massarang ri mesa ponna ayu to marakke keringna. Di situ iya mappatello appaq. Pura mappatello, iya mulai mengerami tellona sampe berminggu-minggu. Akhirna, appaq tellona menetas menjari appaq ana" manu kacili". Ana"-ana"na e mulai tuo anna tiap allo indo manu e mallayang lao maccari ande-ande. Apa iya tuo ri tangnga padang pasir to tandus anna nde" diang ande-ande gampang dipole. Minggu pertama anna minggu kedua, indo manu e terus mallayang kiri kanan maccari ande-ande. Tapi nde"na pole apa-apa. Di lalang ate"na, iya terus mappikki", "Meapa ande la upaandeang lao di ana"-anakku? Ita tuo ri tampat to tandus anna kering." Ri minggu katallunna, indo manu e pole dari maccari ande sambil nawawa mesa belalang kacili" to le"ba mate anna kering. Iyamo tu"u ande mesa-mesanna to mala naala. Belalang e napaandeang lao di ana"-ana"na. Ana"-ana"na ummande, tapi cuma mala bertahan mesa allo. Pura itte, indo manu e mallayang pole maccari ande. Apa iyamo sifatna mesa indo", selalu massayang anna mappikki" kehidupan ana"-ana"na. Sampe ri minggu kaappa"na, indo manu e mulai putus asa. Appaq minggu iya terus maccari ande tapi nde"na pole apa-apa selain lapar anna kesusahan. Akhirna, indo manu e ma"ala keputusan to marakke matindona. Keputusan e nde" biasa dipikki" manusia. Iya mulai mencabut buluna sandiri anna menikam badanna sandiri sampe darahna mallili". Darah e napake ana"-ana"na sabagai wai minum. Dagingna napake sabagai ande supaya ana"-ana"na tetap tuo anna malai hidup. Iyamo carita to marakke matindona. Apa indo manu e rela mate demi kehidupan generasinna. Iya rela mappasorong nyawanna sandiri supaya ana"-ana"na tetap hidup. Pepatuduanna caritae, mua" di lino" e diang tongang indo" to rela mappakasiri", mappalappa" kesenanganna, anna bahkan rela mate demi masa depan ana"-ana"na. Carita indo manu e mappapoleang lao diita mua kasih sayang indo" nde" diang batasna. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kisah yang sangat menarik dan penuh makna. Kisah ini bercerita tentang seekor induk burung yang hidup di tengah padang pasir. Burung itu membuat sarang di sebuah pohon yang kering dan gersang. Di sanalah ia bertelur sebanyak empat butir. Setelah bertelur, induk burung itu mengerami telur-telurnya selama berminggu-minggu. Akhirnya, keempat telur itu menetas menjadi empat ekor anak burung kecil. Anak-anak burung tersebut mulai tumbuh, dan setiap hari induknya terbang ke mana-mana untuk mencari makanan. Akan tetapi, mereka hidup di tengah padang pasir yang tandus sehingga sangat sulit menemukan makanan. Pada minggu pertama hingga minggu kedua, induk burung itu terus terbang ke berbagai arah untuk mencari makanan, tetapi tidak menemukan apa pun. Di dalam hatinya, ia terus berpikir, "Makanan apa yang bisa kuberikan kepada anak-anakku? Kita hidup di tempat yang sangat tandus dan kering." Pada minggu ketiga, induk burung itu akhirnya menemukan seekor belalang kecil yang sudah kering dan mati. Hanya itu makanan yang berhasil ia dapatkan. Belalang tersebut dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Mereka memakannya, tetapi makanan itu hanya cukup untuk bertahan satu hari saja. Setelah itu, sang induk kembali terbang mencari makanan. Sebab, begitulah sifat seorang ibu, selalu memikirkan kehidupan anak-anaknya. Hingga memasuki minggu keempat, induk burung itu mulai putus asa. Selama empat minggu ia terus mencari makanan, tetapi hampir tidak menemukan apa-apa selain penderitaan dan kelaparan. Akhirnya, induk burung itu mengambil keputusan yang sangat luar biasa, bahkan sulit diterima oleh akal manusia. Ia mulai mencabut bulunya sendiri dan melukai tubuhnya hingga darahnya mengalir. Darah itu dijadikan minuman oleh anak-anaknya, sedangkan daging dari tubuhnya dijadikan makanan agar anak-anaknya tetap hidup dan tumbuh. Inilah kisah yang sangat menyentuh hati. Seekor induk burung rela mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup generasinya. Ia rela mati demi anak-anaknya. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa di dalam kehidupan ada sosok ibu yang rela berkorban apa saja demi masa depan anak-anaknya. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki batas. Kisah burung ini mengajarkan kepada manusia tentang arti pengorbanan, kasih sayang, dan perjuangan demi generasi yang akan datang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

Transkrip Lengkap Baca Cerita →
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR

Diolo"na sejak zaman to diolo", kucing anna bau (tikus) nde" biasa massitai mapia. Begitu toi siola tikkor (kodok). Mua bau naitai kucing, iya langsung mappalappa". Begitu toi tikkor, apa marakke sanna me"dinna ri kucing. Jari, tallu rupa binatang e biasa saling menghindar. Mesa wattu, kucing e melo lao massiara anna naik haji. Bassa binatang laeng napalako lao massiara, tapi bau anna tikkor nde" lao. Tappana, diang binatang laeng mamanya, "Meapa bau anna tikkor nde" lao massiara lao di kucing"? Tappana di jawab, "Aihh" nde" namiande boi! Mua lao di kucing, pasti ita diterkam." Walaupun begitu, diang toi binatang laeng napauang, "Ahh, nde"mi iya begitu. Kucing pura haji. Pasti pura berubah perangaina." Akhirna, kucing pura pole dari tanah suci anna tersebar berita mua iya pura haji. Tappana, bassa binatang lao massiara lao di boyanna kucing. Angganna mappasalama anna berjabat tangan sambil mappau, "Alhamdulillah, pura haji mi kucing." Tappana, diang mamanya, "Di mana bau anna tikkor? Ndang diita lao massiara." Bau anna tikkor mendengar berita mua kucing pura haji. Tappana, bau masih me"dinna. Iya napauang lao di tikkor, "Aihh" jangan-jangan andangmi tia perangaina." Tapi tikkor napauang, "Ahh, pura haji mi. Pasti pura berubah." Akhirna, duai e sepakat lao massiara lao di boyanna kucing. Wattu lambi, bau mappau, "Assalamualaikum." Kucing menjawab, "Waalaikumsalam. Eh, baru boi mai kalian"? Tappana, bau masih mapattan. Iya napauang lao di tikkor, "Pissorono mai diolo." Battuanna, iya menyuruh tikkor maju diolo apa iya masih me"di. Wattu tikkor mendekat ri sisi kucing, tiba-tiba kucing langsung menerkam bau! Bau langsung ditangkap anna mau dimakan. Tikkor langsung melompat kaget sambil napauang, "Tuh kan! Kebiasaanna nde" mala berubah." Iyamo pepatuduanna caritae, mua sifat buruk mua nde" tongang-tongang dipappaccingi ri ate", iya mala dipogau pole. Apa di Mandar biasa dipauang, "Ala biasa karna biasa." "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, sejak masa lampau, kucing dan tikus memang tidak pernah bisa hidup rukun. Begitu pula dengan kodok. Jika tikus melihat kucing, ia pasti langsung menghindar karena takut diterkam. Kodok pun demikian. Ketiga binatang ini selalu saling menghindari satu sama lain. Suatu hari, si kucing pergi menunaikan ibadah haji. Banyak binatang lain datang mengantar dan berziarah kepadanya sebelum keberangkatan. Namun, tikus dan kodok tidak ikut datang. Ketika binatang lain bertanya mengapa mereka tidak datang berziarah, tikus menjawab, "Kami takut dimakan oleh kucing." Akan tetapi, ada binatang lain yang berkata, "Ah, sekarang kucing sudah berubah. Dia sudah pergi haji, jadi perilakunya pasti lebih baik." Akhirnya, setelah beberapa waktu, kucing pun pulang dari tanah suci dan kabar kepulangannya tersebar ke mana-mana. Semua binatang datang berziarah ke rumah kucing untuk mengucapkan selamat. Mereka berjabat tangan sambil berkata, "Alhamdulillah, sekarang kucing sudah menjadi haji." Lalu mereka bertanya, "Mengapa tikus dan kodok belum datang"? Ketika mendengar bahwa kucing telah pulang haji, tikus masih merasa takut. Ia berkata kepada kodok, "Jangan-jangan sifatnya masih tetap sama." Namun, kodok menjawab, "Ah, dia sudah haji. Pasti dia sudah berubah." Akhirnya, tikus dan kodok memutuskan untuk datang berziarah ke rumah kucing. Ketika tiba, tikus mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Kucing pun menjawab, "Waalaikumsalam. Baru sekarang kalian datang"? Namun, tikus masih merasa takut sehingga ia menyuruh kodok maju lebih dahulu mendekati kucing. Saat kodok mulai mendekat, tiba-tiba kucing langsung menerkam tikus yang berada di dekatnya. Kodok pun terkejut dan langsung melompat sambil berkata, "Benar kan! Kebiasaannya memang tidak berubah." Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sifat buruk seseorang tidak mudah berubah jika tidak benar-benar diperbaiki dari dalam hati. Dalam masyarakat Mandar dikenal pepatah, "Ala biasa karena biasa," yang berarti kebiasaan buruk akan terus dilakukan jika tidak sungguh-sungguh ditinggalkan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

Transkrip Lengkap Baca Cerita →
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

BARE LESANG (PEMBAGI MONYET)

Diolo"na, diang dua rupa binatang sanganna kucing anna anjing. Duai e sangat mapia persahabatanna anna le"ba masae massiolang. Mesa allo, duai e mallamba-lamba lao maita lino anna keadaan ri luar kampung. Lambami duai e massulle ri alas, ri bela-bela, anna ri sawah-sawah. Sampe di tangnga lalang, duai e marakke sanna kaloloanna apa le"ba lapar. Iya mappikki" meapa carana mala ummande. Lambami pole duai e sampe naita mesa boyang ri tangnga sawah. Boyang e mesa-mesanna di situ. Tappana, duai e mendekat karna mappikki" mua mungkin diang sisa ande-ande ri boyang e, mungkin ikan kering atau ande laeng. Wattu duai e le"ba dekat, anjing langsung ma"cium bau ikan kering. Apa penciumanna marakke sanna tajam. Iya napauang lao di kucing, "Eh kucing, di baona boyang e diang ikan kering!" Tapi apa anjing nde" mala meakke lao di boyang, iya kucingmo napasuru meakke lao maita. Tappana, kucing meakke lao ri bate-bate anna naita tongang diang mesa ikan kering. Kucing napauang lao di anjing, "Tongang tu"u, anjing, marakke sanna penciumammu. Diang tongang ikan kering ri atas boyang!" Tappana, kucing tu"ung pole. Anjing napauang, "Apa cuma mesa ikan kering, ita harus mappabuat kesepakatan." Kucing setuju. Jari, duai e mappabuat aturan. Mua" kucing melompat anna ikan e tiba lao di tana", maka bagian anjing. Tapi mua" kucing berhasil ma"ala ikan e ri atas boyang, maka bagian kucing. Apa duai e lapar sanna, kucing langsung melompat. Tapi ikan kering e tiba tongang lao di tana". Tappana, anjing langsung melo ma"ande. Iya napauang, "Maaf, kucing. Pura ita massakke mua" mua" tiba di tana", bagian yau." Tapi kucing menolak. Iya napauang, "Damo diolo! Kesepakatan mala berubah karna ita sama-sama lapar." Tapi anjing nde" mau. Iya tetap pegang kesepakatan diolo. Akhirna, duai e massibantah anna mappasisala. Wattu duai e masih mappasisala, lewat mesa monyet sambil nawawa dacing timbangan. Apa jama-jamanganna monyet e pedagang. Kucing napauang, "Eh monyet, lao di mana"? Monyet menjawab, "Yau lao di pasar mappatimbang hasil bumi." Monyet mamanya, "Meapa iya nasibantahang"? Tappana, kucing anna anjing mappajelas masalah ikan kering e. Monyet napauang, "Gampang itu. Pakai dacingku saja supaya adil." Akhirna, duai e setuju ulang. Monyet mulai mappatimbang ikan kering e. Sebelah kiri bagian kucing, sebelah kanan bagian anjing. Tapi wattu ditimbang, lebih berat sebelah anjing. Kucing langsung marakke, "Eh monyet, rusak dacingmu!" Monyet napauang, "Gampang itu." Tappana, monyet menggigit sedikit ikan di bagian anjing supaya seimbang. Tapi setelah ditimbang ulang, malah berat sebelah kucing. Anjing toi marakke, "Rusak tongang dacingmu itu!" Monyet kembali menggigit sedikit bagian kucing. Begitu terus sampe ikan kering e tinggal sedikit sanna. Tappana, monyet napauang sambil tertawa, "Nah, baru seimbang!" Padahal, hampir semua ikan kering e pura naande monyet. Tinggal sedikit baru iya napauang seimbang. Iyamo asal mula istilah "barelesang", iyamo tau mappabare-bare lao di anu tau laeng supaya iya sendiri mala untung. Iyamo pepatuduanna caritae, mua" ita nde" boleh terlalu loba anna terlalu gampang dipalappa" ri tau laeng. Dalam kehidupan, ita harus bijaksana anna hati-hati ri mappabuat kesepakatan. "Cappu" Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu kala, terdapat dua ekor binatang yang sangat bersahabat, yaitu kucing dan anjing. Persahabatan mereka sangat erat dan telah berlangsung lama. Suatu hari, keduanya pergi berjalan-jalan untuk melihat keadaan di luar kampung. Mereka melewati hutan, kebun, dan hamparan sawah yang luas. Di tengah perjalanan, mereka merasa sangat lapar karena telah berjalan sangat jauh. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan sambil mencari makanan. Akhirnya, mereka menemukan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah sawah. Mereka mendekati rumah itu dengan harapan menemukan sisa makanan, seperti ikan kering atau makanan lainnya. Ketika sudah dekat, anjing langsung mencium bau ikan kering karena penciumannya sangat tajam. Ia berkata kepada kucing, "Kucing, di atas rumah itu ada ikan kering!" Namun, karena anjing tidak bisa memanjat rumah, ia menyuruh kucing naik untuk memastikan. Kucing pun naik ke atas rumah dan benar saja, di atas bate-bate rumah terdapat seekor ikan kering. Kucing berkata, "Benar sekali, anjing. Penciumanmu memang hebat. Ada ikan kering di sini!" Setelah turun, anjing berkata bahwa mereka harus membuat kesepakatan karena ikan itu hanya satu ekor. Kucing pun setuju. Mereka membuat aturan bahwa jika saat kucing melompat ikan itu jatuh ke tanah, maka ikan tersebut menjadi bagian anjing. Namun, jika kucing berhasil mengambil ikan itu di atas rumah, maka ikan itu menjadi bagian kucing. Karena sangat lapar, kucing langsung melompat. Akan tetapi, ikan kering itu justru jatuh ke tanah. Anjing pun segera ingin memakannya sambil berkata, "Maaf, kucing. Kita sudah sepakat bahwa jika ikan jatuh ke tanah, maka itu menjadi bagianku." Namun, kucing tidak setuju dan berkata, "Tunggu dulu! Kesepakatan bisa berubah karena kita sama-sama lapar." Akan tetapi, anjing tetap bersikeras mempertahankan aturan yang telah mereka buat sebelumnya. Akhirnya, keduanya bertengkar. Saat mereka bertengkar, lewatlah seekor monyet yang membawa timbangan dacin. Monyet itu bekerja sebagai pedagang di pasar. Kucing bertanya, "Monyet, mau ke mana"? Monyet menjawab, "Saya mau ke pasar untuk menimbang hasil bumi." Monyet lalu bertanya mengapa mereka bertengkar. Setelah mendengar cerita tentang ikan kering itu, monyet berkata, "Mudah saja, kita timbang saja agar adil." Akhirnya, mereka sepakat menggunakan timbangan monyet. Sebelah kiri untuk bagian kucing dan sebelah kanan untuk bagian anjing. Akan tetapi, ketika ditimbang, bagian anjing lebih berat. Kucing pun marah dan berkata bahwa timbangan monyet rusak. Monyet berkata, "Tenang saja." Ia lalu menggigit sedikit bagian ikan di sisi anjing agar seimbang. Namun, setelah ditimbang kembali, bagian kucing justru menjadi lebih berat. Kini giliran anjing yang marah dan mengatakan bahwa timbangan itu tidak benar. Monyet kembali menggigit sedikit bagian ikan di sisi kucing. Begitulah seterusnya hingga ikan kering itu hampir habis dimakan oleh monyet. Setelah tinggal sedikit, monyet baru berkata sambil tertawa, "Nah, sekarang sudah seimbang!" Padahal, hampir seluruh ikan kering itu telah dimakan oleh monyet. Tinggal sedikit saja yang tersisa. Dari kisah ini muncullah istilah "barelesang", yaitu seseorang yang berpura-pura menjadi penengah, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Pesan moral dari kisah ini adalah jangan mudah bertengkar hanya karena hal kecil. Selain itu, kita juga harus berhati-hati terhadap orang yang berpura-pura ingin mendamaikan, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan dari masalah orang lain. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Tammalele

Transkrip Lengkap Baca Cerita →

Pusaka Digital - Pemutar Video Tradisi Lisan Buka Halaman Cerita Lengkap
Metodologi Ilmiah

Alur Riset & Digitalisasi

Tahapan sistematis penelitian kebudayaan dari pra-observasi lapangan hingga pelestarian naskah publik.

01 Jan 2026

Pra-Penelitian & Perizinan

Pengurusan surat izin penelitian ke dinas kebudayaan dan koordinasi wilayah.

● completed Tahap 1
02 Jan 2026

Observasi Situs Budaya

Kunjungan langsung ke beberapa lokasi artefak di Sulawesi Barat.

● completed Tahap 2
03 Feb 2026

Wawancara Maestro Budaya

Diskusi mendalam dengan tokoh adat mengenai sejarah lisan Mandar.

● completed Tahap 3
04 Mar 2026

Digitalisasi Naskah Kuno

Proses scanning dan restorasi digital naskah-naskah Lontara.

● progress Tahap 4
05 Apr 2026

Dokumentasi Audio Visual

Perekaman tarian dan musik tradisional sebagai aset digital.

● progress Tahap 5
06 May 2026

Penyusunan Metadata

Klasifikasi dan input data sejarah ke dalam sistem database.

● pending Tahap 6
07 Jun 2026

Pengembangan Dashboard Admin

Pembangunan modul manajemen untuk pengelola pusaka digital.

● pending Tahap 7
08 Jul 2026

Alpha Testing Sistem

Pengujian internal fitur pencarian dan visualisasi data budaya.

● pending Tahap 8
09 Aug 2026

Workshop Tenaga Ahli

Pelatihan bagi staf daerah untuk mengelola pustaka digital.

● pending Tahap 9
10 Oct 2026

Beta Launch & Feedback

Peluncuran terbatas untuk mendapatkan masukan dari komunitas budaya.

● pending Tahap 10
11 Nov 2026

Grand Launching Pusaka Digital

Peresmian sistem digitalisasi budaya Sulawesi Barat secara publik.

● pending Tahap 11
12 Dec 2026

Evaluasi & Pelaporan Akhir

Penyusunan laporan akhir penelitian dan dampak digitalisasi.

● pending Tahap 12
Kolaborasi Intelektual

Pakar & Tim Digitalisasi

Dibalik pelestarian budaya Sulawesi Barat melalui riset kebudayaan dan sentuhan teknologi.

Dr. Sri Musdikawati, M.Si

Dr. Sri Musdikawati, M.Si

Ketua

Erniati, S.S., M.Si

Erniati, S.S., M.Si

Anggota

Ahmad Ridhai Azis

Ahmad Ridhai Azis

Anggota

Muh. Afiat Mulwan, ST. MT.

Muh. Afiat Mulwan, ST. MT.

Anggota

Muhammad Irfan S. Pd., M. Si

Muhammad Irfan S. Pd., M. Si

Anggota

MOHAMMAD FAHMY, SE, MM

MOHAMMAD FAHMY, SE, MM

Anggota

MUHAMMAD DANIAL, S.HUM., MM

MUHAMMAD DANIAL, S.HUM., MM

Anggota

Didukung Oleh Lembaga & Mitra Riset