Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.
ODO DI TOBAN
Baine di kurung, uncerita dua anak-anak bangasawan ma" rara ma" biru dio Kabupaten Mamasa. Jo anakna oh na pakamayasigali tomatuanna la"binna papa"na. Inde anakna muane di sangga Bongga, anna inde anakna baine di sangga Arru". Inde Bongga anna barinni" pa si kutanai papa"na nakua "la mendadi aka ko iko?", na timba" Bongga "la dadi polisi na" kao papa"". Anna inde anakna baine, maka si nakutanai papa"na la dadi aka ko iko, si nakua: "liu ai la dadi penari na" kao". Sapo" inde cita-citanna e tae" na porai papa"na. Mengkalao mi dio dio oh aka na tekan papa"na, na polalan inde do" Arru" e mendadi tattasan. Inde anna kamai mo Bongga anna do" Arru", Bongga ia berhasil dadi polisi. Anna do" Arru" ia jo attu umurna kira-kira sapulo kasera taunna, tama mesa sanggar seni yao Mamasa, inde do" Arru" e berhasil dadi penari malekkek. Sapo dio talentana oh tae" na porai papa"na, pikki"na papa"na jo penari tae" dengan gunana. Si nakuanni papa"na la dadi ya roko to yao yato malanna ma"guna lako kalemu anna lako tu senga". Na polalan Arru" ma pa"di" penawa. Anna tanda di pakamayanna, setiap la suun banua si nakawal liu anggota na papa"na moi lao ma"saleo sola solana. Dengan pissan attu inde Arru" e mengeh menari sola solana na lambi" anggotana papa"na, anna paksa ih sule lako banua. Mengkalao mi dio dio oh na parnduk tattasan mi inde do" Arru" e. Mengkalao dio mi dio oh na kambela asan mi sola solana do Arru" aka inde do" Arru" eh tokke mi si menari kalena mesai. Mane sadar ri uka tomatuanna kumua inde do" Arru" e la lao di pakuli ih, sapo la di aka ih aka masae sigali mi di pa"di" penawa na polalan ta" mo mala di pakuliih sakinna, yamo pole di ngei toban mi. Inde anna pira-pira bulan mon di toban e, tokke" mi sadar papa"na kumua "salah mo" kao to oh tokke untekan sigali na ankku yamo nagei dadi susi mo dio oh". Ende anna mangka mo messalu-salu papa"na e, aka masaki mi uka, tokke mi sadar sule do" Arru" anna malapu" uka sule papa"na aka mangka mi mangaku kumua salahna. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini menceritakan tentang dua orang anak bangsawan atau berdarah biru di Kabupaten Mamasa. Kedua anak ini tumbuh di bawah tekanan yang sangat besar dari orang tua mereka, khususnya sang ayah. Anak laki-lakinya bernama Bongga dan anak perempuannya bernama Arru". Saat masih kecil, sang ayah bertanya kepada Bongga tentang cita-citanya, dan ia menjawab ingin menjadi polisi. Sementara itu, ketika Arru" ditanya hal yang sama, ia selalu menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ia ingin menjadi seorang penari. Namun, cita-cita kedua anak tersebut, terutama Arru", sangat tidak disukai oleh ayahnya. Penolakan keras dan tekanan yang terus-menerus dari sang ayah mulai membebani batin Arru". Sejak saat itulah, tekanan jiwa yang dialaminya semakin berat hingga perlahan-lahan ia mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan jiwa atau menjadi gila (tattasan). Setelah dewasa, Bongga berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi anggota polisi. Sementara itu, Arru" yang telah menginjak usia 19 tahun bergabung dengan sebuah sanggar seni di Mamasa dan berhasil menjadi penari yang hebat. Sayangnya, bakat luar biasa Arru" tetap tidak mendapat dukungan. Ayahnya menganggap menjadi penari adalah hal yang sia-sia dan menuntutnya menjadi orang yang "berguna" menurut standarnya. Karena statusnya sebagai anak bangsawan yang sangat disegani, ruang gerak Arru" dibatasi; setiap kali ia keluar rumah untuk bermain, ia selalu diawasi ketat oleh orang-orang suruhan ayahnya. Suatu hari, ketika Arru" sedang asyik berlatih menari bersama teman-temannya, orang-orang suruhan ayahnya datang menyergap. Ia dipaksa pulang secara kasar ke rumah. Peristiwa traumatis itu menjadi titik balik yang menghancurkan mentalnya sepenuhnya, hingga akhirnya Arru" benar-benar jatuh ke dalam kondisi gila (tattasan). Sejak saat itu, teman-temannya menjauh karena perilaku Arru" yang semakin aneh. Orang tuanya baru menyadari bahwa ia butuh pengobatan, namun karena tekanan batin sudah berlangsung terlalu lama, sakitnya sulit disembuhkan hingga ia pun harus dipasung (di toban). Setelah beberapa lama dalam pasungan, sang ayah akhirnya sadar bahwa ambisinya telah menghancurkan anaknya. Ayahnya pun mengakui kesalahannya (messalu-salu). Setelah pengakuan tulus dan penyesalan sang ayah, keajaiban terjadi; Arru" perlahan pulih kesadarannya, dan kesehatan sang ayah yang sempat menurun pun ikut membaik. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ra"tun