Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.

PAMMARONDO MAPPANAUNG PARE (MENANAM PADI)
Desa Pundau, Kec. Sendana, Kab. Majene

PAMMARONDO MAPPANAUNG PARE (MENANAM PADI)

nipattunganang bomi baulu. Nirumbui undung, anna nittamai doa. Tuppana mariri pare, nirumbui pole undung sawa" apa nanipemmalai mai. Jari diangmo ande baru. Massalasalama mi tau, lambi taung bomo mattura pole. Mua diang jarinna, nisalasalamai pole. Diangmo rie mesa sapo-sapo diwao taunna, issinna pitu tau. Landurmi mesa towaine mambawa watta-wattal. Apa issinna atupe nabi pitu. Jari mendai mi ri sapo"e. Tau diwao e indangi naissang ma"uang pessorongo mai immaie, sawa" ma cangngo-cangngoi ma gengge-gengge toi. Jari nebengammi atupe"e lao nande sisammesana. Diangmo mesa tau menjolo pa"ingarang. Naro"yongmi annang-anna"nae anna ma"uang: "I"o pattirio tanah, i"o pattirio le"bo, i"o pattirio buttu, i"o pattirio bulan, mesa namattiri"i sambayang, mesa namattiri"i ande, mesa namattiri"i mesa rupa tau." Jari nabuami ba"banao. Diammo naita nanapelleteio, anna lambimi jalan-jalan. Maitami sau ayu sappong pitu taena, pitu daunna, mesa buana. Jari ma"uangmi: "Inggai sirambangan di"e makkawe dai daunna ayu!" Pitui siola, pitui daunna ayu. Indiomi tu"u mamulami mikke"de lima wattu. Diang tomo ande. Gannami issinna linoe. "Purami!" Terjemahan Bahasa Indonesia Sejarah menanam padi dahulu dimulai dengan menyertakan daun sirih. Setelah benih ditanam, daun sirih kembali diberikan sebagai bagian dari tradisi. Kemudian dilakukan pengasapan menggunakan dupa sambil memanjatkan doa. Ketika padi mulai menguning dan akan dipanen, proses pengasapan dengan dupa dilakukan kembali sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan. Setelah panen, diperoleh beras baru, lalu masyarakat mengadakan syukuran. Setiap tahun, ketika panen berhasil, syukuran kembali dilaksanakan sebagai ungkapan rasa terima kasih. Pada suatu waktu, terdapat sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang. Suatu hari, lewatlah seorang perempuan yang membawa perbekalan terbungkus kain. Di dalamnya terdapat tujuh ketupat nabi. Perempuan itu naik ke rumah tersebut. Namun, orang-orang yang berada di atas rumah tidak menyapanya dan menyuruhnya mendekat, karena mereka dianggap memiliki keterbelakangan mental atau gangguan kejiwaan. Perempuan itu kemudian memberikan ketupat tersebut untuk mereka makan bersama. Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka lebih dahulu tersadar. Ia segera membangunkan keenam temannya dan berkata: "I"o pattirio tanah, i"o pattirio le"bo, i"o pattirio buttu, i"o pattirio bulan, satu mendirikan salat, satu mendirikan makan, satu mendirikan rupa manusia." Setelah itu, mereka membuka pintu rumah. Mereka melihat sebuah titian yang dapat mereka lalui, lalu berjalan menyusurinya. Di perjalanan, mereka menemukan sebatang pohon kayu yang memiliki tujuh dahan, tujuh helai daun, dan satu buah. Mereka berkata, "Mari kita bersama-sama mengambil daun pohon ini!" Jumlah mereka tujuh orang, dan daun pohon itu pun berjumlah tujuh. Dari situlah awal mula didirikannya salat lima waktu. Makanan pun telah tersedia. Dengan demikian, sempurnalah isi dunia ini. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muna dan Ade Ismi

admin Baca