Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.
BALENGA BULAWANG (BELANGA EMAS)
Diolo" mai diang mesa carita dongeng yang mala diala hikmahna. Diang mesa pasangan tomawuweng yang sanna kaya. Iya di"e tomawuweng diang tallu ana"na, dan semuanya sudah berkeluarga. Karena sangat menyayangi anak-anaknya, seluruh harta yang mereka miliki bare-bareang nasang lao di ana"na hingga akhirnya habis semuanya. Suatu hari bainena berkata kepada muanena, "Apa yang akan kita lakukan sekarang, karena semua harta kita sudah habis kita berikan kepada anak-anak"? Muanena menjawab dengan harapan bahwa mudah-mudahan anak-anak mereka masih akan memperhatikan orang tuanya karena semua harta telah diberikan kepada mereka. Namun lama-kelamaan anak-anak itu menjadi sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Kedua orang tua itu akhirnya tinggal berdua saja di rumah dan tidak lagi mendapat perhatian dari anak-anaknya. Melihat keadaan itu, sang suami mempunyai sebuah rencana. Ia menyuruh istrinya pergi ke pasar untuk membeli balenga lita" (belanga tanah liat). Ketika istrinya bertanya untuk apa belanga itu, sang suami hanya berkata agar ia membelinya saja tanpa banyak bertanya. Setelah belanga itu dibawa pulang, sang suami menggantungnya di atas tapang (plafon) rumah. Ia kemudian berkata kepada istrinya bahwa jika mereka ingin buang air besar, mereka harus naik ke atas plafon dan membuangnya ke dalam belanga tersebut. Beberapa waktu kemudian, sang ayah mulai mengunjungi anak-anaknya satu per satu. Kepada anak pertama ia berkata bahwa di rumahnya ada sambalenga bulawang (satu belanga emas). Emas itu akan menjadi milik anak tersebut jika kedua orang tuanya telah meninggal. Mendengar hal itu, anak pertama sangat senang dan mulai melayani orang tuanya dengan baik, bahkan menyajikan makanan enak seperti sokkol, ketupat, dan berbagai hidangan lainnya. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak kedua dan anak ketiga. Akibatnya ketiga anak itu berebut memperhatikan orang tuanya karena masing-masing ingin mendapatkan emas tersebut. Singkat cerita, kedua orang tua itu akhirnya meninggal dunia. Setelah pemakaman selesai, ketiga anak itu berkumpul untuk mengambil belanga yang mereka kira berisi emas. Namun mereka mulai bertengkar karena masing-masing merasa berhak atas harta itu. Akhirnya mereka sepakat memanggil imam untuk membagi harta tersebut. Pada masa itu belum ada kepala desa; yang ada hanyalah imam, khatib, dan bilal. Imam kemudian datang dan menyuruh khatib naik ke atas plafon untuk mengambil belanga itu. Ketika khatib melihat isi belanga tersebut, ia berkata, "Tai!" (kotoran). Namun imam yang berada di bawah salah mengerti dan menyuruh khatib menumpahkannya ke bawah. Khatib kembali berkata bahwa itu kotoran, tetapi imam tetap memerintahkannya untuk menuangkan isi belanga tersebut. Akhirnya isi belanga itu ditumpahkan dan ternyata benar-benar kotoran manusia. Melihat hal itu imam menjadi marah dan berkata bahwa mereka telah berebut sesuatu yang tidak ada nilainya. Dari peristiwa itu mereka akhirnya sadar bahwa orang tua mereka hanya ingin memberikan pelajaran agar anak-anak tidak melupakan orang tuanya setelah memiliki keluarga sendiri. Carita ini mengandung hikmah bahwa seorang anak tidak boleh melupakan orang tuanya, dan orang tua juga sebaiknya tidak menghabiskan seluruh hartanya tanpa memikirkan masa tua mereka. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu terdapat sebuah cerita yang sering dianggap sebagai dongeng, tetapi sebenarnya memiliki banyak hikmah yang dapat dipetik. Dahulu ada sepasang orang tua yang sangat kaya. Mereka memiliki tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Karena sangat menyayangi anak-anaknya, seluruh harta yang mereka miliki sedikit demi sedikit diberikan kepada ketiga anak tersebut hingga akhirnya tidak tersisa lagi. Suatu hari sang istri berkata kepada suaminya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Semua harta kita sudah habis diberikan kepada anak-anak." Sang suami kemudian menjawab dengan penuh harap, "Mudah-mudahan anak-anak kita tetap memperhatikan kita, karena tidak mungkin mereka melupakan kita setelah semua harta kita berikan kepada mereka." Namun seiring berjalannya waktu, ketiga anak mereka menjadi sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Mereka jarang lagi memperhatikan kedua orang tuanya yang kini hanya tinggal berdua di rumah. Melihat keadaan itu, sang suami kemudian mempunyai sebuah rencana. Ia berkata kepada istrinya agar pergi ke pasar untuk membeli sebuah belanga yang terbuat dari tanah liat. Ketika istrinya bertanya untuk apa belanga itu, sang suami hanya menjawab agar ia tidak banyak bertanya dan cukup membelinya saja. Setelah belanga itu dibeli dan dibawa pulang, sang suami menggantungnya di atas plafon rumah. Ia kemudian berkata kepada istrinya bahwa jika mereka ingin buang air besar, mereka harus naik ke atas plafon dan membuangnya ke dalam belanga tersebut. Hal itu mereka lakukan setiap kali ingin buang air besar. Beberapa waktu kemudian, sang ayah mulai mengunjungi anak-anaknya satu per satu. Kepada anak pertama ia berkata bahwa di rumahnya terdapat satu belanga berisi emas, dan emas itu akan menjadi miliknya jika kedua orang tuanya telah meninggal. Ia juga berpesan agar anak itu tidak perlu membaginya dengan saudara-saudaranya. Mendengar hal itu, anak pertama sangat gembira dan langsung melayani orang tuanya dengan sangat baik, bahkan menyajikan makanan yang lezat seperti sokkol, ketupat, dan berbagai hidangan lainnya. Hal yang sama juga dilakukan kepada anak kedua dan anak ketiga. Kepada masing-masing anak ia menyampaikan pesan yang sama tentang adanya belanga berisi emas di rumahnya. Akibatnya, ketiga anak itu mulai berlomba-lomba memperhatikan dan merawat orang tua mereka dengan sangat baik. Singkat cerita, kedua orang tua tersebut akhirnya meninggal dunia. Setelah pemakaman selesai, ketiga anak itu berkumpul dan ingin mengambil emas yang ada di dalam belanga tersebut. Namun mereka mulai berselisih karena masing-masing merasa berhak atas emas itu. Akhirnya mereka sepakat untuk meminta bantuan imam agar membagi harta tersebut dengan adil. Pada masa itu belum ada kepala desa seperti sekarang; yang ada hanya imam, khatib, dan bilal yang menjadi pemimpin masyarakat. Imam kemudian datang bersama khatib untuk mengambil belanga tersebut. Ia menyuruh khatib naik ke atas plafon rumah untuk mengambilnya. Ketika khatib sudah berada di atas plafon dan melihat isi belanga itu, ia berkata, "Tai!" (kotoran). Namun imam yang berada di bawah salah memahami kata itu. Ia mengira khatib sedang mengatakan sesuatu yang lain. Imam kemudian berkata, "Kalau begitu, tuangkan saja ke sini." Khatib kembali berkata, "Tai!" tetapi imam tetap menyuruhnya menuangkan isi belanga itu ke bawah. Akhirnya khatib menumpahkan isi belanga tersebut. Ternyata yang jatuh adalah kotoran manusia yang selama ini dikumpulkan oleh kedua orang tua mereka. Melihat kejadian itu, imam menjadi marah dan berkata bahwa mereka semua telah berebut sesuatu yang tidak ada nilainya. Dari situlah mereka sadar bahwa orang tua mereka sebenarnya ingin memberikan pelajaran berharga kepada mereka. Cerita ini mengandung hikmah bahwa seorang anak tidak boleh melupakan orang tuanya, terutama setelah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Di sisi lain, cerita ini juga mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya tidak menghabiskan seluruh hartanya tanpa memikirkan masa tua mereka. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Burhan/Caca Andika