Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.

SIKEMBAR GAIB
Lingk. Passarang, Kel. Totoli, Kec. Banggae, Kab. Majene

SIKEMBAR GAIB

Di pirang bongi, di waktu teppo Walanda, diang di"o ana" disanga I Rindu. Tau Bugis di"o. Di ada"na tau Bugis, mua napianang bassa, tuaininna biasana nalamusang lao di lembang. Jari di"o amma"na I Rindu, nappaccinni ana"na, tuaininna nabungkus lipa", nabawa lao di lembang anna namanusang. Tappana nabuka tuaininna di lembang, ternyata tania tuaininna, tapi tau. Jari ma"uangmi sandonae, "Andang bandi salah ma"ala sananaeke"? Apa uwala tau, tania tuaininna"? Jari nabawa pole lao diboyanna. Ternyata tuaininna di"o menjadi tau. Akhirna kembar mi. Berbulan-bulan sampe bertahun-tahun, kayyang mi di"o ana"e. Diang mesa mate di antara duanna, tapi andangi diissang mua innai mate"e"apa sananaeke" aslinna atau kembarna. Iya to masae disanga I Rindu. Menjelang umur dua sampe empat tahun, lewai passiallanna. Mua missung di boyanna, sialla tau, nagasangan solana, napicera solana. Amma"na masiri, jari nakurungmi I Rindu di kamar nakocci, rappo-rappo. Mesa bongi, papa"na lao di uma, massumpe durian. Tappana massumpe, diang tau ma"uang di bawana, "Papa, pagannai da"dua!" Ternyata I Rindu. Papa"na masiri, minnaong, nalellerri lao diboyanna. Tappana narua"i bainena, ma"uang, "Mangapa mupasungani ana"mu"? Bainena ma"uang, "Andiang kupasung. Andang dikurung di kamar." Jari naparessa"i kamarae"rappo-rappo andiang tebua, tapi ana"e andiang illalang. Menjelang dewasami, I Rindu jadi kayyang, lewai macanganna, kebal, barani. Di waktu teppo Walanda, mua siwali walada, iya tia tannang alawena, andang nasa"ding peluru. Iya to disanga Si Kembar Gaib. Bassami di"o kejadiannao. Andangi diissang pole kelanjutanna. Ingga"mi di"o usiwissang caritanna. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman Belanda dahulu, lahirlah seorang anak yang diberi nama Rindu. Ia berasal dari keluarga Bugis. Dalam adat Bugis, ari-ari bayi biasanya dihanyutkan atau ditenggelamkan ke laut atau danau. Setelah bayi itu dimandikan, ari-arinya dibungkus dengan kain, lalu dibawa ke laut untuk ditenggelamkan. Ketika ari-ari itu hendak dibuka sebelum ditenggelamkan, ternyata isinya bukan ari-ari, melainkan seorang bayi. Orang tuanya terkejut dan berkata, "Jangan-jangan saya salah mengambil tadi? Mengapa yang saya bawa ini bayi, bukan ari-ari"? Ari-ari tersebut kemudian dibawa kembali ke rumah. Ternyata, ari-ari itu berubah wujud menjadi manusia. Sejak saat itu, anak tersebut menjadi kembar. Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun berlalu, kedua anak itu tumbuh besar. Namun, salah satunya meninggal dunia. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa yang meninggal"apakah anak yang asli atau yang berasal dari ari-ari. Anak yang hidup itulah yang kemudian dikenal dengan nama Rindu. Menjelang usia dua hingga empat tahun, Rindu sangat suka berkelahi. Setiap keluar rumah, ia selalu bertengkar dengan teman-temannya hingga melukai mereka. Ayahnya merasa malu atas kelakuannya, sehingga Rindu dikurung di dalam kamar yang terkunci dan digembok rapat. Suatu hari, ayahnya pergi ke gunung untuk memetik durian. Ketika sedang memetik buah, terdengar suara dari bawah berkata, "Ayah, tambahkan jadi dua!" Ternyata yang berbicara adalah Rindu. Ayahnya terkejut dan segera turun dari pohon, lalu pulang ke rumah sambil menyeret anaknya. Ia memarahi istrinya, "Mengapa kamu mengeluarkan anak ini"? Istrinya menjawab bahwa ia tidak pernah membukakan pintu kamar. Ketika diperiksa, benar saja gembok kamar masih terkunci, tetapi Rindu tidak ada di dalamnya. Ketika beranjak dewasa, Rindu tumbuh menjadi seorang yang kuat, kebal, berani, dan tangguh. Pada masa peperangan melawan Belanda, ia dikenal sebagai pejuang yang tidak pernah gentar. Tubuhnya seakan tidak mempan oleh peluru. Demikianlah kisah Si Kembar Gaib. Kelanjutan ceritanya tidak banyak diketahui orang. Sampai di sinilah cerita yang dapat disampaikan. Diceritakan kembali oleh Mahayuddin/Ahmad Zulham

admin Baca