Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 1 cerita rakyat terarsip di sistem.

BURAREA
Lingk. Rangas Timur, Kec. Banggae, Kab. Majene

BURAREA

Diang mesa kisa di tana Mandar, tepatna di Banua Palippis. Iyyaro wattu, andian pa disanga Campalagian; duapa Palippis sanganna engeanna. Di Palippis diang mesa tau disanga Buraera, tau posasi (nelayan) membonyan dio. Di"o wattu, di Palippis andan maande bau, jari kurang hasil tangkapan. Pole karewa mauan, "Di Polewali maandei bau, karena dilalan lagi musim ikan." "Ohh de"eh, macoai tia tau tamao di Polewali mosasi, apa dian tia palakan maande bau dilalan. Apa ripo gau dini di Palippis, andan toi maande bau bomo"? Jari dianmo nia"na marrencana Buraera lao mosasi di Polewali. Sipau-paumi bainena, mauan: "Yau lao mosasi di Polewali, apa dilalan lagi musim bau. Dini di Palippis makurang boi bau." Mauan bainena: "Iya, pada apa tonganmo dini mua andan maande." Akhirna setuju nasang. Mattandaimi allo keberangkatan. Na ajaki toi appona (cucuna), mauan: "Macoai tia kambe tama di Polewali mosasi." Mauan appona: "Iya, Kek, malolo tongan tama di Polewali, apa rian tia maande bau dilalan." Mattandaimi allo, mauan: "Malolo tama bongi Jumat, apa bongi ayuma anginna ndan banna bega". Mua allo simata, bannai angin." Namun pole mesa tomauweng (kerabat) mamanya: "Kek, betulkah mu lao mosasi bongi Jumat? Bongi ayuma memang malolo angin, tapi tallomo-lomo lao. Tau tu"u na cerita tomauweng, andan hal-hal aneh bongi ayuma." Mauan Buraera: "Iya, itu bandi carita tomauweng." Kerabatna mauan: "Terserahko, Kek. Yau sipauni mi." Singkat carita, lambi bongi ayuma. Buraera siola appona miakke. Pura massambayang magrib, lao miakke. Namun karena malino sannal laut, arusna sasi nabawa sau, ndan mala na tarai. Lambi ri tannga-tannga sasi. Mauan Buraera: "Apa ripo gau, kambe? Ndamo mala mappasi sau, arus ma alai kita." Masae ri"e, naita ri"e mesa ragi-ragi bassae. Lampunna maidi, bunyi gandrang, mappake adat Mandar, di atasna ragi-ragi. Rupa-rupa binatang anna tau menari di atasna. Bassae ragi-ragi, rapan buttu jalan di sasi. Simata siola appona ndan mala mappau, maringin perasaanna. Akhirna ragi-ragi le"ba. Angin mappusang, malaimi rolo pole ri Palippis. Setibana di banua, maringin dai, massaki dua-due. Sitallu ngallo dua ngallo baru mala mappau. Mauan Buraera: "Tongan, yau maita sendiri. Dian tongan hal-hal aneh di sasi." Namun Buraera tetap nia" lao mosasi pole di Polewali. Wattu simata enak perasaanna, lao miakke allo simata. Lambi di Polewali, pura massambayang, lao miakke. Di"o engeanna, diang tau Bugis yang lama mosasi dio. Nattiungmi sau di roppo-roppo. Mane mambuangi pancing, mauan tau Bugis: "Woi, palaimo tama. Andano namiala bau." Mauan Buraera: "Apa muananna? Yau yakin namiala bau bongi di"e pole Pongataala." Mauan tau Bugis: "Mua namiala ko bau bongi di"e, upasianu nyawau." Buraera mauan: "Ceh, apa muananna i"o? Ndai" di"e sipasammanang nyawa." Namun mosasi terus. Tau Bugis maidi bau. Buraera ndan topa namiala. Lambi jam satu bongi. Mauan appona: "Kek, palaimo tama." Mauan Buraera: "Sabar kambe. Namiala bandi mesa." Napasan appana, napasan sau. Umpanna diande ikan, tapi makurang boi. Nabeso mulai jam satu lambi jam enam subu. Akhirna namiala mesa bau keccu, rapan tellu jari. Mauan Buraera: "Alhamdulillah, walau keccu, namiala pole Pongataala." Tau Bugis kaget: "Tongan namiala ko." Nauri mi tau Bugis. Nalloi doi tabunganna, na pasanni: "Sampaikanni lao baineu di Bugis." Pole mi tau Bugis di boyanna. Mandoe, mappake lipa malolo, pura mapaccing, napicoui pillolina. Di"o akhir hayatna, matemi ri"o. Mauan Buraera: "Ceh, iya menyamakan nyawanna siola bau. Tapi iyamo takdir." Akhirna mate tau Bugis ri"o. Iyamo ri"e kisa Buraera di Palippis. "Cappu Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada sebuah kisah di tanah Mandar, tepatnya di Kampung Palippis. Pada masa itu belum dikenal nama Campalagian; wilayah tersebut masih disebut Palippis. Di kampung itu ada seorang nelayan bernama Buraera. Pada waktu itu, di Palippis sedang tidak musim ikan sehingga hasil tangkapan berkurang. Lalu datang kabar bahwa di Polewali sedang musim ikan. "Lebih baik kita masuk ke Polewali untuk melaut," pikirnya, "karena di sana sedang musim ikan. Di sini di Palippis juga sedang tidak musim." Buraera pun merencanakan berangkat ke Polewali. Ia berbicara kepada istrinya: "Saya akan melaut ke Polewali karena di sana sedang musim ikan. Di sini hasilnya kurang." Istrinya menjawab: "Iya, memang benar. Di sini juga sedang tidak musim." Mereka pun sepakat. Ia mengajak cucunya dan menentukan hari keberangkatan, yaitu malam Jumat karena angin biasanya lebih tenang. Namun seorang kerabat mengingatkan: "Jangan berangkat malam Jumat. Banyak cerita orang tua dahulu tentang hal-hal aneh pada malam itu." Buraera menjawab: "Itu hanya cerita orang tua." Tibalah malam Jumat. Setelah salat Magrib, mereka berangkat. Namun laut sangat tenang dan arus membawa perahu mereka hingga ke tengah laut. Mereka tidak mampu lagi mendayung. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang besar di kejauhan, seperti pulau berjalan. Lampunya banyak, terdengar bunyi gendang, dan tampak orang-orang menari memakai adat Mandar di atasnya. Mereka terdiam ketakutan hingga benda besar itu berlalu. Akhirnya angin bertiup dan mereka kembali ke Palippis. Setibanya di kampung, mereka jatuh sakit karena ketakutan. Setelah beberapa hari, Buraera berkata bahwa ia benar-benar melihat kejadian aneh di laut. Meski demikian, ia tetap berniat melaut ke Polewali. Kali ini ia berangkat pada siang hari. Setibanya di Polewali, ia bertemu seorang nelayan Bugis yang sudah lama melaut di sana. Saat mereka mulai memancing, orang Bugis itu berkata: "Pulang saja kamu, malam ini kamu tidak akan mendapatkan ikan." Buraera menjawab: "Saya yakin akan mendapatkan ikan malam ini dari Tuhan." Orang Bugis itu berkata: "Jika kamu mendapatkan ikan malam ini, aku samakan dengan hidupku." Buraera menganggap ucapan itu berlebihan, tetapi ia tetap memancing. Orang Bugis itu terus mendapatkan ikan, sedangkan Buraera belum. Hingga pukul satu malam, ia terus berdoa. Akhirnya umpannya dimakan ikan. Ia menariknya dari pukul satu hingga pukul enam pagi. Ternyata yang didapat hanya ikan kecil sekitar tiga jari. "Alhamdulillah," katanya, "walaupun kecil, ini rezeki dari Tuhan." Orang Bugis itu terkejut dan mengakui ucapannya. Ia menyerahkan uang tabungannya dan berpesan agar disampaikan kepada istrinya. Setelah itu, ia pulang, mandi, berpakaian rapi, lalu meninggal dunia. Buraera berkata: "Ia menyamakan hidupnya dengan seekor ikan kecil. Tetapi begitulah keyakinannya, dan begitulah takdir." Demikianlah kisah Buraera dari Palippis. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ibrahim/Rahmadani

admin Baca