Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Ulu Mambi, Kec. Mambi, Kab. Mamasa

PUS (PITU ULUNNA SALU)

22 May 2026 -2.942340, 119.268813
PUS (PITU ULUNNA SALU)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Naturanta bahata inde carito, manciritakan tau menjalu tuho di lino na hulu Sa"dangan, nudi tuangan "To DiPanurung". Sa"dangan nudi tuangan "To Di Panurung", ahoo na terjemahkan nei Bapak M. T. Azis Syah mendadi "To Manurung".
I"sangana inde carita, natula tau To Di Panurung manganu katuhoan di hulu Salu Sa"dangan, mala Tuhatobaine"I duka di kebudayaan To Mandar. Inde ditulaang "To Kombong di Wura" anna "To Bissedi di Tallang". To Kombong di Wura tau sohong maine"I di uhayi Sa"dang, sedangkan To Bissedi di Tallang tau sohong maine"I di batangna balo. Isangana inde Balo anna buih, sule maikanikka, namangkianna mesa Pitu anak kampoli made ahoo di"isangana.
Isangana sanganna:
a. I Lando Belua" (P);
b. I Lasso Keppang (L);
c. I Lando" Guttu" (P);
d. Usu" Sabambang (L);
e. I Pa"dorang (L).
I Lando Belua" inde lebak mentausuri uhayi, mampeangsang lamba beluhana, aka labunna bahau uhayi pas mendio kampo. Pasmang lamba beluhana I Lando Belua", sitomuto bangsawan inde sule maidi daerah Bone. Inde to bangsawan mambahai nikka puhanna nikka sola inde bangsawan. Ya lebakmi mantindo muanena I Lando Belua", nono di bagian selatan, yamendani nenek moyangna to Gowa.
Inde anak kaduanna I Lasso Keppang lebak ne di bagian daerah Belawa di Luwu. Inde nei anak katalunna ya nono siang nei di hulu Salu Sa"dang. Inde nei anak kaupanna toang nono nei di Karonnangan. Inde nei anak terakhirna I Pa"dorang toang di Bittuan nei.
Inde Pongkapadang lebek merantau mai di Pitu Ulunna Salu, sule mai di hulu Salu Sa"dang. Inde aha Pitu Ulunna Salu aka sule maine nenek monyang masyarakatna Pitu Ulunna Salu. Inde Pongkapadang lebek merantau sule mai di hulu Salu Sa"dang, mampean daerah bakahu na pasola inde dua tau pengawalna, mesa tau mambaha toba, indei gong, padang, dang sepu".
Inde pengkalaoanna, ati mekspedisi saboko na Pongkapadang ke barat, memang todak malupu si dak la uda hodei tau malupu ke lalang, diolang mengkalong lembang, uhai, bunttu na ola. Ia sangai inde tujuan a mampean ongeangan umalah, nangei meluhe tanda malupunna. Yaho di bunttu na nukallang kaliu.
Yaho di bunttu ma dinggi liu, hoina no derajat Celcius, pengawalna Pongkapadang sanganna Mambulillin, malupu liu sampai-sampai mepele nono di bunttu Kalakang liu. Pongkapadang duseng atas kamateanna pengawalna nu setia liu. Pongkapadang ma sapu dadangna, na malai I mangkubur Mambulillin ahoo di bunttu. Atas pengabdian na nu setia liu sola Pongkapadang, inde Mambulillin tanda setiana sampai-sangana. Aha ahoo di bunttu tersebut lambik di noa bunttu Mambulillin.
Inde umalah diita anna makaleso pano dusun Rante Pongko, Kecamatan Mamasa. Aha le"gendadang, merupakan mesa objekna wisata alaman nu alina prospekna di Kabupaten Mamasa.
Lalang Pingkapadang ke barat, ia sanganna toang mangei ya na sebut dino atawa Tabulahan, na tandai dahi kebudayaan na Pitu Ulunna Salu, mendahi legenda dahi wilayanna Kabupaten Mamasa. Selanjutna, sebelum mendahi Kabupaten Mamasa, inde le" su Kabupaten Mamasa sebenarna Kabupaten Pitu Ulunna Salu, mali putin wilayah Mambi, Aralle, Rante Bulahan, Tabulahan, dan Bambang.
Ia sangam inde I Pa"dorang nikka sola inde bahine sanganna Rattebiang. Sule mai kanikka na manghiana anupaa anakna. Inde nei I Tasudidi, si Bannangang, mendahi leluhur na to Mamasa. Inde ara anak katallunna daine indei di sanganna, ampo mendani nenek moyang na to Masuppu. Inde nei anak kaupanna sanganna I Pongkapadang toang nono nei di Bunttu Mambulilling.
Tappan I Pongkapadang nikka siola anak dahaba sanganna Sanrabone, mengallaono no Gowa, anna siola toang di Bunttu Bulu. Lessu ksupu"ng lambik nono indo"o tappanan nono indo"o lopinna. Pingkapadang anu" ananggapsebagai to bahallessu" na daerah Sulawesi Barat, Tengah, dan Selatan.
"Sippik!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Dikisahkan tentang munculnya manusia pertama yang mendiami hulu Sungai Sa"dang yang disebut dengan "To Dipanurung", yang selanjutnya diterjemahkan oleh Bapak M. T. Azis Syah dengan istilah "To Manurung".
Menurut cerita dalam lontara, To Dipanurung yang merintis kehidupan umat manusia dalam kebudayaan Mandar terdiri atas "To Kombong di Wura" yang berjenis kelamin laki-laki dan "To Bissedi Tallang" yang berjenis kelamin perempuan. Secara harfiah, To Kombong di Wura berarti "manusia yang muncul dari buih atau gelembung air", sedangkan To Bissedi Tallang berarti "manusia yang muncul dari dalam batang bambu".
Keduanya kemudian menikah dan melahirkan seorang putra yang bernama To Banua Pong (yang berarti "Orang Kampung Tua"). To Banua Pong, atau yang juga disebut To Banua Posi, kemudian bermukim di Tattebulawang atau Rantebulahan, lalu menikah dengan sepupu satu kali, namun nama istrinya tidak diketahui.

Dari keturunan tersebut lahirlah lima orang anak, yaitu:
a. I Lando Belua" (perempuan);
b. I Lasso Keppang (laki-laki);
c. I Lando" Guttu" (perempuan);
d. Usu" Sabambang (laki-laki);
e. I Pa"dorang (laki-laki).
I Lando" Belua" secara harfiah berarti "Si Panjang Rambut". Ia dikisahkan pergi menelusuri sungai untuk mencari sehelai rambutnya yang hanyut terbawa air saat mandi. Dalam perjalanannya, ia kemudian bertemu dengan seorang bangsawan di daerah Bone. Keduanya lalu menikah dan pergi menuju bagian selatan, serta menjadi nenek moyang orang Gowa atau Makassar.
I Lasso Keppang berangkat dan bermukim di daerah Belawa, Luwu. I Lando" Guttu" tinggal di Ulu Sa"dang. Usu" Subambang bermukim di Karonnangan, dan yang terakhir, Pa"dorang, tinggal di Bittuan.
Keberadaan Pitu Ulunna Salu, dalam kisahnya, bermula dari moyang masyarakat PUS, yaitu Pongkapadang yang disebut sebagai Nene" Pongkapadang. Ia melakukan pengembaraan dari Ulu Sa"dang, Tana Toraja (Sulawesi Selatan), untuk mencari daerah baru, ditemani oleh dua orang pengiringnya, masing-masing membawa gong, pedang, dan sepu" (sejenis kantung berisi jimat, pakaian, dan perlengkapan lainnya).
Perjalanan panjang dalam ekspedisi kecil Pongkapadang ke arah barat ternyata sangat melelahkan. Lembah, sungai, gunung, dan ngarai dilalui dengan tujuan mencari daerah yang damai untuk menetap. Karena kelelahan, saat tiba di sebuah gunung yang tinggi dengan suhu dingin di bawah nol derajat Celsius, salah seorang pengiring Pongkapadang yang bernama Mambulillin mengalami keletihan yang sangat berat. Pengiring tersebut kemudian berpamitan kepada Pongkapadang untuk pergi selama-lamanya.
Di gunung yang tinggi dan bersuhu dingin itu, Pongkapadang bersedih atas kepergian pengiringnya yang setia, lalu menguburkan Mambulillin di tempat tersebut. Atas pengabdian dan kesetiaan hingga akhir hayat, Pongkapadang mengabadikan nama gunung itu dengan nama Mambulilling. Hingga kini, Gunung Mambulilling yang dapat terlihat dengan jelas dari Dusun Rante Pongko, Kecamatan Mamasa, menjadi legenda dan merupakan salah satu objek wisata alam yang sangat prospektif di Kabupaten Mamasa.
Perjalanan Pongkapadang ke arah barat hingga kemudian menetap di suatu tempat yang kelak disebut Tabulahan merupakan sebuah artefak penting yang menandai kebudayaan Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai). Kisah ini kemudian menjadi legenda bagi sebuah kawasan wilayah kehadatan yang meliputi seluruh Kabupaten Mamasa. Selanjutnya, wilayah ini berkembang dan dikenal sebagai Kabupaten Pitu Ulunna Salu yang meliputi bekas wilayah Mambi, yaitu Mambi, Aralle, Rantebulahan, Tabulahan, dan Bambang.
Pa"dorang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Rattebiang. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, yaitu: I Tasudidi, Si Bannangang yang menjadi leluhur orang Mamasa; anak ketiga yang tidak diketahui namanya namun menjadi nenek moyang orang Masuppu; serta anak keempat bernama I Pongkapadang yang tinggal di Gunung Mambulilling.
I Pongkapadang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Sanrabone yang berasal dari Gowa, dan mereka menetap di Buttu Bulu. Dahulu, wilayah ini diyakini sebagai tempat asal leluhur bangsa-bangsa di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Ibu Akbar Munandar/Nurisma

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Ulu Mambi, Kec. Mambi, Kab. Mamasa