Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Makuang, Kec. Messawa, Kab. Mamasa

PAMPAHANG DU???ANGNA TONDOK DI MESSAWA (ASAL-MUASAL KEHIDUPAN/PERKAMPUNGAN DI MESSAWA)

22 May 2026 -3.306271, 119.376852
PAMPAHANG DU???ANGNA TONDOK DI MESSAWA (ASAL-MUASAL KEHIDUPAN/PERKAMPUNGAN DI MESSAWA)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Pissan attu, inde lino Mesawa yolo naula" diongngi saba" mesa tomatua disanga Nenek Pamendangan to mellolo" mai ri Toraja. Laona mai dio Katati umba"bara. Mesa allona, napekita-rangi mesa tanda merah ri lino. Yolo naangka iya dara, anna naita-ita duka, tae dara, tapi tampi"na sirih.
Napolalan duka" Pamendangan umpa"issanni lino-lino ri inde tampanna, to makadianna Kelurahan Mesawa. Dianna napada"anna mesa baine to tuo ri mesa sapo tuang, naallambi salu"na salossok. Nakuanna baine"e:
"Tae iko mala sipobaineang kang, saba" Dewata"ka."
Pamendangan nakuai:
"Angga iko Dewata, iya duka" Dewata. Taemokanna, lamupa"dadi iko baineku."
Ba"ba"na baine"e, napada":
"Lalako yolo lako salu."
Napolalan inde baine"e disanga Datu Baringan, to ma"ullo" mai ri wai. Saba" inde"e, naula" inde lino Mesawa napotuo tau.
Napolalanmi, mellolo" mai duka" mesa tomatua disanga Borong Sengat, to mellolo" mai ri Sa"dan. Sae ri Makuang, naallambi ri tampanna to disanga Terbarungan. Sampai diomo, tau Mesawa masi" napokita-kita tampanna.
Tae lama naallambi inde Borong Sengat. Napolalan naala" barang pusaka susi uwase manggasak, pari sappeh, sola rara talindo leto, napalemba" ri salu sambil nakua:
"Rianna ummala" barang-barang inde"e, rianna duka" kuunggaraga tondok."
Akhirna, napalambu" barang-barang inde"e ri Rea. Sampai diomo tampanna masi" napotandai tau Mesawa. Khusus rara talindo leto, masi" tuo sampai dio, angga to anak-cucu Mesawa"mi mala napaande. Tae to luar Mesawa mala napaande.
Napolalanmi lino Mesawa makaria. Tau sipobaine, sipomuane, sipoanak. Naula" mesa aturan disanga aluk.
Aluk yamo aturan lino: ummampu"na tau mate, tau sipobaine, tau ummabangun sapo, tau umpalanta" tana. Angga pa"kala"na, anna tae naala aluk, berat hukumna. Sampai diomo, angga ria tau sisaraka ri Mesawa, mesa babi musti dipotong, saba" umpobalu" kasiranganna aluk.
Inde"e disanga tau Mesawa:
"Nasanga tau nakekke sakkana kabeasan."
Artinna: inde"e adat sola kebiasaan to diwariskanni tomatua Mesawa.
"Suppik!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada mulanya, kehidupan di Mesawa bermula dari kedatangan seorang tokoh bernama Nenek Pamendangan yang berasal dari wilayah Toraja. Ia datang ke daerah Katati untuk berburu. Pada suatu hari, ia melihat bercak-bercak merah di tanah. Awalnya ia mengira itu adalah darah, tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata itu adalah bekas sirih yang dikunyah.
Merasa penasaran, Pamendangan lalu mengadakan pencarian di sekitar wilayah yang kini menjadi Kelurahan Mesawa. Dari pencarian itu, ia menemukan seorang perempuan yang tinggal di sebuah rumah tua yang telah ditumbuhi belukar. Ketika Pamendangan mengajaknya berbicara, perempuan itu berkata,
"Engkau tidak bisa menikah denganku, karena aku adalah Dewata," yang berarti makhluk suci atau Tuhan.
Namun Pamendangan menjawab,
"Kalau engkau Dewata, aku pun Dewata. Aku tetap ingin menjadikanmu sebagai istriku."
Perempuan itu kemudian meminta izin untuk pergi ke sungai terlebih dahulu. Setelah itu, ia dikenal dengan nama Datu Baringan, yang berarti "orang yang berasal dari air". Dari peristiwa inilah diyakini bermula kehidupan manusia di Mesawa.
Seiring waktu, datang pula tokoh lain bernama Borong Sengat, yang juga berasal dari wilayah Sa"dan. Ia singgah di daerah Makuang dan menetap di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Terbarungan. Hingga sekarang, masyarakat masih mengetahui dan mengenali tempat itu sebagai jejak kedatangannya.
Namun Borong Sengat tidak lama tinggal di sana. Dengan keyakinan dan kekuatan spiritual yang dimilikinya, ia melakukan suatu ritual dengan menghanyutkan benda-benda pusaka seperti uwase manggasak, pari sappeh, dan rara talindo leto ke dalam sungai, sambil mengucapkan,
"Di mana benda-benda ini berhenti, di situlah aku akan membangun perkampungan."
Benda-benda itu akhirnya berhenti di daerah Rea, yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat. Khusus rara talindo leto, benda pusaka itu masih ada sampai sekarang dan hanya dimiliki oleh keturunan masyarakat Mesawa. Tidak seorang pun dari luar Mesawa boleh memilikinya.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat di Mesawa pun semakin berkembang. Terjadi pernikahan, terbentuk keluarga-keluarga, dan lahirlah tatanan kehidupan sosial yang diatur oleh aluk, yaitu sistem kepercayaan dan adat istiadat.
Aluk mengatur segala aspek kehidupan: kematian, pernikahan, pembangunan rumah, hingga pengolahan tanah. Semua memiliki aturan yang harus ditaati. Karena itu, pelanggaran adat tidak dianggap ringan. Hingga kini, jika terjadi perkelahian di Mesawa, siapa pun pelakunya wajib memotong babi sebagai bentuk pemulihan keseimbangan adat, tanpa memandang asal-usul orang tersebut.
Inilah yang disebut oleh masyarakat Mesawa sebagai
"nasanga tau nakekke sakkana kabeasan" begitulah adat dan kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Sura'

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Makuang, Kec. Messawa, Kab. Mamasa