Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 39 cerita rakyat terarsip di sistem.

BATU LAPPA
Desa Puttada, Kec. Sendana, Kab. Majene

BATU LAPPA

Di"o Batu Lappa" batu nilapparang. Jadi di"o mallapparang tau batu i"dai niuwwa andiang battuanna. Diang battuanna di"o mallapparang tau batu, niala tanda ba"ba lalang. Jadi moa" diang to pole di kappung di"e mane mettama di Putta"da anna" nangga"i alawena mauang puang essua". I"dai mala mettama moa" i"dai mambawa ayu, matta"galang ayu atau massoppo ayu apa" moa" mallandudi Batu Lappa" I"dai mappateng sara" bassa di,o mambawa ayu biasanna anu dipirang bongi moa" malai mi biasa di"o mapondi" umur. Di"o mappasang batu, ma"uanga" dingena" niala tanda ba"ba lalang, nauwwa kapang to dite"e naniuwwang diang di"o kapang napasang lao tomatutua niuwwangang pa"jaga. Tenna" dite"e di naniuwwa pos pa"jaga. Jadi diang kapang nanna lao di batu lapapa" o anna" moa" diang mettama to maangga" puang alawena anna" i"dai di"o matta"galang ayu atau massoppo ayu I"dai malakka umur moa" malai mi. Tapi moa" bahasa to dipirang bongi mauangi "Maumo me"apa puangna di"o topole i"dai mala nakala to dini" di putta"da." Iyyamo ri"o anna" diang penanda"ang "Memang puango"o, tapi tatta"o tundu" lao di aturan dini" di Putta"da." "Cappumi Dolo"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Batu Lappa" adalah batu yang diletakkan, kita meletakkan batu bukan berarti tidak ada artinya. Ada arti dadi kita meletakkan batu, itu sebagai simbol pintu gerbang. Jadi, jika ada orang yang datang ke desa ini dan masuk ke Desa Putta"da dan menganggap dirinya adalah keturunan raja asli (bangsawan). Dia tidak boleh masuk jika tidak membawa kayu, memegang kayu, atau memikul kayu, karna jika melewati batu lappa" dan tidak memenuhi syarat seperti tadi membawa kayu biasanya pada jaman dulu jika sudah pulang, biasanya umurnya akan pendek. Memasang batu, tadi adalah sebagai simbol pintu gerbang, mungkin sekarang dapat diibaratkan mungkin ada sesuatu yang dipasang oleh orang tua semacam penjaga yang sekarang disebut dengan pos jaga. Jadi, mugkin ada sesuatu yang dipasang pada Batu Lappa" sehingga jika ada orang yang masuk dan menganggap dirinya keturunan raja (bangsawan) dan tidak memegang kayu atau memikul kayu tidak akan panjang umur setelah pulang. Tapi bahasa orang dulu mengatakan "Setinggi apapun derajat pendatang itu, tidak akan mengalahkan orang Putta"da." Maka dadi itu ada istilah "Kamu memang keturunan raja (Bangsawan) tapi tetap lah tunduk pada aturan disini, di putta"da". "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ridu

ahmadridhai Baca
PAKENA
Lingk. Talumung, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

PAKENA

Den upa" mesa baine, den mesa anakna disanga Pakena. Indo Pakena bahinni"pi, umbai la annammi taunna dadinna. Pissan wattu le"ba"mi Pakena mupea tingke" (uno). Pissanna denni naala, ma"pasulem lako banuanna. Liui ade" lako olo ba"bana Mahakdia, sule mesa indo manek u"happa" indo tingke"na Pakena. Tappa sumahho ade" Pakena napasindum naua, "Naande tingke"ku manek." Narangnginna Mahakdia tumangis, messunni anna mekutana lako to ma"lambuk naua, "Maaka hia Pakena"? Natimba" to ma"lambuk naua, "Nahappa" manek tingke"na Pakena." Ma"kada omo Mahakdia lako Pakena naua, "Dau" tumangis Pakena, kupalakoamoko tullu"na indo manek mesa. Morokoka"? Nauam ade" Pakena, "Laopi kutulasan indo"ku." Ta"pi ade" silambi" indo"na anna ma"pasulem naua, "Naua indo"ku: iyo, tadoi"." Dipaka"podi" tula", indo tullu" manekna Pakena mendadimi londa, gege pilla" jagona. Le"ba" omo Pakena ungkaleppe" londana ma"lao-lao. Pissananna nalambi" mesa tobalu-balu baine. Nauam indo tobalu-balu: "Beennak" londa mu Pakena, anna kubengko mesa bai-baiku." Nauam ade" Pakena, "Laopi kutulasan indo"ku." Ta"pi silambi" indo"na anna ma"pasulem naua: "Naua indo"ku: Iyo." Ta" masae, kasallemi bainna Pakena aka sinapakamaja. Lao omo Pakena ma"lao-lao, pissanna muolai banuanna Mahakdia. Tappa natambai Mahakdia nauaam: "Benna" baimmu Pakena anna kupaampuiko ana" tedong, sapo" illaampi tambu"na indo"na." Naua ade" Pakena: "Laopi kutulasan indo"ku." Ta"pi silambi" indo"na anna ma"pasulem naua: "Naua indo"ku: iyo." Pissanna keana"mi indo tedong, ya naalam Pakena indo ana"na. Ta" masae, kasallemi tedongna Pakena. Pissananna masaki inde Mahakdia. Nakadaam lako anakna naua: "Anggama" mala mate masannam ke natunuammi" to" Pakena indo tedongna anna kuande balei." Ditambaimi Pakena. Sulei Pakena, nauammi anakna Mahakdia: "Malahaka Pakena, mubeem tedongmu ambe"ki" natunu? Aka iyapi masannam mate ke naandei balei tedongmu. Anna tapakduai inde mana"ku." Nauam ade" Pakena: "Laopi kutulasan indo"ku." Ta"pi silambi" indo"na anna ma"pasulem naua: "Naua indo"ku: Iyo." Le"ba"mi Pakena untarima mana"na. Mualami indo"na mane nauanni: "Maiko indo" tapindah lao, aka to makaka"miki" too temo." Masannam kassim penawanna indo"na. Ya inde Pakena sola indo"na tubo masannammio. "Tamma'!" Terjemahan Bahasa Indonesia Alkisah, ada seorang perempuan yang mempunyai seorang anak bernama Pakena. Pakena masih kecil, kira-kira berumur enam tahun. Pada suatu hari, pergilah Pakena mencadi capung. Setelah ia berhasil menangkap seekor capung, ia pun bergegas pulang ke rumahnya. Namun, ketika ia melewati depan rumah seorang Mahakdia (orang kaya bangsawan), tiba-tiba seekor induk ayam muncul dan menyambar capung milik Pakena. Seketika itu juga menangislah Pakena tersedu-sedu sambil berkata, "Capungku dimakan ayam." Mendengar tangisan itu, keluarlah Mahakdia dan bertanya kepada perempuan-perempuan yang sedang menumbuk padi, "Ada apa gerangan dengan Pakena"? Mereka menjawab, "Capungnya dI Sambar oleh induk ayam." Mahakdia kemudian membujuk Pakena, "Jangan menangis Pakena, aku akan menggantinya dengan sebutir telur dadi induk ayam itu. Apakah engkau mau"? Pakena menjawab, "Aku akan menanyakannya terlebih dahulu kepada ibuku." Pakena pun pergi menemui ibunya. Tak lama kemudian, ia kembali dan berkata, "Kata ibuku: iya, terimalah." Singkat cerita, telur ayam yang dirawat Pakena menetas dan tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah. Suatu hari, Pakena pergi berjalan-jalan membawa ayam jagonya. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda. Janda itu berkata, "Berikanlah ayam jagomu itu kepadaku Pakena, dan aku akan menukarnya dengan seekor anak babi." Pakena menjawab dengan patuh, "Aku akan menanyakannya terlebih dahulu kepada ibuku." Ia pun pergi bertanya pada ibunya, lalu tak lama kemudian kembali dan berkata: "Kata ibuku: Iya, tukarkanlah." Tidak lama kemudian, babi milik Pakena sudah menjadi besar karena dirawat dengan baik. Pakena kembali pergi berjalan-jalan dan melewati rumah Mahakdia. Mahakdia memanggilnya dan menawarkan pertukaran lagi: "Berikanlah babimu itu kepadaku Pakena, nanti aku akan menggantinya dengan seekor anak kerbau, tetapi kerbau itu saat ini masih di dalam perut induknya." Pakena tetap menjawab: "Aku akan menanyakannya terlebih dahulu kepada ibuku." Ia pergi bertanya pada ibunya, lalu kembali dan menyampaikan: "Kata ibuku: iya, setuju." Akhirnya induk kerbau itu melahirkan, dan Pakena mengambil anaknya. Tak lama kemudian, kerbau Pakena tumbuh besar dan gemuk. Suatu ketika, Mahakdia jatuh sakit keras. Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya: "Aku baru bisa meninggal dengan tenang jika Pakena mau menyembelih kerbaunya untukku agar aku bisa memakan dagingnya." Anak Mahakdia pun memanggil Pakena. Ketika Pakena datang, anak Mahakdia berkata: "Bolehkah engkau memberikan kerbaumu untuk disembelih bagi ayah kami? Karena ia baru akan tenang jika memakan daging kerbaumu. Sebagai gantinya, kita akan membagi dua harta warisanku." Pakena menjawab: "Aku akan menanyakannya terlebih dahulu kepada ibuku." Setelah bertanya pada ibunya, ia kembali dan berkata: "Kata ibuku: Iya, lakukanlah." Setelah Pakena menerima bagian harta warisan tersebut, ia segera menemui ibunya dan berkata: "Ibu, madi kita pindah dadi rumah ini ke tempat yang lebih baik, karena sekarang kita sudah menjadi orang kaya." Hati ibu Pakena sangat gembira mendengarnya. Akhirnya, berkat ketaatan Pakena dan kebijaksanaan ibunya, mereka hidup bahagia selamanya. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Penni Febrianti

admin Baca
LIMBONG DIHATA
Majene

LIMBONG DIHATA

Dahulu kala, di sebuah perkampungan yang asri, hiduplah seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara. Ia telah bertunangan dengan seorang gadis yang kecantikannya tersohor ke seluruh desa. Namun, di balik parasnya yang elok, sang gadis memiliki sifat yang dingin. Wajahnya selalu datar, tanpa ekspresi. Selama mereka menjalin kasih, tak sekalipun sang pemuda pernah melihat tunangannya itu tersenyum, apalagi tertawa. Sang pemuda sangat penasaran. "Bagaimanakah wajah kekasihku jika ia tersenyum? Apakah deretan giginya rapi? Apakah ia akan terlihat semakin cantik?" batinnya setiap hari. Keinginan itu berubah menjadi obsesi. Ia bertekad melakukan apa saja demi memecahkan kebekuan di wajah sang kekasih. Gurauan yang Kejam Suatu hari, ide konyol namun kejam terlintas di benak pemuda itu. Ia pergi ke hutan dan memasang jerat. Tak lama kemudian, ia berhasil menangkap seekor ayam hutan yang gagah. Alih-alih menyembelihnya untuk dimakan atau memeliharanya, pemuda itu justru melakukan hal yang tak wajar. Dalam keadaan hidup-hidup, ia mencabuti bulu-bulu ayam hutan tersebut hingga habis tak bersisa. Ayam itu meronta kesakitan, namun si pemuda tak peduli. Ia hanya membayangkan betapa lucunya ayam yang "telanjang" itu saat berlari nanti. Dengan hati berbunga-bunga, ia membawa ayam malang itu ke rumah panggung tempat tunangannya tinggal. "Lihatlah, Adinda! Aku membawakanmu sesuatu yang sangat lucu," serunya. Ia melepaskan ayam gundul itu di tengah ruangan. Ayam hutan yang kesakitan dan kedinginan itu berlari pontang-panting, menabrak dinding, dan melompat tak tentu arah dengan kulit kemerahan yang terekspos. Pemandangan itu memang terlihat konyol dan menggelikan bagi mata manusia yang tak punya empati. Melihat tingkah ayam itu, pertahanan sang gadis runtuh. Awalnya ia hanya tersenyum simpul, namun lama-kelamaan ia tak kuasa menahan geli. "Hahahaha!" Tawanya meledak. Ia tertawa terpingkal-pingkal hingga air matanya keluar. Untuk pertama kalinya, sang pemuda melihat deretan gigi tunangannya yang putih dan tersusun rapi. Ia merasa bangga dan bahagia karena berhasil membuat kekasihnya tertawa lepas. Murka Alam Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Alam seolah murka melihat penderitaan makhluk hidup yang dijadikan bahan tertawaan. Tiba-tiba, tanah di bawah rumah panggung mereka bergetar hebat. Dari kolong rumah, terdengar suara gemuruh seperti air mendidih. "Blup... Blup... Byaar!" Sebuah mata air muncul tepat di bawah tiang rumah. Namun, yang keluar bukanlah air jernih, melainkan lumpur panas yang pekat. Semburan itu semakin lama semakin besar, menggenangi halaman dan merendam tiang-tiang rumah. Warga kampung panik. "Lari! Ada banjir lumpur!" teriak mereka. Para tetua kampung segera menyadari bahwa ini bukan bencana biasa. Mereka menatap tajam kepada sepasang kekasih itu. "Ini pasti ulah kalian! Kalian telah melanggar pantangan dan menyakiti makhluk Tuhan demi kesenangan sesaat. Pergi dari sini! Jika kalian tetap di sini, kampung ini akan tenggelam bersama dosa kalian!" Pelarian yang Dihantui Dengan perasaan hancur dan ketakutan, sepasang tunangan itu diusir dari kampung halaman mereka sendiri. Mereka berlari tanpa membawa bekal apa pun, hanya baju yang melekat di badan. Pelarian mereka adalah mimpi buruk yang tak berujung. Berhari-hari mereka berjalan menembus hutan dan padang rumput. Rasa lelah, lapar, dan haus menyiksa tubuh mereka. Setiap kali mereka merasa lelah dan mencoba duduk beristirahat di bawah pohon atau di tanah lapang, hal mengerikan selalu terjadi. Tanah yang mereka duduki akan retak, dan dari dalamnya menyembur air bercampur lumpur, seolah-olah kutukan itu mengejar ke mana pun kaki mereka melangkah. "Lari lagi, Bang! Lumpur itu mengejar kita!" teriak sang gadis sambil menangis. Air matanya kini bukan lagi air mata tawa, melainkan air mata penyesalan dan keputusasaan. Akhir yang Tragis Berita tentang "Pasangan Pembawa Bencana" menyebar lebih cepat dari angin. Ke mana pun mereka pergi, orang-orang menutup pintu dan mengusir mereka dengan kasar. Tak ada yang berani memberi tumpangan, takut desa mereka ikut tenggelam. Akhirnya, fisik mereka mencapai batasnya. Di pinggir sebuah perkampungan asing, kedua sejoli itu jatuh terduduk. Mereka tak sanggup lagi melangkah. Mata mereka cekung, tubuh mereka kurus kering karena tak makan dan tidur berhari-hari. Seketika itu juga, tanah di sekitar mereka kembali bergemuruh. Lumpur panas mulai menyembur keluar, mengancam akan menenggelamkan desa di dekatnya. Warga desa tersebut keluar dengan wajah pucat pasi. Ketakutan melanda seluruh penduduk. Pasangan itu hanya bisa pasrah. Mereka menatap warga dengan tatapan kosong, seolah berkata, "Lakukanlah apa yang harus kalian lakukan. Kami sudah lelah." Para tetua desa berdiskusi dengan cepat di tengah kepanikan. "Kita tidak punya pilihan lain," kata seorang tetua dengan suara bergetar. "Bencana ini melekat pada raga mereka. Untuk menghentikan lubang ini menjadi lautan lumpur yang menenggelamkan kita semua, mereka harus dikorbankan." Keputusan pahit itu diambil. Warga desa, dengan berat hati dan air mata, menangkap kedua sejoli yang sudah tak berdaya itu. Tangan sang pemuda dan gadis itu diikat menjadi satu, menyatukan mereka dalam cinta dan kematian. Dengan doa memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa agar bencana berhenti, warga melemparkan tubuh mereka berdua ke dalam pusat semburan lumpur yang menganga lebar. Tubuh mereka perlahan tenggelam, ditarik oleh lumpur pekat ke dalam perut bumi. Ajaibnya, sesaat setelah mereka hilang dari pandangan, gemuruh tanah berhenti. Semburan lumpur perlahan mereda dan menjadi tenang. Kini, di tempat kejadian itu terbentang sebuah danau. Permukaannya tenang, tidak lagi menyemburkan lumpur panas. Sekilas, ia tampak seperti danau biasa yang damai. Namun, bagi mereka yang mengetahui kisahnya, danau itu menyimpan cerita kelam tentang cinta yang salah arah, kekejaman terhadap hewan, dan hukuman alam yang tak terelakkan. Masyarakat setempat percaya, danau itu adalah peringatan abadi: Bahwa kebahagiaan tidak boleh dibangun di atas penderitaan makhluk lain, sekecil apa pun makhluk itu.

admin Baca

Menampilkan halaman 4 dari total 4 halaman

Sebelumnya
Hal. 4
Selanjutnya