Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Majene

LIMBONG DIHATA

21 December 2025 -2.992652, 118.892992
LIMBONG DIHATA
Dokumentasi Video Cerita
Pemutar Google Drive
Dahulu kala, di sebuah perkampungan yang asri, hiduplah seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara. Ia telah bertunangan dengan seorang gadis yang kecantikannya tersohor ke seluruh desa. Namun, di balik parasnya yang elok, sang gadis memiliki sifat yang dingin. Wajahnya selalu datar, tanpa ekspresi. Selama mereka menjalin kasih, tak sekalipun sang pemuda pernah melihat tunangannya itu tersenyum, apalagi tertawa.

Sang pemuda sangat penasaran. "Bagaimanakah wajah kekasihku jika ia tersenyum? Apakah deretan giginya rapi? Apakah ia akan terlihat semakin cantik?" batinnya setiap hari. Keinginan itu berubah menjadi obsesi. Ia bertekad melakukan apa saja demi memecahkan kebekuan di wajah sang kekasih.

Gurauan yang Kejam
Suatu hari, ide konyol namun kejam terlintas di benak pemuda itu. Ia pergi ke hutan dan memasang jerat. Tak lama kemudian, ia berhasil menangkap seekor ayam hutan yang gagah.

Alih-alih menyembelihnya untuk dimakan atau memeliharanya, pemuda itu justru melakukan hal yang tak wajar. Dalam keadaan hidup-hidup, ia mencabuti bulu-bulu ayam hutan tersebut hingga habis tak bersisa. Ayam itu meronta kesakitan, namun si pemuda tak peduli. Ia hanya membayangkan betapa lucunya ayam yang "telanjang" itu saat berlari nanti.

Dengan hati berbunga-bunga, ia membawa ayam malang itu ke rumah panggung tempat tunangannya tinggal.

"Lihatlah, Adinda! Aku membawakanmu sesuatu yang sangat lucu," serunya.

Ia melepaskan ayam gundul itu di tengah ruangan. Ayam hutan yang kesakitan dan kedinginan itu berlari pontang-panting, menabrak dinding, dan melompat tak tentu arah dengan kulit kemerahan yang terekspos. Pemandangan itu memang terlihat konyol dan menggelikan bagi mata manusia yang tak punya empati.

Melihat tingkah ayam itu, pertahanan sang gadis runtuh. Awalnya ia hanya tersenyum simpul, namun lama-kelamaan ia tak kuasa menahan geli.

"Hahahaha!"

Tawanya meledak. Ia tertawa terpingkal-pingkal hingga air matanya keluar. Untuk pertama kalinya, sang pemuda melihat deretan gigi tunangannya yang putih dan tersusun rapi. Ia merasa bangga dan bahagia karena berhasil membuat kekasihnya tertawa lepas.

Murka Alam
Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Alam seolah murka melihat penderitaan makhluk hidup yang dijadikan bahan tertawaan.

Tiba-tiba, tanah di bawah rumah panggung mereka bergetar hebat. Dari kolong rumah, terdengar suara gemuruh seperti air mendidih. "Blup... Blup... Byaar!"

Sebuah mata air muncul tepat di bawah tiang rumah. Namun, yang keluar bukanlah air jernih, melainkan lumpur panas yang pekat. Semburan itu semakin lama semakin besar, menggenangi halaman dan merendam tiang-tiang rumah.

Warga kampung panik. "Lari! Ada banjir lumpur!" teriak mereka.

Para tetua kampung segera menyadari bahwa ini bukan bencana biasa. Mereka menatap tajam kepada sepasang kekasih itu. "Ini pasti ulah kalian! Kalian telah melanggar pantangan dan menyakiti makhluk Tuhan demi kesenangan sesaat. Pergi dari sini! Jika kalian tetap di sini, kampung ini akan tenggelam bersama dosa kalian!"

Pelarian yang Dihantui
Dengan perasaan hancur dan ketakutan, sepasang tunangan itu diusir dari kampung halaman mereka sendiri. Mereka berlari tanpa membawa bekal apa pun, hanya baju yang melekat di badan.

Pelarian mereka adalah mimpi buruk yang tak berujung. Berhari-hari mereka berjalan menembus hutan dan padang rumput. Rasa lelah, lapar, dan haus menyiksa tubuh mereka.

Setiap kali mereka merasa lelah dan mencoba duduk beristirahat di bawah pohon atau di tanah lapang, hal mengerikan selalu terjadi. Tanah yang mereka duduki akan retak, dan dari dalamnya menyembur air bercampur lumpur, seolah-olah kutukan itu mengejar ke mana pun kaki mereka melangkah.

"Lari lagi, Bang! Lumpur itu mengejar kita!" teriak sang gadis sambil menangis. Air matanya kini bukan lagi air mata tawa, melainkan air mata penyesalan dan keputusasaan.

Akhir yang Tragis
Berita tentang "Pasangan Pembawa Bencana" menyebar lebih cepat dari angin. Ke mana pun mereka pergi, orang-orang menutup pintu dan mengusir mereka dengan kasar. Tak ada yang berani memberi tumpangan, takut desa mereka ikut tenggelam.

Akhirnya, fisik mereka mencapai batasnya. Di pinggir sebuah perkampungan asing, kedua sejoli itu jatuh terduduk. Mereka tak sanggup lagi melangkah. Mata mereka cekung, tubuh mereka kurus kering karena tak makan dan tidur berhari-hari.

Seketika itu juga, tanah di sekitar mereka kembali bergemuruh. Lumpur panas mulai menyembur keluar, mengancam akan menenggelamkan desa di dekatnya. Warga desa tersebut keluar dengan wajah pucat pasi. Ketakutan melanda seluruh penduduk.

Pasangan itu hanya bisa pasrah. Mereka menatap warga dengan tatapan kosong, seolah berkata, "Lakukanlah apa yang harus kalian lakukan. Kami sudah lelah."

Para tetua desa berdiskusi dengan cepat di tengah kepanikan. "Kita tidak punya pilihan lain," kata seorang tetua dengan suara bergetar. "Bencana ini melekat pada raga mereka. Untuk menghentikan lubang ini menjadi lautan lumpur yang menenggelamkan kita semua, mereka harus dikorbankan."

Keputusan pahit itu diambil. Warga desa, dengan berat hati dan air mata, menangkap kedua sejoli yang sudah tak berdaya itu. Tangan sang pemuda dan gadis itu diikat menjadi satu, menyatukan mereka dalam cinta dan kematian.

Dengan doa memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa agar bencana berhenti, warga melemparkan tubuh mereka berdua ke dalam pusat semburan lumpur yang menganga lebar.

Tubuh mereka perlahan tenggelam, ditarik oleh lumpur pekat ke dalam perut bumi. Ajaibnya, sesaat setelah mereka hilang dari pandangan, gemuruh tanah berhenti. Semburan lumpur perlahan mereda dan menjadi tenang.

Kini, di tempat kejadian itu terbentang sebuah danau. Permukaannya tenang, tidak lagi menyemburkan lumpur panas. Sekilas, ia tampak seperti danau biasa yang damai. Namun, bagi mereka yang mengetahui kisahnya, danau itu menyimpan cerita kelam tentang cinta yang salah arah, kekejaman terhadap hewan, dan hukuman alam yang tak terelakkan.

Masyarakat setempat percaya, danau itu adalah peringatan abadi: Bahwa kebahagiaan tidak boleh dibangun di atas penderitaan makhluk lain, sekecil apa pun makhluk itu.

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Majene