Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

PEANG BULAWANG

23 June 2026 -3.503883, 119.083395
PEANG BULAWANG

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diolo"na, diang mesa carita sanganna Peang Bulawang. Iyae peang bulawang e menjari mesa tradisi anna carita to diolo" ri Mandar, utamana ri daerah Bau Tuing-Tuing. Diang mesa maraqdia ri Paria. Anakna maraqdia e biasanna lambai lao di sasi, tapi ndang rua mala bau. Mesa allo, diang tau ma"pau lao ri anakna maraqdia, "Diang tu"u peang bulawang, mua dipirau anna diala barakkana, mala mambawa dalle"." Tappana nairrangngi itu, anakna maraqdia maelo tongan mambali peang bulawang.
Hari pertama peang bulawang e dipirau, tapi ndang dipindang. Hari kadua toi ndang mala. Sampai allo pitu, andang ndang mala tongan dibengang. Tappana maraqdia e makarras sanna atena, iya nawai peang bulawang e, "Mua pa"da-pa"dai dale"ba", dale"ba"mi." Jadi peang bulawang e lambami maneang ri sasi.
Wattu maneang, peang bulawang e millor di wai. Tappana iya sempat miala mesa pisang. Tapi tiba-tiba diita rambu tulu"na anakna maraqdia. Tappana rambu tulu" e nattunu tama lindona, anakna maraqdia kaget sanna. Iya ma"pikir, "Apa upogau? Ndang mala di"e." Tapi iya tetap mappikir tanggung jawabna ri puangna.
Tappana iya sitami maraqdiana ri songi, iya ma"pau, "Puang, pa"da-pa"da tongan peang bulawang e." Maraqdia e ma"pau, "Mating mua pa"dai." Tappana peang bulawang e dipapiangani atupe supaya lambai. Nabengang toi tawa-tawa, iyamo alat musik to diolo", supaya mala mambali luluarena.
Lambai peang bulawang e lao di Palippis. Ri dio, iya mambali tawa-tawa anna mallangngang ri Wai Tawar. Tappana iya luluare pole ri Wai Tawar, masyarakat marondong sanna. Tau sisara-sara lao mambali luluarena. Tawa-tawa e dipilloa, anna peang bulawang e dipaissang sabagai to macoa sanna.
Ri tangnga carita e, diang mesa tomanarang ri Mandar. Iya ma"pau mua peang bulawang e ndang biasa. Tappana peang bulawang e diala, iya dibawa lao di maraqdia Ura" Liung. Ri dio, peang bulawang e dipasangang ri pitu lapis paleko supaya ndang diita tau.
Tappana pitu allo pitu bongi, peang bulawang e dipiara tongan. Tappana di allo katallu, anakna maraqdia mulai mappau pole. Maraqdia e massukur sanna karna anakna mulai macoa. Tappana maraqdia e ma"pau, "Mua pura mu pauli"i anakku, assal tania nyawa, mala mu alai apa saja."
Di ruangan boyang, diang manu-manuk cantik sanna. Iyamo tu"u tuing-tuing. Maraqdia e ma"pau mua manu-manuk e nasayangngi sanna anakna. Tapi karna anakna pura macoa, iya ma"pau mua manu-manuk e mala diala barakkana. Tappana manu-manuk e mulai mattallo, tallona e dipaissang sabagai peang bulawang.
Iyamo sababu"na sampai di te"e, tau Mandar maissang mua peang bulawang e dihubungang siola maraqdia anna manu-manuk to macoa. Carita e menjari cara tau Mandar menjelaskan secara mitologi asal-usul ikan terbang.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu, terdapat sebuah cerita tentang Peang Bulawang. Kisah ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Mandar, khususnya di daerah Bau Tuing-Tuing. Diceritakan ada seorang raja di Paria yang memiliki seorang anak. Anak raja tersebut sering pergi ke laut, tetapi tidak pernah mendapatkan ikan. Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada sang putra raja bahwa terdapat seekor ikan terbang bernama Peang Bulawang yang dipercaya memiliki berkah dan dapat membawa keberuntungan apabila berhasil ditangkap.
Hari pertama ikan itu dicari, tetapi tidak berhasil ditangkap. Hari kedua pun demikian. Hingga hari ketujuh, ikan tersebut tetap tidak dapat diperoleh. Sang raja kemudian merasa sangat gelisah dan berkata kepada Peang Bulawang bahwa jika benar membawa rezeki, maka hendaknya memberikan tanda keberuntungan. Setelah itu, Peang Bulawang kembali pergi ke laut.
Ketika berada di laut, Peang Bulawang muncul di permukaan air. Ia sempat mengambil sebuah pisang. Namun tiba-tiba, rambut anak raja terlihat olehnya. Ketika rambut itu jatuh mengenai wajah sang putra raja, ia merasa sangat terkejut dan bingung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun demikian, ia tetap mengingat tanggung jawabnya kepada ayahnya.
Ketika sang putra raja bertemu kembali dengan ayahnya pada malam hari, ia berkata bahwa Peang Bulawang benar-benar memiliki tanda keberkahan. Raja kemudian memerintahkan agar disiapkan obor dan alat musik tradisional berupa tawa-tawa agar Peang Bulawang dapat dipanggil kembali.
Peang Bulawang kemudian menuju daerah Palippis. Di sana, ia mendengar bunyi tawa-tawa dan muncul kembali di daerah Wai Tawar. Saat masyarakat melihat kemunculannya, mereka merasa kagum dan berbondong-bondong menyaksikannya. Sejak saat itu, Peang Bulawang dikenal sebagai makhluk yang luar biasa.
Dalam kisah tersebut juga disebutkan adanya seorang tokoh sakti di Mandar yang mengatakan bahwa Peang Bulawang bukanlah ikan biasa. Setelah berhasil ditangkap, ikan tersebut dibawa ke istana Ura" Liung dan disimpan di balik tujuh lapis tirai agar tidak terlihat oleh masyarakat umum.
Selama tujuh hari tujuh malam, Peang Bulawang dipelihara dengan baik. Pada hari ketiga, kondisi anak raja mulai membaik dan ia kembali dapat berbicara. Sang raja pun merasa sangat bersyukur karena anaknya mulai sembuh. Raja berkata bahwa siapa pun yang telah menyembuhkan anaknya boleh meminta apa saja selain nyawa.
Di dalam istana terdapat seekor burung yang sangat indah, yaitu burung tuing-tuing. Sang raja mengatakan bahwa burung tersebut sangat menyayangi anaknya. Namun karena anaknya telah sembuh, burung itu dipercaya memiliki berkah yang besar. Ketika burung tersebut mulai bertelur, telurnya dipercaya sebagai asal-usul Peang Bulawang.
Oleh sebab itu, hingga sekarang masyarakat Mandar percaya bahwa Peang Bulawang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan dan burung sakral tersebut. Kisah ini menjadi salah satu bentuk penjelasan mitologis masyarakat Mandar mengenai asal-usul ikan terbang.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Dahri Dahlan

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar