Desa Lembang-lembang, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar
LINOR (GEMPA BUMI)
23 June 2026
-3.467122, 119.000175
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo" mai, kira-kira taun 1968, tepat tangnga allo, diang bencana linor ri tana Mandar. Di wattu di"o, tau-tau yang sementara matindo le"ba langsung ra"musang messo" bangun karena marasa panik. Tau mappauang, "Mangapai jari tigoya-goyang tongan di"e tana"? Guncangan e sangat kuat sehingga mae"di boyang tau yang ropo". Ri daerah Tinambung mae"di tomate karena tertimpa runtuhan boyang. Masigi-masigi pole tomi ropo", nanging Masigi Sepang andiang ropo" anna coppo"na todiang tia bemme".
Di wattu di"o diang tau ri lalang masigi yang sementara matindo. Iya langsung ra"musang messung apa material masigi mulai bemme" siappo"-siappo" anna hampir mi iya tertimpa runtuhan. Andiang masae, pole mi lembong kayyang (ombak besar). Saking kayyangna lembong e, diang tau yang ma"ita penampakan tomatua" yang sementara mambaca pa"do-pa"doang ri tangalalanna bencana e. Berkat doa tomatua" di"o anna atas izin Allah SWT, lembong kayyang e perlahan-lahan surut anna menjauh.
Di wattu yang sama, uwai meluap anna lita" bakkadzi terbelah-belah. Bunging anna pasir pole ri lalang tana anna marbau kuat. Batang kalapa, kayu-kayu, anna apa-apa yang lain hanyut terbawa uwai. Tau-tau mappauang mua banjir kayyang le"mai ri daerah di"o. Nanging berkat pertolongan Allah SWT, uwai yang meluap e cepatmi surut.
Tappana uwai mulai surut, tau-tau mappalomba lao maitai dampak bencana e. Diang tau mambawa kowi" (parang) sebagai persiapan mua uwai kembali meluap. Iya rencana mebattai batang loka untuk dijadikan pelampung supaya mala mberenang lao ri buttu atau tempat yang lebih tinggi. Nanging syukurlah uwai e andangi melambi" ri kampung.
Andiang beberapa wattu pole, mae"di tau yang memutuskan manyikkir (mengungsi) apa marasa marakke" anna was-was mua diang linor susulan. Iya lamba manyikkir lao ri Kappung Jawa, yang sekarang nasanga Wonomulyo. Tau-tau lamba secara rame-rame menyeberangi jalan menuju tempat pengungsian. Nanging sebagian tau Sepang tetap tinggal anna ndani melo meninggalkan kampungna.
Sementara itu tau ri kampung tetangga, yaitu Lebukang, pole lao ri Sepang dengan tujuan ikut manyikkir. Nanging iya berhenti apa naita masih diang tau Sepang yang tetap tinggal ri kampung.
Di wattu di"o diang mesa tokoh masyarakat ri La"mase, sanganna Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat disegani tau. Iya mappauang lao tau-tau, "Mua ikau lamba manyikkir, maka iau polemi lao manyikkir ri kampung Sepang." Tappana tau mangngi"i pa"uanganna di"o, mae"di tau yang akhirnya ndani lamba manyikkir.
Di tangnga suasana duka di"o, diang tomi tau yang massenda-senda supaya suasana sedikit ringan. Mesa tau mappauang, "Mua lita" Sepang maindong lao, maka iau tomi maindong." Untuk membuktikan pa"uanganna, iya mengambil sedikit lita" Sepang anna napattama ri kantongna, lalu lamba maindong sambil tertawa.
Tau-tau yang tetap tinggal ri kampung biasanya langsung messung ri boyang mua marasa takut. Iya meapi di diong boyang apa khawatir mua diang linor yang membuat arriang boyang tigoya-goyang kuat. Kadang-kadang tomi terdengar suara gemuruh yang sangat keras sehingga membuat masyarakat semakin waspada.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1968, tepat pada tengah hari, terjadi bencana gempa bumi besar (linor) di tanah Mandar. Saat kejadian itu, warga yang sedang tertidur pulas langsung terbangun dengan tergesa-gesa dan diliputi rasa panik. Mereka bertanya-tanya mengapa tanah terasa terguncang sangat dahsyat. Banyak rumah penduduk roboh akibat guncangan tersebut. Di daerah Tinambung, banyak korban meninggal dunia karena tertimpa runtuhan rumah. Masjid-masjid juga banyak yang roboh, tetapi masjid yang berada di Sepang tidak runtuh dan kubahnya pun tetap berdiri. Kebetulan saat itu ada orang di dalam masjid yang sedang beristirahat. Dengan panik ia segera berlari keluar karena material bangunan mulai berjatuhan satu per satu dan hampir saja menimpanya.
Tidak lama kemudian datang ombak besar yang sangat dahsyat. Besarnya ombak itu membuat sebagian orang melihat seorang tua yang sedang berdoa di tengah bencana tersebut. Berkat doa orang tua itu dan atas izin Allah SWT, ombak besar tersebut perlahan-lahan surut dan menjauh. Sementara itu air meluap bersamaan dengan tanah yang retak dan terbelah. Pasir muncul dari dalam tanah dan mengeluarkan bau yang menyengat. Batang kelapa, kayu-kayu, dan berbagai benda lainnya hanyut terbawa banjir. Banyak penduduk mengatakan bahwa banjir besar telah melanda daerah mereka. Namun berkat pertolongan Allah SWT, air yang meluap itu dengan cepat kembali surut.
Setelah air mulai surut, warga berbondong-bondong pergi melihat dampak bencana yang sangat besar tersebut. Sebagian orang membawa parang sebagai persiapan jika air kembali meluap. Mereka berencana menebang pohon pisang untuk dijadikan pelampung agar bisa berenang menuju daerah pegunungan atau tempat yang lebih tinggi. Namun, syukurlah air ternyata tidak sampai masuk ke perkampungan.
Beberapa waktu kemudian banyak warga memilih untuk mengungsi karena masih merasa takut dan was-was akan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Mereka pergi mengungsi ke Kampung Jawa, yang sekarang dikenal dengan nama Wonomulyo. Dengan kompak mereka berjalan kaki secara beramai-ramai memenuhi jalan menuju tempat pengungsian. Akan tetapi sebagian warga Sepang tetap bertahan dan tidak ingin meninggalkan kampung halamannya.
Sementara itu warga dari kampung tetangga, yaitu Lebukang, juga menyeberang ke kampung Sepang dengan tujuan untuk ikut mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun mereka kemudian berhenti dan singgah karena melihat masih ada warga Sepang yang tetap tinggal di kampung tersebut.
Pada saat itu salah seorang tokoh masyarakat dari La"mase, yaitu Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat dihormati oleh masyarakat (yang juga dikenal sebagai kakek dari Rektor STAIN Majene), berkata kepada masyarakat: "Jika kalian pergi mengungsi, maka saya justru akan kembali dan mengungsi ke kampung Sepang." Mendengar perkataan beliau, banyak orang akhirnya mengurungkan niat untuk mengungsi.
Di tengah suasana duka itu, ada pula beberapa warga yang mencoba mencairkan suasana dengan bercanda. Salah seorang di antaranya berkata, "Jika tanah Sepang ini sampai berlari pergi, maka saya juga akan ikut berlari." Untuk membuktikan ucapannya, ia bahkan mengambil segenggam tanah Sepang, memasukkannya ke dalam kantong, lalu berlari sambil tertawa.
Warga yang tetap tinggal di kampung biasanya akan segera keluar rumah jika merasa takut. Mereka memasak di bawah rumah karena khawatir jika terjadi gempa lagi yang dapat membuat tiang-tiang rumah bergoyang keras. Kadang-kadang terdengar pula suara gemuruh yang sangat kuat, sehingga membuat masyarakat semakin waspada dan berhati-hati menghadapi kemungkinan gempa susulan.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Haeria/Muhammad Qalbinnur Astrawan
Di wattu di"o diang tau ri lalang masigi yang sementara matindo. Iya langsung ra"musang messung apa material masigi mulai bemme" siappo"-siappo" anna hampir mi iya tertimpa runtuhan. Andiang masae, pole mi lembong kayyang (ombak besar). Saking kayyangna lembong e, diang tau yang ma"ita penampakan tomatua" yang sementara mambaca pa"do-pa"doang ri tangalalanna bencana e. Berkat doa tomatua" di"o anna atas izin Allah SWT, lembong kayyang e perlahan-lahan surut anna menjauh.
Di wattu yang sama, uwai meluap anna lita" bakkadzi terbelah-belah. Bunging anna pasir pole ri lalang tana anna marbau kuat. Batang kalapa, kayu-kayu, anna apa-apa yang lain hanyut terbawa uwai. Tau-tau mappauang mua banjir kayyang le"mai ri daerah di"o. Nanging berkat pertolongan Allah SWT, uwai yang meluap e cepatmi surut.
Tappana uwai mulai surut, tau-tau mappalomba lao maitai dampak bencana e. Diang tau mambawa kowi" (parang) sebagai persiapan mua uwai kembali meluap. Iya rencana mebattai batang loka untuk dijadikan pelampung supaya mala mberenang lao ri buttu atau tempat yang lebih tinggi. Nanging syukurlah uwai e andangi melambi" ri kampung.
Andiang beberapa wattu pole, mae"di tau yang memutuskan manyikkir (mengungsi) apa marasa marakke" anna was-was mua diang linor susulan. Iya lamba manyikkir lao ri Kappung Jawa, yang sekarang nasanga Wonomulyo. Tau-tau lamba secara rame-rame menyeberangi jalan menuju tempat pengungsian. Nanging sebagian tau Sepang tetap tinggal anna ndani melo meninggalkan kampungna.
Sementara itu tau ri kampung tetangga, yaitu Lebukang, pole lao ri Sepang dengan tujuan ikut manyikkir. Nanging iya berhenti apa naita masih diang tau Sepang yang tetap tinggal ri kampung.
Di wattu di"o diang mesa tokoh masyarakat ri La"mase, sanganna Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat disegani tau. Iya mappauang lao tau-tau, "Mua ikau lamba manyikkir, maka iau polemi lao manyikkir ri kampung Sepang." Tappana tau mangngi"i pa"uanganna di"o, mae"di tau yang akhirnya ndani lamba manyikkir.
Di tangnga suasana duka di"o, diang tomi tau yang massenda-senda supaya suasana sedikit ringan. Mesa tau mappauang, "Mua lita" Sepang maindong lao, maka iau tomi maindong." Untuk membuktikan pa"uanganna, iya mengambil sedikit lita" Sepang anna napattama ri kantongna, lalu lamba maindong sambil tertawa.
Tau-tau yang tetap tinggal ri kampung biasanya langsung messung ri boyang mua marasa takut. Iya meapi di diong boyang apa khawatir mua diang linor yang membuat arriang boyang tigoya-goyang kuat. Kadang-kadang tomi terdengar suara gemuruh yang sangat keras sehingga membuat masyarakat semakin waspada.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1968, tepat pada tengah hari, terjadi bencana gempa bumi besar (linor) di tanah Mandar. Saat kejadian itu, warga yang sedang tertidur pulas langsung terbangun dengan tergesa-gesa dan diliputi rasa panik. Mereka bertanya-tanya mengapa tanah terasa terguncang sangat dahsyat. Banyak rumah penduduk roboh akibat guncangan tersebut. Di daerah Tinambung, banyak korban meninggal dunia karena tertimpa runtuhan rumah. Masjid-masjid juga banyak yang roboh, tetapi masjid yang berada di Sepang tidak runtuh dan kubahnya pun tetap berdiri. Kebetulan saat itu ada orang di dalam masjid yang sedang beristirahat. Dengan panik ia segera berlari keluar karena material bangunan mulai berjatuhan satu per satu dan hampir saja menimpanya.
Tidak lama kemudian datang ombak besar yang sangat dahsyat. Besarnya ombak itu membuat sebagian orang melihat seorang tua yang sedang berdoa di tengah bencana tersebut. Berkat doa orang tua itu dan atas izin Allah SWT, ombak besar tersebut perlahan-lahan surut dan menjauh. Sementara itu air meluap bersamaan dengan tanah yang retak dan terbelah. Pasir muncul dari dalam tanah dan mengeluarkan bau yang menyengat. Batang kelapa, kayu-kayu, dan berbagai benda lainnya hanyut terbawa banjir. Banyak penduduk mengatakan bahwa banjir besar telah melanda daerah mereka. Namun berkat pertolongan Allah SWT, air yang meluap itu dengan cepat kembali surut.
Setelah air mulai surut, warga berbondong-bondong pergi melihat dampak bencana yang sangat besar tersebut. Sebagian orang membawa parang sebagai persiapan jika air kembali meluap. Mereka berencana menebang pohon pisang untuk dijadikan pelampung agar bisa berenang menuju daerah pegunungan atau tempat yang lebih tinggi. Namun, syukurlah air ternyata tidak sampai masuk ke perkampungan.
Beberapa waktu kemudian banyak warga memilih untuk mengungsi karena masih merasa takut dan was-was akan kemungkinan terjadinya gempa susulan. Mereka pergi mengungsi ke Kampung Jawa, yang sekarang dikenal dengan nama Wonomulyo. Dengan kompak mereka berjalan kaki secara beramai-ramai memenuhi jalan menuju tempat pengungsian. Akan tetapi sebagian warga Sepang tetap bertahan dan tidak ingin meninggalkan kampung halamannya.
Sementara itu warga dari kampung tetangga, yaitu Lebukang, juga menyeberang ke kampung Sepang dengan tujuan untuk ikut mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun mereka kemudian berhenti dan singgah karena melihat masih ada warga Sepang yang tetap tinggal di kampung tersebut.
Pada saat itu salah seorang tokoh masyarakat dari La"mase, yaitu Pua Muhammad, seorang pemuka agama yang sangat dihormati oleh masyarakat (yang juga dikenal sebagai kakek dari Rektor STAIN Majene), berkata kepada masyarakat: "Jika kalian pergi mengungsi, maka saya justru akan kembali dan mengungsi ke kampung Sepang." Mendengar perkataan beliau, banyak orang akhirnya mengurungkan niat untuk mengungsi.
Di tengah suasana duka itu, ada pula beberapa warga yang mencoba mencairkan suasana dengan bercanda. Salah seorang di antaranya berkata, "Jika tanah Sepang ini sampai berlari pergi, maka saya juga akan ikut berlari." Untuk membuktikan ucapannya, ia bahkan mengambil segenggam tanah Sepang, memasukkannya ke dalam kantong, lalu berlari sambil tertawa.
Warga yang tetap tinggal di kampung biasanya akan segera keluar rumah jika merasa takut. Mereka memasak di bawah rumah karena khawatir jika terjadi gempa lagi yang dapat membuat tiang-tiang rumah bergoyang keras. Kadang-kadang terdengar pula suara gemuruh yang sangat kuat, sehingga membuat masyarakat semakin waspada dan berhati-hati menghadapi kemungkinan gempa susulan.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Haeria/Muhammad Qalbinnur Astrawan