Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
BARE LESANG (PEMBAGI MONYET)
23 June 2026
-3.498085, 119.015259
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo"na, diang dua rupa binatang sanganna kucing anna anjing. Duai e sangat mapia persahabatanna anna le"ba masae massiolang. Mesa allo, duai e mallamba-lamba lao maita lino anna keadaan ri luar kampung. Lambami duai e massulle ri alas, ri bela-bela, anna ri sawah-sawah.
Sampe di tangnga lalang, duai e marakke sanna kaloloanna apa le"ba lapar. Iya mappikki" meapa carana mala ummande. Lambami pole duai e sampe naita mesa boyang ri tangnga sawah. Boyang e mesa-mesanna di situ. Tappana, duai e mendekat karna mappikki" mua mungkin diang sisa ande-ande ri boyang e, mungkin ikan kering atau ande laeng.
Wattu duai e le"ba dekat, anjing langsung ma"cium bau ikan kering. Apa penciumanna marakke sanna tajam. Iya napauang lao di kucing, "Eh kucing, di baona boyang e diang ikan kering!" Tapi apa anjing nde" mala meakke lao di boyang, iya kucingmo napasuru meakke lao maita.
Tappana, kucing meakke lao ri bate-bate anna naita tongang diang mesa ikan kering. Kucing napauang lao di anjing, "Tongang tu"u, anjing, marakke sanna penciumammu. Diang tongang ikan kering ri atas boyang!"
Tappana, kucing tu"ung pole. Anjing napauang, "Apa cuma mesa ikan kering, ita harus mappabuat kesepakatan." Kucing setuju. Jari, duai e mappabuat aturan. Mua" kucing melompat anna ikan e tiba lao di tana", maka bagian anjing. Tapi mua" kucing berhasil ma"ala ikan e ri atas boyang, maka bagian kucing.
Apa duai e lapar sanna, kucing langsung melompat. Tapi ikan kering e tiba tongang lao di tana". Tappana, anjing langsung melo ma"ande. Iya napauang, "Maaf, kucing. Pura ita massakke mua" mua" tiba di tana", bagian yau."
Tapi kucing menolak. Iya napauang, "Damo diolo! Kesepakatan mala berubah karna ita sama-sama lapar." Tapi anjing nde" mau. Iya tetap pegang kesepakatan diolo. Akhirna, duai e massibantah anna mappasisala.
Wattu duai e masih mappasisala, lewat mesa monyet sambil nawawa dacing timbangan. Apa jama-jamanganna monyet e pedagang. Kucing napauang, "Eh monyet, lao di mana"? Monyet menjawab, "Yau lao di pasar mappatimbang hasil bumi."
Monyet mamanya, "Meapa iya nasibantahang"? Tappana, kucing anna anjing mappajelas masalah ikan kering e. Monyet napauang, "Gampang itu. Pakai dacingku saja supaya adil."
Akhirna, duai e setuju ulang. Monyet mulai mappatimbang ikan kering e. Sebelah kiri bagian kucing, sebelah kanan bagian anjing. Tapi wattu ditimbang, lebih berat sebelah anjing. Kucing langsung marakke, "Eh monyet, rusak dacingmu!"
Monyet napauang, "Gampang itu." Tappana, monyet menggigit sedikit ikan di bagian anjing supaya seimbang. Tapi setelah ditimbang ulang, malah berat sebelah kucing. Anjing toi marakke, "Rusak tongang dacingmu itu!"
Monyet kembali menggigit sedikit bagian kucing. Begitu terus sampe ikan kering e tinggal sedikit sanna. Tappana, monyet napauang sambil tertawa, "Nah, baru seimbang!"
Padahal, hampir semua ikan kering e pura naande monyet. Tinggal sedikit baru iya napauang seimbang. Iyamo asal mula istilah "barelesang", iyamo tau mappabare-bare lao di anu tau laeng supaya iya sendiri mala untung.
Iyamo pepatuduanna caritae, mua" ita nde" boleh terlalu loba anna terlalu gampang dipalappa" ri tau laeng. Dalam kehidupan, ita harus bijaksana anna hati-hati ri mappabuat kesepakatan.
"Cappu" Carita!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu kala, terdapat dua ekor binatang yang sangat bersahabat, yaitu kucing dan anjing. Persahabatan mereka sangat erat dan telah berlangsung lama. Suatu hari, keduanya pergi berjalan-jalan untuk melihat keadaan di luar kampung. Mereka melewati hutan, kebun, dan hamparan sawah yang luas.
Di tengah perjalanan, mereka merasa sangat lapar karena telah berjalan sangat jauh. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan sambil mencari makanan. Akhirnya, mereka menemukan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah sawah. Mereka mendekati rumah itu dengan harapan menemukan sisa makanan, seperti ikan kering atau makanan lainnya.
Ketika sudah dekat, anjing langsung mencium bau ikan kering karena penciumannya sangat tajam. Ia berkata kepada kucing, "Kucing, di atas rumah itu ada ikan kering!" Namun, karena anjing tidak bisa memanjat rumah, ia menyuruh kucing naik untuk memastikan.
Kucing pun naik ke atas rumah dan benar saja, di atas bate-bate rumah terdapat seekor ikan kering. Kucing berkata, "Benar sekali, anjing. Penciumanmu memang hebat. Ada ikan kering di sini!"
Setelah turun, anjing berkata bahwa mereka harus membuat kesepakatan karena ikan itu hanya satu ekor. Kucing pun setuju. Mereka membuat aturan bahwa jika saat kucing melompat ikan itu jatuh ke tanah, maka ikan tersebut menjadi bagian anjing. Namun, jika kucing berhasil mengambil ikan itu di atas rumah, maka ikan itu menjadi bagian kucing.
Karena sangat lapar, kucing langsung melompat. Akan tetapi, ikan kering itu justru jatuh ke tanah. Anjing pun segera ingin memakannya sambil berkata, "Maaf, kucing. Kita sudah sepakat bahwa jika ikan jatuh ke tanah, maka itu menjadi bagianku."
Namun, kucing tidak setuju dan berkata, "Tunggu dulu! Kesepakatan bisa berubah karena kita sama-sama lapar." Akan tetapi, anjing tetap bersikeras mempertahankan aturan yang telah mereka buat sebelumnya. Akhirnya, keduanya bertengkar.
Saat mereka bertengkar, lewatlah seekor monyet yang membawa timbangan dacin. Monyet itu bekerja sebagai pedagang di pasar. Kucing bertanya, "Monyet, mau ke mana"? Monyet menjawab, "Saya mau ke pasar untuk menimbang hasil bumi."
Monyet lalu bertanya mengapa mereka bertengkar. Setelah mendengar cerita tentang ikan kering itu, monyet berkata, "Mudah saja, kita timbang saja agar adil."
Akhirnya, mereka sepakat menggunakan timbangan monyet. Sebelah kiri untuk bagian kucing dan sebelah kanan untuk bagian anjing. Akan tetapi, ketika ditimbang, bagian anjing lebih berat. Kucing pun marah dan berkata bahwa timbangan monyet rusak.
Monyet berkata, "Tenang saja." Ia lalu menggigit sedikit bagian ikan di sisi anjing agar seimbang. Namun, setelah ditimbang kembali, bagian kucing justru menjadi lebih berat. Kini giliran anjing yang marah dan mengatakan bahwa timbangan itu tidak benar.
Monyet kembali menggigit sedikit bagian ikan di sisi kucing. Begitulah seterusnya hingga ikan kering itu hampir habis dimakan oleh monyet. Setelah tinggal sedikit, monyet baru berkata sambil tertawa, "Nah, sekarang sudah seimbang!"
Padahal, hampir seluruh ikan kering itu telah dimakan oleh monyet. Tinggal sedikit saja yang tersisa. Dari kisah ini muncullah istilah "barelesang", yaitu seseorang yang berpura-pura menjadi penengah, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Pesan moral dari kisah ini adalah jangan mudah bertengkar hanya karena hal kecil. Selain itu, kita juga harus berhati-hati terhadap orang yang berpura-pura ingin mendamaikan, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan dari masalah orang lain.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Tammalele
Sampe di tangnga lalang, duai e marakke sanna kaloloanna apa le"ba lapar. Iya mappikki" meapa carana mala ummande. Lambami pole duai e sampe naita mesa boyang ri tangnga sawah. Boyang e mesa-mesanna di situ. Tappana, duai e mendekat karna mappikki" mua mungkin diang sisa ande-ande ri boyang e, mungkin ikan kering atau ande laeng.
Wattu duai e le"ba dekat, anjing langsung ma"cium bau ikan kering. Apa penciumanna marakke sanna tajam. Iya napauang lao di kucing, "Eh kucing, di baona boyang e diang ikan kering!" Tapi apa anjing nde" mala meakke lao di boyang, iya kucingmo napasuru meakke lao maita.
Tappana, kucing meakke lao ri bate-bate anna naita tongang diang mesa ikan kering. Kucing napauang lao di anjing, "Tongang tu"u, anjing, marakke sanna penciumammu. Diang tongang ikan kering ri atas boyang!"
Tappana, kucing tu"ung pole. Anjing napauang, "Apa cuma mesa ikan kering, ita harus mappabuat kesepakatan." Kucing setuju. Jari, duai e mappabuat aturan. Mua" kucing melompat anna ikan e tiba lao di tana", maka bagian anjing. Tapi mua" kucing berhasil ma"ala ikan e ri atas boyang, maka bagian kucing.
Apa duai e lapar sanna, kucing langsung melompat. Tapi ikan kering e tiba tongang lao di tana". Tappana, anjing langsung melo ma"ande. Iya napauang, "Maaf, kucing. Pura ita massakke mua" mua" tiba di tana", bagian yau."
Tapi kucing menolak. Iya napauang, "Damo diolo! Kesepakatan mala berubah karna ita sama-sama lapar." Tapi anjing nde" mau. Iya tetap pegang kesepakatan diolo. Akhirna, duai e massibantah anna mappasisala.
Wattu duai e masih mappasisala, lewat mesa monyet sambil nawawa dacing timbangan. Apa jama-jamanganna monyet e pedagang. Kucing napauang, "Eh monyet, lao di mana"? Monyet menjawab, "Yau lao di pasar mappatimbang hasil bumi."
Monyet mamanya, "Meapa iya nasibantahang"? Tappana, kucing anna anjing mappajelas masalah ikan kering e. Monyet napauang, "Gampang itu. Pakai dacingku saja supaya adil."
Akhirna, duai e setuju ulang. Monyet mulai mappatimbang ikan kering e. Sebelah kiri bagian kucing, sebelah kanan bagian anjing. Tapi wattu ditimbang, lebih berat sebelah anjing. Kucing langsung marakke, "Eh monyet, rusak dacingmu!"
Monyet napauang, "Gampang itu." Tappana, monyet menggigit sedikit ikan di bagian anjing supaya seimbang. Tapi setelah ditimbang ulang, malah berat sebelah kucing. Anjing toi marakke, "Rusak tongang dacingmu itu!"
Monyet kembali menggigit sedikit bagian kucing. Begitu terus sampe ikan kering e tinggal sedikit sanna. Tappana, monyet napauang sambil tertawa, "Nah, baru seimbang!"
Padahal, hampir semua ikan kering e pura naande monyet. Tinggal sedikit baru iya napauang seimbang. Iyamo asal mula istilah "barelesang", iyamo tau mappabare-bare lao di anu tau laeng supaya iya sendiri mala untung.
Iyamo pepatuduanna caritae, mua" ita nde" boleh terlalu loba anna terlalu gampang dipalappa" ri tau laeng. Dalam kehidupan, ita harus bijaksana anna hati-hati ri mappabuat kesepakatan.
"Cappu" Carita!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu kala, terdapat dua ekor binatang yang sangat bersahabat, yaitu kucing dan anjing. Persahabatan mereka sangat erat dan telah berlangsung lama. Suatu hari, keduanya pergi berjalan-jalan untuk melihat keadaan di luar kampung. Mereka melewati hutan, kebun, dan hamparan sawah yang luas.
Di tengah perjalanan, mereka merasa sangat lapar karena telah berjalan sangat jauh. Mereka pun terus melanjutkan perjalanan sambil mencari makanan. Akhirnya, mereka menemukan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah sawah. Mereka mendekati rumah itu dengan harapan menemukan sisa makanan, seperti ikan kering atau makanan lainnya.
Ketika sudah dekat, anjing langsung mencium bau ikan kering karena penciumannya sangat tajam. Ia berkata kepada kucing, "Kucing, di atas rumah itu ada ikan kering!" Namun, karena anjing tidak bisa memanjat rumah, ia menyuruh kucing naik untuk memastikan.
Kucing pun naik ke atas rumah dan benar saja, di atas bate-bate rumah terdapat seekor ikan kering. Kucing berkata, "Benar sekali, anjing. Penciumanmu memang hebat. Ada ikan kering di sini!"
Setelah turun, anjing berkata bahwa mereka harus membuat kesepakatan karena ikan itu hanya satu ekor. Kucing pun setuju. Mereka membuat aturan bahwa jika saat kucing melompat ikan itu jatuh ke tanah, maka ikan tersebut menjadi bagian anjing. Namun, jika kucing berhasil mengambil ikan itu di atas rumah, maka ikan itu menjadi bagian kucing.
Karena sangat lapar, kucing langsung melompat. Akan tetapi, ikan kering itu justru jatuh ke tanah. Anjing pun segera ingin memakannya sambil berkata, "Maaf, kucing. Kita sudah sepakat bahwa jika ikan jatuh ke tanah, maka itu menjadi bagianku."
Namun, kucing tidak setuju dan berkata, "Tunggu dulu! Kesepakatan bisa berubah karena kita sama-sama lapar." Akan tetapi, anjing tetap bersikeras mempertahankan aturan yang telah mereka buat sebelumnya. Akhirnya, keduanya bertengkar.
Saat mereka bertengkar, lewatlah seekor monyet yang membawa timbangan dacin. Monyet itu bekerja sebagai pedagang di pasar. Kucing bertanya, "Monyet, mau ke mana"? Monyet menjawab, "Saya mau ke pasar untuk menimbang hasil bumi."
Monyet lalu bertanya mengapa mereka bertengkar. Setelah mendengar cerita tentang ikan kering itu, monyet berkata, "Mudah saja, kita timbang saja agar adil."
Akhirnya, mereka sepakat menggunakan timbangan monyet. Sebelah kiri untuk bagian kucing dan sebelah kanan untuk bagian anjing. Akan tetapi, ketika ditimbang, bagian anjing lebih berat. Kucing pun marah dan berkata bahwa timbangan monyet rusak.
Monyet berkata, "Tenang saja." Ia lalu menggigit sedikit bagian ikan di sisi anjing agar seimbang. Namun, setelah ditimbang kembali, bagian kucing justru menjadi lebih berat. Kini giliran anjing yang marah dan mengatakan bahwa timbangan itu tidak benar.
Monyet kembali menggigit sedikit bagian ikan di sisi kucing. Begitulah seterusnya hingga ikan kering itu hampir habis dimakan oleh monyet. Setelah tinggal sedikit, monyet baru berkata sambil tertawa, "Nah, sekarang sudah seimbang!"
Padahal, hampir seluruh ikan kering itu telah dimakan oleh monyet. Tinggal sedikit saja yang tersisa. Dari kisah ini muncullah istilah "barelesang", yaitu seseorang yang berpura-pura menjadi penengah, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Pesan moral dari kisah ini adalah jangan mudah bertengkar hanya karena hal kecil. Selain itu, kita juga harus berhati-hati terhadap orang yang berpura-pura ingin mendamaikan, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan dari masalah orang lain.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Tammalele