Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar
POSA PURA PUAJI ANNA BAU SIOLA TIKKOR
23 June 2026
-3.498109, 119.015243
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo"na sejak zaman to diolo", kucing anna bau (tikus) nde" biasa massitai mapia. Begitu toi siola tikkor (kodok). Mua bau naitai kucing, iya langsung mappalappa". Begitu toi tikkor, apa marakke sanna me"dinna ri kucing. Jari, tallu rupa binatang e biasa saling menghindar.
Mesa wattu, kucing e melo lao massiara anna naik haji. Bassa binatang laeng napalako lao massiara, tapi bau anna tikkor nde" lao. Tappana, diang binatang laeng mamanya, "Meapa bau anna tikkor nde" lao massiara lao di kucing"? Tappana di jawab, "Aihh" nde" namiande boi! Mua lao di kucing, pasti ita diterkam."
Walaupun begitu, diang toi binatang laeng napauang, "Ahh, nde"mi iya begitu. Kucing pura haji. Pasti pura berubah perangaina." Akhirna, kucing pura pole dari tanah suci anna tersebar berita mua iya pura haji.
Tappana, bassa binatang lao massiara lao di boyanna kucing. Angganna mappasalama anna berjabat tangan sambil mappau, "Alhamdulillah, pura haji mi kucing." Tappana, diang mamanya, "Di mana bau anna tikkor? Ndang diita lao massiara."
Bau anna tikkor mendengar berita mua kucing pura haji. Tappana, bau masih me"dinna. Iya napauang lao di tikkor, "Aihh" jangan-jangan andangmi tia perangaina." Tapi tikkor napauang, "Ahh, pura haji mi. Pasti pura berubah."
Akhirna, duai e sepakat lao massiara lao di boyanna kucing. Wattu lambi, bau mappau, "Assalamualaikum." Kucing menjawab, "Waalaikumsalam. Eh, baru boi mai kalian"?
Tappana, bau masih mapattan. Iya napauang lao di tikkor, "Pissorono mai diolo." Battuanna, iya menyuruh tikkor maju diolo apa iya masih me"di.
Wattu tikkor mendekat ri sisi kucing, tiba-tiba kucing langsung menerkam bau! Bau langsung ditangkap anna mau dimakan. Tikkor langsung melompat kaget sambil napauang, "Tuh kan! Kebiasaanna nde" mala berubah."
Iyamo pepatuduanna caritae, mua sifat buruk mua nde" tongang-tongang dipappaccingi ri ate", iya mala dipogau pole. Apa di Mandar biasa dipauang, "Ala biasa karna biasa."
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu kala, sejak masa lampau, kucing dan tikus memang tidak pernah bisa hidup rukun. Begitu pula dengan kodok. Jika tikus melihat kucing, ia pasti langsung menghindar karena takut diterkam. Kodok pun demikian. Ketiga binatang ini selalu saling menghindari satu sama lain.
Suatu hari, si kucing pergi menunaikan ibadah haji. Banyak binatang lain datang mengantar dan berziarah kepadanya sebelum keberangkatan. Namun, tikus dan kodok tidak ikut datang. Ketika binatang lain bertanya mengapa mereka tidak datang berziarah, tikus menjawab, "Kami takut dimakan oleh kucing."
Akan tetapi, ada binatang lain yang berkata, "Ah, sekarang kucing sudah berubah. Dia sudah pergi haji, jadi perilakunya pasti lebih baik." Akhirnya, setelah beberapa waktu, kucing pun pulang dari tanah suci dan kabar kepulangannya tersebar ke mana-mana.
Semua binatang datang berziarah ke rumah kucing untuk mengucapkan selamat. Mereka berjabat tangan sambil berkata, "Alhamdulillah, sekarang kucing sudah menjadi haji." Lalu mereka bertanya, "Mengapa tikus dan kodok belum datang"?
Ketika mendengar bahwa kucing telah pulang haji, tikus masih merasa takut. Ia berkata kepada kodok, "Jangan-jangan sifatnya masih tetap sama." Namun, kodok menjawab, "Ah, dia sudah haji. Pasti dia sudah berubah."
Akhirnya, tikus dan kodok memutuskan untuk datang berziarah ke rumah kucing. Ketika tiba, tikus mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Kucing pun menjawab, "Waalaikumsalam. Baru sekarang kalian datang"?
Namun, tikus masih merasa takut sehingga ia menyuruh kodok maju lebih dahulu mendekati kucing. Saat kodok mulai mendekat, tiba-tiba kucing langsung menerkam tikus yang berada di dekatnya.
Kodok pun terkejut dan langsung melompat sambil berkata, "Benar kan! Kebiasaannya memang tidak berubah."
Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sifat buruk seseorang tidak mudah berubah jika tidak benar-benar diperbaiki dari dalam hati. Dalam masyarakat Mandar dikenal pepatah, "Ala biasa karena biasa," yang berarti kebiasaan buruk akan terus dilakukan jika tidak sungguh-sungguh ditinggalkan.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Tammalele
Mesa wattu, kucing e melo lao massiara anna naik haji. Bassa binatang laeng napalako lao massiara, tapi bau anna tikkor nde" lao. Tappana, diang binatang laeng mamanya, "Meapa bau anna tikkor nde" lao massiara lao di kucing"? Tappana di jawab, "Aihh" nde" namiande boi! Mua lao di kucing, pasti ita diterkam."
Walaupun begitu, diang toi binatang laeng napauang, "Ahh, nde"mi iya begitu. Kucing pura haji. Pasti pura berubah perangaina." Akhirna, kucing pura pole dari tanah suci anna tersebar berita mua iya pura haji.
Tappana, bassa binatang lao massiara lao di boyanna kucing. Angganna mappasalama anna berjabat tangan sambil mappau, "Alhamdulillah, pura haji mi kucing." Tappana, diang mamanya, "Di mana bau anna tikkor? Ndang diita lao massiara."
Bau anna tikkor mendengar berita mua kucing pura haji. Tappana, bau masih me"dinna. Iya napauang lao di tikkor, "Aihh" jangan-jangan andangmi tia perangaina." Tapi tikkor napauang, "Ahh, pura haji mi. Pasti pura berubah."
Akhirna, duai e sepakat lao massiara lao di boyanna kucing. Wattu lambi, bau mappau, "Assalamualaikum." Kucing menjawab, "Waalaikumsalam. Eh, baru boi mai kalian"?
Tappana, bau masih mapattan. Iya napauang lao di tikkor, "Pissorono mai diolo." Battuanna, iya menyuruh tikkor maju diolo apa iya masih me"di.
Wattu tikkor mendekat ri sisi kucing, tiba-tiba kucing langsung menerkam bau! Bau langsung ditangkap anna mau dimakan. Tikkor langsung melompat kaget sambil napauang, "Tuh kan! Kebiasaanna nde" mala berubah."
Iyamo pepatuduanna caritae, mua sifat buruk mua nde" tongang-tongang dipappaccingi ri ate", iya mala dipogau pole. Apa di Mandar biasa dipauang, "Ala biasa karna biasa."
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu kala, sejak masa lampau, kucing dan tikus memang tidak pernah bisa hidup rukun. Begitu pula dengan kodok. Jika tikus melihat kucing, ia pasti langsung menghindar karena takut diterkam. Kodok pun demikian. Ketiga binatang ini selalu saling menghindari satu sama lain.
Suatu hari, si kucing pergi menunaikan ibadah haji. Banyak binatang lain datang mengantar dan berziarah kepadanya sebelum keberangkatan. Namun, tikus dan kodok tidak ikut datang. Ketika binatang lain bertanya mengapa mereka tidak datang berziarah, tikus menjawab, "Kami takut dimakan oleh kucing."
Akan tetapi, ada binatang lain yang berkata, "Ah, sekarang kucing sudah berubah. Dia sudah pergi haji, jadi perilakunya pasti lebih baik." Akhirnya, setelah beberapa waktu, kucing pun pulang dari tanah suci dan kabar kepulangannya tersebar ke mana-mana.
Semua binatang datang berziarah ke rumah kucing untuk mengucapkan selamat. Mereka berjabat tangan sambil berkata, "Alhamdulillah, sekarang kucing sudah menjadi haji." Lalu mereka bertanya, "Mengapa tikus dan kodok belum datang"?
Ketika mendengar bahwa kucing telah pulang haji, tikus masih merasa takut. Ia berkata kepada kodok, "Jangan-jangan sifatnya masih tetap sama." Namun, kodok menjawab, "Ah, dia sudah haji. Pasti dia sudah berubah."
Akhirnya, tikus dan kodok memutuskan untuk datang berziarah ke rumah kucing. Ketika tiba, tikus mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Kucing pun menjawab, "Waalaikumsalam. Baru sekarang kalian datang"?
Namun, tikus masih merasa takut sehingga ia menyuruh kodok maju lebih dahulu mendekati kucing. Saat kodok mulai mendekat, tiba-tiba kucing langsung menerkam tikus yang berada di dekatnya.
Kodok pun terkejut dan langsung melompat sambil berkata, "Benar kan! Kebiasaannya memang tidak berubah."
Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa sifat buruk seseorang tidak mudah berubah jika tidak benar-benar diperbaiki dari dalam hati. Dalam masyarakat Mandar dikenal pepatah, "Ala biasa karena biasa," yang berarti kebiasaan buruk akan terus dilakukan jika tidak sungguh-sungguh ditinggalkan.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Tammalele