Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar

INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)

23 June 2026 -3.498071, 119.015266
INDO MANU' DI PADANG PASIR (INDUK AYAM BERSARANG DI PADANG PASIR)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diolo"na, diang mesa carita mapia anna ma"andung pepatuduang. Caritae tentang mesa indo manu ri tangnga padang pasir. Indo manu e massarang ri mesa ponna ayu to marakke keringna. Di situ iya mappatello appaq. Pura mappatello, iya mulai mengerami tellona sampe berminggu-minggu.
Akhirna, appaq tellona menetas menjari appaq ana" manu kacili". Ana"-ana"na e mulai tuo anna tiap allo indo manu e mallayang lao maccari ande-ande. Apa iya tuo ri tangnga padang pasir to tandus anna nde" diang ande-ande gampang dipole.
Minggu pertama anna minggu kedua, indo manu e terus mallayang kiri kanan maccari ande-ande. Tapi nde"na pole apa-apa. Di lalang ate"na, iya terus mappikki", "Meapa ande la upaandeang lao di ana"-anakku? Ita tuo ri tampat to tandus anna kering."
Ri minggu katallunna, indo manu e pole dari maccari ande sambil nawawa mesa belalang kacili" to le"ba mate anna kering. Iyamo tu"u ande mesa-mesanna to mala naala. Belalang e napaandeang lao di ana"-ana"na. Ana"-ana"na ummande, tapi cuma mala bertahan mesa allo.
Pura itte, indo manu e mallayang pole maccari ande. Apa iyamo sifatna mesa indo", selalu massayang anna mappikki" kehidupan ana"-ana"na. Sampe ri minggu kaappa"na, indo manu e mulai putus asa. Appaq minggu iya terus maccari ande tapi nde"na pole apa-apa selain lapar anna kesusahan.
Akhirna, indo manu e ma"ala keputusan to marakke matindona. Keputusan e nde" biasa dipikki" manusia. Iya mulai mencabut buluna sandiri anna menikam badanna sandiri sampe darahna mallili". Darah e napake ana"-ana"na sabagai wai minum. Dagingna napake sabagai ande supaya ana"-ana"na tetap tuo anna malai hidup.
Iyamo carita to marakke matindona. Apa indo manu e rela mate demi kehidupan generasinna. Iya rela mappasorong nyawanna sandiri supaya ana"-ana"na tetap hidup.
Pepatuduanna caritae, mua" di lino" e diang tongang indo" to rela mappakasiri", mappalappa" kesenanganna, anna bahkan rela mate demi masa depan ana"-ana"na. Carita indo manu e mappapoleang lao diita mua kasih sayang indo" nde" diang batasna.
"Cappu"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah kisah yang sangat menarik dan penuh makna. Kisah ini bercerita tentang seekor induk burung yang hidup di tengah padang pasir. Burung itu membuat sarang di sebuah pohon yang kering dan gersang. Di sanalah ia bertelur sebanyak empat butir. Setelah bertelur, induk burung itu mengerami telur-telurnya selama berminggu-minggu.
Akhirnya, keempat telur itu menetas menjadi empat ekor anak burung kecil. Anak-anak burung tersebut mulai tumbuh, dan setiap hari induknya terbang ke mana-mana untuk mencari makanan. Akan tetapi, mereka hidup di tengah padang pasir yang tandus sehingga sangat sulit menemukan makanan.
Pada minggu pertama hingga minggu kedua, induk burung itu terus terbang ke berbagai arah untuk mencari makanan, tetapi tidak menemukan apa pun. Di dalam hatinya, ia terus berpikir, "Makanan apa yang bisa kuberikan kepada anak-anakku? Kita hidup di tempat yang sangat tandus dan kering."
Pada minggu ketiga, induk burung itu akhirnya menemukan seekor belalang kecil yang sudah kering dan mati. Hanya itu makanan yang berhasil ia dapatkan. Belalang tersebut dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Mereka memakannya, tetapi makanan itu hanya cukup untuk bertahan satu hari saja.
Setelah itu, sang induk kembali terbang mencari makanan. Sebab, begitulah sifat seorang ibu, selalu memikirkan kehidupan anak-anaknya. Hingga memasuki minggu keempat, induk burung itu mulai putus asa. Selama empat minggu ia terus mencari makanan, tetapi hampir tidak menemukan apa-apa selain penderitaan dan kelaparan.
Akhirnya, induk burung itu mengambil keputusan yang sangat luar biasa, bahkan sulit diterima oleh akal manusia. Ia mulai mencabut bulunya sendiri dan melukai tubuhnya hingga darahnya mengalir. Darah itu dijadikan minuman oleh anak-anaknya, sedangkan daging dari tubuhnya dijadikan makanan agar anak-anaknya tetap hidup dan tumbuh.
Inilah kisah yang sangat menyentuh hati. Seekor induk burung rela mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup generasinya. Ia rela mati demi anak-anaknya.
Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa di dalam kehidupan ada sosok ibu yang rela berkorban apa saja demi masa depan anak-anaknya. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki batas. Kisah burung ini mengajarkan kepada manusia tentang arti pengorbanan, kasih sayang, dan perjuangan demi generasi yang akan datang.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Tammalele

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Lekopa???dis, Kec. Tinambung, Kab. Polewali Mandar