Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Dusun Battasawa, Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

SIRONDONG TOMAROKU

22 May 2026 -3.148177, 119.298108
SIRONDONG TOMAROKU

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Pissan toyolo, deem mesa sapulo duai ma"si"rondong. Sapulo mesa"e sanggin masokan anna matata", sa"po" inde anak sapulo duai"e yamo tomarona tau lanlino. Karana yamo tomarona, indo sirondong-rondongna napatomoroi pissan. Tae ia dipopasi kola, disuah ia ma"pande-pande tedong sola pariu uma. Na tarima pa"pa lakona sirondongna sola na sabaran. Yate karana mendadi tomakaka inde lan rumpuna, sola tambah buda pacouan. Na pogau" ya mo rodi sangga lantondok.
Pissan attu, dipopa" mesa-mesa anggana ma"sirondong. Sa"po" inde sirondong tomarona tae dio. Inde le"ba" lao makambi tedong lako pasang. Dipopa" mesa-mesa inde dibenni pacouan dipasandai, sa"po" tae ia dikilalai inde mesa le"ba" lao makambi. Saei lako banua, na kumua: "Umbara kao tawa ku"? Na kuami indo"na: "Tae miko to dengan tawaku mu aka tae moko iko dikilalai anggena."
Na paranduk mapadi penawanna lako sirondongna sola lako indo ambena. Karana tae ma"papada-pada kasihna. Iya le"ba pellei banua lao tuo-tuo mesa. Na pogau" pondok le"ba" mesa, garanga uka lantang-lantang liana. Tau-tau naporai aka maleke pepangkaranganna.
Pissan allo bongi, buda dassi sisae rampo yaoh papa banuanna. Tae naissan mamma" tonggan karana millik mebongi. Kondokanna allo. Naita buda kotoran dassi. Na pasiri"i, anna naita lise lemo sirau inde kotoranna. Na tanani lise lemo inde. Sule" allo sule", tumbo" anna mabua. Wattu dibukka lemo, sanggin emas inde lisena. Tambah buda bua inde lemo. Tambah tomakaka indo sirondong tomarona. Inde sirondongna umpurai ewanan, napake lao ma poya-poya, sanggin lendu" ewananna.
Pissan attu, bonno ambe indo"na. Tae mo ewanan inde sirondongna la napake untomate. Le"ba" mi lao umpellambi inde sirondong tomarona. Na kumua: "Bonno mi indo ambeta, umbamo ladi patengan"? Na kumua inde: "Tae marea", aku to umbali" patengan." Tumagi asan mi inde sirondongna. To tae diangga lan rumpuna, iya to mallun indo ambena sola tomakaka.
"Puha!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu, ada sebuah keluarga yang memiliki dua belas orang anak. Sebelas anak di antaranya tampan dan cantik, tetapi anak yang paling bungsu adalah yang paling buruk rupa. Karena itulah ia selalu direndahkan oleh saudara-saudarinya. Ia tidak disekolahkan, melainkan disuruh menggembala kerbau dan membajak sawah. Semua perlakuan itu ia terima dengan sabar dan lapang dada. Berkat kerja kerasnya, keluarga itu menjadi kaya dan terpandang, serta dihormati oleh masyarakat kampung.
Suatu hari, semua saudara dikumpulkan untuk pembagian warisan. Namun saudara yang paling jelek tidak hadir, karena sedang menggembala kerbau di ahoo . Harta warisan dibagikan kepada semua saudara, tetapi saudara yang jelek itu dilupakan. Ketika pulang ke rumah, ia bertanya, "Ibu, Ayah, di mana bagian saya"? Ibunya menjawab, "Kamu tidak mendapat bagian karena tidak hadir saat pembagian."
Hatinya sangat sakit dan kecewa kepada saudara-saudarinya dan orang tuanya. Karena kasih sayang tidak dibagi secara adil. Ia pun pergi meninggalkan rumah untuk hidup sendiri. Ia membangun pondok kecil untuk dirinya sendiri. Karena terbiasa bekerja keras, masyarakat pun menyukai hasil kerjanya.
Suatu malam, banyak burung pipit bertengkar di atas atap pondoknya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ributnya. Keesokan paginya, ia melihat banyak kotoran burung di halaman. Saat membersihkannya. Ia menemukan biji jeruk di antara kotoran itu. Biji jeruk itu ia tanam dengan baik. Hari demi hari tumbuh dan berbuah. Ketika dibelah, ternyata bijinya adalah emas. Buah jeruk itu semakin banyak. Saudara yang dahulu diremehkan kini menjadi sangat kaya. Sementara itu saudara-saudarinya menghabiskan warisan, hidup berpoya-poya, hingga harta mereka habis.
Suatu hari orang tuanya meninggal dunia. Namun saudara-saudarinya tidak lagi memiliki harta untuk mengadakan upacara kematian. Mereka pun datang menemui saudara yang dahulu diremehkan. Mereka berkata, "Ibu dan ayah kita telah meninggal, apa yang harus kita lakukan"? Ia menjawab dengan tenang, "Jangan khawatir, saya yang akan menanggung semuanya." Mendengar itu, saudara-saudarinya menangis penuh penyesalan. Anak yang dahulu tidak dianggap dalam keluarga, justru dialah yang menguburkan orang tuanya dengan upacara bangsawan.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Meryati/Ana

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Dusun Battasawa, Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa