Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

TOMOURAKAM ADINNA (KAKAK YANG MEREBUS ADIKNYA)

22 May 2026 -3.143182, 119.311556
TOMOURAKAM ADINNA (KAKAK YANG MEREBUS ADIKNYA)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Pissam attu tubo mesa saraupu. Deem illalan indok anna dua anak baine. Indo na inde baine dua dipasangai "Daja" batuanganna to matua baine to matoro, mapia, anna makusaha kale. Anna anak maneana buttu dio mai indokna dipasangai Melati sapulo annam taunna, anna anak kapenduanna dipasangai anak tampak pitu taunna.
Pissam attu inde indona lalao lako belakna limbak mambelanna mupellei banua. Inde indona makpepasam lako anak pempisanna: "Ke tadeak adimmu, nasuanni aho!". Tak mambela mupellai banua, inde anak pissam kutambai indona: "Indo, indo, indo". Indona mak kada naua: "Aka lusiang"?. Abana mekutana pole lako indona: "Aka lakunasu ke adingku tadeak, Bu"?. Indona mantimba: "Nasuanni aho ke tadeak i!"
Naringngi paktulakna indona, illalan penabanna inde kakanna makpepasam: "Nasuanni adimmu ke tadeak i". Indona napatarruk pellaonna. Pira-pira dako, inde kakanna musua adinna lao mupea kaju tunu. Adinna napasirak-um lao mampea kaju. Tak masae suler-am mubaba kaju buda-buda. Kakanna naala indo kaju anna napalanganni palandoan.
Inde kakanna musua adinna anna mendioki. Balinna anak tampak mendiok, inde kakanna napea lalanna anna balek mammak I adinna. Napaealak-elak-um napadende lako ngeam sibiasa nangei mammak mesa-mesa.
Purai naita adinna mammak, Melati naparanduk mupalekke api, kaju tunu napake. Lekkei api, kakanna muparanduk-um nalussui wai bali reda. Napaealak-elak-um naakak tama wai rede. Tak masae inde kakanna naalam subum wai rede, tak-um menaba. Inde kakanna napokok-um dio Sali inde adinna, naputuk-um daun punti ubaik 1,5 meter. Inde kakanna napadedam langan palandoam.
Siakarubem, sulem indona diomai belak. Muapkaadaim anakna: "Anaku selamak!" Inde kakanna mubukai bakba, aman makalika guntuk dio olona indona, mane sumarroi naua: "Pakdappanganni anakmu indo". Naua: "Aka isanga itim mutulak"? Nau polem inde kakanna: "Pakdappangannak indok aka mupogauk-ak kasalaan tak laku kara anna mane, balim kurakam adingku".
Diringngi paktulakna kakanna, indona muala kaju anna nattuki ulunna. Napasinduk suammarro siam, naua: "Tak kuaku ke tak-I tubo sule". Inde kakanna maktulak sumarro siam naua: "Iyo indo, kubaba tia sule makalek dio olomu susi lessuk". Penaba menosso indona nattuk lusiang anak pissanna. Inde indona napatorrom mu tuttuki anakna. Anna inde anak napatoka asama parrurunna anna mubabai lao adinna.
Makalekna inde kakanna mubaba lao adinna limbak mambelanna mupellei paktondakan. Lambinna lako ngeam indo lanangei, inde kakanna napokok-um yabo batu papam. Inde kakanna mualam pitu daun baulu napadekke lako bibinna anna dua tullu manuk dio sakde adinna. Inde kakanna sumarro, tokdo wai matanna nakanna lindona adinna.
Pisanganna inde adinna millik-um tappa mupetuak kakanna. Inde kakanna tappa mukalapuk-I adinna napasindum siam sumarro nau: "Pakdappangnak, lako kalemu tak kupalako anna mane". Nasuam adinna mellao. Balinna muita adinna mellao susi lessuk, makpasulem lako banuannai.
Tak masae ratum lako banunna. Inde kakanna mutumbak-um bakba nau siam: "Sulem kam indo". Naringngi paktulakna, inde indona naala polek kaju anna muttuk-I inde kakanna aka tak gannam, inde anak tampakna la mala tubo sule. Balinna etatoo nabukkaim bakba mane muita ri polek anak tampakna mala tubo sule, napasindum sumarro siam mukalapuk-I anakna. Maktulak dam kakanna nau: "Lalao-ak kao indo aka balimak mupatei adingku". Apok nauam indona: "Tak-ko mala lao! Lasola liau kiak torro aka iko dukak anakku". Ya tubom masannam susi yolona.
"Pura!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga, yang terdiri dari seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Ibu dari kedua anak tersebut bernama "Daja" yang menurut kepercayaan orang tua nama tersebut memiliki arti, yaitu Seorang perempuan tangguh, cantik, dan mampu berusaha sendiri. Sedangkan anak pertama dari sang ibu tersebut bernama Melati yang berusia 16 Tahun, sedangkan anak keduanya bernama Bungsu yang berusia 7 Tahun.
Suatu hari, Sang Ibu hendak pergi ke kebun miliknya yang sangat jauh dari Rumah. Sebelum sang Ibu berangkat, ia berpesan kepada anak sulungnya; "Apabila Adikmu lapar, masaklah jagung untuknya!". Tak jauh dari rumah, sang kakak memanggil-manggil ibunya; "ibu, ibu, ibu". Ibunya pun menjawab iya nak ada apa lagi? Anaknya pun bertanya kepada sang ibu "Apa yang harus aku masak jika adikku lapar Bu"? Sang ibu pun menjawab "masaklah jagung apabila adikmu lapar!"
Mendengar perkataan sang ibu, dalam benak sang kakak bahwa ibunya berpesan "masaklah adikmu apabila ia lapar". Sang ibu pun kembali melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian, sang kakak pun menyuruh adiknya untuk mencari kayu bakar. Sang adik pun segera bergegas dan melaksanakan perintah dari kakaknya. Beberapa saat kemudian si Bungsu pun tiba dirumah dengan membawa kayu bakar yang lumayan banyak, dan sang kakak pun mengambil kayu itu dan menaruhnya di atas tempat kayu bakar.
Sang kakak kembali menyuruh adiknya untuk mandi. Setelah si Bungsu mandi, Sang kakak pun berusaha membuat sang adik tidur, dan perlahan-halahan mengangkat dan menaruh adiknya di tempat yang biasa mereka tempati tidur bersama.
Setelah sang kakak melihat bahwa si Bungsu sudah tertidur lelap, Melati pun mulai menyalakan api, menggunakan kayu bakar. Setelah api menyala, sang kakak mulai memanaskan air. Setelah air tersebut mendidih, Sang kakak kembali berusaha perlahan-lahan mengangkat adiknya, dan memasukkan ke dalam air mendidih tersebut. Tak lama kemudian sang Kakak mengeluarkan adiknya dari dalam air mendidih itu dengan keadaan sang adik sudah tidak bernyawa lagi. Sang kakak pun menaruh adiknya di lantai, dan membungkus adiknya dengan selembar daun pisang yang berukuran kurang lebih 1,5 meter. Setelah adiknya terbungkus dengan daun pisang, kakak memindahkan sang adik ke atas tempat kayu bakar atau yang biasa disebut dengan "Palandoam".
Sore pun tiba, sang ibu pun pulang dari kebunnya. Setibanya di rumah sang ibu berseru "Nak, nak, nak ibu sudah pulang". Sahut sang ibu. Sang kakak pun membuka pintu dan mulai bersujud didepan sang ibu, sambil menangis dan berkata "Ibu-ibu maafkan anakmu ini bu". Sang ibu pun menjawab apa yang sedang kamu ahoo na nak? Sang kakak kembali menjawab maafkan aku Bu karena aku telah berbuat kesalahan yang seharusnya aku tidak lakukan. Aku telah merebus adikku sendiri.
Mendengar perkataan Sang kakak, Sang ibu terkejut, dan mengambil sepotong kayu dan mencambukkannya kepada anak sulungnya sambil menangis dan berkata, katanya "ibu tidak mau tahu kamu harus bisa membuat anak bungsuku hidup kembali". Sang kakak menjawab ibunya sambil menangis kesakitan, katanya "Iya, ibuku berjanji akan membawa si bungsu ke suatu tempat hari esok, dan akan membawanya kembali didepan ibu dengan keadaan seperti semula." kata sang kakak sambil menangis. Dan dengan hati kecewa sang ibu masih terus mencambuk anak sulungnya. Saat ibunya berhenti mencambuk anak sulungnya, Sang kakak pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi membawa adiknya keesokan hari.
Keesokan harinya sang kakak pun pergi dan membawa adiknya ke suatu tempat yang sangat jauh dari perkampungan. Setelah mereka tiba di tempat yang mereka tuju, sang kakak menaruh si Bungsu di atas sebuah batu papan, sang kakak menaruh tujuh lembar daun sirih dan dua butir telur ayam di samping adiknya. Sang kakak pun menangis, setetes air mata sang kakak jatuh dan mengenai muka sang adik.
Tiba-tiba si Bungsu terbangun dan menatap sang kakak dengan wajah yang cerah. Sang kakak pun memeluk adiknya, dan berkata "Ampunilah kakakmu ini yang telah berbuat kesalahan kepadamu yang tidak semestinya kakak lakukan." katanya sambil menangis. Untuk memastikan keadaan sang adik, Sang kakak pun menyuruh adiknya untuk berjalan-jalan. Setelah sang adik berjalan-jalan dan sang kakak melihat bahwa keadaan sang adik sudah kembali seperti semula, mereka pun kembali pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah. Sang kakak mengetuk pintu dan sambil berkata katanya "ibu, ibu, kami sudah kembali." Mendengar seruan sang kakak, Sang ibu kembali mengambil sepotong kayu karena ia tidak percaya bahwa anak sulungnya dapat hidup kembali. Setelah sang ibu membuka pintu, dan melihat anak bungsunya telah hidup kembali sang ibu terkejut dan menangis sambil memeluk si bungsu. Sang kakak pun berkata kepada ibunya, katanya "Ibu aku harus pergi. aku telah membunuh adikku sendiri" Tetapi sang ibu menjawab tidak, tidak. Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus tetap tinggal bersama dengan kami, karena bagaimanapun juga kamu adalah anak ibu. Mereka pun hidup bahagia seperti sediakala.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Devton Demmarimpa

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa