Desa Aralle Utara, Kec. Aralle, Kab. Mamasa
SALERE BUNGA ANNA BUNG MENDOE (SALERE BUNGA DAN BUNGA MANDOE)
22 May 2026
-2.873097, 119.150287
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Mai dakoa amp"ku anna kupatodohuluang boikoa pissang todio aha tosiunde dedua. Disanga Salere Bunga anna Bunga Mendoe. Kaka"na iwaang Bunga Mendoe, adinna iwaang Salere Bunga. Siola ndo mama"na anna papana..
Indee na ala allo bengi, to ko makodong ndo papana. Pissanganna ndee, ya mati kasi ndo papana. Nawangndo kakanna yo akala di babe, aka matenga papa. Ya nawangdo mamana, ya ayakan nei" sa"bara: "Mandang tek tau anakku, sanganna ndee dai na ala allo benginna."
Iyowa toko minggu bulan daka makodong toi nei ndo mamakna. Pissanganna ndee, toko mata toi ni mio mate toi ni ndo mamakna. Ya indo kasi tosiunde dedua kasi ya dang ninsang wa akang nde lakibabe.
Inde nawwaang nde adinna ndo Salere Bunga yo kakanna: "Akala tababe akak, dang aha papa dang aha mama." Nawangndo kakanna Bunga Mendoe: "Yok adik, sa"bara mandek, tau ka ahatoboi te dalle sanganna ndee."
Le"bakka ma"pameang no umbamo ngola kaka. Inde adinna dipasangai: "Kubahai supude, ke toko madondong, madondong idombengi." Tombi-tombi na indota nasembun. Kakanna napasangai tanda-tanda la na bea ndo tombi-tombi, sanganna nde tokole"ba a ku tindo.
Salere Bunga na dohei tombi-tombi. Empe-empe ya mating kudohei, na museng adinna. Anu na dohei dai aha na lambi kakanna. Ternyata ndo kakanna lebbak sau di ku"bu na mamakna anna papakna. Inde adinna puhang ndo tombi-tombi, dang nalambi ndo ku"bu. Inde adinna nawwa akande: "Talakakanku nde kulambi, ya kupele ngide dasa." Salere Bunga umba monasanga, umba mangngonge puhang. Sanganna nde benginna, kakanna lau di ku"bu. Adinna lau I dasanna. Sanganna nde toko mate nde adinna lau I dasanna.
Bunga Mendoe nasanga aka nasanga umbabe. Nadohei tombi-tombi, tapi inde adinna dai aha. Sanganna ndee, aka batame mesa mandangka boh ya teppu.
"Puhang!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Mari cucuku, saya akan bercerita. Dahulu kala hiduplah dua orang bersaudara. Mereka bernama Salere Bunga dan Bunga Mendoe. Kakaknya bernama Bunga Mendoe dan adiknya bernama Salere Bunga. Mereka hidup bersama ayah dan ibu mereka.
Pada suatu hari, ayah mereka jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kakaknya berkata bahwa ayah mereka telah tiada. Ibu mereka pun berkata dengan penuh kesabaran, "Bersabarlah anak-anakku, karena inilah kehendak hari dan waktu."
Beberapa minggu dan bulan kemudian, ibu mereka pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Maka tinggallah kedua bersaudara itu sebagai anak yatim piatu, tanpa ayah dan tanpa ibu.
Adik Salere Bunga berkata kepada kakaknya, "Sekarang kita benar-benar yatim, tidak ada lagi ayah dan ibu." Kakaknya, Bunga Mendoe, menjawab, "Bersabarlah adikku, semoga kita masih diberi rezeki oleh Yang Maha Kuasa." Kakaknya menyembunyikan tanda-tanda jalan dan menipu adiknya. Ia membuat Salere Bunga tersesat dan tidak tahu lagi jalan pulang.
Salere Bunga mengikuti petunjuk yang salah. Ia berjalan tanpa arah, kebingungan, dan tidak menemukan kakaknya. Ia terus berjalan hingga kelelahan. Tanpa sepengetahuan adiknya, kakaknya justru kembali dan bersembunyi di kuburan ayah dan ibu mereka. Adiknya tidak mengetahui hal itu dan tidak menemukan kuburan tersebut. Adiknya berkata dalam hati, "Jika aku tidak menemukan kakakku, aku akan mati kelaparan."
Salere Bunga terus berjalan tanpa tujuan, dengan perasaan takut dan sedih. Pada malam hari, kakaknya tetap bersembunyi di kuburan. Sementara adiknya tersesat di hutan. Akhirnya, adik itu meninggal dunia karena kelaparan dan kelelahan.
Bunga Mendoe akhirnya menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia mengikuti kembali tanda-tanda jalan, tetapi adiknya tidak pernah ditemukan. Sejak saat itu, ia hidup dalam penyesalan yang mendalam.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Rasming
Indee na ala allo bengi, to ko makodong ndo papana. Pissanganna ndee, ya mati kasi ndo papana. Nawangndo kakanna yo akala di babe, aka matenga papa. Ya nawangdo mamana, ya ayakan nei" sa"bara: "Mandang tek tau anakku, sanganna ndee dai na ala allo benginna."
Iyowa toko minggu bulan daka makodong toi nei ndo mamakna. Pissanganna ndee, toko mata toi ni mio mate toi ni ndo mamakna. Ya indo kasi tosiunde dedua kasi ya dang ninsang wa akang nde lakibabe.
Inde nawwaang nde adinna ndo Salere Bunga yo kakanna: "Akala tababe akak, dang aha papa dang aha mama." Nawangndo kakanna Bunga Mendoe: "Yok adik, sa"bara mandek, tau ka ahatoboi te dalle sanganna ndee."
Le"bakka ma"pameang no umbamo ngola kaka. Inde adinna dipasangai: "Kubahai supude, ke toko madondong, madondong idombengi." Tombi-tombi na indota nasembun. Kakanna napasangai tanda-tanda la na bea ndo tombi-tombi, sanganna nde tokole"ba a ku tindo.
Salere Bunga na dohei tombi-tombi. Empe-empe ya mating kudohei, na museng adinna. Anu na dohei dai aha na lambi kakanna. Ternyata ndo kakanna lebbak sau di ku"bu na mamakna anna papakna. Inde adinna puhang ndo tombi-tombi, dang nalambi ndo ku"bu. Inde adinna nawwa akande: "Talakakanku nde kulambi, ya kupele ngide dasa." Salere Bunga umba monasanga, umba mangngonge puhang. Sanganna nde benginna, kakanna lau di ku"bu. Adinna lau I dasanna. Sanganna nde toko mate nde adinna lau I dasanna.
Bunga Mendoe nasanga aka nasanga umbabe. Nadohei tombi-tombi, tapi inde adinna dai aha. Sanganna ndee, aka batame mesa mandangka boh ya teppu.
"Puhang!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Mari cucuku, saya akan bercerita. Dahulu kala hiduplah dua orang bersaudara. Mereka bernama Salere Bunga dan Bunga Mendoe. Kakaknya bernama Bunga Mendoe dan adiknya bernama Salere Bunga. Mereka hidup bersama ayah dan ibu mereka.
Pada suatu hari, ayah mereka jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Kakaknya berkata bahwa ayah mereka telah tiada. Ibu mereka pun berkata dengan penuh kesabaran, "Bersabarlah anak-anakku, karena inilah kehendak hari dan waktu."
Beberapa minggu dan bulan kemudian, ibu mereka pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Maka tinggallah kedua bersaudara itu sebagai anak yatim piatu, tanpa ayah dan tanpa ibu.
Adik Salere Bunga berkata kepada kakaknya, "Sekarang kita benar-benar yatim, tidak ada lagi ayah dan ibu." Kakaknya, Bunga Mendoe, menjawab, "Bersabarlah adikku, semoga kita masih diberi rezeki oleh Yang Maha Kuasa." Kakaknya menyembunyikan tanda-tanda jalan dan menipu adiknya. Ia membuat Salere Bunga tersesat dan tidak tahu lagi jalan pulang.
Salere Bunga mengikuti petunjuk yang salah. Ia berjalan tanpa arah, kebingungan, dan tidak menemukan kakaknya. Ia terus berjalan hingga kelelahan. Tanpa sepengetahuan adiknya, kakaknya justru kembali dan bersembunyi di kuburan ayah dan ibu mereka. Adiknya tidak mengetahui hal itu dan tidak menemukan kuburan tersebut. Adiknya berkata dalam hati, "Jika aku tidak menemukan kakakku, aku akan mati kelaparan."
Salere Bunga terus berjalan tanpa tujuan, dengan perasaan takut dan sedih. Pada malam hari, kakaknya tetap bersembunyi di kuburan. Sementara adiknya tersesat di hutan. Akhirnya, adik itu meninggal dunia karena kelaparan dan kelelahan.
Bunga Mendoe akhirnya menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia mengikuti kembali tanda-tanda jalan, tetapi adiknya tidak pernah ditemukan. Sejak saat itu, ia hidup dalam penyesalan yang mendalam.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Rasming