Lingk. Poralle, Kelurahan Pangali-ali, Kabupaten Majene
ASAL-USUL SALABOSE
11 June 2026
-3.5394933, 118.9635031
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Nasanga tomabubengta diolo mai, Syekh Abdul Mannan andani mala nipasisara kissana pole dzi wattunna Tomakaka mapparentah. Wattuna dio, Poralle Salabose ilalannatomo pamarentahanna Tomakaka. Tania sangga Tomakaka, diattoo nisanga Topole-pole. Mua pahanna pakkappung dini die Topole-pole battuanna topole di Mata Allo. Mua passejarah nagalarmi Si Bugeng, ya walaupun diang too andiang melo mattappu sangana, sangga nauamo Topole-pole.
Kissana wattunna pole Topole-pole nacaritami di di kappung-kappung, mammula di Mawasa, Mallipu Lipu, Makaya, lambi lao tada di Poralle, Salabose. Dilaomio sita Tomakaka Poralle anna mauammi lao pattujunna. Ya" natarima macoami Tomakaka dio Topole-poleo. Ya tandana natarima macoa, napalikkami siola ana"na Tomakaka Poralle. Iamo digallar Tomerrupa-rupa Bulawang. Tasseranna mesa-mesa tau sillae-laengani. Diang mammbattuanni mauai "Wajah Emas" apa" malolo sannali, diatto"o maua mappakei "Topeng Emas." Tapi, lebih maidi pakkappung mattasser gallaranna die maloloi anna malaqbi die towaine e.
Alikkanganna die diammo ana"na da"dua, nisangami I Salabose luau anna I Banggae tappalaus. I Banggae menjarimi sanga kappung anna arajang lambi lao.
Tappana lao, Topole-pole membalimi lao di kappunna. Natarrusammi pamarentahanna turunanna atau bijanna pole cera" Tomakaka. Tappana lao I Salabose menjarimi Tomakaka di lalanna Arajang Banggae. Di lontar titulis maua, I Salabose likka siola turunanna Tomepayung di Balanipa, appona Todilaling.
Tappana selesamo pamarentahanna I Salabose, natarrusang bomi I Banggae, nagallarmi I Puang Banggae. Wattunnami die nasammesami appe banua, nagallarmi Banua Kaiyyang, iyamo Poralle Salabose, Salogang, Mawasa, anna Lambealu Pamboborang. Appe die banuae sangnging napimpinmi Tomakaka. Lewa di assamalewuanna Tomakaka, inggannana banua die napasammesami menjadi Arajang Banggae. Mammulami dio wattuo, kuasanna arajang andammi sangga Poralle, tapi inggannana Banua Kaiyyang.
Tappana lao, kepemimpinanna arajang natarrusang bomi Daengta Milanto, purai dio ana"na bomo Daengta I Moro. Daengta Imoro nigallarmi Tomatindo di Masigi. Die gallarannae diattu"u battuanna, iyadzio tomatappa makke"deang Asallangang atau sawa nalamung di Masigi.
"Purami"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dalam tradisi sejarah lisan masyarakat setempat, kisah tentang Syekh Abdul Mannan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sistem pemerintahan awal yang dipimpin oleh para tomakaka. Pada masa tersebut, wilayah Poralle Salabose telah berada dalam suatu struktur kekuasaan lokal yang dipimpin oleh Tomakaka sebagai pemangku pemerintahan. Selain tokoh-tokoh tomakaka, dikenal pula sosok yang disebut To Pole-pole, yang dalam bahasa setempat bermakna "orang yang datang". Dalam pemahaman masyarakat, To Pole-pole juga dimaknai sebagai seseorang yang datang dadi arah timur (mata allo). Sejumlah sejarawan menyebut tokoh ini dengan nama Si Bugeng, meskipun terdapat pula catatan lain yang tidak menyebutkan nama secara spesifik dan hanya merujuknya sebagai To Pole-pole.
Kisah kedatangan To Pole-pole diceritakan berlangsung melalui beberapa wilayah, dimulai dadi Mawasa, kemudian Mallipu Lipu, Makaya, hingga akhirnya tiba di Poralle Salabose. Di tempat tersebut, ia bertemu dengan Tomakaka Poralle dan menyampaikan maksud serta tujuan kedatangannya. Tomakaka menerima kehadiran To Pole-pole dengan baik. Sebagai bentuk penerimaan tersebut, To Pole-pole kemudian dinikahkan dengan putdi Tomakaka Poralle. Perempuan ini dibedi gelar Rupa Bulawang. Penafsiran terhadap gelar tersebut beragam. Sebagian menafsirkannya sebagai "wajah emas" yang menggambarkan kecantikan, sementara tafsir lain mengaitkannya dengan penggunaan topeng emas. Namun, dalam pandangan sebagian masyarakat, gelar tersebut lebih mencerminkan kecantikan dan kedudukan mulia sang putri.
Perkawinan ini kemudian melahirkan dua orang anak, yaitu Salabose sebagai anak pertama dan Banggae sebagai anak kedua. Nama Banggae kemudian melekat sebagai nama wilayah dan kerajaan yang berkembang selanjutnya.
Dalam perkembangan berikutnya, To Pole-pole dikisahkan kembali ke daerah asalnya. Sementara itu, kekuasaan pemerintahan dilanjutkan oleh keturunan dadi keluarga Tomakaka. Salabose kemudian menggantikan posisi kepemimpinan dalam sistem Kerajaan Banggae. Dalam sejumlah lontar disebutkan bahwa Salabose menikah dengan keturunan Tomepayung di Balanipa, yang merupakan cucu dadi Todilaling.
Setelah masa pemerintahan Salabose berakhir, kepemimpinan dilanjutkan oleh Banggae yang kemudian dikenal sebagai Ipuang Banggae. Pada masa inilah terjadi penggabungan empat wilayah besar yang dikenal sebagai Banua Kaiyyang, yaitu wilayah Poralle Salabose, Salogang (di kawasan Baruga), Mawasa, dan Lambealu Pamboborang. Keempat wilayah ini sebelumnya masing-masing dipimpin oleh tomakaka. Melalui kesepakatan para pemimpin lokal tersebut, wilayah-wilayah ini disatukan menjadi Kerajaan Banggae. Sejak saat itu, wilayah kekuasaan kerajaan tidak lagi terbatas pada Poralle, melainkan mencakup seluruh Banua Kayyang.
Selanjutnya, kepemimpinan kerajaan diteruskan oleh Daengta Milanto, kemudian oleh putranya, Daengta Imoro. Daengta Imoro kemudian dikenal dengan gelar Tomatindo di Masigi. Gelar ini memiliki dua makna, yakni sebagai pemimpin yang sangat taat menjalankan ajaran Islam atau karena beliau dimakamkan di masjid.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Muhammad Gaus
Kissana wattunna pole Topole-pole nacaritami di di kappung-kappung, mammula di Mawasa, Mallipu Lipu, Makaya, lambi lao tada di Poralle, Salabose. Dilaomio sita Tomakaka Poralle anna mauammi lao pattujunna. Ya" natarima macoami Tomakaka dio Topole-poleo. Ya tandana natarima macoa, napalikkami siola ana"na Tomakaka Poralle. Iamo digallar Tomerrupa-rupa Bulawang. Tasseranna mesa-mesa tau sillae-laengani. Diang mammbattuanni mauai "Wajah Emas" apa" malolo sannali, diatto"o maua mappakei "Topeng Emas." Tapi, lebih maidi pakkappung mattasser gallaranna die maloloi anna malaqbi die towaine e.
Alikkanganna die diammo ana"na da"dua, nisangami I Salabose luau anna I Banggae tappalaus. I Banggae menjarimi sanga kappung anna arajang lambi lao.
Tappana lao, Topole-pole membalimi lao di kappunna. Natarrusammi pamarentahanna turunanna atau bijanna pole cera" Tomakaka. Tappana lao I Salabose menjarimi Tomakaka di lalanna Arajang Banggae. Di lontar titulis maua, I Salabose likka siola turunanna Tomepayung di Balanipa, appona Todilaling.
Tappana selesamo pamarentahanna I Salabose, natarrusang bomi I Banggae, nagallarmi I Puang Banggae. Wattunnami die nasammesami appe banua, nagallarmi Banua Kaiyyang, iyamo Poralle Salabose, Salogang, Mawasa, anna Lambealu Pamboborang. Appe die banuae sangnging napimpinmi Tomakaka. Lewa di assamalewuanna Tomakaka, inggannana banua die napasammesami menjadi Arajang Banggae. Mammulami dio wattuo, kuasanna arajang andammi sangga Poralle, tapi inggannana Banua Kaiyyang.
Tappana lao, kepemimpinanna arajang natarrusang bomi Daengta Milanto, purai dio ana"na bomo Daengta I Moro. Daengta Imoro nigallarmi Tomatindo di Masigi. Die gallarannae diattu"u battuanna, iyadzio tomatappa makke"deang Asallangang atau sawa nalamung di Masigi.
"Purami"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dalam tradisi sejarah lisan masyarakat setempat, kisah tentang Syekh Abdul Mannan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sistem pemerintahan awal yang dipimpin oleh para tomakaka. Pada masa tersebut, wilayah Poralle Salabose telah berada dalam suatu struktur kekuasaan lokal yang dipimpin oleh Tomakaka sebagai pemangku pemerintahan. Selain tokoh-tokoh tomakaka, dikenal pula sosok yang disebut To Pole-pole, yang dalam bahasa setempat bermakna "orang yang datang". Dalam pemahaman masyarakat, To Pole-pole juga dimaknai sebagai seseorang yang datang dadi arah timur (mata allo). Sejumlah sejarawan menyebut tokoh ini dengan nama Si Bugeng, meskipun terdapat pula catatan lain yang tidak menyebutkan nama secara spesifik dan hanya merujuknya sebagai To Pole-pole.
Kisah kedatangan To Pole-pole diceritakan berlangsung melalui beberapa wilayah, dimulai dadi Mawasa, kemudian Mallipu Lipu, Makaya, hingga akhirnya tiba di Poralle Salabose. Di tempat tersebut, ia bertemu dengan Tomakaka Poralle dan menyampaikan maksud serta tujuan kedatangannya. Tomakaka menerima kehadiran To Pole-pole dengan baik. Sebagai bentuk penerimaan tersebut, To Pole-pole kemudian dinikahkan dengan putdi Tomakaka Poralle. Perempuan ini dibedi gelar Rupa Bulawang. Penafsiran terhadap gelar tersebut beragam. Sebagian menafsirkannya sebagai "wajah emas" yang menggambarkan kecantikan, sementara tafsir lain mengaitkannya dengan penggunaan topeng emas. Namun, dalam pandangan sebagian masyarakat, gelar tersebut lebih mencerminkan kecantikan dan kedudukan mulia sang putri.
Perkawinan ini kemudian melahirkan dua orang anak, yaitu Salabose sebagai anak pertama dan Banggae sebagai anak kedua. Nama Banggae kemudian melekat sebagai nama wilayah dan kerajaan yang berkembang selanjutnya.
Dalam perkembangan berikutnya, To Pole-pole dikisahkan kembali ke daerah asalnya. Sementara itu, kekuasaan pemerintahan dilanjutkan oleh keturunan dadi keluarga Tomakaka. Salabose kemudian menggantikan posisi kepemimpinan dalam sistem Kerajaan Banggae. Dalam sejumlah lontar disebutkan bahwa Salabose menikah dengan keturunan Tomepayung di Balanipa, yang merupakan cucu dadi Todilaling.
Setelah masa pemerintahan Salabose berakhir, kepemimpinan dilanjutkan oleh Banggae yang kemudian dikenal sebagai Ipuang Banggae. Pada masa inilah terjadi penggabungan empat wilayah besar yang dikenal sebagai Banua Kaiyyang, yaitu wilayah Poralle Salabose, Salogang (di kawasan Baruga), Mawasa, dan Lambealu Pamboborang. Keempat wilayah ini sebelumnya masing-masing dipimpin oleh tomakaka. Melalui kesepakatan para pemimpin lokal tersebut, wilayah-wilayah ini disatukan menjadi Kerajaan Banggae. Sejak saat itu, wilayah kekuasaan kerajaan tidak lagi terbatas pada Poralle, melainkan mencakup seluruh Banua Kayyang.
Selanjutnya, kepemimpinan kerajaan diteruskan oleh Daengta Milanto, kemudian oleh putranya, Daengta Imoro. Daengta Imoro kemudian dikenal dengan gelar Tomatindo di Masigi. Gelar ini memiliki dua makna, yakni sebagai pemimpin yang sangat taat menjalankan ajaran Islam atau karena beliau dimakamkan di masjid.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Muhammad Gaus