Kel. Pangali-ali, Kec. Banggae Kab. Majene
I REPPO' LETTE' (SI KAKI PATAH)
11 June 2026
-3.546512, 118.962959
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo di tana Mandar diang mesa tau disanga I Karake Lette (si kaki patah). Iya di"e tau cacat, tapi atinna barani. Mesa waktu diang pole musuh di luar " diang dua versi: diang mauang pole di Bone, diang to mauang pole di Makassar. Tujuanna pole r"" e melo naserang tana Mandar, utamana Balanipa.
Tappana kareppemi mai lopinna musuh di pottana, rajana Mandar mappasirumung nasang tau, punggawa, anna pasukanna untuk mambali. I Karake Lette mettama toi di barisan, mauang: "Iyau to melo milu perang. Indang mala tau pole di luar naserang kampungta, masidi tau!"
Tapi diang tau laing mauang: "Apa melo milu? Lette-mu patah. Indang sukku pellambammu. Mappamula perangmo mateko dolo." Rajamo to mauang sarupa, jadi I Karake Lette disuro mundur. Rajamo pole sibali di musuh siola pasukanna. Tappana lama perang, pole karewa mauang pasukan Mandar ele"i (kalah). Rajamo mallullung lima, pole sibali di istana siola pasukan battana rapu-rapu saba" ele"i di perang.
Tappana lambi di istana, I Karake Lette lao mappadappang di raja. Mauang: "Puang, bengangngi iyau kesempatan. Iyau melo manghadapi musuh e. Sisa iyau sangadi mambela sidi Mandar." Rajamo mauang: "Iyyo, tapi indang ditanggung salama"mu." I Karake Lette lao di pottana, melompat toi di kappal musuh. Pasukan musuh heran meliat tau cacat pole melo perang. I Karake Lette mauang: "Eppa rajammu? Suroi lao keluari."
Polemi punggawa musuh. I Karake Lette mauang: "Uissang iyau tujuammu pole dini " melo muasai tana Mandar. Tapi diatta sipakatau, sipajanjian. Mua ele"ko, malai"o pole dini. Mua menangkoi, mala muasai dini."
Punggawa musuh mauang: "Apa syaratna"? I Karake Lette ala mai di kattonna sambua lemo nipis anna jambi-jambi. Mauang: "Lemo e u pembuangangi. Mesti mu belai jadi dua " mau pakai parang, mau pakai pedang. Mua bisa, menangkoi. Mua indang, ele"ko."
Punggawa musuh merasa tertantang, jadi napasitujui. Giliran dolo I Karake Lette mappembuang lemo. Tapi punggawa musuh indang kena tebasanna " indang terbelai lemo e. Giliranna punggawa musuh mappembuang lemo di I Karake Lette. I Karake Lette dengan tangkas naayung jambi-jambinna " lemo e terbelai dua di udara. Pasukan musuh kagettang. I Karake Lette mauang: "Saba" janji"ta riolo " mua ele"ko, malai"o pole tana Mandar." Dengan berat ati, punggawa musuh napasuro pasukanna sibali, kappalna muter pole di asalna.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu di tanah Mandar hidup seorang lelaki yang dijuluki Si Kaki Patah (I Karake Lette). Ia memiliki cacat pada kakinya, tetapi berhati sangat berani. Suatu waktu datang musuh dadi luar. Ada dua versi cerita: ada yang menyebut mereka berasal dadi Bone, ada pula yang mengatakan dadi Makassar. Tujuan mereka adalah menyerang wilayah Mandar, khususnya Balanipa.
Ketika kapal musuh sudah mendekati pantai, Raja Mandar mengumpulkan seluruh rakyat dan pasukan untuk bersiap berperang. Si Kaki Patah ikut masuk ke barisan dan berkata, "Saya juga ingin ikut berperang. Tidak boleh orang luar datang menyerang kampung kita. Ini soal harga diri!"
Namun orang lain meremehkannya. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin kamu ikut perang? Kakimu patah. Jangankan bertarung, berjalan pun sulit." Raja pun sependapat, sehingga Si Kaki Patah diperintahkan mundur. Raja lalu berangkat berperang bersama pasukannya. Setelah pertempuran berlangsung lama, datang kabar bahwa pasukan Mandar kalah. Raja kembali ke istana dengan pasukan yang berpakaian compang-camping karena kekalahan itu.
Setibanya di istana, Si Kaki Patah menghadap raja dan berkata, "Tuanku, berikan saya kesempatan. Biarlah saya sendidi menghadapi musuh itu demi membela harga didi Mandar." Raja mengizinkan, tetapi tidak menjamin keselamatannya.
Si Kaki Patah pergi ke pantai dan melompat ke atas kapal musuh. Para prajurit musuh heran melihat orang cacat datang menantang. Ia berkata, "Mana rajamu? Suruh dia keluar menemuiku."
Pemimpin musuh pun keluar. Si Kaki Patah berkata, "Saya tahu tujuanmu datang ke sini ingin menguasai Mandar. Madi kita buat perjanjian. Jika kamu kalah, kamu harus pergi dadi sini. Jika kamu menang, silakan kuasai negedi ini."
Pemimpin musuh bertanya syaratnya. Si Kaki Patah mengeluarkan sebuah jeruk nipis dan sebilah parang. Ia berkata, "Jeruk ini akan saya lempar. Kamu harus membelahnya menjadi dua saat melayang di udara. Jika berhasil, kamu menang. Jika gagal, kamu kalah."
Pemimpin musuh setuju karena merasa tertantang. Giliran pertama, Si Kaki Patah melempar jeruk ke arah pemimpin musuh. Namun tebasannya meleset dan jeruk tidak terbelah.
Giliran berikutnya, pemimpin musuh melempar jeruk ke arah Si Kaki Patah. Dengan sigap, Si Kaki Patah menebas jeruk itu di udara hingga terbelah dua. Pasukan musuh terkejut melihat kemampuannya. Si Kaki Patah berkata, "Sesuai janji kita, jika kamu kalah, kamu harus pergi dadi tanah Mandar." Dengan berat hati, pemimpin musuh memerintahkan pasukannya mundur dan kapal mereka pun berlayar kembali ke negedi asal.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Masdar
Tappana kareppemi mai lopinna musuh di pottana, rajana Mandar mappasirumung nasang tau, punggawa, anna pasukanna untuk mambali. I Karake Lette mettama toi di barisan, mauang: "Iyau to melo milu perang. Indang mala tau pole di luar naserang kampungta, masidi tau!"
Tapi diang tau laing mauang: "Apa melo milu? Lette-mu patah. Indang sukku pellambammu. Mappamula perangmo mateko dolo." Rajamo to mauang sarupa, jadi I Karake Lette disuro mundur. Rajamo pole sibali di musuh siola pasukanna. Tappana lama perang, pole karewa mauang pasukan Mandar ele"i (kalah). Rajamo mallullung lima, pole sibali di istana siola pasukan battana rapu-rapu saba" ele"i di perang.
Tappana lambi di istana, I Karake Lette lao mappadappang di raja. Mauang: "Puang, bengangngi iyau kesempatan. Iyau melo manghadapi musuh e. Sisa iyau sangadi mambela sidi Mandar." Rajamo mauang: "Iyyo, tapi indang ditanggung salama"mu." I Karake Lette lao di pottana, melompat toi di kappal musuh. Pasukan musuh heran meliat tau cacat pole melo perang. I Karake Lette mauang: "Eppa rajammu? Suroi lao keluari."
Polemi punggawa musuh. I Karake Lette mauang: "Uissang iyau tujuammu pole dini " melo muasai tana Mandar. Tapi diatta sipakatau, sipajanjian. Mua ele"ko, malai"o pole dini. Mua menangkoi, mala muasai dini."
Punggawa musuh mauang: "Apa syaratna"? I Karake Lette ala mai di kattonna sambua lemo nipis anna jambi-jambi. Mauang: "Lemo e u pembuangangi. Mesti mu belai jadi dua " mau pakai parang, mau pakai pedang. Mua bisa, menangkoi. Mua indang, ele"ko."
Punggawa musuh merasa tertantang, jadi napasitujui. Giliran dolo I Karake Lette mappembuang lemo. Tapi punggawa musuh indang kena tebasanna " indang terbelai lemo e. Giliranna punggawa musuh mappembuang lemo di I Karake Lette. I Karake Lette dengan tangkas naayung jambi-jambinna " lemo e terbelai dua di udara. Pasukan musuh kagettang. I Karake Lette mauang: "Saba" janji"ta riolo " mua ele"ko, malai"o pole tana Mandar." Dengan berat ati, punggawa musuh napasuro pasukanna sibali, kappalna muter pole di asalna.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu di tanah Mandar hidup seorang lelaki yang dijuluki Si Kaki Patah (I Karake Lette). Ia memiliki cacat pada kakinya, tetapi berhati sangat berani. Suatu waktu datang musuh dadi luar. Ada dua versi cerita: ada yang menyebut mereka berasal dadi Bone, ada pula yang mengatakan dadi Makassar. Tujuan mereka adalah menyerang wilayah Mandar, khususnya Balanipa.
Ketika kapal musuh sudah mendekati pantai, Raja Mandar mengumpulkan seluruh rakyat dan pasukan untuk bersiap berperang. Si Kaki Patah ikut masuk ke barisan dan berkata, "Saya juga ingin ikut berperang. Tidak boleh orang luar datang menyerang kampung kita. Ini soal harga diri!"
Namun orang lain meremehkannya. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin kamu ikut perang? Kakimu patah. Jangankan bertarung, berjalan pun sulit." Raja pun sependapat, sehingga Si Kaki Patah diperintahkan mundur. Raja lalu berangkat berperang bersama pasukannya. Setelah pertempuran berlangsung lama, datang kabar bahwa pasukan Mandar kalah. Raja kembali ke istana dengan pasukan yang berpakaian compang-camping karena kekalahan itu.
Setibanya di istana, Si Kaki Patah menghadap raja dan berkata, "Tuanku, berikan saya kesempatan. Biarlah saya sendidi menghadapi musuh itu demi membela harga didi Mandar." Raja mengizinkan, tetapi tidak menjamin keselamatannya.
Si Kaki Patah pergi ke pantai dan melompat ke atas kapal musuh. Para prajurit musuh heran melihat orang cacat datang menantang. Ia berkata, "Mana rajamu? Suruh dia keluar menemuiku."
Pemimpin musuh pun keluar. Si Kaki Patah berkata, "Saya tahu tujuanmu datang ke sini ingin menguasai Mandar. Madi kita buat perjanjian. Jika kamu kalah, kamu harus pergi dadi sini. Jika kamu menang, silakan kuasai negedi ini."
Pemimpin musuh bertanya syaratnya. Si Kaki Patah mengeluarkan sebuah jeruk nipis dan sebilah parang. Ia berkata, "Jeruk ini akan saya lempar. Kamu harus membelahnya menjadi dua saat melayang di udara. Jika berhasil, kamu menang. Jika gagal, kamu kalah."
Pemimpin musuh setuju karena merasa tertantang. Giliran pertama, Si Kaki Patah melempar jeruk ke arah pemimpin musuh. Namun tebasannya meleset dan jeruk tidak terbelah.
Giliran berikutnya, pemimpin musuh melempar jeruk ke arah Si Kaki Patah. Dengan sigap, Si Kaki Patah menebas jeruk itu di udara hingga terbelah dua. Pasukan musuh terkejut melihat kemampuannya. Si Kaki Patah berkata, "Sesuai janji kita, jika kamu kalah, kamu harus pergi dadi tanah Mandar." Dengan berat hati, pemimpin musuh memerintahkan pasukannya mundur dan kapal mereka pun berlayar kembali ke negedi asal.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Masdar