Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Tappagalung, Kec. Sendana

KERAJAAN SENDANA II

12 June 2026 -2.784754, 118.861816
KERAJAAN SENDANA II

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Asal muasalna Kerajaang Sendana mammula pole di Tallu Banua Kayyang, iyamo Tallu Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (Puttada, Limboro Rambu-Rambu, anna Tallangbalao). Tallu Banua iyare" dipersatukan oleh Puangta Podang. Mekke"demi Kerajaang Sendana dengan pusat pemerintahan di Podang. Di"o Podang ilalannami di wilayah Desa Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene.
Sejarah mammulanna Kerajaang Sendana andani lappas pole di Daeng Pallulung. Di Lontar titulis, diang dadua versi asal-usulna. Lontara Pattappingang massebut Daeng Pallulung iya ana"na Datuk ri Luwu, sedangkan Lontara Balanipa nassebut iya pole Tabulahang. Meskipun beda versi, dua lontar iyare" sepakat bahwa Daeng Pallulung sialai sola Tomesaraung Bulawang pole di Bone. Tomesaraung Bulawang menetap di mesa kampung disanga Sa"arawang.
Jari dio nisanga Sa"arawang parang alang-alang yang tuo di Buttunna Puttada, khususna di Buttu Suso. Dalam tradisi tutur, Tomesaraung Bulawang ma"bawa setangkai tongkat kayu cendana, dipancangkan di tanah, anna tumbuh subur. Setelah wafatna Tomesaraung Wulawang, kayu cendana iya ri"e terus tumbuh, sehingga kampung Sa"arawang berganti nama jadi Sendana. Itumi cikal bakalna Kerajaang Sendana.
Kehadiran Daeng Pallulung anna Tomesaraung Bulawang mambawa perubahan besar di sistem kepemimpinan masyarakat Sa"arawang. Sebelumnya, kepemimpinan bersifat absolut di tangan para tomakaka. Sawa polena die dadua tolo"e, sistem pemerintahan berubah jadi sistem permusyawaratan disanga Pappuangan. Sistem Pappuangan iya ri"e berdasarkan assamalewuang.
Model kepemimpinan Pappuangan iya ri"e menjarimmi dasar legitimasi bahwa Sendana termasuk kerajaan tua di Mandar. Di berbagai wilayah Mandar seperti Balanipa, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju, anna Binuang, Sendana sering diakui sebagai Kerajaang to matua. Pangakuanna iya ri"e tania sangga nasawai karana umurna, tapi sawa kematangan sistem politikna dipengaruhi Bone anna Luwu.
Daeng Pallulung anna Tomesaraung Bulawang diang appe" ana"na. Ana" luluana I Taqda", iyamo menjari asal-usul nama Puttada. Ana" kadua digelar Puangta I Sa"arawang, kemudian mendirikan Kerajaang Sendana. Ana" ketiga disanga Petta Pacce", sedangkan ana" tappalausna kembali digelar Taqda" anna ditunjuk jadi ketua lembaga adat di Puttada.
Puangta I Sa"arawang melomi nalenggu pusat pemerintahan dari puncak Buttu Suso ke Podang. Pemindahan iya ri"e sawa pertimbangan strategis, khususnya sikareppui pelabuhan laut Palipi. Pelabuhan Palipi menjarimi pusat perdagangan anna jalur ekonomi penting bagi perkembangan Kerajaang Sendana.
Perkembangan Kerajaang Sendana mencapai puncakna di masa Tomatindo di Balitung. Pada masa iya ri"e, Sendana mamboe" assitaliang ekonomi anna politik dengan berbagai Kerajaan lain, termasuk di Belitung. Dalam catatan Senal Abidin Farid, Andi Saipul Sinrang, anna disertasi Bahrun Lopa, tirappemi tolo"na Mandar disanga Japake. Japake makkalulu Kesultanan Aceh di wattunna Iskandar Muda sibali Portugis, mempertahankan Pahang, sehingga naakkemi menjari panglimana anna siala tomi siola putri Sultan.
Alhasil, sejarah Kerajaang Sendana tania sangga" mencerminkan dinamika lokal masyarakat Mandar, tapi iya tomo mappapannassa assitaliang ilalanna jaringan politik, ekonomi, anna militer di Nusantara. Sejarah iya ri"e mappatandangan posisi Sendana sebagai salah satu pusat peradaban penting di Mandar dengan sistem kepemimpinan yang matang anna meuwake pole di tradisi musyawarah.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Asal-usul Kerajaan Sendana berakar pada pembentukan tiga kesatuan masyarakat hukum adat yang dikenal sebagai tallu banua kayyang, yaitu Puttada, Limboro Rambu-Rambu, dan Tallangbalao. Ketiga kesatuan adat ini dipersatukan oleh Puangta Podang sehingga secara resmi berdirilah Kerajaan Sendana dengan pusat pemerintahan di Podang. Saat ini Podang termasuk dalam wilayah Desa Sendana, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene.
Sejarah awal Kerajaan Sendana tidak dapat dilepaskan dari tokoh Daeng Pallulung. Dalam lontara terdapat dua versi mengenai asal-usulnya. Lontara Pattappingang menyebutkan bahwa ia adalah putra Datuk di Luwu, sedangkan Lontara Balanipa menyebut ia berasal dari Tabulahang. Meskipun berbeda versi, kedua lontara sepakat bahwa Daeng Pallulung menikah dengan Tomesaraung Wulawang dari Bone yang kemudian menetap di kampung Sa"arawang.
Nama Sa"arawang berasal dari tumbuhan alang-alang yang banyak tumbuh di perbukitan Puttada, khususnya di Buttu Suso. Dalam tradisi lisan diceritakan bahwa Tomesaraung Wulawang membawa tongkat kayu cendana yang ditancapkan ke tanah dan kemudian tumbuh subur. Setelah wafatnya, kayu cendana tersebut terus berkembang sehingga nama kampung Sa"arawang berubah menjadi Sendana. Peristiwa ini dianggap sebagai cikal bakal Kerajaan Sendana.
Kehadiran Daeng Pallulung dan Tomesaraung Wulawang membawa perubahan besar dalam sistem kepemimpinan masyarakat. Sebelumnya, kepemimpinan bersifat absolut di tangan para tomakaka. Setelah kedatangan mereka, sistem tersebut berubah menjadi sistem permusyawaratan yang dikenal sebagai Pappuangan, yaitu kepemimpinan yang dijalankan melalui musyawarah dan kesepakatan bersama.
Model kepemimpinan Pappuangan menjadi dasar legitimasi bahwa Sendana termasuk kerajaan tertua di Mandar. Di berbagai wilayah seperti Balanipa, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju, dan Binuang, Sendana sering diakui sebagai kerajaan tertua. Pengakuan tersebut bukan semata-mata karena usia kerajaan, melainkan karena kematangan sistem politiknya yang dipengaruhi oleh Bone dan Luwu.
Daeng Pallulung dan Tomesaraung Wulawang memiliki empat orang anak. Anak sulung bernama I Taqda", yang kemudian menjadi asal-usul nama Puttada. Anak kedua bergelar Puangta I Sa"arawang yang kelak mendirikan Kerajaan Sendana. Anak ketiga bernama Pettapacce", dan anak keempat juga bergelar Taqda" yang ditunjuk menjadi ketua lembaga adat di Puttada.
Puangta I Sa"arawang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari puncak Buttu Suso ke Podang. Pemindahan ini dilakukan karena pertimbangan strategis, terutama kedekatan dengan pelabuhan laut Palipi. Pelabuhan tersebut menjadi pusat perdagangan dan jalur ekonomi penting bagi perkembangan Kerajaan Sendana.
Perkembangan Kerajaan Sendana mencapai puncaknya pada masa Tomatindo di Balitung. Pada masa ini Sendana membangun hubungan ekonomi dan politik dengan berbagai kerajaan lain, termasuk di Belitung. Dalam catatan Senal Abidin Farid, Andi Saipul Sinrang, dan disertasi Bahrun Lopa disebutkan tokoh Mandar bernama Japake yang membantu Kesultanan Aceh pada masa Iskandar Muda melawan Portugis dan mempertahankan Pahang. Karena jasanya, ia diangkat menjadi panglima dan dipersuntingkan dengan putri Sultan.
Dengan demikian, sejarah Kerajaan Sendana tidak hanya mencerminkan dinamika lokal masyarakat Mandar, tetapi juga menunjukkan keterkaitan luas dalam jaringan politik, ekonomi, dan militer di Nusantara. Sejarah ini menegaskan posisi Sendana sebagai salah satu pusat peradaban penting di Mandar dengan sistem kepemimpinan yang matang dan berakar pada tradisi musyawarah.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Darmansyah

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Tappagalung, Kec. Sendana