Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Polewali Mandar

TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)

20 December 2025 -3.503771, 119.080178
TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)
Alkisah, tersebutlah seorang lelaki tua bernama Kapader. Ia tinggal denganibu Pader, istrinya yang bekerja sebagai penenun. Sementara suaminya itu, bekerja sebagai tukang kebun. Suatu hari, bapak Pader hendak berangkat ke kebun. Ia berpesan pada istrinya untuk tidak memberikan ekor tikus yang disimpannya kepada anaknya. Biar bagaimanapun menangisnya, biar darah jadi air mata, tidak juga boleh diberikan. Ibu Pader lalu mengiyakan pesan itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian, rupanya si anak melihat sesuatu yang telah disimpan bapaknya.
"Apa itu di atas, bu"?
"Itu titipan bapak, nak. Jangan kamu ambil yah"
Anak itu menangis keras. Ibu yang merasa iba terhadap anaknya itu, akhirnya
memberikan ekor tikus itu pada anaknya.
"Daripada anakku menangis, mau tidak mau aku harus memberikannya" tutur sang ibu sambil menenangkan anaknya. Beberapa saat kemudian, datanglah si bapak dan melirik ke atas, tempat ia menyimpan ekor tikus yang dititipkannya. Tetapi wajahnya tiba-tiba berubah.
"Siapa yang mengambil ekor tikus ini"?
"Yah, aku sudah terlanjur memberikannya ke anak kita, karena ia menangis keras, pak. Ia tidak berhenti menangis. Darah jadi air mata"
"Kan sudah kubilang. Jangan diberi. Kenapa diberi? Sudah kubilang tapi kamu tak patuh"
Karena begitu geram, sang ibu yang sementara menenun saat suaminya datang, ditebas kepalanya oleh si bapak dengan kayu tenun yang ditariknya. Pada saat itulah kepala ibu terbelah. Ia lalu berlari. Separuh ke laut, separuh lagi ke langit. Sementara itu, tinggallah anaknya yang meratap seorang diri, sambil memandang adiknya yang masih butuh disusui.
"Apa yang harus kulakukan? adikku menangis. Tidak ada yang bias menyusuinya", batin si anak.
Maka bergegaslah ia ke laut, menggendong adiknya, di sana ia meangis sambil berharap akan kedatangan ibunya.
"Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Tak jauh dari pandangannya, ibunya datang dan menyusur ke daratan. Ia menyusui anaknya. Esoknya, ia ke pinggir laut lagi dan bernyanyi di sana.
"Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Maka datanglah lagi ibunya, dan disusuilah lagi. Setelah itu ia kembali pulang menggendong adiknya. Sampai esok tiba, ia ke pinggir laut lagi dan bernyanyi di sana.
"Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam"
Maka datanglah lagi ibunya untuk menyusui. Tetapi wajahnya memelas dan bersedih. Sambil mengusap kepala anaknya ia berkata :
"Tinggal sekali lagi kamu bisa datang ke sini yah, nak! Saya sudah akan menjadi duyung sungguhan. Jadi kamu tak bisa ke sini lagi" Anak-anaknya mengiyakan itu dan esoknya mereka kembali lagi dan bernyanyi di sana.
"Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Sang ibu pun datang lagi menyusui untuk terakhir kalinya. Tubuhnya sudah dipenihi banyak sisik seperti ekor ikan. Ia kembali mengingatkan anak-anaknya.
"Tidak perlu datang lagi yah, nak. Ibu sudah menjadi duyung sungguhan"
"Apa yang akan saya lakukan ibu"? si sulung bertanya dengan wajah yang bersedih.
"Susurilah tepi sungai, nak. Carilah tulang tebu. Tulang tebu milik nenek.
Kalau ada yang kamu temukan, pukulkanlah ke batu lalu peras pelan-pelan ke mulut adikmu. Karena siapa lagi"? Jelas sang ibu dengan mata menangis. Hari esok pun tiba. Kedua anak itu berangkat ke sungai dan menyusuri tepinya sambil bernyanyi.
"Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Tiba-tiba ia melihat tulang tebu yang hanyut. Dengan gegas memungutnya dan memerasnya ke mulut adiknya yang kehausan. Hanya itulah yang selalu dilakukannya. Ia kemudian kembali menyusuri sungai. "Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Ia kemudian melihat lagi tulang tebu yang hanyut. Dipukulkan ke batu dan diperas ke mulut adiknya. Ia terus berjalan dan setiap menemukan tulang tebu yang hanyut, ia melakukan hal yang sama pada adiknya. "Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Ditemukanlah lagi tulang tebu yang hanyut di hadapannya dan seperti biasa, ia memukulkan ke batu dan memeras airnya ke mulut adiknya. Setelah itu ia berjalan dan terus berjalan hingga tak terduga, kedua anak itu melihat sebuah rumah dan si nenek, pemilik rumah itu memanaggil mereka.
"Hei, cepat ke sini cucuku. Sudah lama saya tunggu" si nenek menyapa mereka sambil mempersilahkannya menaiki tangga rumah. Keuda anak itu akhirnya tinggal dan diasuh oleh si nenek di sana. Mereka diberi makan setiap hari. Tanpa mereka sadari jika itu untuk hatinya agar tumbuh besar dan bisa dimakannya. Hari esok pun tiba. Si nenek tiba-tiba bertanya. "Bagaimana hatimu cucuku"? tanya si nenek dengan sangat penasaran Anak itu terbelalak ketika si nenek bertanya. Ia kemudian seperlunya menjawab.
"Hati saya masih seperti jeruk kecil, nek"
"Kalau adikmu"? tanya si nenek lagi
"Adikku juga masih sama, nek. Masih sangat kecil"
Di sana, di atas rumah panggung, tempat tinggal anak-anak malang itu. Pertanyaan-pertanyaan tentang hati terus diulang oleh si nenek kepadanya. Hingga pada suatu hari, ketika si anak sudah semakin tumbuh dan nyaris jadi remaja. Si nenek mengulang pertanyaan.
"Bagaimana hatimu, cucuku"? si nenek bertanya dengan wajah yang penuh harapan.
"Hati saya sudah agak besar, nek. Seperti jeruk nipis. Kalau adikku sudah seperti kemiri" si anak menjawab itu dengan lugas. Setelah mengetahui kabar tentang hati anak-anak itu, si nenek pun
mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari mengiris-ngiris serei dan lengkuas untuk pengharum bumbu nantinya. Ia menyuruh anak itu menjemurnya di teras rumah.
"Jemur ini yah, cucuku. Ini untuk pengharum bumbu. Saya mau ke sungai dulu" ujar si nenek sambil berlalu. Ia membawa pisau yang hendak diasahnya. Konon, pisau itulah yang selalu dipakainya untuk membelah tubuh anak-anak, mengambil hati, dan memakannya"
Anak itu pun menjaga jemuran pengharum bumbu milik si nenek di teras rumah. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul burung kalowaya yang berdiri di hadapannya, hendak memakan apa yang dijemurnya. Si anak kepanikan.
"Hus pergi kau burung. Jangan makan pengharum bumbu nenekku"
Burung kalowaya itu pun tertawa sambil mengatakan sesuatu pada si anak.
"Tahukah kamu, kalau kamu yang akan diberi bumbu pengharum. Hatimu yang akan dibumbui"
"Hah, bagaimana bisa"? si anak kaget dan merasa tak percaya.
"Nenekmu sudah turun ke sungai, mengasah pisaunya untuk membelah hatimu. Kalian akan dimakan nanti" ujar burung kalowaya dengan sangat serius. Mendengar berita itu, si anak jadi menangis. Ia bertanya pada burung kalowaya, apa yang harus dilakukannya kalau memang demikian. Ia tak menduga jika si nenek ternyata punya rencana jahat padanya. Tetapi untunglah,
burung itu memberinya saran.
"Begini saja, cari tujuh ekor tungau. Lalu letakkan masing-masing di tempat yang berbeda. Tarulah satu di pintu, satu di ruang tamu, satu di dalam kamar, satu di dapur, satu di bawah dapur, satu di rengkiang, satu di bubungan" Anak itu kemudian melaksanakan saran yang dari burung kalowaya. Ia kemudian membawa adiknya dan bersembunyi di tempat yang akan susah
dijangkau oleh si nenek. Tak lama berselang, suara nenek sudah terdengar dari luar sambil memanggil-manggil.
"Cucuku, kamu di mana"?
Pertanyaan itu terlontar dari si nenek. Tetapi tungau lah yang menjawabnya.
"Saya di sini nek. Di pintu" jawab tungau.
Si nenek lalu ke pintu mencarinya tapi tak ada siapa-siapa.
"Cucuku, kamu di mana"? si nenek bertanya lagi
"Saya di sini nek, di ruang tamu" jawab tungau
Si nenek masuk lagi ke ruang tamu tetapi tak melihat siapa-siapa.
"Cucuku, kamu di mana"? tanya si nenek lagi
"Saya di sini. Di kamar, nek" jawab tungau
Si nenek bergegas lagi ke kamar tapi tidak juga ada mereka di sana. Ia lalu memanggil lagi.
"Cucu, cucu kamu di mana sebenarnya"?
"Saya di sini, di dapur, nek" jawab tungau
Si nenek masuk lagi ke dalam dapur tetapi juga sia-sia. Ia terus memanggil manggil dan mempertanyakan keberadaannya.
"Cucuku, kamu di mana"? tanya si nenek sudah dalam kewalahan,
"Saya di sini nek, di rengkiang", jawab tungau lagi.
Si nenek melihat ke rengkiang tapi juga tidak ada apa-apa. Ia lalu menuruni tangga sambil terus memanggil-manggil. Maka dilihatlah anak-anak itu sedang berada di puncak rumah. Melihat itu, si nenek semakin geram.
"Awas yah, saya akan ke sana dan makan hatimu. Kamu membuat saya kecapaian seharian mencarimu" ujar si nenek sambil memperhatikan anak itu. Sudah dari tadi anak-anak itu berada di atas bubungan rumah. Ia sudah mempersiapkan linggis, pisau, dan sabit untuk dijatuhkannya nanti jika nenek akan menyusulnya. Si nenek pun mulai bergegas memanjat ke atas bubungan rumah. Tetapi baru beberapa langka, anak itu menjatuhkan pisau meski sayang itu salah sasaran. Si nenek lalu meneruskan lagi untuk bisa sampai padanya. Tetapi tiba-tiba anak itu menjatuhkan sesuatu lagi dari atas, sebuah sabit yang mengenai bahu si nenek. Si nenek semakin kewalahan tapi juga makin geram terhadap anak-anak itu. Ia terus memanjat. Dan, karena sudah kelabakan, anak itu menjatuhkan linggis dan berhasil menjebolkannya ke kepala si nenek. Darah mengucur dari kepala si nenek. Ia terhuyung jatuh dan mati. Anak itu merasa bahagia karena sudah bisa menyelamatkan diri. Dari bubungan yang ditungganginya, ia melihat ke atas langit dan membatin.
"Oh Tuhan, jika saya juga bagian dari tomanurung, akan ada tangga yang menjulang agar saya bisa ke langit"
Si anak menangis mengingat ibunya sambil berdo"a. Tiba-tiba dan betullah tangga yang diinginkannya itu. Digendonglah adiknya dan pelan-pelan menaiki tangga. Sesampai di langit, ia bertemu dengan penumbuk padi.
"Tuan, kasihanilah saya, berilah saya sisa-sisa berasnya. Saya ingin member makan adikku yang kelaparan"
"Wah saya takut memberikannya, nak karena itu bukan milik saya. Itu milik raja", jawab si penumbuk padi.
"Berilah saya, tuan. Sedikit saja. Adik saya sudah terlalu lapar", anak itu meminta lagi dengan wajah memelas sambil mengusap perut adiknya.
"Begini saja, tunggu sebentar. Saya akan melapor dulu ke raja" si penumbuk padi menjelaskan dan berlalu meninggalkannya. Di kediaman sang raja, si penumbuk padi pun menceritakan soal itu pada sang raja.
"Oh daeng, di luar sana ada anak kecil yang menggendong adiknya, mereka kelaparan dan ingin makan. Tak ada yang bisa dimakannya. Jadi tadi anak itu meminta sisa-sisa beras untuk dibuatnya jadi bubur yang akan dimakan adiknya" Mendengar itu sang raja terketuk hatinya. Ia langsung menyuruh si penumbuk padi untuk membawa anak-anak itu ke hadapannya. Maka dengan gegas, laporan itu disampaikan dan anak-anak itu dibawanya ke kediamannya. Tukang penumbuk padi itu kembali ke mereka.
"Ayo ke sana, kalian sudah ditunggu"
"Saya takut puang. Apakaha saya tidak akan dipukul"?
"Ah tidak. Nanti di sana baru makan. Sudah dipersiapkan"
Sesampai di sana, sang raja menyambut mereka dan dipersilakannya makan sampai kenyang bersama adiknya.
"Nak, kalau sudah makan, carikan kutu saya yah" sang raja memberitahu. Anak itu langsung sigap, melaksanakan perintah sang raja. Sementara mengais-ngais rambut, tiba-tiba sang raja merasa kepalanya basah. Ia lalu bertanya kepada anak itu.
"Kamu menangis nak"? tanya sang raja
"Saya mengingat ibu saya, puang. Kepalanya pernah dibelah oleh ayah saya. Ibu saya kemudian berlari, separuh tubuhnya pergi ke laut, separuhnya lagi ke langit" Ucap anak itu sambil sejenak menghentikan tangannya. Sang raja terkejut mendengar itu. Ia kemudian memeluk erat sambil
membolak-balikkan tubuh anak itu, saking bahagianya.
"Sayalah yang kamu cari, nak"
Anak itu juga sama terkejutnya dan ikut berbahagia karena mereka telah berkumpul lagi.
Nun jauh di sana, di atas bumi, suami sang raja, bapak anak-anak itu, lalu lalng tak jelas arah. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya karena sudah tak bisa lagi bertemu istrinya. Ia juga sudah jarang makan. Tetapi tak diduganya, suatu hari kemudian bapak itu tiba-tiba juga berada di atas langit. Ia bertemu istri dan anak-anaknya dengan wajah yang penuh derita.
"Kita baru bisa bersama kalau kamu melaksanakan beberapa perintah ini" tukas sang istri
"Saya akan berusaha semampu saya, istriku" jawab si bapak merendah
"Pergilah mengambil air, tetapi yang kamu gunakan adalah keranjang yang bolong" perintah istrinya.
Si bapak kaget dan tak menduga jika harus melakukan tugas seberat itu.
"Matilah saya, bu. Bagaimana saya bisa melakukannnya"? Sang istri tidak menggubrisnya dan ia pun berlalu untuk melaksanakan perintah itu.
Melangkah menuju sungai, si bapak terus memikirkan bagaimana cara membawa air dengan keranjang yang bolong.
"Oh Tuhan, jika saya juga bagian dari tomanurung, akan ada ular yang mengepung keranjang saya", ia membatin. Akhirnya datang betullah ular itu dan membuat keranjangnya jadi sempit
sehingga tak bolong lagi. Istrinya bangga melihat suaminya membawa air itu sampai ke rumah karena keranjang cukup penuh dan tak ada yang tumpah.Setelah itu sang raja kemudian memberikan tugas berikutnya. Ia menuangkan nasi tujuh jenis dengan tujuh piring yang sama.
"Jika kamu bisa mengetahui piring nasi yang saya pilih kita akan bersama"
ucap sang raja Mendengar itu, si bapak kembali mengeluh dan tetap mengulang pernyataan yang sama.
"Matilah saya, tentu saja susah mengetahuinya apalagi tujuh jenis yang sama" ia memandang sejumlah nasi itu dengan takjub. Dalam keluhannya itu, tiba-tiba ada seekor lalat yang menempel di salah satu piring lalu menempel lagi di tangannya. Lalat itu melakukannya sampai tiga kali
sampai kemudian si bapak menyadari bahwa itu adalah penanda mana yang harus dipilihnya.Si bapak pun kemudian memilih salah satunya dan dugaan itu rupanya benar, ia sudah diberi petunjuk oleh seekor lalat tadi. Malam pun tiba. Rupanya perintah sang raja tidak hanya mengambil air dan memilih piring nasi, tetapi juga masih ada yang lain. Ia menggantung tujuh
kelambu yang sama di atas rumah dan kemudian menyuruh suaminya untuk menebaknya.
"Kalau kamu bisa mengenali penggantung kelambunya, kamu akan bias masuk" ujang sang raja
Si bapak kemudian tampak kembali kebingungan. Ia takut jangan sampai salah. Tak diduganya, tiba-tiba ia melihaat seekor kucing yang berlari ke salah satu kalambu lalu kemudian berbalik ke arah si bapak. Ia mulai berpikir bahwa ini mungkin juga adalah petunjuk. Dan akhirnya, benar. Ada sang raja dalam kelambu. Mereka akhirnya bersama dan berbahagia.

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Polewali Mandar