Polewali Mandar
PULLADO DAN PUCCECANG
21 December 2025
-3.4155140, 119.3058930
Rekaman Audio Penuturan Lisan
Dengarkan audio penuturan cerita rakyat asli
Di sebuah kampung antah berantah, hiduplah dua orang sahabat dengan watak yang bertolak belakang. Yang pertama bernama Pullado. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, bicaranya manis, namun sayangnya ia malas dan selalu mencari jalan pintas yang licik. Yang kedua bernama Puccecang. Ia adalah sosok yang sederhana, jujur, namun sering kali terlalu polos hingga mudah dimanfaatkan.
Perjalanan Mencari Untung
Suatu hari, di tengah musim pancaroba yang sulit, Pullado mengajak Puccecang mengembara.
"Puccecang, ayo kita pergi berkelana. Di kampung ini rezeki sedang seret. Siapa tahu di kampung sebelah ada orang dermawan yang mau memberi kita emas atau makanan," ajak Pullado dengan penuh semangat.
Berangkatlah mereka berdua. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sepanjang perjalanan, setiap pintu rumah yang mereka ketuk tertutup rapat. Penduduk desa yang mereka lewati ternyata sangat kikir. Tak ada seteguk air atau sesuap nasi pun yang diberikan kepada mereka.
"Huh! Dasar orang-orang pelit!" gerutu Pullado sambil mengusap keringatnya. "Padahal aku sudah memasang wajah memelas. Kita benar-benar tidak beruntung hari ini."
"Sabarlah, Pullado. Mungkin memang belum rezeki kita," hibur Puccecang.
Bibit Pisang Sengketa
Di tengah keputusasaan, mata jeli Pullado menangkap sesuatu di pinggir jalan. Ada seorang petani kikir yang sedang membuang satu bibit pohon pisang kecil. Petani itu hanya memberikan satu bibit itu saja, lalu pergi begitu saja.
Pullado dan Puccecang memungut bibit itu. Masalah muncul karena bibit itu hanya satu, sedangkan mereka berdua yang menemukannya.
"Ini milikku," kata Pullado. "Tapi aku yang menggendongnya tadi," sahut Puccecang.
Karena tak ada yang mau mengalah, Pullado yang licik mendapatkan ide "brilian".
"Begini saja, sobatku. Agar adil, kita potong saja bibit ini jadi dua! Kita bagi rata," usul Pullado.
Puccecang yang polos mengangguk setuju. "Ide bagus. Tapi bagaimana membaginya?"
Pullado tersenyum licik. Ia berpikir, bagian atas sudah ada daunnya, pasti lebih cepat berbuah. Bagian bawah cuma akar kotor dan batang keras, pasti butuh waktu lama.
"Aku orang yang baik hati, Puccecang. Biarlah aku mengambil bagian atas (pucuk dan daunnya). Kau ambil saja bagian bawah (batang dan akarnya)," kata Pullado dengan percaya diri.
Puccecang menerima bagian akar itu dengan ikhlas. "Baiklah, terima kasih, Pullado."
Hasil Kesabaran vs Jalan Pintas
Sesampainya di rumah, mereka menanam bagian masing-masing.
Pullado menanam potongan pucuk pisangnya yang berdaun hijau itu dengan bangga. "Lihatlah, punyaku sudah punya daun! Sebentar lagi pasti berbuah," sombongnya. Sementara Puccecang mencangkul tanah, menanam bonggol akar yang tampak mati itu, lalu menyiramnya setiap hari dengan tekun.
Seminggu berlalu. Tanaman Pullado mulai terlihat menyedihkan. Daun-daun hijaunya menguning, layu, dan akhirnya kering kerontang. Karena tidak punya akar, pucuk itu mati membusuk.
Sebaliknya, dari dalam tanah tempat Puccecang menanam, muncul tunas hijau kecil yang segar. Tunas itu tumbuh semakin tinggi, batangnya kokoh, dan daunnya lebar-lebar.
Tiga bulan kemudian, pohon pisang Puccecang berdiri gagah dan mengeluarkan jantung pisang yang besar. Tak lama, buah pisang yang ranum dan kuning bergantungan menggoda selera.
Pullado datang dengan wajah masam dan perut lapar. "Hei Puccecang! Kenapa hanya pohonmu yang berbuah? Pohonku mati semua!" protesnya.
Puccecang menjawab santai, "Ya jelas, Pullado. Kamu memilih daun tanpa akar, mana bisa hidup? Aku memilih akar, sumber kehidupan."
Tipu Muslihat di Atas Pohon
Melihat pisang-pisang kuning yang ranum itu, air liur Pullado menetes. Otak liciknya kembali bekerja.
"Wah, Puccecang, pisangmu sudah matang! Tapi sayang, kamu kan tidak pandai memanjat. Biar aku saja yang memanjatkan untukmu. Nanti kita bagi dua," tawar Pullado.
Tanpa menunggu jawaban, Pullado langsung melesat naik ke atas pohon seperti kera. Sesampainya di atas, ia langsung memetik satu buah pisang, mengupasnya, dan hap! Masuk ke mulutnya.
"Hmm... manis sekali!" seru Pullado.
Puccecang mendongak dari bawah. "Pullado, jatuhkan pisangnya untukku!"
"Tunggu sebentar, aku cicipi dulu yang ini, takutnya busuk," kilah Pullado. Ia makan lagi. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh buah pisang habis ia lahap sendiri.
"Pullado! Mana bagianku?" teriak Puccecang yang mulai kesal.
"Nih, tangkap!" Pullado melemparkan sesuatu ke bawah. Bukan buah pisang, melainkan kulit pisang yang sudah kosong.
"Enak sekali kulitnya, Puccecang! Hahaha!" tawa Pullado meledak di atas pohon. Ia terus memakan pisang itu sampai perutnya buncit, tak menyisakan satu pun untuk sahabatnya.
Balas Dendam Sang Sahabat
Kesabaran Puccecang habis sudah. Ia melihat sekeliling dan melihat lubang-lubang kecil di tanah yang becek. Di sana ada banyak kelomang (umang-umang) dan kepiting sungai yang sedang mencari makan.
Puccecang tersenyum tipis. Ia mengumpulkan hewan-hewan bercapit itu.
"Wahai kelomang dan kepiting, naiklah ke atas pohon itu. Di atas sana ada daging empuk yang sedang kekenyangan," bisik Puccecang sambil menaruh hewan-hewan itu di batang pohon pisang.
Hewan-hewan itu merayap naik perlahan-lahan. Pullado yang sedang kekenyangan dan hampir tertidur di dahan pisang tidak menyadari bahaya yang mendekat.
Tiba-tiba... "ADUH! AMPUN!"
Seekor kepiting besar menjepit pantat Pullado dengan keras. Kaget dan kesakitan, Pullado kehilangan keseimbangan.
"GUBRAKK!"
Pullado jatuh dari pohon pisang dan mendarat di tanah becek dengan bunyi gedebuk yang keras. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi bokongnya yang merah dicapit kepiting.
Puccecang hanya tertawa melihat temannya itu lari terbirit-birit dikejar kelomang. Itulah akibat bagi orang yang cerdas tapi serakah dan suka menipu teman sendiri.
Perjalanan Mencari Untung
Suatu hari, di tengah musim pancaroba yang sulit, Pullado mengajak Puccecang mengembara.
"Puccecang, ayo kita pergi berkelana. Di kampung ini rezeki sedang seret. Siapa tahu di kampung sebelah ada orang dermawan yang mau memberi kita emas atau makanan," ajak Pullado dengan penuh semangat.
Berangkatlah mereka berdua. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sepanjang perjalanan, setiap pintu rumah yang mereka ketuk tertutup rapat. Penduduk desa yang mereka lewati ternyata sangat kikir. Tak ada seteguk air atau sesuap nasi pun yang diberikan kepada mereka.
"Huh! Dasar orang-orang pelit!" gerutu Pullado sambil mengusap keringatnya. "Padahal aku sudah memasang wajah memelas. Kita benar-benar tidak beruntung hari ini."
"Sabarlah, Pullado. Mungkin memang belum rezeki kita," hibur Puccecang.
Bibit Pisang Sengketa
Di tengah keputusasaan, mata jeli Pullado menangkap sesuatu di pinggir jalan. Ada seorang petani kikir yang sedang membuang satu bibit pohon pisang kecil. Petani itu hanya memberikan satu bibit itu saja, lalu pergi begitu saja.
Pullado dan Puccecang memungut bibit itu. Masalah muncul karena bibit itu hanya satu, sedangkan mereka berdua yang menemukannya.
"Ini milikku," kata Pullado. "Tapi aku yang menggendongnya tadi," sahut Puccecang.
Karena tak ada yang mau mengalah, Pullado yang licik mendapatkan ide "brilian".
"Begini saja, sobatku. Agar adil, kita potong saja bibit ini jadi dua! Kita bagi rata," usul Pullado.
Puccecang yang polos mengangguk setuju. "Ide bagus. Tapi bagaimana membaginya?"
Pullado tersenyum licik. Ia berpikir, bagian atas sudah ada daunnya, pasti lebih cepat berbuah. Bagian bawah cuma akar kotor dan batang keras, pasti butuh waktu lama.
"Aku orang yang baik hati, Puccecang. Biarlah aku mengambil bagian atas (pucuk dan daunnya). Kau ambil saja bagian bawah (batang dan akarnya)," kata Pullado dengan percaya diri.
Puccecang menerima bagian akar itu dengan ikhlas. "Baiklah, terima kasih, Pullado."
Hasil Kesabaran vs Jalan Pintas
Sesampainya di rumah, mereka menanam bagian masing-masing.
Pullado menanam potongan pucuk pisangnya yang berdaun hijau itu dengan bangga. "Lihatlah, punyaku sudah punya daun! Sebentar lagi pasti berbuah," sombongnya. Sementara Puccecang mencangkul tanah, menanam bonggol akar yang tampak mati itu, lalu menyiramnya setiap hari dengan tekun.
Seminggu berlalu. Tanaman Pullado mulai terlihat menyedihkan. Daun-daun hijaunya menguning, layu, dan akhirnya kering kerontang. Karena tidak punya akar, pucuk itu mati membusuk.
Sebaliknya, dari dalam tanah tempat Puccecang menanam, muncul tunas hijau kecil yang segar. Tunas itu tumbuh semakin tinggi, batangnya kokoh, dan daunnya lebar-lebar.
Tiga bulan kemudian, pohon pisang Puccecang berdiri gagah dan mengeluarkan jantung pisang yang besar. Tak lama, buah pisang yang ranum dan kuning bergantungan menggoda selera.
Pullado datang dengan wajah masam dan perut lapar. "Hei Puccecang! Kenapa hanya pohonmu yang berbuah? Pohonku mati semua!" protesnya.
Puccecang menjawab santai, "Ya jelas, Pullado. Kamu memilih daun tanpa akar, mana bisa hidup? Aku memilih akar, sumber kehidupan."
Tipu Muslihat di Atas Pohon
Melihat pisang-pisang kuning yang ranum itu, air liur Pullado menetes. Otak liciknya kembali bekerja.
"Wah, Puccecang, pisangmu sudah matang! Tapi sayang, kamu kan tidak pandai memanjat. Biar aku saja yang memanjatkan untukmu. Nanti kita bagi dua," tawar Pullado.
Tanpa menunggu jawaban, Pullado langsung melesat naik ke atas pohon seperti kera. Sesampainya di atas, ia langsung memetik satu buah pisang, mengupasnya, dan hap! Masuk ke mulutnya.
"Hmm... manis sekali!" seru Pullado.
Puccecang mendongak dari bawah. "Pullado, jatuhkan pisangnya untukku!"
"Tunggu sebentar, aku cicipi dulu yang ini, takutnya busuk," kilah Pullado. Ia makan lagi. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh buah pisang habis ia lahap sendiri.
"Pullado! Mana bagianku?" teriak Puccecang yang mulai kesal.
"Nih, tangkap!" Pullado melemparkan sesuatu ke bawah. Bukan buah pisang, melainkan kulit pisang yang sudah kosong.
"Enak sekali kulitnya, Puccecang! Hahaha!" tawa Pullado meledak di atas pohon. Ia terus memakan pisang itu sampai perutnya buncit, tak menyisakan satu pun untuk sahabatnya.
Balas Dendam Sang Sahabat
Kesabaran Puccecang habis sudah. Ia melihat sekeliling dan melihat lubang-lubang kecil di tanah yang becek. Di sana ada banyak kelomang (umang-umang) dan kepiting sungai yang sedang mencari makan.
Puccecang tersenyum tipis. Ia mengumpulkan hewan-hewan bercapit itu.
"Wahai kelomang dan kepiting, naiklah ke atas pohon itu. Di atas sana ada daging empuk yang sedang kekenyangan," bisik Puccecang sambil menaruh hewan-hewan itu di batang pohon pisang.
Hewan-hewan itu merayap naik perlahan-lahan. Pullado yang sedang kekenyangan dan hampir tertidur di dahan pisang tidak menyadari bahaya yang mendekat.
Tiba-tiba... "ADUH! AMPUN!"
Seekor kepiting besar menjepit pantat Pullado dengan keras. Kaget dan kesakitan, Pullado kehilangan keseimbangan.
"GUBRAKK!"
Pullado jatuh dari pohon pisang dan mendarat di tanah becek dengan bunyi gedebuk yang keras. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi bokongnya yang merah dicapit kepiting.
Puccecang hanya tertawa melihat temannya itu lari terbirit-birit dikejar kelomang. Itulah akibat bagi orang yang cerdas tapi serakah dan suka menipu teman sendiri.