Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Polewali Mandar

ANA' TOWIU

21 December 2025 -3.478866, 119.141530
ANA' TOWIU
Alkisah, di sebuah desa yang jauh dari keramaian, hiduplah dua orang gadis bersaudara yang nasibnya malang. Mereka adalah anak yatim piatu, tanpa ayah dan ibu. Hidup sebatang kara membuat mereka sering merasa kesepian dan kesulitan.

Suatu hari, sang Kakak memandang adiknya dengan iba dan berkata, "Adikku, kita tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini di sini. Ayo kita pergi ke hutan. Siapa tahu kita bisa menemukan gubuk kosong atau tempat berteduh yang lebih tenang."

Sang Adik, yang selalu percaya pada kakaknya, mengangguk setuju. "Baik, Kak. Aku ikut kemana pun Kakak pergi."

Gubuk Ajaib di Tengah Hutan
Setelah berjalan cukup jauh menembus semak belukar, tibalah mereka di sebuah area terbuka di tengah hutan. Keajaiban menyambut mereka; berdiri sebuah gubuk kayu yang kokoh. Ketika mereka memberanikan diri masuk, mereka terkejut. Gubuk itu tidak kosong, melainkan lengkap dengan peralatan rumah tangga"ada panci, piring, gelas, dan perlengkapan lainnya, seolah-olah gubuk itu memang disediakan untuk mereka.

"Kita tinggal di sini saja, Adik," kata sang Kakak dengan wajah berbinar. "Lihat, semua yang kita butuhkan sudah ada."

Mereka pun mulai menata kehidupan baru. Sang Kakak melihat sepohon ubi kayu yang tumbuh subur di dekat gubuk. "Adik, bisakah kau turun ke sungai mengambil air? Kita akan merebus ubi ini."

Awalnya sang Adik ragu, "Aku takut turun sendiri ke sungai, Kak. Hutannya sepi."

"Kalau begitu, mari kita turun bersama," ajak sang Kakak dengan lembut.

Mereka pun mencabut singkong itu, mengupasnya, dan mengambil air bersama. Di dalam gubuk, ubi itu direbus hingga empuk, lalu dihaluskan menjadi adonan yang lembut dan harum.

Anjing Pembawa Pesan
Saat aroma ubi rebus memenuhi ruangan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki hewan. Sang Adik mengintip ke kolong rumah.

"Kakak, lihatlah! Ada seekor anjing yang sangat cantik di bawah sana. Bulunya bersih dan matanya bersinar," seru si Adik. Ia merasa iba melihat anjing itu. "Kak, ambilkan sekepal ubi hangat itu untuk hewan cantik ini."

Sang Kakak menuruti permintaan adiknya. Ia memberikan sekepal ubi yang lezat itu kepada si anjing. Anehnya, anjing itu tidak langsung memakannya. Ia menggigit bungkusan ubi itu dan berlari kencang menembus hutan, membawa ubi itu ke sebuah istana megah.

Rupanya, anjing itu adalah peliharaan kesayangan seorang Raja. Sang Raja mencicipi ubi yang dibawa anjingnya dan terkejut.

"Mengapa ubi ini rasanya sangat manis dan enak? Tidak seperti masakan koki istana," gumam Raja. Rasa penasaran menyelimutinya. "Prajurit! Siapkan tiga orang pasukan. Kita akan mengikuti anjing ini. Aku ingin tahu siapa yang membuat ubi selezat ini."

Pinangan Sang Raja
Singkat cerita, Raja dan prajuritnya tiba di depan gubuk kecil itu. Namun, para prajurit ragu untuk masuk ke gubuk reot itu lebih dulu.

"Masuklah," perintah Raja. "Ampun Baginda, kami tidak berani masuk jika Baginda tidak ikut. Jika Baginda masuk, barulah kami menyertai," jawab prajurit.

Akhirnya Raja masuk dan memberi salam, "Assalamualaikum." Dari dalam, dua gadis itu menjawab gemetar, "Wa"alaikumsalam."

Sang Kakak terkejut melihat tamunya. Raja itu langsung terpikat pada kecantikan dan kelembutan sang Kakak. Tanpa basa-basi, Raja menyampaikan niatnya untuk memboyong sang Kakak ke istana dan menjadikannya istri.

"Saya merasa malu dan tak pantas, Baginda. Anda seorang Raja yang agung, sedangkan saya hanya gadis hutan," tolak sang Kakak halus, hatinya bimbang memikirkan adiknya.

"Itu tidak masalah bagiku. Kekayaan dan status bisa diatur. Mari ikut aku sekarang," desak Raja.

Tipu Muslihat dan Perpisahan
Sebelum berangkat, sang Kakak mencoba mengulur waktu demi adiknya. "Adik, tolong turunlah ke sungai. Ambilkan air minum untuk disuguhkan kepada Raja."

Raja sebenarnya menolak, "Tidak usah, aku tidak haus." Namun, ini adalah kesempatan bagi Raja untuk memisahkan mereka.

Tanpa disadari sang Adik, gayung yang ia bawa ternyata bocor. Saat ia sampai di sungai dan mencoba menimba air, air itu selalu habis terbuang di jalan. Berkali-kali ia mencoba, namun gagal.

Memanfaatkan momen itu, Raja segera membawa paksa sang Kakak pergi ke istana.

Ketika sang Adik kembali ke gubuk dengan tangan hampa, ia mendapati rumahnya kosong. Tangisnya pecah. "Kakak! Kenapa kau meninggalkanku?!" teriaknya memilukan.

Meski sedih, sang Adik bertekad menyusul. Ia mengikuti jejak rombongan Raja hingga tiba di gerbang istana. Namun, jalan masuk telah ditutup dengan pagar besi yang tinggi dan berlapis. Raja sengaja melakukannya agar si Adik tidak bisa masuk.

Demi cintanya pada sang Kakak, si Adik nekat. Ia memanjat pagar besi itu, melukai tangan dan kakinya, hingga akhirnya ia berhasil melompat masuk ke halaman istana.

Kekejaman di Istana
Saat bertemu di dalam istana, sang Kakak terkejut bercampur haru. "Adik! Dengan siapa kau ke sini?" "Aku sendiri, Kak. Karena Kakak meninggalkanku," isak adiknya.

Sang Kakak memeluknya. "Maafkan aku, Adik. Aku dipaksa, aku digendong paksa oleh Raja dan prajuritnya."

Malam pun tiba. Sang Kakak mengajukan syarat kepada Raja. "Aku tidak mau tidur di kasur empuk jika Adikku tidur di lantai. Aku hanya mau menjadi istri Raja jika Adikku tidur bersamaku di kasur."

Raja awalnya setuju, bahkan rela tidur di lantai. Namun, para prajurit dan dayang istana menghasut. "Tidak pantas, Baginda! Mengapa gadis kecil dekil itu di kasur, sedangkan Istri Raja tidak? Turunkan dia!"

Sang Adik ditarik paksa dari kasur dan disuruh tidur di lantai dingin. Hatinya hancur. Ia merasa kehadirannya hanya menjadi beban dan bahan hinaan.

"Kakak, aku tidak tahan. Aku akan pulang kembali ke gubuk kita," pamit sang Adik dengan air mata berlinang.

Tanda Sayur dan Pelarian
Saat sang Adik hendak keluar, pintu gerbang segera ditutup oleh Raja. Sang Adik memohon dari balik pagar. "Kakak, aku mau pulang. Tolong perlihatkan tanganmu sedikit saja, sebagai tanda perpisahan."

Namun, dari balik celah pintu, yang diperlihatkan bukanlah tangan kakaknya, melainkan kaki seekor kucing. "Itu bukan tangan Kakakku! Itu kaki kucing!" teriak Adik.

"Kalau begitu perlihatkan wajah Kakak sedikit saja." Lagi-lagi, yang muncul di celah jendela adalah wajah seekor kucing. "Itu bukan wajah Kakakku!" Sang Adik mengerti, Raja dan prajuritnya sedang mempermainkannya agar ia pergi.

Sebelum melangkah pergi dengan hati hancur, sang Adik mencabut sebatang pohon sayur dan menanamnya tepat di depan gerbang istana.

Ia berteriak, "Kakak! Lihatlah tanaman ini. Jika sayur ini layu, tandanya aku sedang sakit keras. Jika sayur ini gugur dan mati, itu tandanya aku sudah meninggal dunia!"

Setelah mengucapkan sumpah itu, sang Adik berlari pulang ke hutan.

Penyesalan dan Pelarian Sang Kakak
Hari berganti hari. Di istana, sang Kakak selalu gelisah memandangi tanaman sayur itu. Hingga suatu hari, tanaman itu tampak layu dan hampir mati.

"Adikku sakit!" batin sang Kakak menjerit. Ia tak peduli lagi dengan kemewahan istana.

Ia mencari alasan untuk keluar. "Prajurit, aku ingin mandi di sungai," katanya. Para prajurit mengikutinya. Sesampainya di sungai yang deras, sang Kakak berkata, "Ayo kita berlomba berenang sampai ke ujung sungai."

Prajurit yang lengah menuruti ajakan itu. Mereka berhitung, "Satu... dua... tiga!" Saat para prajurit sibuk berenang, sang Kakak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri ke arah hutan, menjauh dari istana.

Di tengah pelariannya, ia merasa lapar dan putus asa. Ia berdoa, "Ya Tuhan, berikanlah hamba sedikit beras, dan tolong pertemukan hamba dengan adik hamba dalam keadaan masih bernyawa."

Tuhan mendengar doa tulus seorang kakak. Secara ajaib, ia menemukan tumpukan beras di jalannya.

Akhir yang Bahagia dalam Kesederhanaan
Sesampainya di gubuk lama mereka, ia mendapati adiknya terbaring lemah, kurus, dan sakit parah. Tanpa membuang waktu, sang Kakak memasak beras yang ia temukan menjadi bubur halus.

Dengan penuh kasih sayang, ia menyuapi adiknya dan mengoleskan sisa bubur yang hangat ke seluruh tubuh adiknya sebagai obat penurun panas. Perlahan, tenaga sang Adik kembali pulih.

Tak lama kemudian, terdengar derap langkah prajurit Raja yang datang menyusul. Mereka membujuk sang Kakak untuk kembali ke istana.

Namun, kali ini sang Kakak berdiri tegak di depan pintu gubuknya. Dengan tatapan tajam dan penuh keberanian, ia berkata:

"Sampaikan pada Raja, aku tidak akan pernah kembali ke istana. Hartanya tidak ada artinya jika ia memisahkan dan menyakiti satu-satunya keluargaku. Aku lebih memilih hidup miskin di gubuk ini bersama adikku daripada menjadi Ratu di istana yang dingin tanpa hati."

Prajurit itu pun pergi dengan tangan hampa. Kedua saudara itu akhirnya hidup damai berdua di hutan, saling menjaga dan tak terpisahkan lagi selamanya.

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Polewali Mandar