Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Ulidang, Kec. Tammerodo Sendana, Kab. Majene

PUCCECANG ANNA PULLADO

12 June 2026 -3.214253, 118.840048
PUCCECANG ANNA PULLADO

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diang mesa carita Puccecang anna Pualado. Mesa allo, Pualado solai Puccecang naik lao di wuttu. Di wuttu, Puccecang maita ponna loka tumbang. Mauangmi, "Ingga"e, kita tura pole di"e loka!" Pualado ma"uang, "Iyo." Jari lambami mellamba-lamba lao ma"ala kowi (parang), anna ponna loka di"o napolomi.
Tappana napolo ponna loka, Puccecang ma"uang, "Inna namu"ala, lolo na apa bui"na"? Pualado ma"uang, "Mua iko"? Puccecang ma"uang, "Lolo"na yau, apa masigai tia tumbuh. Bui"na iko." Pualado massetuju. Jari natunami lolo"na anna bui"na, duanna natannammi di wuttu.
Seminggu purami natannam, duanna sipessitai pole di wuttu. Pualado ma"uang, "Meapami anummu, Puccecang"? Puccecang ma"uang, "Malassu mi punyaku." "Iko, Pualado"? Pualado ma"uang, "Mindaung tu"u mo."
Dua minggu purami, naik pole di wuttu. Pualado ma"uang, "Meapami anummu"? Puccecang ma"uang, "Makin malassu, pai namate." Pualado ma"uang, "Punyaku mindaungmi anna ma"puso (mulai berbuah)."
Tiga minggu pole, naik pole. Pualado ma"uang, "Punyaku membuahmi anna masekemi ressu." Puccecang ma"uang, "Punyaku namatemi apa maraemi daunna."
Tiga minggu pole, naik pole pole. Pualado ma"uang, "Ressumi lokaku. Ayo kiteke!" Pualado nateke rai, tapi Puccecang ikut naik anna na"andei lokana Pualado. Pualado ma"uang, "Pianai ro mai!" Tapi Puccecang terus na"ande.
Tappana di atas, Puccecang natittai tai di wawo, anna kenna Pualado. Pualado massiri, minnaong lao di lembang ma"ala buang (kepiting). Nataro buang di ponna loka. Tappana buang pole di wawo, nasikki bui"na Puccecang. Puccecang ma"irri-irri, anna bemme naung di lita. Tilatu ulunna, matei di lita. Iyamo cappu caritana.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Ada sebuah cerita tentang Puccecang dan Pualado. Pada suatu hari, keduanya naik ke gunung. Di sana, Puccecang melihat pohon pisang yang tumbang. Ia berkata, "Mari kita tanam kembali pisang ini." Pualado pun menyetujui. Mereka pergi mencari parang untuk menebang dan membagi batang pisang tersebut.
Setelah ditebang, Puccecang berkata, "Bagian mana yang kamu ambil, pucuk atau bagian bawah"? Ia memilih pucuknya karena menurutnya lebih cepat tumbuh, sedangkan Pualado mengambil bagian bawahnya. Kemudian mereka menanam bagian masing-masing di gunung.

Seminggu kemudian, mereka kembali melihat tanaman itu. Pualado bertanya, "Bagaimana punyamu, Puccecang"? Puccecang menjawab, "Punyaku sudah layu." Ketika ditanya balik, Pualado menjawab, "Punyaku sudah mulai berdaun."
Dua minggu kemudian, mereka naik lagi ke gunung. Puccecang berkata tanamannya semakin layu dan hampir mati. Sementara itu, tanaman Pualado semakin subur dan mulai berbuah.
Tiga minggu kemudian, mereka kembali lagi. Pualado berkata bahwa pisangnya sudah berbuah dan hampir masak. Adapun tanaman Puccecang sudah benar-benar mati karena kering.
Beberapa minggu kemudian, mereka naik lagi dan melihat pisang Pualado telah masak. Pualado menyuruh Puccecang memanjat untuk mengambilnya. Namun, setelah sampai di atas, Puccecang justru memakan pisang itu sendirian tanpa berbagi.
Tidak hanya itu, Puccecang bahkan buang air besar dari atas pohon hingga mengenai Pualado. Karena marah, Pualado pergi ke sungai menangkap kepiting. Ia meletakkan kepiting itu di batang pohon pisang. Ketika kepiting tersebut menjepit bagian belakang Puccecang, ia berteriak kesakitan dan terjatuh dari pohon. Kepalanya terbentur tanah dan ia pun meninggal dunia. Demikianlah akhir cerita Puccecang dan Pualado.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Umar/Firdaus

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Ulidang, Kec. Tammerodo Sendana, Kab. Majene