Kel. Totolo, Kec. Banggae, Kab. Majene
ALI ANNA SITTI NURRAIA
21 June 2026
-3.568852, 118.940819
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diolo" mai diang mesa kisah yang sering diceritakan tomatua-tua tentang pasangan suami istri yang sudah lama menikah tetapi ndangi pa diang ana"na. Karena sangat menginginkan anak, keduanya selalu berdoa kepada Puang Allah Ta"ala supaya diberi keturunan. Sang ayah bahkan bernazar bahwa jika mereka diberi anak, maka anak itu akan diberi nama Ali. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang istri hamil hingga sembilan bulan dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ali.
Ali kemudian tumbuh besar hingga bisa berbicara dan berjalan. Suatu hari ia berkata kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya lalu mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya. Ayam itu dipelihara dengan baik oleh Ali. Setiap pagi dan sore ia memandikan ayamnya. Lama-kelamaan Ali tumbuh menjadi pemuda yang sudah pandai memakai songko", baju, dan sarung.
Suatu hari Ali berjalan-jalan sambil menggendong ayamnya karena ingin pergi menyabung ayam. Ia memakai songko" yang terlalu besar dan sarung yang panjang. Ketika ia berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan memakai pakaian rumah. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Ali menjadi gugup lalu jatuh di depan rumah itu. Ayamnya terlepas, songko"nya jatuh, dan bajunya menjadi kotor.
Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia berkata kepada ibunya, "Amma, inai anak tommuane yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya datang melihat ke bawah dan berkata agar anaknya tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak satu-satunya yang diperoleh orang tuanya setelah sekian lama memohon kepada Allah.
Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali bangun dan membersihkan bajunya yang kotor lalu memasang kembali songko"nya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di depan orang kampung.
Karena penasaran, Ali mengelilingi rumah itu. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah ponna rambunje yang tinggi. Ia pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat ia jatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba lagi memanjat, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana.
Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adikku, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menjawab. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan penuh keanggunan.
Mendengar itu, Sitti Nurraia menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan demikian. Kakak sendirilah yang mengatakan bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis."
Setelah itu Ali turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung naik ke tempat tidurnya, menutup kepala dan tubuhnya dengan selimut, dan berbaring tanpa bergerak. Ia sangat terpikat dan jatuh cinta kepada Sitti Nurraia hingga hatinya dipenuhi perasaan rindu yang mendalam.
"Cappu"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala terdapat sebuah kisah yang sering diceritakan oleh orang-orang tua tentang seorang pasangan suami istri yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. Karena sangat menginginkan keturunan, mereka terus memohon kepada Allah SWT agar diberikan seorang anak. Dalam doa mereka, sang ayah bahkan telah bernazar bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, anak itu akan diberi nama Ali. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang istri pun hamil. Kehamilan itu berlangsung hingga sembilan bulan, dan lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ali.
Ali tumbuh dengan baik hingga menjadi anak yang besar dan mulai bisa berbicara serta berjalan. Suatu hari ia meminta kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya kemudian mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya untuk dipelihara oleh Ali. Ayam itu dirawat dengan penuh kasih oleh Ali. Ia bahkan memandikan ayamnya setiap pagi dan sore hari. Seiring berjalannya waktu, Ali tumbuh menjadi seorang pemuda yang sudah pandai memakai topi, baju, dan sarung.
Suatu hari Ali membawa ayamnya berjalan-jalan sambil menggendongnya. Ia berniat pergi untuk menyabung ayam. Ia mengenakan topi yang terlalu besar serta sarung yang panjang hingga hampir menutupi lengannya. Saat berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan mengenakan pakaian rumah. Ketika Ali menoleh ke arah atas, pandangan mereka pun saling bertemu. Karena gugup dan terpesona melihat kecantikan Sitti Nurraia, Ali tiba-tiba terjatuh tepat di depan rumah perempuan itu. Ayamnya terlepas dari gendongannya, topinya jatuh, dan bajunya menjadi kotor.
Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia yang dikenal sebagai gadis cantik di kampung tersebut memanggil ibunya dan berkata, "Ibu, siapa anak laki-laki yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya kemudian datang dan melihat Ali yang tergeletak di depan rumah. Sang ibu berkata kepada anaknya agar tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak yang sangat dimanja oleh orang tuanya, bahkan anak satu-satunya yang diperoleh setelah sekian lama memohon kepada Allah.
Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali yang sudah sadar dari jatuhnya segera berdiri. Ia membersihkan bajunya yang kotor dan memakai kembali topinya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di hadapan orang kampung.
Karena penasaran, Ali kemudian berkeliling di sekitar rumah tersebut. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah pohon rambunje yang tinggi. Ali pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat, ia terjatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba memanjat lagi, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana.
Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adik, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menanggapi perkataannya. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan tubuh setengah tenggelam, berbicara dengan lembut dan penuh keanggunan.
Mendengar perkataan itu, Sitti Nurraia akhirnya menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan seperti itu. Kakak sendirilah yang berkata bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis."
Setelah itu Ali pun turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung melompat ke tempat tidurnya. Ia menutup kepalanya dengan selimut dan berbaring tanpa bergerak sedikit pun. Hatinya dipenuhi rasa cinta yang begitu besar kepada Sitti Nurraia hingga ia menjadi seperti orang yang sedang dilanda cinta yang mendalam.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Toraya/Satziarda
Ali kemudian tumbuh besar hingga bisa berbicara dan berjalan. Suatu hari ia berkata kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya lalu mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya. Ayam itu dipelihara dengan baik oleh Ali. Setiap pagi dan sore ia memandikan ayamnya. Lama-kelamaan Ali tumbuh menjadi pemuda yang sudah pandai memakai songko", baju, dan sarung.
Suatu hari Ali berjalan-jalan sambil menggendong ayamnya karena ingin pergi menyabung ayam. Ia memakai songko" yang terlalu besar dan sarung yang panjang. Ketika ia berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan memakai pakaian rumah. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Ali menjadi gugup lalu jatuh di depan rumah itu. Ayamnya terlepas, songko"nya jatuh, dan bajunya menjadi kotor.
Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia berkata kepada ibunya, "Amma, inai anak tommuane yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya datang melihat ke bawah dan berkata agar anaknya tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak satu-satunya yang diperoleh orang tuanya setelah sekian lama memohon kepada Allah.
Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali bangun dan membersihkan bajunya yang kotor lalu memasang kembali songko"nya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di depan orang kampung.
Karena penasaran, Ali mengelilingi rumah itu. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah ponna rambunje yang tinggi. Ia pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat ia jatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba lagi memanjat, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana.
Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adikku, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menjawab. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan penuh keanggunan.
Mendengar itu, Sitti Nurraia menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan demikian. Kakak sendirilah yang mengatakan bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis."
Setelah itu Ali turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung naik ke tempat tidurnya, menutup kepala dan tubuhnya dengan selimut, dan berbaring tanpa bergerak. Ia sangat terpikat dan jatuh cinta kepada Sitti Nurraia hingga hatinya dipenuhi perasaan rindu yang mendalam.
"Cappu"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala terdapat sebuah kisah yang sering diceritakan oleh orang-orang tua tentang seorang pasangan suami istri yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai anak. Karena sangat menginginkan keturunan, mereka terus memohon kepada Allah SWT agar diberikan seorang anak. Dalam doa mereka, sang ayah bahkan telah bernazar bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, anak itu akan diberi nama Ali. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sang istri pun hamil. Kehamilan itu berlangsung hingga sembilan bulan, dan lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ali.
Ali tumbuh dengan baik hingga menjadi anak yang besar dan mulai bisa berbicara serta berjalan. Suatu hari ia meminta kepada ibunya agar dipeliharkan seekor anak ayam. Ibunya kemudian mengambilkan seekor ayam kecil jantan milik neneknya untuk dipelihara oleh Ali. Ayam itu dirawat dengan penuh kasih oleh Ali. Ia bahkan memandikan ayamnya setiap pagi dan sore hari. Seiring berjalannya waktu, Ali tumbuh menjadi seorang pemuda yang sudah pandai memakai topi, baju, dan sarung.
Suatu hari Ali membawa ayamnya berjalan-jalan sambil menggendongnya. Ia berniat pergi untuk menyabung ayam. Ia mengenakan topi yang terlalu besar serta sarung yang panjang hingga hampir menutupi lengannya. Saat berjalan melewati sebuah rumah, ia melihat seorang perempuan cantik bernama Sitti Nurraia yang sedang berdiri di jendela dengan rambut terurai dan mengenakan pakaian rumah. Ketika Ali menoleh ke arah atas, pandangan mereka pun saling bertemu. Karena gugup dan terpesona melihat kecantikan Sitti Nurraia, Ali tiba-tiba terjatuh tepat di depan rumah perempuan itu. Ayamnya terlepas dari gendongannya, topinya jatuh, dan bajunya menjadi kotor.
Melihat kejadian itu, Sitti Nurraia yang dikenal sebagai gadis cantik di kampung tersebut memanggil ibunya dan berkata, "Ibu, siapa anak laki-laki yang jatuh di bawah rumah itu? Anak siapa dia"? Ibunya kemudian datang dan melihat Ali yang tergeletak di depan rumah. Sang ibu berkata kepada anaknya agar tidak terlalu memperhatikan Ali karena ia adalah anak yang sangat dimanja oleh orang tuanya, bahkan anak satu-satunya yang diperoleh setelah sekian lama memohon kepada Allah.
Tidak lama kemudian Sitti Nurraia masuk kembali ke dalam kamarnya. Sementara itu Ali yang sudah sadar dari jatuhnya segera berdiri. Ia membersihkan bajunya yang kotor dan memakai kembali topinya. Dalam hatinya ia berkata bahwa seorang perempuanlah yang membuatnya jatuh dan merasa malu di hadapan orang kampung.
Karena penasaran, Ali kemudian berkeliling di sekitar rumah tersebut. Di dekat kamar Sitti Nurraia ia melihat sebuah pohon rambunje yang tinggi. Ali pun mencoba memanjat pohon itu. Namun ketika baru setengah memanjat, ia terjatuh dan dadanya terluka serta bajunya robek. Ia mencoba memanjat lagi, tetapi kembali jatuh. Setelah tiga kali mencoba dengan susah payah, akhirnya ia berhasil naik hingga ke ranting pohon rambunje dan duduk di sana.
Dari atas pohon itu Ali memanggil Sitti Nurraia dan berkata, "Adik, lihatlah ke sini. Biar semua tawamu kugenggam dan kubawa pulang ke rumah ibuku." Namun Sitti Nurraia tidak menanggapi perkataannya. Ali kembali berkata bahwa perempuan itu pantas berbaring di kasur tujuh lapis dengan tubuh setengah tenggelam, berbicara dengan lembut dan penuh keanggunan.
Mendengar perkataan itu, Sitti Nurraia akhirnya menjawab, "Kakak, saya tidak pernah mengatakan seperti itu. Kakak sendirilah yang berkata bahwa saya pantas berbaring di kasur tujuh lapis."
Setelah itu Ali pun turun dari pohon rambunje dan pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia langsung melompat ke tempat tidurnya. Ia menutup kepalanya dengan selimut dan berbaring tanpa bergerak sedikit pun. Hatinya dipenuhi rasa cinta yang begitu besar kepada Sitti Nurraia hingga ia menjadi seperti orang yang sedang dilanda cinta yang mendalam.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Toraya/Satziarda