Desa Pussui, Kec. Luyo, Kab. Polewali Mandar
TRADISI MATTANANG (MENANAM)
23 June 2026
-3.366889, 119.104757
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Nah, diolo"mai caritana rada lucu. Tomawuweng di Mandar rajin tongan ma"jama, indangi diragukan masia"na. Tapi diolo"na, cara-carana ma"jama andang dipikir panjang kanggo perkembangan selanjutnya. Najama-jama ri uma biasa pahe anna bille. Kopi, kaoce (kemiri), langsat, anna sajabana andangga marakke" diolo"; pokokna pahe anna bille anu utama.
Pahe iyamo pokokna tura"-tura"na, siola bille, bue, anna sayur-sayuran biasa. Mua mane mattipo" mattura", biasanna dipauangngi sandona (dukun) supaya mapia hasilna, mau pahe mau bille. Mua mimbuha"mi pahena, diang to dipauangngi"dipande dolo"anna napasediangi andena.
Andena mapia tongan: diang tallo, bau-baunna mapia, sayur-sayuran, pokokna enak. Apa mua mapia andena, mapia tomi paissingna pahena. Mua pahena mahae"mi (mulai berisi), nadokkangmi; mua billena massappi", nabassei anna naikat.
Tappana dipanen, billena nabulle lao kappung anna nalollangi dolo (dijemur). Andang diang dipauangngi "mawe"i" apa masannangmi tau mua maissi pahena siola billena. Pahe mua mahihi"mi, tandana mala nadokkang. Biasanna tau mapparappung lao padokkang, apa panenna sabattang allo.
Buana pahena nalappohangmi, natuyu", napunguh. Tappana puha nadokkang, nalloi dolo, mua purami nalloi anna malambu", mala mattandai allo maacara. Maacarana disanga peca" bahu"acara namaande beras baru.
Dipasediangi barras, pahepulu" (beras ketan) untuk massokkol, siola manu" sitatallu manu" londong. Apa di uma diang tongan manu", pahena, anna billena. Jari ummande siola maacara ri kappung.
Hasilna lewa tongan, biasa lambi" tallu lumbung Kaiyyang. Tapi lucunna to diolo", mua puha panen, diomi dolo ummande mappinyamang-nyamangngi hasilna. Mua mahae"mi stok, barumi mellamba mappimalai pangumaang baru.
Iyamo tu"u tradisi to diolo" ri Mandar"dipauangngi pattiriolong. Indangi mala tan dipogau, apa iyamo asal-usulna ri adat pertanian.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala, ada kebiasaan yang terasa lucu jika diceritakan kembali. Orang-orang tua di Mandar sangat rajin bekerja dan tidak diragukan lagi semangat kerjanya. Namun, pada masa itu mereka belum terlalu memikirkan perencanaan untuk perkembangan jangka panjang. Mereka bekerja di kebun dengan menanam padi dan jagung sebagai tanaman utama. Tanaman seperti kopi, kemiri, dan langsat belum banyak dibudidayakan. Fokus utama mereka hanyalah padi dan jagung.
Padi merupakan tanaman pokok, disusul jagung, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran. Ketika mulai menanam, biasanya mereka memanggil dukun atau sandro untuk mendoakan agar hasil panen baik, baik untuk padi maupun jagung. Ketika padi mulai berbuah atau berisi, mereka mengadakan ritual "memberi makan" padi terlebih dahulu.
Makanan yang disiapkan sangat lezat, seperti telur, ikan, dan sayur-sayuran. Mereka percaya bahwa jika makanan yang dipersembahkan baik, maka isi padi juga akan baik dan bernas. Setelah padi mulai menguning dan siap panen, padi dipotong (disabit), sedangkan jagung diikat dan dikumpulkan.
Jagung yang telah dipanen biasanya dijemur terlebih dahulu sebelum dibawa ke kampung. Tidak ada rasa lelah, karena mereka merasa sangat bahagia melihat hasil panen yang melimpah. Ketika padi menguning, itu menjadi tanda bahwa padi siap dipanen. Biasanya panen dilakukan bersama-sama oleh banyak orang karena masa panennya bersamaan.
Setelah dipanen, padi diikat, dikeringkan, lalu ditumbuk. Jika hasilnya sudah banyak dan terkumpul, mereka menentukan hari baik untuk mengadakan acara makan bersama sebagai wujud syukur atas hasil panen baru. Acara itu dikenal sebagai makan "peca" bahu" atau syukuran beras baru.
Mereka menyiapkan beras, beras ketan untuk dibuat sokkol, serta tiga ekor ayam jantan untuk disembelih. Karena hasil panen melimpah, kadang-kadang mencapai tiga lumbung besar, mereka mengadakan makan bersama di kampung.
Menariknya, setelah panen, orang-orang dahulu biasanya menetap di kampung untuk menikmati hasil panen tersebut. Jika persediaan mulai berkurang, barulah mereka kembali membuka lahan baru untuk bercocok tanam.
Itulah tradisi bertani orang Mandar dahulu, sebuah kebiasaan turun-temurun yang menjadi bagian dari adat dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja karena merupakan warisan leluhur.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Abdullah/Nur Alisa
Pahe iyamo pokokna tura"-tura"na, siola bille, bue, anna sayur-sayuran biasa. Mua mane mattipo" mattura", biasanna dipauangngi sandona (dukun) supaya mapia hasilna, mau pahe mau bille. Mua mimbuha"mi pahena, diang to dipauangngi"dipande dolo"anna napasediangi andena.
Andena mapia tongan: diang tallo, bau-baunna mapia, sayur-sayuran, pokokna enak. Apa mua mapia andena, mapia tomi paissingna pahena. Mua pahena mahae"mi (mulai berisi), nadokkangmi; mua billena massappi", nabassei anna naikat.
Tappana dipanen, billena nabulle lao kappung anna nalollangi dolo (dijemur). Andang diang dipauangngi "mawe"i" apa masannangmi tau mua maissi pahena siola billena. Pahe mua mahihi"mi, tandana mala nadokkang. Biasanna tau mapparappung lao padokkang, apa panenna sabattang allo.
Buana pahena nalappohangmi, natuyu", napunguh. Tappana puha nadokkang, nalloi dolo, mua purami nalloi anna malambu", mala mattandai allo maacara. Maacarana disanga peca" bahu"acara namaande beras baru.
Dipasediangi barras, pahepulu" (beras ketan) untuk massokkol, siola manu" sitatallu manu" londong. Apa di uma diang tongan manu", pahena, anna billena. Jari ummande siola maacara ri kappung.
Hasilna lewa tongan, biasa lambi" tallu lumbung Kaiyyang. Tapi lucunna to diolo", mua puha panen, diomi dolo ummande mappinyamang-nyamangngi hasilna. Mua mahae"mi stok, barumi mellamba mappimalai pangumaang baru.
Iyamo tu"u tradisi to diolo" ri Mandar"dipauangngi pattiriolong. Indangi mala tan dipogau, apa iyamo asal-usulna ri adat pertanian.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala, ada kebiasaan yang terasa lucu jika diceritakan kembali. Orang-orang tua di Mandar sangat rajin bekerja dan tidak diragukan lagi semangat kerjanya. Namun, pada masa itu mereka belum terlalu memikirkan perencanaan untuk perkembangan jangka panjang. Mereka bekerja di kebun dengan menanam padi dan jagung sebagai tanaman utama. Tanaman seperti kopi, kemiri, dan langsat belum banyak dibudidayakan. Fokus utama mereka hanyalah padi dan jagung.
Padi merupakan tanaman pokok, disusul jagung, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran. Ketika mulai menanam, biasanya mereka memanggil dukun atau sandro untuk mendoakan agar hasil panen baik, baik untuk padi maupun jagung. Ketika padi mulai berbuah atau berisi, mereka mengadakan ritual "memberi makan" padi terlebih dahulu.
Makanan yang disiapkan sangat lezat, seperti telur, ikan, dan sayur-sayuran. Mereka percaya bahwa jika makanan yang dipersembahkan baik, maka isi padi juga akan baik dan bernas. Setelah padi mulai menguning dan siap panen, padi dipotong (disabit), sedangkan jagung diikat dan dikumpulkan.
Jagung yang telah dipanen biasanya dijemur terlebih dahulu sebelum dibawa ke kampung. Tidak ada rasa lelah, karena mereka merasa sangat bahagia melihat hasil panen yang melimpah. Ketika padi menguning, itu menjadi tanda bahwa padi siap dipanen. Biasanya panen dilakukan bersama-sama oleh banyak orang karena masa panennya bersamaan.
Setelah dipanen, padi diikat, dikeringkan, lalu ditumbuk. Jika hasilnya sudah banyak dan terkumpul, mereka menentukan hari baik untuk mengadakan acara makan bersama sebagai wujud syukur atas hasil panen baru. Acara itu dikenal sebagai makan "peca" bahu" atau syukuran beras baru.
Mereka menyiapkan beras, beras ketan untuk dibuat sokkol, serta tiga ekor ayam jantan untuk disembelih. Karena hasil panen melimpah, kadang-kadang mencapai tiga lumbung besar, mereka mengadakan makan bersama di kampung.
Menariknya, setelah panen, orang-orang dahulu biasanya menetap di kampung untuk menikmati hasil panen tersebut. Jika persediaan mulai berkurang, barulah mereka kembali membuka lahan baru untuk bercocok tanam.
Itulah tradisi bertani orang Mandar dahulu, sebuah kebiasaan turun-temurun yang menjadi bagian dari adat dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja karena merupakan warisan leluhur.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Abdullah/Nur Alisa