Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Kab. Polewali Mandar

PATTOLA BALA (PENOLAK BALA/BENCANA)

23 June 2026 -3.488675, 119.014249
PATTOLA BALA (PENOLAK BALA/BENCANA)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Di kesempatan di"e, melo ucaritangi tradisi di kampung kami, di Desa Lombong Timur, iyamo tradisi "Ma Tolaq Bala". Tolaq Bala artina meraurau lao di Puang Allah Ta"ala, moga-moga napakarambui kampung pole bala (marabahaya).
Biasanna, Tolaq Bala dipogau mua diang karewa-karewa tammacoa, misalna diang kabar mua na pole gempa, apa kemarau panjang sanna sementara masyarakat parallu uwai untuk panen apa bertani.
Mua diang tanda-tanda susah, to mauweng (tokoh masyarakat) di masigi si pau-pau, siembongi imang anna parewa masigi untuk maadakang Tolaq Bala. Biasanna dipilih bonginna ayuma, utamana bonginna Kammis (malam Jumat), sangana malam mulia.
Mua sepakat mi, masyarakat maelo mi lao di masigi. Iya ri"e, nawa-wawa kande-kande, utamana onde-onde, sebagai simbol. Pelaksanaan Tolaq Bala biasanna dipogau selama tallung bongi ayuma (tiga malam Jumat berturut-turut).
Onde-onde iyamo simbol. Misalna:
a. Mua mala" uran, onde-onde lippa" artina uwai (air);
b. Mua diang linor (gempa), onde-onde mala" jadi pallaga (penangkal) sangana ndangi goyang.
Selain simbol, kande-kande nawa-wawa lao di masigi iyamo tanda massulakka (bersedekah) anna massipa rupa tau (berbagi kepada sesama). Tau ma uweng yakin mua massulakka tau, insya Allah napakarambui bala Puang Allah Ta"ala.
Di bonginna ayuma, doa na dibaca iyamo Barasanji, dibaca di masigi secara bersama-sama.
Iyamo tu carita tentang tradisi Ma Tolaq Bala di kampung kami. Moga-moga diang manfaatna anna mala toi tia dipogau di kampung-kampung laing.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Kisah ini menceritakan salah satu tradisi masyarakat Mandar yang ada di sebuah Desa Lombong Timur, yaitu tradisi "Tolak Bala." Tolak Bala berarti memohon doa kepada Allah Swt. agar kampung dijauhkan dari segala marabahaya.

Biasanya, tradisi ini dilaksanakan apabila masyarakat mendengar kabar-kabar yang kurang baik atau tanda-tanda akan datangnya musibah. Misalnya, adanya prediksi gempa bumi atau kemarau panjang yang dapat menyulitkan masyarakat, terutama yang membutuhkan air untuk bertani.
Para tokoh masyarakat dan pengurus masjid akan bermusyawarah bersama imam untuk menentukan waktu pelaksanaan. Biasanya dipilih pada malam Jumat karena dianggap sebagai malam yang mulia.
Apabila telah disepakati, masyarakat akan berkumpul di masjid. Mereka membawa makanan, khususnya onde-onde, sebagai simbol. Pelaksanaan Tolak Bala biasanya dilakukan selama tiga malam Jumat berturut-turut.
Onde-onde yang dibawa memiliki makna simbolis. Misalnya:
a. Jika yang dikhawatirkan adalah kekeringan, onde-onde yang berisi air melambangkan harapan akan turunnya hujan;
b. Jika yang dikhawatirkan adalah gempa bumi, onde-onde melambangkan harapan agar bumi tetap kokoh dan tidak berguncang.
Selain itu, makanan yang dibawa juga menjadi bentuk sedekah dan kebersamaan antarwarga. Masyarakat meyakini bahwa dengan bersedekah dan berdoa bersama, Allah Swt. akan menjauhkan mereka dari marabahaya.
Doa yang dibaca dalam pelaksanaan Tolak Bala biasanya adalah pembacaan Barzanji yang dilaksanakan di masjid secara bersama-sama.
Demikianlah cerita tentang tradisi Tolak Bala di Desa Lombong Timur. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.
"Selesai!"

Anonim

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Kab. Polewali Mandar