Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Kab. Polewali Mandar

ASAL-USUL ANJORO (KELAPA)

23 June 2026 -3.487445, 119.030315
ASAL-USUL ANJORO (KELAPA)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diolo mai, di mesa engean di birinna sasi yang sepi anna jauh dari karamaian, tuei masyarakat yang indang maidi maissang tentang tumbuh-tumbuhan seperti tau di zaman di"e. Alam iyamo oroatta yang panno tanda, sara", anna cerita yang diwariskang dari nganga ke nganga. Mesa cerita yang sering napauangi para tomauweng iyamo kisah tentang asal-usulna anjoro.
Di masa diolo mai, masyarakat indang maissang isanga "anjoro" (kelapa). Iyya tia naissang bahwa di birinna sasi, di beberapa engean, muncul tura-tura aneh yang sebelumnya indang diang. Pittiponna, tau maita bayang-bayangan seolah-olah muncul dari ilalang ilita. Bayangan iyya ri"o perlahan-lahan tue dai. Allo demi allo semakin jelas, hingga akhirnya muncul tunas yang tue mealinggau (menjulang) ke atas.
Sebagian tau naharai bahwa iyya ri"o peristiwa kebetulan dari alam. Namun, sebagian tau percayai bahwa iyya ri"o kejadiango diang maknana yang mendalam. Napercayai bahwa tumbuhan iyya ri"o asalna dari peristiwa Kaiyyang diolo mai. Konon, di engean iyya ri"o ruai dikubur tau yang sangat mulia. Diang kepercayaan bahwa ulunna tau iyya ri"o disimbolkan sebagai "ulunna Nabi" menjadi asalna ponna ayu iyya ri"o.
Dari kata "ulu" (kepala) kemudian muncul isanga yang menyerupai kata "anjoro", meskipun pada masa iyya ri"o masyarakat indang maissang jelas sanganna.
Seiring waktu, tumbuhan iyya ri"o semakin maidi di biring-biring sasi. Buana berserakan, nabawai arusna laut, anna tue dai pole di engean laing. Ponna ayu iyya ri"o makasau sannal, malai bertahan di kassi anna di wai masing (air asin). Namun masyarakat indang maissang sanganna anna apa guna na. Iyya ri"o naangga"i sebagai misteri alam yang diwariskang oleh tomauwwetta diolo mai.
Hingga di mesa allo, pole mesa tau dari tana Jawa maake perahu. Na singgah di birinna sasi, na maita buana berserakan anna ponna ayu mealinggau yang indang diurus. Na mamanya:
" "Apa sanganna di"e bassai? Mengapa dibiarkan begitu saja"?
Masyarakat mambali mamanya:
" "Apa sebenarnya benda di"e"?
Tau Jawa iyya ri"o mesenyum anna nawalangi:
" "Di tana kami, iyya ri"e disanga anjoro (kelapa)."
Sejak iyya ri"o, masyarakat mulai maissang sanganna anjoro. Mulai toi napahami bahwa tumbuhan iyya ri"o maidi palakana guna na: wainna malai dirundu, issinna malai diande, anna batanna siola daunna malai dipake untuk kebutuhanta tue.
Iyamo tu asal-usulna anjoro. Cerita iyya ri"o tetap tue, tania sangga kisah tentang tumbuhan, tetapi mala toi sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, anna kepercayaan para tomauwwetta.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada masa lampau, di sebuah wilayah pesisir yang sunyi dan jauh dari keramaian, hiduplah masyarakat yang belum banyak mengenal tumbuh-tumbuhan sebagaimana yang dikenal manusia pada masa kini. Alam menjadi ruang yang penuh tanda, isyarat, dan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Salah satu kisah yang paling sering diceritakan oleh para tetua adalah tentang asal-usul kelapa.
Pada masa itu, masyarakat belum mengenal kata "kelapa". Mereka hanya mengetahui bahwa di tepi laut, pada beberapa tempat tertentu, muncul tumbuhan aneh yang sebelumnya tidak pernah ada. Awalnya, mereka melihat bayang-bayang yang seolah-olah muncul dari dalam tanah. Bayangan itu tampak seperti sesuatu yang perlahan naik ke permukaan. Hari demi hari, bayangan tersebut semakin jelas, hingga akhirnya muncullah tunas yang tumbuh menjulang ke atas.
Sebagian orang menganggap peristiwa itu sebagai kebetulan alam. Namun, sebagian lainnya percaya bahwa kejadian tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Mereka meyakini bahwa tumbuhan itu berasal dari suatu peristiwa besar yang terjadi pada masa lalu. Konon, di tempat itu pernah dimakamkan seseorang yang sangat mulia. Ada pula kepercayaan bahwa kepala orang tersebut, yang disimbolkan sebagai "kepala Nabi", menjadi asal mula tumbuhnya pohon itu.
Dari kata "kepala" inilah kemudian muncul penyebutan yang menyerupai kata "kelapa", meskipun pada masa itu masyarakat belum sepenuhnya memahami maknanya.
Seiring berjalannya waktu, tumbuhan tersebut semakin banyak ditemukan di sepanjang pesisir. Buahnya berserakan, terbawa arus laut, lalu tumbuh kembali di tempat-tempat lain. Pohon itu tampak kuat, mampu bertahan hidup di pasir dan air asin. Namun, masyarakat setempat belum mengetahui nama maupun kegunaannya. Mereka hanya menganggapnya sebagai bagian dari misteri alam yang diwariskan oleh para leluhur.
Hingga pada suatu hari, datanglah seorang pendatang dari tanah Jawa dengan menggunakan perahu. Ia singgah di pesisir tersebut dan melihat banyak buah berserakan serta pohon-pohon tinggi yang tampak tidak terurus. Dengan rasa heran, ia bertanya kepada penduduk setempat,
"Mengapa buah-buah ini dibiarkan begitu saja"?
Penduduk setempat pun balik bertanya,
"Apakah sebenarnya benda ini"?
Orang Jawa itu tersenyum dan menjawab dengan tenang,
"Di tempat kami, ini disebut kelapa."
Sejak saat itulah masyarakat mulai mengenal nama kelapa. Mereka juga mulai memahami bahwa tumbuhan tersebut memiliki banyak manfaat: airnya dapat diminum, dagingnya dapat dimakan, dan batang serta daunnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan hidup.
Cerita tentang asal-usul kelapa pun tetap hidup hingga kini, bukan hanya sebagai kisah tentang tumbuhan, tetapi juga sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan kepercayaan para leluhur.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Hamma Saleh/Rahma

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Kab. Polewali Mandar