Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 39 cerita rakyat terarsip di sistem.
PULLADO DAN PUCCECANG
Di sebuah kampung antah berantah, hiduplah dua orang sahabat dengan watak yang bertolak belakang. Yang pertama bernama Pullado. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, bicaranya manis, namun sayangnya ia malas dan selalu mencari jalan pintas yang licik. Yang kedua bernama Puccecang. Ia adalah sosok yang sederhana, jujur, namun sering kali terlalu polos hingga mudah dimanfaatkan. Perjalanan Mencari Untung Suatu hari, di tengah musim pancaroba yang sulit, Pullado mengajak Puccecang mengembara. "Puccecang, ayo kita pergi berkelana. Di kampung ini rezeki sedang seret. Siapa tahu di kampung sebelah ada orang dermawan yang mau memberi kita emas atau makanan," ajak Pullado dengan penuh semangat. Berangkatlah mereka berdua. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sepanjang perjalanan, setiap pintu rumah yang mereka ketuk tertutup rapat. Penduduk desa yang mereka lewati ternyata sangat kikir. Tak ada seteguk air atau sesuap nasi pun yang diberikan kepada mereka. "Huh! Dasar orang-orang pelit!" gerutu Pullado sambil mengusap keringatnya. "Padahal aku sudah memasang wajah memelas. Kita benar-benar tidak beruntung hari ini." "Sabarlah, Pullado. Mungkin memang belum rezeki kita," hibur Puccecang. Bibit Pisang Sengketa Di tengah keputusasaan, mata jeli Pullado menangkap sesuatu di pinggir jalan. Ada seorang petani kikir yang sedang membuang satu bibit pohon pisang kecil. Petani itu hanya memberikan satu bibit itu saja, lalu pergi begitu saja. Pullado dan Puccecang memungut bibit itu. Masalah muncul karena bibit itu hanya satu, sedangkan mereka berdua yang menemukannya. "Ini milikku," kata Pullado. "Tapi aku yang menggendongnya tadi," sahut Puccecang. Karena tak ada yang mau mengalah, Pullado yang licik mendapatkan ide "brilian". "Begini saja, sobatku. Agar adil, kita potong saja bibit ini jadi dua! Kita bagi rata," usul Pullado. Puccecang yang polos mengangguk setuju. "Ide bagus. Tapi bagaimana membaginya?" Pullado tersenyum licik. Ia berpikir, bagian atas sudah ada daunnya, pasti lebih cepat berbuah. Bagian bawah cuma akar kotor dan batang keras, pasti butuh waktu lama. "Aku orang yang baik hati, Puccecang. Biarlah aku mengambil bagian atas (pucuk dan daunnya). Kau ambil saja bagian bawah (batang dan akarnya)," kata Pullado dengan percaya diri. Puccecang menerima bagian akar itu dengan ikhlas. "Baiklah, terima kasih, Pullado." Hasil Kesabaran vs Jalan Pintas Sesampainya di rumah, mereka menanam bagian masing-masing. Pullado menanam potongan pucuk pisangnya yang berdaun hijau itu dengan bangga. "Lihatlah, punyaku sudah punya daun! Sebentar lagi pasti berbuah," sombongnya. Sementara Puccecang mencangkul tanah, menanam bonggol akar yang tampak mati itu, lalu menyiramnya setiap hari dengan tekun. Seminggu berlalu. Tanaman Pullado mulai terlihat menyedihkan. Daun-daun hijaunya menguning, layu, dan akhirnya kering kerontang. Karena tidak punya akar, pucuk itu mati membusuk. Sebaliknya, dari dalam tanah tempat Puccecang menanam, muncul tunas hijau kecil yang segar. Tunas itu tumbuh semakin tinggi, batangnya kokoh, dan daunnya lebar-lebar. Tiga bulan kemudian, pohon pisang Puccecang berdiri gagah dan mengeluarkan jantung pisang yang besar. Tak lama, buah pisang yang ranum dan kuning bergantungan menggoda selera. Pullado datang dengan wajah masam dan perut lapar. "Hei Puccecang! Kenapa hanya pohonmu yang berbuah? Pohonku mati semua!" protesnya. Puccecang menjawab santai, "Ya jelas, Pullado. Kamu memilih daun tanpa akar, mana bisa hidup? Aku memilih akar, sumber kehidupan." Tipu Muslihat di Atas Pohon Melihat pisang-pisang kuning yang ranum itu, air liur Pullado menetes. Otak liciknya kembali bekerja. "Wah, Puccecang, pisangmu sudah matang! Tapi sayang, kamu kan tidak pandai memanjat. Biar aku saja yang memanjatkan untukmu. Nanti kita bagi dua," tawar Pullado. Tanpa menunggu jawaban, Pullado langsung melesat naik ke atas pohon seperti kera. Sesampainya di atas, ia langsung memetik satu buah pisang, mengupasnya, dan hap! Masuk ke mulutnya. "Hmm... manis sekali!" seru Pullado. Puccecang mendongak dari bawah. "Pullado, jatuhkan pisangnya untukku!" "Tunggu sebentar, aku cicipi dulu yang ini, takutnya busuk," kilah Pullado. Ia makan lagi. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh buah pisang habis ia lahap sendiri. "Pullado! Mana bagianku?" teriak Puccecang yang mulai kesal. "Nih, tangkap!" Pullado melemparkan sesuatu ke bawah. Bukan buah pisang, melainkan kulit pisang yang sudah kosong. "Enak sekali kulitnya, Puccecang! Hahaha!" tawa Pullado meledak di atas pohon. Ia terus memakan pisang itu sampai perutnya buncit, tak menyisakan satu pun untuk sahabatnya. Balas Dendam Sang Sahabat Kesabaran Puccecang habis sudah. Ia melihat sekeliling dan melihat lubang-lubang kecil di tanah yang becek. Di sana ada banyak kelomang (umang-umang) dan kepiting sungai yang sedang mencari makan. Puccecang tersenyum tipis. Ia mengumpulkan hewan-hewan bercapit itu. "Wahai kelomang dan kepiting, naiklah ke atas pohon itu. Di atas sana ada daging empuk yang sedang kekenyangan," bisik Puccecang sambil menaruh hewan-hewan itu di batang pohon pisang. Hewan-hewan itu merayap naik perlahan-lahan. Pullado yang sedang kekenyangan dan hampir tertidur di dahan pisang tidak menyadari bahaya yang mendekat. Tiba-tiba... "ADUH! AMPUN!" Seekor kepiting besar menjepit pantat Pullado dengan keras. Kaget dan kesakitan, Pullado kehilangan keseimbangan. "GUBRAKK!" Pullado jatuh dari pohon pisang dan mendarat di tanah becek dengan bunyi gedebuk yang keras. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi bokongnya yang merah dicapit kepiting. Puccecang hanya tertawa melihat temannya itu lari terbirit-birit dikejar kelomang. Itulah akibat bagi orang yang cerdas tapi serakah dan suka menipu teman sendiri.
ANA' TOWIU
Alkisah, di sebuah desa yang jauh dari keramaian, hiduplah dua orang gadis bersaudara yang nasibnya malang. Mereka adalah anak yatim piatu, tanpa ayah dan ibu. Hidup sebatang kara membuat mereka sering merasa kesepian dan kesulitan. Suatu hari, sang Kakak memandang adiknya dengan iba dan berkata, "Adikku, kita tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini di sini. Ayo kita pergi ke hutan. Siapa tahu kita bisa menemukan gubuk kosong atau tempat berteduh yang lebih tenang." Sang Adik, yang selalu percaya pada kakaknya, mengangguk setuju. "Baik, Kak. Aku ikut kemana pun Kakak pergi." Gubuk Ajaib di Tengah Hutan Setelah berjalan cukup jauh menembus semak belukar, tibalah mereka di sebuah area terbuka di tengah hutan. Keajaiban menyambut mereka; berdiri sebuah gubuk kayu yang kokoh. Ketika mereka memberanikan diri masuk, mereka terkejut. Gubuk itu tidak kosong, melainkan lengkap dengan peralatan rumah tangga"ada panci, piring, gelas, dan perlengkapan lainnya, seolah-olah gubuk itu memang disediakan untuk mereka. "Kita tinggal di sini saja, Adik," kata sang Kakak dengan wajah berbinar. "Lihat, semua yang kita butuhkan sudah ada." Mereka pun mulai menata kehidupan baru. Sang Kakak melihat sepohon ubi kayu yang tumbuh subur di dekat gubuk. "Adik, bisakah kau turun ke sungai mengambil air? Kita akan merebus ubi ini." Awalnya sang Adik ragu, "Aku takut turun sendiri ke sungai, Kak. Hutannya sepi." "Kalau begitu, mari kita turun bersama," ajak sang Kakak dengan lembut. Mereka pun mencabut singkong itu, mengupasnya, dan mengambil air bersama. Di dalam gubuk, ubi itu direbus hingga empuk, lalu dihaluskan menjadi adonan yang lembut dan harum. Anjing Pembawa Pesan Saat aroma ubi rebus memenuhi ruangan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki hewan. Sang Adik mengintip ke kolong rumah. "Kakak, lihatlah! Ada seekor anjing yang sangat cantik di bawah sana. Bulunya bersih dan matanya bersinar," seru si Adik. Ia merasa iba melihat anjing itu. "Kak, ambilkan sekepal ubi hangat itu untuk hewan cantik ini." Sang Kakak menuruti permintaan adiknya. Ia memberikan sekepal ubi yang lezat itu kepada si anjing. Anehnya, anjing itu tidak langsung memakannya. Ia menggigit bungkusan ubi itu dan berlari kencang menembus hutan, membawa ubi itu ke sebuah istana megah. Rupanya, anjing itu adalah peliharaan kesayangan seorang Raja. Sang Raja mencicipi ubi yang dibawa anjingnya dan terkejut. "Mengapa ubi ini rasanya sangat manis dan enak? Tidak seperti masakan koki istana," gumam Raja. Rasa penasaran menyelimutinya. "Prajurit! Siapkan tiga orang pasukan. Kita akan mengikuti anjing ini. Aku ingin tahu siapa yang membuat ubi selezat ini." Pinangan Sang Raja Singkat cerita, Raja dan prajuritnya tiba di depan gubuk kecil itu. Namun, para prajurit ragu untuk masuk ke gubuk reot itu lebih dulu. "Masuklah," perintah Raja. "Ampun Baginda, kami tidak berani masuk jika Baginda tidak ikut. Jika Baginda masuk, barulah kami menyertai," jawab prajurit. Akhirnya Raja masuk dan memberi salam, "Assalamualaikum." Dari dalam, dua gadis itu menjawab gemetar, "Wa"alaikumsalam." Sang Kakak terkejut melihat tamunya. Raja itu langsung terpikat pada kecantikan dan kelembutan sang Kakak. Tanpa basa-basi, Raja menyampaikan niatnya untuk memboyong sang Kakak ke istana dan menjadikannya istri. "Saya merasa malu dan tak pantas, Baginda. Anda seorang Raja yang agung, sedangkan saya hanya gadis hutan," tolak sang Kakak halus, hatinya bimbang memikirkan adiknya. "Itu tidak masalah bagiku. Kekayaan dan status bisa diatur. Mari ikut aku sekarang," desak Raja. Tipu Muslihat dan Perpisahan Sebelum berangkat, sang Kakak mencoba mengulur waktu demi adiknya. "Adik, tolong turunlah ke sungai. Ambilkan air minum untuk disuguhkan kepada Raja." Raja sebenarnya menolak, "Tidak usah, aku tidak haus." Namun, ini adalah kesempatan bagi Raja untuk memisahkan mereka. Tanpa disadari sang Adik, gayung yang ia bawa ternyata bocor. Saat ia sampai di sungai dan mencoba menimba air, air itu selalu habis terbuang di jalan. Berkali-kali ia mencoba, namun gagal. Memanfaatkan momen itu, Raja segera membawa paksa sang Kakak pergi ke istana. Ketika sang Adik kembali ke gubuk dengan tangan hampa, ia mendapati rumahnya kosong. Tangisnya pecah. "Kakak! Kenapa kau meninggalkanku?!" teriaknya memilukan. Meski sedih, sang Adik bertekad menyusul. Ia mengikuti jejak rombongan Raja hingga tiba di gerbang istana. Namun, jalan masuk telah ditutup dengan pagar besi yang tinggi dan berlapis. Raja sengaja melakukannya agar si Adik tidak bisa masuk. Demi cintanya pada sang Kakak, si Adik nekat. Ia memanjat pagar besi itu, melukai tangan dan kakinya, hingga akhirnya ia berhasil melompat masuk ke halaman istana. Kekejaman di Istana Saat bertemu di dalam istana, sang Kakak terkejut bercampur haru. "Adik! Dengan siapa kau ke sini?" "Aku sendiri, Kak. Karena Kakak meninggalkanku," isak adiknya. Sang Kakak memeluknya. "Maafkan aku, Adik. Aku dipaksa, aku digendong paksa oleh Raja dan prajuritnya." Malam pun tiba. Sang Kakak mengajukan syarat kepada Raja. "Aku tidak mau tidur di kasur empuk jika Adikku tidur di lantai. Aku hanya mau menjadi istri Raja jika Adikku tidur bersamaku di kasur." Raja awalnya setuju, bahkan rela tidur di lantai. Namun, para prajurit dan dayang istana menghasut. "Tidak pantas, Baginda! Mengapa gadis kecil dekil itu di kasur, sedangkan Istri Raja tidak? Turunkan dia!" Sang Adik ditarik paksa dari kasur dan disuruh tidur di lantai dingin. Hatinya hancur. Ia merasa kehadirannya hanya menjadi beban dan bahan hinaan. "Kakak, aku tidak tahan. Aku akan pulang kembali ke gubuk kita," pamit sang Adik dengan air mata berlinang. Tanda Sayur dan Pelarian Saat sang Adik hendak keluar, pintu gerbang segera ditutup oleh Raja. Sang Adik memohon dari balik pagar. "Kakak, aku mau pulang. Tolong perlihatkan tanganmu sedikit saja, sebagai tanda perpisahan." Namun, dari balik celah pintu, yang diperlihatkan bukanlah tangan kakaknya, melainkan kaki seekor kucing. "Itu bukan tangan Kakakku! Itu kaki kucing!" teriak Adik. "Kalau begitu perlihatkan wajah Kakak sedikit saja." Lagi-lagi, yang muncul di celah jendela adalah wajah seekor kucing. "Itu bukan wajah Kakakku!" Sang Adik mengerti, Raja dan prajuritnya sedang mempermainkannya agar ia pergi. Sebelum melangkah pergi dengan hati hancur, sang Adik mencabut sebatang pohon sayur dan menanamnya tepat di depan gerbang istana. Ia berteriak, "Kakak! Lihatlah tanaman ini. Jika sayur ini layu, tandanya aku sedang sakit keras. Jika sayur ini gugur dan mati, itu tandanya aku sudah meninggal dunia!" Setelah mengucapkan sumpah itu, sang Adik berlari pulang ke hutan. Penyesalan dan Pelarian Sang Kakak Hari berganti hari. Di istana, sang Kakak selalu gelisah memandangi tanaman sayur itu. Hingga suatu hari, tanaman itu tampak layu dan hampir mati. "Adikku sakit!" batin sang Kakak menjerit. Ia tak peduli lagi dengan kemewahan istana. Ia mencari alasan untuk keluar. "Prajurit, aku ingin mandi di sungai," katanya. Para prajurit mengikutinya. Sesampainya di sungai yang deras, sang Kakak berkata, "Ayo kita berlomba berenang sampai ke ujung sungai." Prajurit yang lengah menuruti ajakan itu. Mereka berhitung, "Satu... dua... tiga!" Saat para prajurit sibuk berenang, sang Kakak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri ke arah hutan, menjauh dari istana. Di tengah pelariannya, ia merasa lapar dan putus asa. Ia berdoa, "Ya Tuhan, berikanlah hamba sedikit beras, dan tolong pertemukan hamba dengan adik hamba dalam keadaan masih bernyawa." Tuhan mendengar doa tulus seorang kakak. Secara ajaib, ia menemukan tumpukan beras di jalannya. Akhir yang Bahagia dalam Kesederhanaan Sesampainya di gubuk lama mereka, ia mendapati adiknya terbaring lemah, kurus, dan sakit parah. Tanpa membuang waktu, sang Kakak memasak beras yang ia temukan menjadi bubur halus. Dengan penuh kasih sayang, ia menyuapi adiknya dan mengoleskan sisa bubur yang hangat ke seluruh tubuh adiknya sebagai obat penurun panas. Perlahan, tenaga sang Adik kembali pulih. Tak lama kemudian, terdengar derap langkah prajurit Raja yang datang menyusul. Mereka membujuk sang Kakak untuk kembali ke istana. Namun, kali ini sang Kakak berdiri tegak di depan pintu gubuknya. Dengan tatapan tajam dan penuh keberanian, ia berkata: "Sampaikan pada Raja, aku tidak akan pernah kembali ke istana. Hartanya tidak ada artinya jika ia memisahkan dan menyakiti satu-satunya keluargaku. Aku lebih memilih hidup miskin di gubuk ini bersama adikku daripada menjadi Ratu di istana yang dingin tanpa hati." Prajurit itu pun pergi dengan tangan hampa. Kedua saudara itu akhirnya hidup damai berdua di hutan, saling menjaga dan tak terpisahkan lagi selamanya.
TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)
Alkisah, tersebutlah seorang lelaki tua bernama Kapader. Ia tinggal denganibu Pader, istrinya yang bekerja sebagai penenun. Sementara suaminya itu, bekerja sebagai tukang kebun. Suatu hari, bapak Pader hendak berangkat ke kebun. Ia berpesan pada istrinya untuk tidak memberikan ekor tikus yang disimpannya kepada anaknya. Biar bagaimanapun menangisnya, biar darah jadi air mata, tidak juga boleh diberikan. Ibu Pader lalu mengiyakan pesan itu. Tetapi apa yang terjadi kemudian, rupanya si anak melihat sesuatu yang telah disimpan bapaknya. "Apa itu di atas, bu"? "Itu titipan bapak, nak. Jangan kamu ambil yah" Anak itu menangis keras. Ibu yang merasa iba terhadap anaknya itu, akhirnya memberikan ekor tikus itu pada anaknya. "Daripada anakku menangis, mau tidak mau aku harus memberikannya" tutur sang ibu sambil menenangkan anaknya. Beberapa saat kemudian, datanglah si bapak dan melirik ke atas, tempat ia menyimpan ekor tikus yang dititipkannya. Tetapi wajahnya tiba-tiba berubah. "Siapa yang mengambil ekor tikus ini"? "Yah, aku sudah terlanjur memberikannya ke anak kita, karena ia menangis keras, pak. Ia tidak berhenti menangis. Darah jadi air mata" "Kan sudah kubilang. Jangan diberi. Kenapa diberi? Sudah kubilang tapi kamu tak patuh" Karena begitu geram, sang ibu yang sementara menenun saat suaminya datang, ditebas kepalanya oleh si bapak dengan kayu tenun yang ditariknya. Pada saat itulah kepala ibu terbelah. Ia lalu berlari. Separuh ke laut, separuh lagi ke langit. Sementara itu, tinggallah anaknya yang meratap seorang diri, sambil memandang adiknya yang masih butuh disusui. "Apa yang harus kulakukan? adikku menangis. Tidak ada yang bias menyusuinya", batin si anak. Maka bergegaslah ia ke laut, menggendong adiknya, di sana ia meangis sambil berharap akan kedatangan ibunya. "Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Tak jauh dari pandangannya, ibunya datang dan menyusur ke daratan. Ia menyusui anaknya. Esoknya, ia ke pinggir laut lagi dan bernyanyi di sana. "Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Maka datanglah lagi ibunya, dan disusuilah lagi. Setelah itu ia kembali pulang menggendong adiknya. Sampai esok tiba, ia ke pinggir laut lagi dan bernyanyi di sana. "Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Maka datanglah lagi ibunya untuk menyusui. Tetapi wajahnya memelas dan bersedih. Sambil mengusap kepala anaknya ia berkata : "Tinggal sekali lagi kamu bisa datang ke sini yah, nak! Saya sudah akan menjadi duyung sungguhan. Jadi kamu tak bisa ke sini lagi" Anak-anaknya mengiyakan itu dan esoknya mereka kembali lagi dan bernyanyi di sana. "Oh ibu yang menjadi duyung, susuilah adikku. Saya tak kuat menahan tangisnya, tangis siang dan malam" Sang ibu pun datang lagi menyusui untuk terakhir kalinya. Tubuhnya sudah dipenihi banyak sisik seperti ekor ikan. Ia kembali mengingatkan anak-anaknya. "Tidak perlu datang lagi yah, nak. Ibu sudah menjadi duyung sungguhan" "Apa yang akan saya lakukan ibu"? si sulung bertanya dengan wajah yang bersedih. "Susurilah tepi sungai, nak. Carilah tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Kalau ada yang kamu temukan, pukulkanlah ke batu lalu peras pelan-pelan ke mulut adikmu. Karena siapa lagi"? Jelas sang ibu dengan mata menangis. Hari esok pun tiba. Kedua anak itu berangkat ke sungai dan menyusuri tepinya sambil bernyanyi. "Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Tiba-tiba ia melihat tulang tebu yang hanyut. Dengan gegas memungutnya dan memerasnya ke mulut adiknya yang kehausan. Hanya itulah yang selalu dilakukannya. Ia kemudian kembali menyusuri sungai. "Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Ia kemudian melihat lagi tulang tebu yang hanyut. Dipukulkan ke batu dan diperas ke mulut adiknya. Ia terus berjalan dan setiap menemukan tulang tebu yang hanyut, ia melakukan hal yang sama pada adiknya. "Kususurilah tepi sungai untuk mencari tulang tebu. Tulang tebu milik nenek. Si nenek pemakan hati" Ditemukanlah lagi tulang tebu yang hanyut di hadapannya dan seperti biasa, ia memukulkan ke batu dan memeras airnya ke mulut adiknya. Setelah itu ia berjalan dan terus berjalan hingga tak terduga, kedua anak itu melihat sebuah rumah dan si nenek, pemilik rumah itu memanaggil mereka. "Hei, cepat ke sini cucuku. Sudah lama saya tunggu" si nenek menyapa mereka sambil mempersilahkannya menaiki tangga rumah. Keuda anak itu akhirnya tinggal dan diasuh oleh si nenek di sana. Mereka diberi makan setiap hari. Tanpa mereka sadari jika itu untuk hatinya agar tumbuh besar dan bisa dimakannya. Hari esok pun tiba. Si nenek tiba-tiba bertanya. "Bagaimana hatimu cucuku"? tanya si nenek dengan sangat penasaran Anak itu terbelalak ketika si nenek bertanya. Ia kemudian seperlunya menjawab. "Hati saya masih seperti jeruk kecil, nek" "Kalau adikmu"? tanya si nenek lagi "Adikku juga masih sama, nek. Masih sangat kecil" Di sana, di atas rumah panggung, tempat tinggal anak-anak malang itu. Pertanyaan-pertanyaan tentang hati terus diulang oleh si nenek kepadanya. Hingga pada suatu hari, ketika si anak sudah semakin tumbuh dan nyaris jadi remaja. Si nenek mengulang pertanyaan. "Bagaimana hatimu, cucuku"? si nenek bertanya dengan wajah yang penuh harapan. "Hati saya sudah agak besar, nek. Seperti jeruk nipis. Kalau adikku sudah seperti kemiri" si anak menjawab itu dengan lugas. Setelah mengetahui kabar tentang hati anak-anak itu, si nenek pun mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari mengiris-ngiris serei dan lengkuas untuk pengharum bumbu nantinya. Ia menyuruh anak itu menjemurnya di teras rumah. "Jemur ini yah, cucuku. Ini untuk pengharum bumbu. Saya mau ke sungai dulu" ujar si nenek sambil berlalu. Ia membawa pisau yang hendak diasahnya. Konon, pisau itulah yang selalu dipakainya untuk membelah tubuh anak-anak, mengambil hati, dan memakannya" Anak itu pun menjaga jemuran pengharum bumbu milik si nenek di teras rumah. Sampai beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul burung kalowaya yang berdiri di hadapannya, hendak memakan apa yang dijemurnya. Si anak kepanikan. "Hus pergi kau burung. Jangan makan pengharum bumbu nenekku" Burung kalowaya itu pun tertawa sambil mengatakan sesuatu pada si anak. "Tahukah kamu, kalau kamu yang akan diberi bumbu pengharum. Hatimu yang akan dibumbui" "Hah, bagaimana bisa"? si anak kaget dan merasa tak percaya. "Nenekmu sudah turun ke sungai, mengasah pisaunya untuk membelah hatimu. Kalian akan dimakan nanti" ujar burung kalowaya dengan sangat serius. Mendengar berita itu, si anak jadi menangis. Ia bertanya pada burung kalowaya, apa yang harus dilakukannya kalau memang demikian. Ia tak menduga jika si nenek ternyata punya rencana jahat padanya. Tetapi untunglah, burung itu memberinya saran. "Begini saja, cari tujuh ekor tungau. Lalu letakkan masing-masing di tempat yang berbeda. Tarulah satu di pintu, satu di ruang tamu, satu di dalam kamar, satu di dapur, satu di bawah dapur, satu di rengkiang, satu di bubungan" Anak itu kemudian melaksanakan saran yang dari burung kalowaya. Ia kemudian membawa adiknya dan bersembunyi di tempat yang akan susah dijangkau oleh si nenek. Tak lama berselang, suara nenek sudah terdengar dari luar sambil memanggil-manggil. "Cucuku, kamu di mana"? Pertanyaan itu terlontar dari si nenek. Tetapi tungau lah yang menjawabnya. "Saya di sini nek. Di pintu" jawab tungau. Si nenek lalu ke pintu mencarinya tapi tak ada siapa-siapa. "Cucuku, kamu di mana"? si nenek bertanya lagi "Saya di sini nek, di ruang tamu" jawab tungau Si nenek masuk lagi ke ruang tamu tetapi tak melihat siapa-siapa. "Cucuku, kamu di mana"? tanya si nenek lagi "Saya di sini. Di kamar, nek" jawab tungau Si nenek bergegas lagi ke kamar tapi tidak juga ada mereka di sana. Ia lalu memanggil lagi. "Cucu, cucu kamu di mana sebenarnya"? "Saya di sini, di dapur, nek" jawab tungau Si nenek masuk lagi ke dalam dapur tetapi juga sia-sia. Ia terus memanggil manggil dan mempertanyakan keberadaannya. "Cucuku, kamu di mana"? tanya si nenek sudah dalam kewalahan, "Saya di sini nek, di rengkiang", jawab tungau lagi. Si nenek melihat ke rengkiang tapi juga tidak ada apa-apa. Ia lalu menuruni tangga sambil terus memanggil-manggil. Maka dilihatlah anak-anak itu sedang berada di puncak rumah. Melihat itu, si nenek semakin geram. "Awas yah, saya akan ke sana dan makan hatimu. Kamu membuat saya kecapaian seharian mencarimu" ujar si nenek sambil memperhatikan anak itu. Sudah dari tadi anak-anak itu berada di atas bubungan rumah. Ia sudah mempersiapkan linggis, pisau, dan sabit untuk dijatuhkannya nanti jika nenek akan menyusulnya. Si nenek pun mulai bergegas memanjat ke atas bubungan rumah. Tetapi baru beberapa langka, anak itu menjatuhkan pisau meski sayang itu salah sasaran. Si nenek lalu meneruskan lagi untuk bisa sampai padanya. Tetapi tiba-tiba anak itu menjatuhkan sesuatu lagi dari atas, sebuah sabit yang mengenai bahu si nenek. Si nenek semakin kewalahan tapi juga makin geram terhadap anak-anak itu. Ia terus memanjat. Dan, karena sudah kelabakan, anak itu menjatuhkan linggis dan berhasil menjebolkannya ke kepala si nenek. Darah mengucur dari kepala si nenek. Ia terhuyung jatuh dan mati. Anak itu merasa bahagia karena sudah bisa menyelamatkan diri. Dari bubungan yang ditungganginya, ia melihat ke atas langit dan membatin. "Oh Tuhan, jika saya juga bagian dari tomanurung, akan ada tangga yang menjulang agar saya bisa ke langit" Si anak menangis mengingat ibunya sambil berdo"a. Tiba-tiba dan betullah tangga yang diinginkannya itu. Digendonglah adiknya dan pelan-pelan menaiki tangga. Sesampai di langit, ia bertemu dengan penumbuk padi. "Tuan, kasihanilah saya, berilah saya sisa-sisa berasnya. Saya ingin member makan adikku yang kelaparan" "Wah saya takut memberikannya, nak karena itu bukan milik saya. Itu milik raja", jawab si penumbuk padi. "Berilah saya, tuan. Sedikit saja. Adik saya sudah terlalu lapar", anak itu meminta lagi dengan wajah memelas sambil mengusap perut adiknya. "Begini saja, tunggu sebentar. Saya akan melapor dulu ke raja" si penumbuk padi menjelaskan dan berlalu meninggalkannya. Di kediaman sang raja, si penumbuk padi pun menceritakan soal itu pada sang raja. "Oh daeng, di luar sana ada anak kecil yang menggendong adiknya, mereka kelaparan dan ingin makan. Tak ada yang bisa dimakannya. Jadi tadi anak itu meminta sisa-sisa beras untuk dibuatnya jadi bubur yang akan dimakan adiknya" Mendengar itu sang raja terketuk hatinya. Ia langsung menyuruh si penumbuk padi untuk membawa anak-anak itu ke hadapannya. Maka dengan gegas, laporan itu disampaikan dan anak-anak itu dibawanya ke kediamannya. Tukang penumbuk padi itu kembali ke mereka. "Ayo ke sana, kalian sudah ditunggu" "Saya takut puang. Apakaha saya tidak akan dipukul"? "Ah tidak. Nanti di sana baru makan. Sudah dipersiapkan" Sesampai di sana, sang raja menyambut mereka dan dipersilakannya makan sampai kenyang bersama adiknya. "Nak, kalau sudah makan, carikan kutu saya yah" sang raja memberitahu. Anak itu langsung sigap, melaksanakan perintah sang raja. Sementara mengais-ngais rambut, tiba-tiba sang raja merasa kepalanya basah. Ia lalu bertanya kepada anak itu. "Kamu menangis nak"? tanya sang raja "Saya mengingat ibu saya, puang. Kepalanya pernah dibelah oleh ayah saya. Ibu saya kemudian berlari, separuh tubuhnya pergi ke laut, separuhnya lagi ke langit" Ucap anak itu sambil sejenak menghentikan tangannya. Sang raja terkejut mendengar itu. Ia kemudian memeluk erat sambil membolak-balikkan tubuh anak itu, saking bahagianya. "Sayalah yang kamu cari, nak" Anak itu juga sama terkejutnya dan ikut berbahagia karena mereka telah berkumpul lagi. Nun jauh di sana, di atas bumi, suami sang raja, bapak anak-anak itu, lalu lalng tak jelas arah. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya karena sudah tak bisa lagi bertemu istrinya. Ia juga sudah jarang makan. Tetapi tak diduganya, suatu hari kemudian bapak itu tiba-tiba juga berada di atas langit. Ia bertemu istri dan anak-anaknya dengan wajah yang penuh derita. "Kita baru bisa bersama kalau kamu melaksanakan beberapa perintah ini" tukas sang istri "Saya akan berusaha semampu saya, istriku" jawab si bapak merendah "Pergilah mengambil air, tetapi yang kamu gunakan adalah keranjang yang bolong" perintah istrinya. Si bapak kaget dan tak menduga jika harus melakukan tugas seberat itu. "Matilah saya, bu. Bagaimana saya bisa melakukannnya"? Sang istri tidak menggubrisnya dan ia pun berlalu untuk melaksanakan perintah itu. Melangkah menuju sungai, si bapak terus memikirkan bagaimana cara membawa air dengan keranjang yang bolong. "Oh Tuhan, jika saya juga bagian dari tomanurung, akan ada ular yang mengepung keranjang saya", ia membatin. Akhirnya datang betullah ular itu dan membuat keranjangnya jadi sempit sehingga tak bolong lagi. Istrinya bangga melihat suaminya membawa air itu sampai ke rumah karena keranjang cukup penuh dan tak ada yang tumpah.Setelah itu sang raja kemudian memberikan tugas berikutnya. Ia menuangkan nasi tujuh jenis dengan tujuh piring yang sama. "Jika kamu bisa mengetahui piring nasi yang saya pilih kita akan bersama" ucap sang raja Mendengar itu, si bapak kembali mengeluh dan tetap mengulang pernyataan yang sama. "Matilah saya, tentu saja susah mengetahuinya apalagi tujuh jenis yang sama" ia memandang sejumlah nasi itu dengan takjub. Dalam keluhannya itu, tiba-tiba ada seekor lalat yang menempel di salah satu piring lalu menempel lagi di tangannya. Lalat itu melakukannya sampai tiga kali sampai kemudian si bapak menyadari bahwa itu adalah penanda mana yang harus dipilihnya.Si bapak pun kemudian memilih salah satunya dan dugaan itu rupanya benar, ia sudah diberi petunjuk oleh seekor lalat tadi. Malam pun tiba. Rupanya perintah sang raja tidak hanya mengambil air dan memilih piring nasi, tetapi juga masih ada yang lain. Ia menggantung tujuh kelambu yang sama di atas rumah dan kemudian menyuruh suaminya untuk menebaknya. "Kalau kamu bisa mengenali penggantung kelambunya, kamu akan bias masuk" ujang sang raja Si bapak kemudian tampak kembali kebingungan. Ia takut jangan sampai salah. Tak diduganya, tiba-tiba ia melihaat seekor kucing yang berlari ke salah satu kalambu lalu kemudian berbalik ke arah si bapak. Ia mulai berpikir bahwa ini mungkin juga adalah petunjuk. Dan akhirnya, benar. Ada sang raja dalam kelambu. Mereka akhirnya bersama dan berbahagia.
Menampilkan halaman 4 dari total 4 halaman