Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 3 cerita rakyat terarsip di sistem.
SYEKH ABDUL MANNAN DI PMBOBORANG
Menurut carita tomatua-tua diolo", kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masukna agama Islam ri wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, tau yang pertama kali membawa dan mengajarkan agama Islam di daerah tersebut adalah Syekh Abdul Mannan. Tappana pertama kali pole, iya maita mesa buttu kayyang anna malingga, yaitu Buttu Pamboborang. Di tempat itulah Syekh Abdul Mannan mulai mappaguru asallangan (mengajarkan ajaran kebenaran) kepada masyarakat sekitar. Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Buttu Pamboborang selama kurang lebih sapulo taun. Selama waktu tersebut iya berdakwah anna membimbing masyarakat supaya mengenal ajaran Islam. Tappana pura sepuluh tahun di Pamboborang, iya kemudian mindai lao ri Buttu Salabose. Menurut carita tomatua-tua, tappana lambi ri Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat di tempat tersebut. Iya mappaguru agama Islam selama kurang lebih pitu taun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, iya kemudian mimbalik lao ri Pamboborang. Namun sampai sekarang masyarakat ndangi nissang dengan pasti bagaimana sebenarnya kisah tentang pakkuburanna. Menurut carita yang diwariskan tomatua-tua, Syekh Abdul Mannan wafat ri Pamboborang. Tetapi masyarakat juga mengetahui bahwa di Salabose juga terdapat makam beliau. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau ada di dua tempat tersebut. Begitulah kisah yang dituturkan oleh para orang tua dahulu tentang Syekh Abdul Mannan dan awal penyebaran agama Islam di Pamboborang. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Menurut cerita para orang tua dahulu, kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masuknya agama Islam di wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, orang yang pertama kali membawa dan mengajarkan ajaran Islam di daerah itu adalah Syekh Abdul Mannan. Ketika pertama kali datang ke wilayah tersebut, beliau melihat sebuah gunung yang sangat besar dan tinggi, yaitu Gunung Pamboborang. Di gunung itulah Syekh Abdul Mannan mulai mengajarkan ajaran kebenaran dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Gunung Pamboborang selama kurang lebih sepuluh tahun. Selama masa itu beliau berdakwah dan membimbing masyarakat untuk mengenal ajaran Islam. Setelah sepuluh tahun berada di Pamboborang, beliau kemudian berpindah dan naik ke Gunung Salabose. Menurut cerita para orang tua dahulu, setelah tiba di Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Beliau berdakwah di tempat tersebut selama sekitar tujuh tahun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, beliau kemudian kembali lagi ke Pamboborang. Namun hingga sekarang masyarakat tidak mengetahui secara pasti bagaimana kisah sebenarnya mengenai tempat pemakaman beliau. Menurut cerita yang diwariskan oleh para orang tua, Syekh Abdul Mannan wafat di Pamboborang. Akan tetapi, masyarakat juga mengetahui adanya makam beliau di Salabose. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau terdapat di dua tempat tersebut. Begitulah cerita yang disampaikan oleh para orang tua dahulu mengenai Syekh Abdul Mannan dan sejarah awal penyebaran Islam di Pamboborang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sahabudding/Salwa
I ACO TOTOLI ANNA I LAMBE ALU
Nene"ta ita di"e nicaritae, indai toi rua maccarita nene"na tau laeng. Nene"ta to ita di carita. Jari, di"o to Lambe Alu o. To Lambe Alu melluluare" anna to Totoli. Tappana di"e digena, apa to sicalla, diammo ana"na to Lambe Alu to ne"muane, anna diang to ne"waine, diang to"o ana"na to Totoli to ne"muane. Tappana di"e digena, diammo panginoan nisanga passepparangan, mua di te"e nisanga sepak takraw. To Lambe Alu ma"anna panginoan di"e. Sementara diang mangino, polemi ana"na to Totoli. Apa mittama mi mangino, mittami to"o ana"na to Lambe Alu. Ana"na to Totoli tipacce lo"diangna, jari na ala mi ana"na to Lambe Alu apa tipacce lao di olona. Tappa pura mangino, dipande mi tau panginoe. Nanging indai sittengantengan akkeanna. Diang na kappari, diang i"da. Tappa malai tau panginoe, sangga iyya pa mottong ana"na to Totoli. To Lambe Alu ma"pauanni ana"na, "Apanna mappatengano iting mappande, ndang mu pasittengantengan"? Naua ana"na, "Tania to biasa di"e, Puang." "Apanna mu issang mua tania to biasa"? Naua, "Pitao mai lo"diangna. Tania tongan to biasa." Tappana di"e digena, na patulemi. Ana"naure na towandi to tia, tapi indai na issang mua ana"na to Totoli. Na"u, "Pole innai"? Naua, "Pole di Mata Allu." Ia mo tu"u anna diang nisanga "to pole di Mata Allu". Na"u, "Apa akkatta ta dini"? Naua, "Meloa mebaine." Tappana di"e digena, na pakawengmi. Siala mi to ma boyang pissang, nanging indai na issang mua melluluare" tia. Tappana di"e digena, to Lambe Alu ma"lamba naitai ana"na to Totoli nisanga I Aco. Mangasa mi kowi, apa ma"pikir mamusu". Sementara di"o, I Aco merau izin lao di pasanan-na anna baine-na, naua, "Na sau a dolo di Mata Allu, apa ingga"na makarra nawang." Malai mi sau. Tappana diang maita sanaeke I Aco, lao mi ma lapor di totoli, ma"uang, "Pole I Aco." Na patulemi, "Innai mola selama mai e? Mane na lamba mi ni itai." Naua I Aco, "Na tama" dzi Lambe Alu." "Pura mo kaweng"? Naua, "Pura ma kaweng." Ma"uang to Totoli, "Na pakaweng laeng o, apa indai sah kawenganmu, indana hadir alu." Tappana di"e digena, na pakaweng laengmi ri para matua, to Lambe Alu anna to Totoli. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Nenek kita inilah yang diceritakan; kita tidak pernah menceritakan nenek orang lain. Jadi, nenek kita sendiri yang menjadi kisah ini. Ia berasal dari Lambe Alu. Orang Lambe Alu bersaudara dengan orang Totoli. Pada waktu itu terjadi pertentangan antarkelompok. Sudah ada seorang pemuda dari Lambe Alu, dan ada pula seorang gadis, serta seorang pemuda dari Totoli. Pada masa itu telah ada permainan yang disebut passepparangan, yang sekarang dikenal sebagai sepak takraw. Permainan itu diadakan oleh orang Lambe Alu. Ketika permainan sedang berlangsung, datanglah pemuda dari Totoli dan ikut bermain bersama pemuda Lambe Alu. Saat bermain, perhiasan yang dipakai pemuda Totoli terpental, lalu diambil oleh pemuda Lambe Alu karena jatuh di dekatnya. Setelah permainan selesai, para pemain dijamu makan. Namun, hidangan yang diberikan tidak sama; ada yang diberi nampan dan ada yang tidak. Setelah para pemain pulang, hanya pemuda Totoli yang masih tinggal. Orang Lambe Alu kemudian bertanya kepada anaknya, "Mengapa caramu memberi makan tidak sama rata"? Anaknya menjawab, "Dia bukan orang biasa, Puang." Orang tuanya bertanya lagi, "Dari mana kamu tahu dia bukan orang biasa"? Ia menjawab, "Lihat saja perhiasannya. Dia memang bukan orang biasa." Kemudian pemuda itu ditanyai asal-usulnya. Ternyata ia adalah keponakan mereka sendiri, tetapi hal itu belum diketahui. Ketika ditanya, "Kamu dari mana"? ia menjawab, "Saya dari Mata Allu." Dari situlah muncul sebutan "orang dari Mata Allu". Ketika ditanya apa tujuannya datang, ia menjawab ingin menikah. Akhirnya ia dinikahkan. Ternyata pernikahan itu adalah pernikahan antarsepupu, tetapi mereka belum mengetahui hubungan kekerabatan tersebut. Beberapa waktu kemudian, orang Lambe Alu hendak pergi mencari pemuda Totoli yang bernama Aco. Ia mengasah parang karena mengira akan terjadi perkelahian. Sementara itu, Aco meminta izin kepada mertuanya dan istrinya untuk pergi ke Mata Allu dengan alasan cuaca terlihat buruk. Ia pun pulang. Ketika keberadaan Aco diketahui, kabar itu disampaikan kepada orang tuanya di Totoli. Orang tuanya bertanya, "Di mana kamu selama ini? Kami hampir saja pergi mencarimu dan hendak berkelahi." Aco menjawab bahwa ia telah pergi ke Lambe Alu dan sudah menikah. Orang tuanya berkata bahwa ia harus dinikahkan ulang karena pernikahan sebelumnya dianggap belum sah, sebab pihak keluarga belum hadir. Akhirnya, ia dinikahkan kembali oleh para tetua dari Lambe Alu dan Totoli. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Sahabuddin/Magfira
LAKASIASI (SI MISKIN)
Diang mesa carita diolo tentang to kasiasi sanganna Aco. Iya siola indona mellamba-mellamba ma"itai dalle". Di antara lalananna, siruppa koko" pa"ande tau to dzalai ri sasi". Tappana digena", Aco masalama" anna naua, "Da dzolo" e." Koko" e naua, "Mua" pissana mu illonni mua narua" pepa", ditimma" ri pe"oloammu." Jari Aco siola indona melamba pole. Mellamba pitu buttu na wulewang, Aco siola indona siruppa sumarrang kaiyang. Sumarrang e mapissang, "Inna namuola"? Aco maung, "Ma"itai dalle"." Sumarrang e naua, "Mua" di timma" ri pe"oloammu, pissana mu, iyau malambi" ri olona." Jari iya pole melamba. Tappana pole melamba, siruppa i Nenek Pakande, tau pa"ande tau toi. Iya meande Aco siola indona. Aco lekka" pissang sumarrangna, naua, "O sumarrang, tulunga tori"." Sumarrang malambi", anna meande i Nenek Pakande. Sisa"na wase anna bukuna. Apa"na mate mi Nenek Pakande. Di boyanna Nenek Pakande, diang lamari pattampungan tau. Diang dua rupa: tommuane anna towaine. Nasang tau to nasaka" sirumung. Di antaranna diang sanganna Hasan Husen Mannang anna Ana"ijo Sapareng. Hasan Husen Mannang maung, "Aco, bawa" tori" lao ri banua"u." Aco maung, "Iyyo, insya Allah." Tappana lambi" ri banua"na, tau ri kampung e sangga"i musuh malambi". Limambongi limangallo pelloa tembakan. Aco pissang sumarrang anna koko", naua, "Tulunga tori", narua" pepa"." Sumarrang anna koko" massisombalang mabbasmi musuh. Aman mi lalananna. Aco pole lao ri boyanna Nenek Pakande, apa"na iya mi menjari kapala ri lingkunganna. Tappana Ana"ijo Sapareng maung dibawa toi lao ri banua"na, Aco pole mambawa. Di lalananna di tembaki bomi, tapi sumarrang anna koko" tulungi pole. Lambi" aman, Aco menjari raja ri di"o. Apa"na mate mi Nenek Pakande, Aco mamulai mappapia pemerintahan: kecamatan, desa, lingkungan, RT, anna RW. Iyamo tamat caritana. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, ada sebuah cerita tentang seorang miskin bernama Aco. Ia berjalan bersama ibunya untuk mencari nafkah. Di perjalanan, mereka bertemu dengan seekor burung pemakan manusia dari laut. Ketika hendak dimakan, Aco memberi salam dan berkata, "Tunggu dulu." Burung itu berkata, "Jika suatu saat kamu ditimpa masalah, panggillah namaku, maka aku akan datang di hadapanmu." Setelah itu, Aco dan ibunya melanjutkan perjalanan. Setelah melewati tujuh gunung dan lembah, Aco dan ibunya bertemu dengan seekor semut besar. Semut itu bertanya, "Kalian hendak ke mana"? Aco menjawab, "Kami ingin mencari nafkah." Semut itu berkata, "Jika kalian ditimpa masalah, panggillah namaku, maka aku akan datang menolong." Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Di perjalanan selanjutnya, mereka bertemu dengan Nenek Pakande, seorang pemakan manusia. Ia hendak memakan Aco dan ibunya. Aco segera memanggil semut besar itu dan berkata, "Wahai semut, tolonglah kami." Semut pun datang dan memakan Nenek Pakande hingga yang tersisa hanya tulang dan giginya. Nenek Pakande pun mati. Di rumah Nenek Pakande terdapat lemari yang menjadi tempat penampungan orang-orang yang ditangkap. Ada dua bagian, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Semua orang yang tertangkap berkumpul. Di antaranya ada Hasan Husen Mannang dan Ana"ijo Sapareng. Hasan Husen Mannang berkata, "Aco, tolong antar aku ke kampungku." Aco menjawab, "Baik, insya Allah." Ketika hampir tiba di kampungnya, penduduk mengira mereka musuh dan menembaki selama lima hari lima malam. Aco pun memanggil semut dan burung pemakan manusia untuk meminta pertolongan. Keduanya bekerja sama membasmi para penyerang. Akhirnya keadaan menjadi aman. Aco kembali ke rumah Nenek Pakande dan menjadi pemimpin di tempat itu. Ketika Ana"ijo Sapareng meminta diantar ke kampungnya, Aco pun mengantarnya. Di perjalanan mereka kembali ditembaki, tetapi semut dan burung itu menolong hingga keadaan aman. Setelah semuanya selamat, Aco menjadi pemimpin di wilayah tersebut. Karena Nenek Pakande telah tiada, Aco mulai membentuk pemerintahan seperti kecamatan, desa, lingkungan, RT, dan RW. Demikianlah akhir cerita ini. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rasada/M. Idham