Desa Pamboborang, Kec. Banggae, Kab. Majene
SYEKH ABDUL MANNAN DI PMBOBORANG
21 June 2026
-3.532808, 118.9418816
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Menurut carita tomatua-tua diolo", kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masukna agama Islam ri wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, tau yang pertama kali membawa dan mengajarkan agama Islam di daerah tersebut adalah Syekh Abdul Mannan. Tappana pertama kali pole, iya maita mesa buttu kayyang anna malingga, yaitu Buttu Pamboborang. Di tempat itulah Syekh Abdul Mannan mulai mappaguru asallangan (mengajarkan ajaran kebenaran) kepada masyarakat sekitar.
Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Buttu Pamboborang selama kurang lebih sapulo taun. Selama waktu tersebut iya berdakwah anna membimbing masyarakat supaya mengenal ajaran Islam. Tappana pura sepuluh tahun di Pamboborang, iya kemudian mindai lao ri Buttu Salabose.
Menurut carita tomatua-tua, tappana lambi ri Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat di tempat tersebut. Iya mappaguru agama Islam selama kurang lebih pitu taun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, iya kemudian mimbalik lao ri Pamboborang.
Namun sampai sekarang masyarakat ndangi nissang dengan pasti bagaimana sebenarnya kisah tentang pakkuburanna. Menurut carita yang diwariskan tomatua-tua, Syekh Abdul Mannan wafat ri Pamboborang. Tetapi masyarakat juga mengetahui bahwa di Salabose juga terdapat makam beliau. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau ada di dua tempat tersebut. Begitulah kisah yang dituturkan oleh para orang tua dahulu tentang Syekh Abdul Mannan dan awal penyebaran agama Islam di Pamboborang.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Menurut cerita para orang tua dahulu, kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masuknya agama Islam di wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, orang yang pertama kali membawa dan mengajarkan ajaran Islam di daerah itu adalah Syekh Abdul Mannan. Ketika pertama kali datang ke wilayah tersebut, beliau melihat sebuah gunung yang sangat besar dan tinggi, yaitu Gunung Pamboborang. Di gunung itulah Syekh Abdul Mannan mulai mengajarkan ajaran kebenaran dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.
Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Gunung Pamboborang selama kurang lebih sepuluh tahun. Selama masa itu beliau berdakwah dan membimbing masyarakat untuk mengenal ajaran Islam. Setelah sepuluh tahun berada di Pamboborang, beliau kemudian berpindah dan naik ke Gunung Salabose.
Menurut cerita para orang tua dahulu, setelah tiba di Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Beliau berdakwah di tempat tersebut selama sekitar tujuh tahun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, beliau kemudian kembali lagi ke Pamboborang.
Namun hingga sekarang masyarakat tidak mengetahui secara pasti bagaimana kisah sebenarnya mengenai tempat pemakaman beliau. Menurut cerita yang diwariskan oleh para orang tua, Syekh Abdul Mannan wafat di Pamboborang. Akan tetapi, masyarakat juga mengetahui adanya makam beliau di Salabose. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau terdapat di dua tempat tersebut. Begitulah cerita yang disampaikan oleh para orang tua dahulu mengenai Syekh Abdul Mannan dan sejarah awal penyebaran Islam di Pamboborang.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sahabudding/Salwa
Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Buttu Pamboborang selama kurang lebih sapulo taun. Selama waktu tersebut iya berdakwah anna membimbing masyarakat supaya mengenal ajaran Islam. Tappana pura sepuluh tahun di Pamboborang, iya kemudian mindai lao ri Buttu Salabose.
Menurut carita tomatua-tua, tappana lambi ri Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat di tempat tersebut. Iya mappaguru agama Islam selama kurang lebih pitu taun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, iya kemudian mimbalik lao ri Pamboborang.
Namun sampai sekarang masyarakat ndangi nissang dengan pasti bagaimana sebenarnya kisah tentang pakkuburanna. Menurut carita yang diwariskan tomatua-tua, Syekh Abdul Mannan wafat ri Pamboborang. Tetapi masyarakat juga mengetahui bahwa di Salabose juga terdapat makam beliau. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau ada di dua tempat tersebut. Begitulah kisah yang dituturkan oleh para orang tua dahulu tentang Syekh Abdul Mannan dan awal penyebaran agama Islam di Pamboborang.
"Pura!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Menurut cerita para orang tua dahulu, kisah tentang Pamboborang berkaitan dengan awal masuknya agama Islam di wilayah tersebut yang berada di Kabupaten Majene. Konon, orang yang pertama kali membawa dan mengajarkan ajaran Islam di daerah itu adalah Syekh Abdul Mannan. Ketika pertama kali datang ke wilayah tersebut, beliau melihat sebuah gunung yang sangat besar dan tinggi, yaitu Gunung Pamboborang. Di gunung itulah Syekh Abdul Mannan mulai mengajarkan ajaran kebenaran dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.
Syekh Abdul Mannan mengajarkan agama Islam di Gunung Pamboborang selama kurang lebih sepuluh tahun. Selama masa itu beliau berdakwah dan membimbing masyarakat untuk mengenal ajaran Islam. Setelah sepuluh tahun berada di Pamboborang, beliau kemudian berpindah dan naik ke Gunung Salabose.
Menurut cerita para orang tua dahulu, setelah tiba di Salabose, Syekh Abdul Mannan kembali mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Beliau berdakwah di tempat tersebut selama sekitar tujuh tahun. Setelah tujuh tahun berada di Salabose, beliau kemudian kembali lagi ke Pamboborang.
Namun hingga sekarang masyarakat tidak mengetahui secara pasti bagaimana kisah sebenarnya mengenai tempat pemakaman beliau. Menurut cerita yang diwariskan oleh para orang tua, Syekh Abdul Mannan wafat di Pamboborang. Akan tetapi, masyarakat juga mengetahui adanya makam beliau di Salabose. Karena itulah muncul pertanyaan mengapa makam beliau terdapat di dua tempat tersebut. Begitulah cerita yang disampaikan oleh para orang tua dahulu mengenai Syekh Abdul Mannan dan sejarah awal penyebaran Islam di Pamboborang.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sahabudding/Salwa