Desa Pamboborang, Kec. Banggae, Kab. Majene
I ACO TOTOLI ANNA I LAMBE ALU
21 June 2026
-3.532833, 118.941804
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Nene"ta ita di"e nicaritae, indai toi rua maccarita nene"na tau laeng. Nene"ta to ita di carita. Jari, di"o to Lambe Alu o. To Lambe Alu melluluare" anna to Totoli. Tappana di"e digena, apa to sicalla, diammo ana"na to Lambe Alu to ne"muane, anna diang to ne"waine, diang to"o ana"na to Totoli to ne"muane.
Tappana di"e digena, diammo panginoan nisanga passepparangan, mua di te"e nisanga sepak takraw. To Lambe Alu ma"anna panginoan di"e. Sementara diang mangino, polemi ana"na to Totoli. Apa mittama mi mangino, mittami to"o ana"na to Lambe Alu. Ana"na to Totoli tipacce lo"diangna, jari na ala mi ana"na to Lambe Alu apa tipacce lao di olona.
Tappa pura mangino, dipande mi tau panginoe. Nanging indai sittengantengan akkeanna. Diang na kappari, diang i"da. Tappa malai tau panginoe, sangga iyya pa mottong ana"na to Totoli. To Lambe Alu ma"pauanni ana"na, "Apanna mappatengano iting mappande, ndang mu pasittengantengan"? Naua ana"na, "Tania to biasa di"e, Puang." "Apanna mu issang mua tania to biasa"? Naua, "Pitao mai lo"diangna. Tania tongan to biasa."
Tappana di"e digena, na patulemi. Ana"naure na towandi to tia, tapi indai na issang mua ana"na to Totoli. Na"u, "Pole innai"? Naua, "Pole di Mata Allu." Ia mo tu"u anna diang nisanga "to pole di Mata Allu". Na"u, "Apa akkatta ta dini"? Naua, "Meloa mebaine." Tappana di"e digena, na pakawengmi. Siala mi to ma boyang pissang, nanging indai na issang mua melluluare" tia.
Tappana di"e digena, to Lambe Alu ma"lamba naitai ana"na to Totoli nisanga I Aco. Mangasa mi kowi, apa ma"pikir mamusu". Sementara di"o, I Aco merau izin lao di pasanan-na anna baine-na, naua, "Na sau a dolo di Mata Allu, apa ingga"na makarra nawang." Malai mi sau.
Tappana diang maita sanaeke I Aco, lao mi ma lapor di totoli, ma"uang, "Pole I Aco." Na patulemi, "Innai mola selama mai e? Mane na lamba mi ni itai." Naua I Aco, "Na tama" dzi Lambe Alu." "Pura mo kaweng"? Naua, "Pura ma kaweng." Ma"uang to Totoli, "Na pakaweng laeng o, apa indai sah kawenganmu, indana hadir alu." Tappana di"e digena, na pakaweng laengmi ri para matua, to Lambe Alu anna to Totoli.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Nenek kita inilah yang diceritakan; kita tidak pernah menceritakan nenek orang lain. Jadi, nenek kita sendiri yang menjadi kisah ini. Ia berasal dari Lambe Alu. Orang Lambe Alu bersaudara dengan orang Totoli. Pada waktu itu terjadi pertentangan antarkelompok. Sudah ada seorang pemuda dari Lambe Alu, dan ada pula seorang gadis, serta seorang pemuda dari Totoli.
Pada masa itu telah ada permainan yang disebut passepparangan, yang sekarang dikenal sebagai sepak takraw. Permainan itu diadakan oleh orang Lambe Alu. Ketika permainan sedang berlangsung, datanglah pemuda dari Totoli dan ikut bermain bersama pemuda Lambe Alu. Saat bermain, perhiasan yang dipakai pemuda Totoli terpental, lalu diambil oleh pemuda Lambe Alu karena jatuh di dekatnya.
Setelah permainan selesai, para pemain dijamu makan. Namun, hidangan yang diberikan tidak sama; ada yang diberi nampan dan ada yang tidak. Setelah para pemain pulang, hanya pemuda Totoli yang masih tinggal. Orang Lambe Alu kemudian bertanya kepada anaknya, "Mengapa caramu memberi makan tidak sama rata"? Anaknya menjawab, "Dia bukan orang biasa, Puang." Orang tuanya bertanya lagi, "Dari mana kamu tahu dia bukan orang biasa"? Ia menjawab, "Lihat saja perhiasannya. Dia memang bukan orang biasa."
Kemudian pemuda itu ditanyai asal-usulnya. Ternyata ia adalah keponakan mereka sendiri, tetapi hal itu belum diketahui. Ketika ditanya, "Kamu dari mana"? ia menjawab, "Saya dari Mata Allu." Dari situlah muncul sebutan "orang dari Mata Allu". Ketika ditanya apa tujuannya datang, ia menjawab ingin menikah. Akhirnya ia dinikahkan. Ternyata pernikahan itu adalah pernikahan antarsepupu, tetapi mereka belum mengetahui hubungan kekerabatan tersebut.
Beberapa waktu kemudian, orang Lambe Alu hendak pergi mencari pemuda Totoli yang bernama Aco. Ia mengasah parang karena mengira akan terjadi perkelahian. Sementara itu, Aco meminta izin kepada mertuanya dan istrinya untuk pergi ke Mata Allu dengan alasan cuaca terlihat buruk. Ia pun pulang.
Ketika keberadaan Aco diketahui, kabar itu disampaikan kepada orang tuanya di Totoli. Orang tuanya bertanya, "Di mana kamu selama ini? Kami hampir saja pergi mencarimu dan hendak berkelahi." Aco menjawab bahwa ia telah pergi ke Lambe Alu dan sudah menikah. Orang tuanya berkata bahwa ia harus dinikahkan ulang karena pernikahan sebelumnya dianggap belum sah, sebab pihak keluarga belum hadir. Akhirnya, ia dinikahkan kembali oleh para tetua dari Lambe Alu dan Totoli.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sahabuddin/Magfira
Tappana di"e digena, diammo panginoan nisanga passepparangan, mua di te"e nisanga sepak takraw. To Lambe Alu ma"anna panginoan di"e. Sementara diang mangino, polemi ana"na to Totoli. Apa mittama mi mangino, mittami to"o ana"na to Lambe Alu. Ana"na to Totoli tipacce lo"diangna, jari na ala mi ana"na to Lambe Alu apa tipacce lao di olona.
Tappa pura mangino, dipande mi tau panginoe. Nanging indai sittengantengan akkeanna. Diang na kappari, diang i"da. Tappa malai tau panginoe, sangga iyya pa mottong ana"na to Totoli. To Lambe Alu ma"pauanni ana"na, "Apanna mappatengano iting mappande, ndang mu pasittengantengan"? Naua ana"na, "Tania to biasa di"e, Puang." "Apanna mu issang mua tania to biasa"? Naua, "Pitao mai lo"diangna. Tania tongan to biasa."
Tappana di"e digena, na patulemi. Ana"naure na towandi to tia, tapi indai na issang mua ana"na to Totoli. Na"u, "Pole innai"? Naua, "Pole di Mata Allu." Ia mo tu"u anna diang nisanga "to pole di Mata Allu". Na"u, "Apa akkatta ta dini"? Naua, "Meloa mebaine." Tappana di"e digena, na pakawengmi. Siala mi to ma boyang pissang, nanging indai na issang mua melluluare" tia.
Tappana di"e digena, to Lambe Alu ma"lamba naitai ana"na to Totoli nisanga I Aco. Mangasa mi kowi, apa ma"pikir mamusu". Sementara di"o, I Aco merau izin lao di pasanan-na anna baine-na, naua, "Na sau a dolo di Mata Allu, apa ingga"na makarra nawang." Malai mi sau.
Tappana diang maita sanaeke I Aco, lao mi ma lapor di totoli, ma"uang, "Pole I Aco." Na patulemi, "Innai mola selama mai e? Mane na lamba mi ni itai." Naua I Aco, "Na tama" dzi Lambe Alu." "Pura mo kaweng"? Naua, "Pura ma kaweng." Ma"uang to Totoli, "Na pakaweng laeng o, apa indai sah kawenganmu, indana hadir alu." Tappana di"e digena, na pakaweng laengmi ri para matua, to Lambe Alu anna to Totoli.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Nenek kita inilah yang diceritakan; kita tidak pernah menceritakan nenek orang lain. Jadi, nenek kita sendiri yang menjadi kisah ini. Ia berasal dari Lambe Alu. Orang Lambe Alu bersaudara dengan orang Totoli. Pada waktu itu terjadi pertentangan antarkelompok. Sudah ada seorang pemuda dari Lambe Alu, dan ada pula seorang gadis, serta seorang pemuda dari Totoli.
Pada masa itu telah ada permainan yang disebut passepparangan, yang sekarang dikenal sebagai sepak takraw. Permainan itu diadakan oleh orang Lambe Alu. Ketika permainan sedang berlangsung, datanglah pemuda dari Totoli dan ikut bermain bersama pemuda Lambe Alu. Saat bermain, perhiasan yang dipakai pemuda Totoli terpental, lalu diambil oleh pemuda Lambe Alu karena jatuh di dekatnya.
Setelah permainan selesai, para pemain dijamu makan. Namun, hidangan yang diberikan tidak sama; ada yang diberi nampan dan ada yang tidak. Setelah para pemain pulang, hanya pemuda Totoli yang masih tinggal. Orang Lambe Alu kemudian bertanya kepada anaknya, "Mengapa caramu memberi makan tidak sama rata"? Anaknya menjawab, "Dia bukan orang biasa, Puang." Orang tuanya bertanya lagi, "Dari mana kamu tahu dia bukan orang biasa"? Ia menjawab, "Lihat saja perhiasannya. Dia memang bukan orang biasa."
Kemudian pemuda itu ditanyai asal-usulnya. Ternyata ia adalah keponakan mereka sendiri, tetapi hal itu belum diketahui. Ketika ditanya, "Kamu dari mana"? ia menjawab, "Saya dari Mata Allu." Dari situlah muncul sebutan "orang dari Mata Allu". Ketika ditanya apa tujuannya datang, ia menjawab ingin menikah. Akhirnya ia dinikahkan. Ternyata pernikahan itu adalah pernikahan antarsepupu, tetapi mereka belum mengetahui hubungan kekerabatan tersebut.
Beberapa waktu kemudian, orang Lambe Alu hendak pergi mencari pemuda Totoli yang bernama Aco. Ia mengasah parang karena mengira akan terjadi perkelahian. Sementara itu, Aco meminta izin kepada mertuanya dan istrinya untuk pergi ke Mata Allu dengan alasan cuaca terlihat buruk. Ia pun pulang.
Ketika keberadaan Aco diketahui, kabar itu disampaikan kepada orang tuanya di Totoli. Orang tuanya bertanya, "Di mana kamu selama ini? Kami hampir saja pergi mencarimu dan hendak berkelahi." Aco menjawab bahwa ia telah pergi ke Lambe Alu dan sudah menikah. Orang tuanya berkata bahwa ia harus dinikahkan ulang karena pernikahan sebelumnya dianggap belum sah, sebab pihak keluarga belum hadir. Akhirnya, ia dinikahkan kembali oleh para tetua dari Lambe Alu dan Totoli.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sahabuddin/Magfira