Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 3 cerita rakyat terarsip di sistem.

TOMENJARI MINNA' (ORANG MENJADI MINYAK)
Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

TOMENJARI MINNA' (ORANG MENJADI MINYAK)

Diolo" mai diang mesa carita yang sering dipau-pauangi tomatua" lao di ana"-ana"na. Judulna "To Minjari Minnaq", yang berarti tau yang berubah menjadi minyak. Carita e menceritakan tentang mesa tommuane yang hendak merantau. Iya baru saja siala dengan bainena, bahkan pernikahanna baru berjalan sekitar tallu bongi. Karena baru menikah, iya dua andangi pa diang ana"na. Nanging karena kebutuhan hidup, tommuane e tetap memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Sebelum tommuane e berangkat merantau, iya siola bainena lamba lao ri pasar untuk membeli perlengkapan rumah tangga sebagai bekal. Iya maalli barras, golla, cawe-cawe, anna bahan makanan yang lain. Tappana pura siap semua bekal, tommuane e berangkat merantau dengan perkiraan waktu sekitar mesa taun. Sebelum lamba, iya mappasanna lao bainena, "Da le"ba raung-raung dai" ri boyang e." Bainena pun menjawab dengan patuh, "Iyo." Waktu terus berlalu. Bainena tinggal sendirian ri boyang sambil menunggu muanena kembali. Sedikit demi sedikit semua bekal makanan yang ditinggalkan suaminya habis. Barras, golla, anna bahan makanan lainnya cappu". Yang tersisa hanyalah mesa botol minnaq. Karena lapar yang sangat anna tetap mematuhi pesan suaminya supaya tidak meninggalkan rumah, bainena akhirnya meminum minyak yang tersisa di dalam botol tersebut. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba bainena battang (hamil). Perutna semakin hari semakin membesar. Tau-tau di sekitarna menjadi heran anna mulai mappau-pau tentang keadaan tersebut. Iya berkata, "Mangapa mala battang di"e towaine e, sementara muanena sedang merantau"? Akhirna bainena menjadi bahan pembicaraan di kampung. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada muanena di perantauan. Tappana muanena kembali ri kampung anna melihat keadaan bainena yang sedang hamil, iya sangat marah anna berkata, "Mangapa mala battang ko seperti ini, sementara aku tidak pernah menggaulimu selama aku pergi? Atau ada tau laen yang telah menggaulimu"? Bainena menjawab dengan tenang bahwa ndangi diang tau yang menggaulina. Iya berkata bahwa kehamilanna terjadi karena iya pernah meminum mesa botol minnaq yang tersisa di rumah. Nanging muanena ndangi percaya dengan penjelasan tersebut. Bainena kemudian berkata, "Mua indai mupercayai yau, duduk di situ anna ita sendiri apa yang akan terjadi." Kemudian bainena menyanyikan mesa elong kepada anak yang ada di dalam kandunganna, "Ana"u minnaq o minjari, pinjari minnaq mo mendulu." Setelah elong tersebut diulang beberapa kali, perlahan-lahan anak yang ada di dalam kandunganna berubah kembali menjadi minyak di dalam satu botol. Melihat kejadian tersebut, muanena menangis anna berkata, "Berhenti! Aku percaya bahwa anak itu benar-benar berasal dari minyak." Namun semuanya sudah terlambat. Anak tersebut telah kembali ke asalnya menjadi minyak. Tau-tau di sekitar yang menyaksikan kejadian itu berkata, "Ita mi apa yang terjadi, iyamo tanda patuhna bainena lao di muanena." Sejak saat itulah carita tersebut dikenal dengan judul "To Minjari Minna"." "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu ada sebuah cerita yang sering diceritakan oleh para orang tua kepada anak cucu mereka. Cerita tersebut berjudul "To Minjari Minnaq" yang berarti orang yang berubah menjadi minyak. Kisah ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang hendak pergi merantau. Ia baru saja menikah dengan istrinya, bahkan pernikahan mereka baru berlangsung sekitar tiga hari, sehingga mereka belum memiliki anak. Namun karena kebutuhan hidup, sang suami tetap memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Sebelum sang suami berangkat merantau, mereka berdua pergi ke pasar untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga sebagai bekal selama sang suami pergi. Mereka membeli beras, gula, cabai, dan berbagai bahan makanan lainnya. Setelah semua kebutuhan rumah tangga telah disiapkan, sang suami pun berangkat merantau ke Kalimantan dengan perkiraan waktu sekitar satu tahun. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan rumah ini." Sang istri pun menjawab dengan patuh, "Iya." Waktu terus berlalu. Selama hampir satu tahun sang istri tinggal sendirian di rumah sambil menunggu suaminya pulang. Lambat laun semua persediaan makanan yang ditinggalkan suaminya habis. Beras, gula, dan bahan makanan lainnya telah habis dimakan. Yang tersisa hanyalah satu botol minyak di rumah tersebut. Karena rasa lapar yang sangat dan tetap ingin mematuhi pesan suaminya agar tidak meninggalkan rumah, sang istri akhirnya terpaksa meminum minyak yang tersisa di dalam botol tersebut. Beberapa waktu setelah meminum minyak itu, tiba-tiba sang istri mengalami kehamilan. Perutnya semakin hari semakin membesar. Para tetangga yang melihat keadaan itu menjadi heran dan mulai membicarakannya. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin perempuan ini bisa hamil, sementara suaminya sedang merantau"? Akhirnya perempuan itu menjadi bahan pembicaraan dan gosip di kampung. Kabar tersebut kemudian sampai kepada sang suami di perantauan. Mendengar kabar bahwa istrinya sedang hamil, sang suami segera pulang ke kampung halamannya. Ketika tiba di rumah, ia sangat marah dan berkata kepada istrinya, "Bagaimana mungkin kamu bisa hamil seperti ini, sementara aku tidak pernah menggaulimu selama aku pergi? Apakah ada orang lain yang telah menggaulimu"? Sang istri dengan tenang menjawab bahwa tidak ada seorang pun yang menggaulinya. Ia berkata bahwa kehamilan itu terjadi karena ia pernah meminum satu botol minyak yang tersisa di rumah. Namun sang suami tidak percaya dengan penjelasan tersebut. Sang istri kemudian berkata kepada suaminya, "Jika kamu tidak percaya kepadaku, duduklah di situ dan lihatlah sendiri." Kemudian sang istri menyanyikan sebuah nyanyian kepada anak yang ada di dalam kandungannya. Ia berkata, "Wahai anakku, karena engkau berasal dari minyak, maka kembalilah engkau ke asalmu, menjadi minyak." Setelah nyanyian itu diulang beberapa kali, perlahan-lahan anak yang ada di dalam kandungannya berubah kembali menjadi minyak di dalam satu botol. Melihat kejadian itu, sang suami menangis dan berkata dengan penuh penyesalan, "Hentikan, aku percaya bahwa anak itu benar-benar berasal dari minyak." Namun semuanya sudah terlambat. Anak tersebut telah kembali menjadi minyak seperti semula. Para tetangga yang menyaksikan kejadian itu pun berkata, "Lihatlah apa yang telah terjadi." Sejak saat itulah kisah tersebut dikenal dengan nama "To Minjari Minnaq", sebuah cerita rakyat yang mengajarkan tentang kepercayaan, kesetiaan, dan akibat dari tidak mempercayai pasangan sendiri. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Subuki/Nasrun Fahmi

admin Baca
TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)
Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)

Iyarie carita tentang tau kindo Pader anna kama Pader na" diang da"dua ana": mesa keccu anna mesa kayyang. Di mesa allo, kindo"na manette, sedangkan kama"na lao ri umau (kebun). Sebelum lao, kama"na ma"pesan, "Mua lappo"o lao diumau anna ana"mu miarra melo naande bau, dangan mubengani." Kindo"na ma"uwani "Iyo." Tapi ana"na miarra sannal melo naande bau, sehingga kindo"na indani tahan, dipabenganni anna napande. Indani masae pole kama"na, maita bau indani diita. Ia ma"uwani, "Innai pa"da bau di tapane"? Kindo"na ma"jawab, "Upande tori ana"mu apa miarra sannali." Kama"na marah, naweso panette"na anna nawisa ulunna kindo"na. Alawena sassigi maendon sau ri tasi, anna sassigi maendon dai ri langi". Ana" kayyang miarra melo sumusu adinna, jari ia lao ri tasi, nabawa adinna, anna maelong ri biring bonde", "Kindo" to menjari luyung, pasusuana kandi"u, indau ulle nasangian bongi allo." Pittallun ia maelong, pole tongan kindo"na menjari luyung, mimbale-balelo anna napasusu ana"na. Pura napasusu, kindo"na ma"uwani, "Pittallunmu ana", apa mua ganna, indanmo mala mai, apa iyau menjari luyung tongan." Mua ganna pittallun, kindo"na indani pole mai. Sebelum pole ri tasi, kindo"na ma"pasang, "Mua adimmu miarra, susuri biring lemo, ala bukunna pambe, tuttumi lao batu, perasa tama nganganna kandi"mu." Ana" kayyang malao, mitai buku pambe, natuttu anna naparrawi tama nganganna adinna. Pittallun ia mapia adinna. Di lalan, ia maita boyang keccu, anna mangaku ri inene". Inene" iyamo tau paande ate. Allo-allo inene" ma"tanya, "Miapami atemu appo"? Ia ma"jawab, "Iyau mane ingga"na lemo-lemo, adikku mane ingga"na beau." Lambisan lao, atena naeke, jari inene" napasirri bumbu apa melo maande ate-ate ana"na. Inene" ma"pesan, "Jagai bumbu"ku, dangan manu maande." Ana" ma"jaga, anna ma"uwani ri manu supaya indani maande. Pittallun ia ma"uwani. Pole kalowaya anna ma"uwani, "Indani tu"u bumbu manu, tapi bumbu ate-mu." Ana" anna adinna marakke. Kalowaya ma"petunjuk, "Ala pitu tungau, mesa di ba"ba, mesa di kamar, mesa di dapur, mesa di lalan, jari mua inene" metta", tungau ma"jawab." Tongan, tungau ma"jawab tiap inene" ma"tanya. Sebelum lao, tungau ma"pasang, "Mua muannaek ri coppo boyang, ala passe, parrassan, anna soro." Mua inene" ma"naek, ana"na ma"annaek ri coppo boyang. Inene" ma"jollo"rai, tapi ana" natudang parrassan anna nateke ulunna inene", jari mate. Ana" ma"doa, "Puang, turunmai tangga ri langi"." Pole tangga, ia ma"naek ri langi" siola adinna. Ri langi", ia maita tau mattimpa ase. Ia ma"uwani, "Daeng, bengana ande adikku apa miarra." Tau iyamo ma"pissanni mara"dia. Mara"dia ma"bengani ande, anna ma"uwani supaya siola-ola ri boyangna. Mesa wattu, ana" maita tanda ri ulunna mara"dia rapang tanda ri ulunna kindo"na dolo. Ia miarra. Mara"dia ma"uwani, "Iyau tu"u kindo"mu." Jari siola-olami. Kama"na pole tongan ri langi" melo siola baine"na. Baine"na ma"ujian, "Ala wai ri karajin mua mala muannaek." Kama"na ma"doa, anna karajin indani bocor. Ujian kaduanna, mappile ande ri pitu pindang. Lali" ma"petunjuk pindang na" napile. Ujian katallunna, mappile kelambu ri bongi. Kucing ma"petunjuk kelambu na" masukke. Kama"na rapang pitu ujian, jari siola-olami siola ana"na, bahagia sappa-sappa. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang dikenal sebagai Ibu Pader dan Bapak Pader. Mereka memiliki dua orang anak, satu masih kecil dan satu sudah besar. Pada suatu hari, ketika sang ibu sedang menenun dan sang ayah hendak pergi ke kebun, ia berpesan agar jika anak mereka menangis meminta ikan, jangan diberikan. Ibu mengiyakan. Namun, anak mereka menangis sangat keras ingin makan ikan itu, sehingga ibu tidak tega dan akhirnya memberikannya. Tidak lama kemudian sang ayah pulang dan mendapati ikan tersebut sudah habis. Ketika mengetahui bahwa istrinya telah memberikannya kepada anak mereka, ia marah besar dan dalam kemarahannya ia menebas kepala istrinya. Sebagian tubuh sang ibu jatuh ke laut dan sebagian lagi ke langit. Anak yang besar kemudian membawa adiknya ke tepi laut karena adiknya menangis ingin menyusu. Ia bernyanyi memanggil ibunya yang telah menjadi duyung agar datang menyusui adiknya. Tiga kali ia bernyanyi, dan sang ibu pun muncul dari laut dan menyusui anaknya. Sebelum kembali ke laut, ibunya berpesan bahwa ia hanya bisa datang tiga kali saja karena ia telah menjadi duyung sepenuhnya. Jika adiknya menangis lagi, carilah sisa tebu di tepi sungai, tumbuk dan peraslah airnya ke mulut adiknya. Anak itu pun melaksanakan pesan tersebut. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah rumah kecil milik seorang nenek yang ternyata pemakan hati manusia. Setiap hari nenek itu bertanya tentang keadaan hati mereka, hingga suatu saat ia merasa hati mereka sudah cukup besar untuk dimakan. Nenek itu pun menyiapkan bumbu masakan dan menyuruh cucunya menjaga agar ayam tidak memakannya. Seekor burung kalowaya datang dan memperingatkan bahwa bumbu itu bukan untuk ayam, melainkan untuk memasak hati mereka. Burung itu memberi petunjuk agar mereka menaruh tujuh tungau di berbagai tempat di rumah supaya menjawab saat nenek memanggil. Ketika nenek datang dan mencari mereka, tungau-tungau itu menjawab seolah-olah anak itu berada di berbagai tempat. Sementara itu, anak tersebut naik ke atas atap rumah. Ketika nenek memanjat hendak menangkap mereka, anak itu menjatuhkan alat-alat tajam hingga akhirnya mengenai kepala nenek dan ia pun meninggal. Anak itu lalu berdoa agar diturunkan tangga dari langit, dan tangga itu pun turun. Ia naik ke langit bersama adiknya. Di langit, ia bertemu dengan seorang penguasa yang kemudian memberi mereka makan dan tempat tinggal. Suatu hari, ketika membantu membersihkan rambut sang penguasa, anak itu melihat bekas luka yang sama dengan luka ibunya dahulu. Ia pun menangis dan akhirnya mengetahui bahwa penguasa itu adalah ibunya sendiri yang telah menjadi sosok mulia di langit. Mereka pun hidup bersama kembali. Tak lama kemudian, sang ayah juga sampai ke langit dan ingin kembali bersama istrinya. Sang istri memberinya beberapa ujian, seperti mengambil air dengan keranjang yang bocor, memilih makanan yang benar dari tujuh hidangan yang sama, dan memilih kelambu yang tepat di antara tujuh yang serupa. Dengan pertolongan tanda-tanda alam seperti lalat dan kucing, sang ayah berhasil melewati semua ujian tersebut. Akhirnya, keluarga itu pun bersatu kembali dan hidup bahagia bersama. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Kubia/Lutfia

admin Baca
ASSALNA PAMBUSUANG
Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

ASSALNA PAMBUSUANG

Mua iya di Pambusuang di buku-buku sejarah, diolo mai maidi dini bagian dari perangkat kerajaan, apa sanganna bissu atau pa"bissuang. Tapi, nua bahwa Pambusuang diolo di e engenanna apa sanganna pa pambusoang, yaitu to pandai besi. Jadi, kemungkinan yang lebih cocok iyya di o pambusoang daripada pa"bissuang. Apalagi mua dikaitkan dengan desa yang berbatasan dengan Pambusuang, diang isanga Sabang Subik. Kata subik itu bagian dari kobi (parang). Nyambung lagi mua dihubungkan dengan passokkorang sebagai penghasil besi. Jadi, cerita-cerita seperti itu ubaca dio tentang Pambusuang. Selain itu, di Pambusuang diang isanga Desa Bala. Di Desa Bala itu diang dua dusun, yaitu Dusun Makula anna Dusun Tallo. Disangai Makula karena di situ di biring bonde diang dio uwai loppa (air panas). Terus disangai Tallo karena di o palippis, di pantai itu, sering mettallo panyyu (penyu bertelur). Jadi, iyya di o uissang cerita-cerita tentang toponimi nama tempat di kampung. "Purami!" Terjemahan Bahasa Indonesia Nama Pambusuang dalam beberapa buku sejarah memiliki beberapa versi asal-usul. Ada yang mengatakan bahwa dahulu wilayah ini merupakan bagian dari perangkat kerajaan yang disebut bissu atau pa"bissuang. Namun, ada juga yang lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa nama Pambusuang berasal dari istilah pa pambusoang, yaitu tempat pandai besi. Jadi, stilah pambusoang lebih tepat dibandingkan. Hal ini semakin kuat jika dikaitkan dengan desa yang berbatasan dengan Pambusuang, yaitu Sabang Subik. Kata subik merupakan bagian dari kobi/kowi (parang). Keterkaitan ini semakin jelas jika dihubungkan dengan istilah Passokkorang, yang merujuk pada penghasil besi. Kisah-kisah ini saya peroleh dari berbagai bacaan mengenai sejarah Pambusuang. Selain itu, di wilayah Pambusuang terdapat Desa Bala. Di desa tersebut terdapat dua dusun, yaitu Dusun Makula dan Dusun Tallo. Dusun Makula dinamakan demikian karena di wilayah tersebut terdapat sumber air panas. Sementara itu, Dusun Tallo dinamai demikian karena penyu sering bertelur di pantai yang berada di dusun tersebut. Itulah cerita-cerita yang diketahui mengenai toponimi nama kampung/Desa Pambusuang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Muh. Azhar Al Ayyub

admin Baca