Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar

TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)

23 June 2026 -3.504433, 119.080132
TOMENJARI LUYUNG (ORANG MENJADI DUYUNG)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Iyarie carita tentang tau kindo Pader anna kama Pader na" diang da"dua ana": mesa keccu anna mesa kayyang. Di mesa allo, kindo"na manette, sedangkan kama"na lao ri umau (kebun). Sebelum lao, kama"na ma"pesan, "Mua lappo"o lao diumau anna ana"mu miarra melo naande bau, dangan mubengani." Kindo"na ma"uwani "Iyo." Tapi ana"na miarra sannal melo naande bau, sehingga kindo"na indani tahan, dipabenganni anna napande. Indani masae pole kama"na, maita bau indani diita. Ia ma"uwani, "Innai pa"da bau di tapane"? Kindo"na ma"jawab, "Upande tori ana"mu apa miarra sannali." Kama"na marah, naweso panette"na anna nawisa ulunna kindo"na. Alawena sassigi maendon sau ri tasi, anna sassigi maendon dai ri langi".
Ana" kayyang miarra melo sumusu adinna, jari ia lao ri tasi, nabawa adinna, anna maelong ri biring bonde", "Kindo" to menjari luyung, pasusuana kandi"u, indau ulle nasangian bongi allo." Pittallun ia maelong, pole tongan kindo"na menjari luyung, mimbale-balelo anna napasusu ana"na. Pura napasusu, kindo"na ma"uwani, "Pittallunmu ana", apa mua ganna, indanmo mala mai, apa iyau menjari luyung tongan." Mua ganna pittallun, kindo"na indani pole mai.
Sebelum pole ri tasi, kindo"na ma"pasang, "Mua adimmu miarra, susuri biring lemo, ala bukunna pambe, tuttumi lao batu, perasa tama nganganna kandi"mu." Ana" kayyang malao, mitai buku pambe, natuttu anna naparrawi tama nganganna adinna. Pittallun ia mapia adinna. Di lalan, ia maita boyang keccu, anna mangaku ri inene". Inene" iyamo tau paande ate. Allo-allo inene" ma"tanya, "Miapami atemu appo"? Ia ma"jawab, "Iyau mane ingga"na lemo-lemo, adikku mane ingga"na beau." Lambisan lao, atena naeke, jari inene" napasirri bumbu apa melo maande ate-ate ana"na.
Inene" ma"pesan, "Jagai bumbu"ku, dangan manu maande." Ana" ma"jaga, anna ma"uwani ri manu supaya indani maande. Pittallun ia ma"uwani. Pole kalowaya anna ma"uwani, "Indani tu"u bumbu manu, tapi bumbu ate-mu." Ana" anna adinna marakke. Kalowaya ma"petunjuk, "Ala pitu tungau, mesa di ba"ba, mesa di kamar, mesa di dapur, mesa di lalan, jari mua inene" metta", tungau ma"jawab." Tongan, tungau ma"jawab tiap inene" ma"tanya.
Sebelum lao, tungau ma"pasang, "Mua muannaek ri coppo boyang, ala passe, parrassan, anna soro." Mua inene" ma"naek, ana"na ma"annaek ri coppo boyang. Inene" ma"jollo"rai, tapi ana" natudang parrassan anna nateke ulunna inene", jari mate. Ana" ma"doa, "Puang, turunmai tangga ri langi"." Pole tangga, ia ma"naek ri langi" siola adinna.
Ri langi", ia maita tau mattimpa ase. Ia ma"uwani, "Daeng, bengana ande adikku apa miarra." Tau iyamo ma"pissanni mara"dia. Mara"dia ma"bengani ande, anna ma"uwani supaya siola-ola ri boyangna. Mesa wattu, ana" maita tanda ri ulunna mara"dia rapang tanda ri ulunna kindo"na dolo. Ia miarra. Mara"dia ma"uwani, "Iyau tu"u kindo"mu." Jari siola-olami.

Kama"na pole tongan ri langi" melo siola baine"na. Baine"na ma"ujian, "Ala wai ri karajin mua mala muannaek." Kama"na ma"doa, anna karajin indani bocor. Ujian kaduanna, mappile ande ri pitu pindang. Lali" ma"petunjuk pindang na" napile. Ujian katallunna, mappile kelambu ri bongi. Kucing ma"petunjuk kelambu na" masukke. Kama"na rapang pitu ujian, jari siola-olami siola ana"na, bahagia sappa-sappa.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang dikenal sebagai Ibu Pader dan Bapak Pader. Mereka memiliki dua orang anak, satu masih kecil dan satu sudah besar. Pada suatu hari, ketika sang ibu sedang menenun dan sang ayah hendak pergi ke kebun, ia berpesan agar jika anak mereka menangis meminta ikan, jangan diberikan. Ibu mengiyakan. Namun, anak mereka menangis sangat keras ingin makan ikan itu, sehingga ibu tidak tega dan akhirnya memberikannya. Tidak lama kemudian sang ayah pulang dan mendapati ikan tersebut sudah habis. Ketika mengetahui bahwa istrinya telah memberikannya kepada anak mereka, ia marah besar dan dalam kemarahannya ia menebas kepala istrinya. Sebagian tubuh sang ibu jatuh ke laut dan sebagian lagi ke langit.
Anak yang besar kemudian membawa adiknya ke tepi laut karena adiknya menangis ingin menyusu. Ia bernyanyi memanggil ibunya yang telah menjadi duyung agar datang menyusui adiknya. Tiga kali ia bernyanyi, dan sang ibu pun muncul dari laut dan menyusui anaknya. Sebelum kembali ke laut, ibunya berpesan bahwa ia hanya bisa datang tiga kali saja karena ia telah menjadi duyung sepenuhnya. Jika adiknya menangis lagi, carilah sisa tebu di tepi sungai, tumbuk dan peraslah airnya ke mulut adiknya.
Anak itu pun melaksanakan pesan tersebut. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah rumah kecil milik seorang nenek yang ternyata pemakan hati manusia. Setiap hari nenek itu bertanya tentang keadaan hati mereka, hingga suatu saat ia merasa hati mereka sudah cukup besar untuk dimakan. Nenek itu pun menyiapkan bumbu masakan dan menyuruh cucunya menjaga agar ayam tidak memakannya. Seekor burung kalowaya datang dan memperingatkan bahwa bumbu itu bukan untuk ayam, melainkan untuk memasak hati mereka.
Burung itu memberi petunjuk agar mereka menaruh tujuh tungau di berbagai tempat di rumah supaya menjawab saat nenek memanggil. Ketika nenek datang dan mencari mereka, tungau-tungau itu menjawab seolah-olah anak itu berada di berbagai tempat. Sementara itu, anak tersebut naik ke atas atap rumah. Ketika nenek memanjat hendak menangkap mereka, anak itu menjatuhkan alat-alat tajam hingga akhirnya mengenai kepala nenek dan ia pun meninggal. Anak itu lalu berdoa agar diturunkan tangga dari langit, dan tangga itu pun turun. Ia naik ke langit bersama adiknya.
Di langit, ia bertemu dengan seorang penguasa yang kemudian memberi mereka makan dan tempat tinggal. Suatu hari, ketika membantu membersihkan rambut sang penguasa, anak itu melihat bekas luka yang sama dengan luka ibunya dahulu. Ia pun menangis dan akhirnya mengetahui bahwa penguasa itu adalah ibunya sendiri yang telah menjadi sosok mulia di langit. Mereka pun hidup bersama kembali.
Tak lama kemudian, sang ayah juga sampai ke langit dan ingin kembali bersama istrinya. Sang istri memberinya beberapa ujian, seperti mengambil air dengan keranjang yang bocor, memilih makanan yang benar dari tujuh hidangan yang sama, dan memilih kelambu yang tepat di antara tujuh yang serupa. Dengan pertolongan tanda-tanda alam seperti lalat dan kucing, sang ayah berhasil melewati semua ujian tersebut. Akhirnya, keluarga itu pun bersatu kembali dan hidup bahagia bersama.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Kubia/Lutfia

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Pambusuang, Kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar