Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 3 cerita rakyat terarsip di sistem.

TOSALAMA MACCING
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

TOSALAMA MACCING

Curicuritana, iya diangga dini to salama ri banuatta, apa" maedi tu"u to salama dini ri Kapputtae. Adappa ro nairrangngi tau tentang kubur mahkota, kuburna Toadia Zumba Biluana, anna kuburna Tomillete di Baona Wai. Iyare tau-tau e biasa digallari "to macci". Di antara beberapa tempat anu upauang, sebenarnya masih banyak to salama ri wilayah Appe Banua Kayyang. Mesa di antara caritana berhubungan siola peradaban ri wattu diolo". Ndang naissang pasti abad berapa, tapi diolo" ri Mandar biasa diang sibalu-baluang. Tau dibaluang, anna di alli pole para penguasa. Mua" di alli, tentu diang guna anna kaparalluanna. Tania sangga ri Mandar, tapi diang toi suku laeng pole maalli tau ri Mandar. Caritana, diang mesa to Bugis mallopi pole maalli tau. Wattu ri"o, peristiwa sibalu-baluang berlangsung terus-menerus. Diang tau kurang senang melihat sesama manusia dipate-pate anna dibaluang. Jari diang mesa tau anu memang diang kelebihanna. Sejak kacili" lambi naimuane, iya macanga anna mapaccing pikiranna. Mesa wattu, iya maung lao di solana: "Mua" diang pole Bugis maalli tau lao dibaluang, yaupa nalli, so"na mo lao yau." Tappa tongan-tongan pole mesa to Bugis maalli tau. Iyamo tau e nalli anna napalaiang ri lopi. Tappa ri tangngalalang sasi, apa napogau i maccin e? Iya ummondoi naung ri sasi mane millamba malai. Iyamo kelebihanna, sangga lettena base sicco, iya mala millamba lao di baona wai. Karena iyamo kelebihanna, digallari toi "Tomillete di Baona Wai". Akhirna, diang pole toi to Bugis anu manini maalli tau. Tappa wattu silambi-lambi para palli tau, tau-tau mulai maung: "Bahaya di Mandar, apa" diang tau anu mala millamba ri tangngalalang sasi." Iyamo sababuna para palli tau mulai massipa" ati-ati. Ndang sangga iyamo kelebihanna. Diang toi kelebihan kadua, iyaitu ndang naande pa"buno. Mua" dibattai kowi, ndang mabassi. Mua" dirattui manini, tetap ndang mate. Iyamo sababuna digallari "to macci", apa" dibattai manini, dirattui, anna dipillippa tetap ndang mate. Ri te"e ri"e, ana" appona ndammo diang mirau dappang tentang caritana. Tappa ri wilayah Lambe-Lambe diang pakkuburanna mesa ri batunna. Kubur to"o biasa naziarai tau. Iyamo dipauang sabagai kuburna "Tomillete di Baona Wai". "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Konon, dahulu terdapat banyak orang sakti di kampung kami, khususnya di daerah Kapputtae. Masyarakat sering mendengar kisah tentang kubur mahkota, kuburan Toadia Zumba Biluana, dan kuburan Tomillete di Baona Wai. Orang-orang seperti mereka biasa disebut sebagai "orang berilmu" atau orang sakti. Di wilayah Appe Banua Kayyang sendiri sebenarnya masih banyak kisah tentang orang-orang sakti yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah tersebut berkaitan dengan peradaban pada masa lampau. Tidak diketahui secara pasti pada abad berapa peristiwa itu terjadi, tetapi pada masa dahulu di Mandar masih sering terjadi praktik perbudakan atau jual beli manusia. Orang-orang dijual dan dibeli oleh para penguasa. Hal itu tidak hanya terjadi di Mandar, tetapi juga melibatkan suku-suku lain yang datang membeli orang Mandar. Dikisahkan ada seorang Bugis yang datang menggunakan perahu untuk membeli budak. Pada masa itu praktik jual beli manusia berlangsung terus-menerus. Banyak masyarakat yang merasa tidak senang melihat sesama manusia diperlakukan seperti barang dagangan. Di tengah keadaan tersebut, ada seorang laki-laki yang memiliki kelebihan luar biasa. Sejak kecil hingga dewasa, ia dikenal sebagai orang yang cerdas dan memiliki ilmu yang tinggi. Suatu hari ia berkata kepada temannya: "Kalau ada orang Bugis datang membeli manusia untuk dijadikan budak, biarlah saya saja yang dibeli." Tidak lama kemudian benar-benar datang seorang Bugis yang membeli manusia. Orang sakti itu akhirnya dibeli dan dibawa menggunakan perahu. Namun di tengah lautan, orang sakti tersebut memperlihatkan kesaktiannya. Ia turun ke laut lalu berjalan di atas air. Inilah sebabnya ia dijuluki "Tomillete di Baona Wai", yang berarti orang yang berjalan di atas permukaan air. Konon, telapak kakinya hanya sedikit menyentuh air sehingga ia mampu berjalan di atas laut. Sejak kejadian itu, para pembeli budak dari Bugis mulai merasa takut datang ke Mandar. Mereka mengatakan bahwa di Mandar terdapat orang-orang sakti yang dapat berjalan di atas laut. Karena itulah para pembeli budak menjadi lebih berhati-hati. Bukan hanya itu kesaktiannya. Ia juga dipercaya kebal terhadap senjata. Konon, jika ditebas dengan parang atau ditikam menggunakan senjata tajam, tubuhnya tidak terluka dan ia tidak mati. Karena itulah ia disebut sebagai "to macci", yaitu orang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Sekarang ini keturunan dan cucunya sudah jarang menceritakan kisah tersebut. Akan tetapi, di wilayah Lambe-Lambe masih terdapat sebuah makam di atas batu yang dipercaya sebagai makam Tomillete di Baona Wai. Hingga sekarang makam itu masih sering diziarahi oleh masyarakat sekitar. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca
PAMOLITANG
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

PAMOLITANG

Diang toi sicco curita diolo" anu biasa dipake ri wattu mappammulitan lao di ana"-ana" anna appo"-appo". Curita e biasa dipau-pauang ri tau melo millo-milloi, tapi di lalangna diang hikmah anna pepaturu anu mala diala. Andang to tia curita biasa, apa" di lalangna diang naseha anna pangngajariang ri tau anu mambaca anna maccarita. Caritana tentang manu-manua, iyaitu bukkur, uteang, kalloaya, ule pute, pilis, bulewong, anna mallakka lelona bulewong. Mesa wattu, kalloaya e tertari lao di bulewong, apa" bulewong e tommuane makappa sanna. Iya toi uteang e naiwene malolo ana"na maraqdia. Tappa rua si ita, i bulewong anna i puteang, tertari"i. Mua di te"e, biasa tau maung "ada hati", battuanna timbul rasa ingin memiliki. Iyamo toi anu nadiang ri lalang atena i bulewong. Apa" mua maita tau anu macoa, biasa timbul hasrat melo maala anna mappunnai. Iyamo tu"u sababu"na i bulewong mappikir, "Meapa tia mua iyari"e misolangan siola i puteang"? Akhirna, i bulewong mautus mesa akkattana lao di boyanna maraqdia melo mittumae. Tappa di tangngalalang, sita i kalloaya. I bulewong maung melo mirau tulung lao di kalloaya. Kalloaya e ditumae lao mabbawa akkattana i bulewong lao di puteang, ana"na maraqdia. Wattu lambi ri boyangna i puteang, iya mamanya: "Apa" akkattana i bulewong"? Kalloaya menjawab: "I bulewong melo malotong siola idi"." Tappa i puteang ndang langsung percaya. Apa" i kalloaya dikenal suka malotong pai tia. Bahkan tau biasa maung: "Malotong pai tia i kalloaya, de"na kalloaya to lewa." Tappa maraqdia maung: "Dota banding re mua" akkattana i bulewong benar." Apa" sebenarnya i kalloaya memang melo toi lao di ana"na maraqdia. Akhirna maraqdia mautus: "Damo i bulewong mubawa mai, dota lao ri"o." Iyamo tu"u akhirnya disepakati mua" i kalloaya dikaweng lao di puteang. Setelah itu, diadakan pesta maroa. Maraqdia ma"undang tau-tau anna dipasparaga pitung bongi pitung allo. Tappa allo ka pitu, polei i bulewong mattambeng-tambeng pondo", massalippeang handuk pute. Iyamo handuk pute e napake i bulewong sabagai tanda kasucian anna kesungguhan atena. Iya mattambeng-tambeng pondo" ri ba"ba kamarna i puteang sambil mabbawa bukkur anna pune". Wattu naita i puteang mua" i bulewong naung ri ba"ba boyang, iya massamba-samba lemai. Tappa nabemmei ragang, anna ragang e napake mappengguliling boyangna maraqdia sampai peppitu kali. Tappa terakhirna, iya massamba-samba dai lao di kamarna i puteang. Wattu mittama ri kamarna, millangmi i puteang. Ri situ, bukkur e mulai makkurru-kurru, anna i puteang mulai mi umbu. Tau diolo" maung mua" iyamo tandana mua" i bulewong sumangi i puteang. Iyamo tu"u caritana anu biasa dipau-pauang ri tau diolo". Di lalangna diang pangngajariang mua" rasa tertari", cinta, anna kahayang manusia biasa membawa perubahan ri atena tau. "Cappu"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada juga sebuah cerita lama yang biasa digunakan sebagai cerita pengantar tidur untuk anak-anak dan cucu-cucu. Cerita ini sering disampaikan oleh orang-orang tua kepada anak-anak mereka. Walaupun terdengar seperti dongeng biasa, sebenarnya terdapat hikmah, nasihat, dan pelajaran hidup yang dapat diambil dari cerita tersebut. Cerita ini berkisah tentang beberapa hewan seperti burung bukkur, uteang, kura-kura (kalloaya), ular putih, pilis, bulewong, dan kisah cinta seekor bulewong. Pada suatu waktu, kura-kura jatuh hati kepada seekor bulewong karena bulewong itu dikenal sebagai sosok yang sangat tampan. Sementara itu, burung uteang juga memiliki anak perempuan yang sangat cantik, yaitu putri seorang maraqdia (bangsawan). Baik bulewong maupun puteang sama-sama saling tertarik. Dalam kehidupan manusia, ketika seseorang melihat sesuatu yang indah, biasanya akan timbul rasa ingin memiliki. Demikian pula yang dirasakan oleh bulewong. Ia mulai berpikir mengapa dirinya tidak bisa bersatu dengan puteang yang sangat ia sukai. Akhirnya, bulewong mengutus seekor kura-kura untuk datang ke rumah maraqdia dan menyampaikan maksud hatinya. Di tengah perjalanan, kura-kura bertemu dengan pihak keluarga puteang. Kura-kura itu kemudian menjadi perantara untuk membawa pesan bulewong kepada putri maraqdia tersebut. Ketika sampai di rumah puteang, ia bertanya: "Apa sebenarnya pesan dari bulewong"? Kura-kura menjawab: "Bulewong ingin bersatu denganmu." Namun, puteang tidak langsung percaya karena kura-kura dikenal suka berbicara berlebihan. Bahkan masyarakat dahulu sering mengatakan bahwa kura-kura pandai berbicara manis. Meskipun demikian, maraqdia tetap mempertimbangkan pesan tersebut. Pada akhirnya, maraqdia berkata: "Kalau memang benar demikian, bawalah bulewong kemari." Akhirnya diputuskan bahwa kura-kura akan menjadi penghubung pernikahan antara bulewong dan puteang. Setelah itu diadakan pesta besar-besaran. Maraqdia mengundang banyak orang dan pesta berlangsung selama tujuh malam tujuh hari. Pada hari ketujuh, datanglah bulewong dengan mengenakan ikat kepala dan membawa handuk putih. Handuk putih tersebut melambangkan kesucian dan ketulusan hatinya. Bulewong berjalan perlahan menuju rumah puteang sambil membawa burung bukkur dan pune". Ketika puteang melihat bulewong telah berada di depan rumah, ia mulai tersenyum malu-malu. Bulewong kemudian mengelilingi rumah maraqdia sebanyak tujuh kali sambil memberikan penghormatan. Setelah itu, ia masuk ke kamar puteang. Saat berada di dalam kamar, suasana menjadi hening. Burung bukkur mulai berbunyi pelan, sementara puteang mulai tersipu malu. Orang-orang dahulu menganggap peristiwa itu sebagai tanda bahwa bulewong benar-benar mencintai puteang. Demikianlah kisah lama yang dahulu sering diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita ini terdapat pelajaran bahwa rasa cinta, ketertarikan, dan keinginan manusia dapat membawa perubahan dalam hati seseorang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca
ASAL MULA PAKKAMMISANG
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

ASAL MULA PAKKAMMISANG

Nanaeke mindiwoe naua sawa mengapa disanga mesa kappung, apa" andang diang kappung dini di kappungta anu andang diang sawana, anna diang sangana sanging makkesawa. Iyamo sababu"na upamaccaritangan lao diita nasang. Pertama, Dusung Lambe-Lambe merupakan mesa dusung ri lalang wilayah Banua Kayyang Napo anna Banua Kayyang Samasundu. Tau maung mengapa disanga "Lambe-Lambe" apa" iyamo di tappui lambe pissang. Diolo", tau maung Lambe-Lambe apa" di situ diang lambe"na Napo anna lambe"na Samasundu. Jadi, "lambe" di te"e tania ponna ayu seperti pemahaman tau di te"e, tapi iyamo kiasan lao di ponna ayu. Ponna lambe e mawuwang pettulung, marakka, anna macoa pappinadingna. Iyamo tu"u sebabna Lambe-Lambe dipaissang sabagai pettulungan dadua Banua Kayyang, iyaitu Napo anna Samasundu. Menurut carita to diolo", selama-lamana ri"e, Lambe-Lambe memang diissang sabagai lambena Napo anna lambena Samasundu. Iyamo membuktikan mua" Lambe-Lambe andiang kaitanna siola dadua wilayah to"o. Mesa wattu, Desa Napo anna Desa Samasundu dipapiang batas wilayahna. Wattu di mekkaromi Lambe-Lambe, para pemuka masyarakat massolo-solo menentukan batasna. Mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Samasundu, maka batasna dimulai di puncak tanete lambi sau di Buttu Ra"bah. Tapi mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Napo, maka batasna dimulai di tondomainna Tallasa lambi sau di Sumail anna Kamba Jawa. Iyamo tu"u menjari bukti mua" Lambe-Lambe memang lambena Napo anna lambena Samasundu. Ri lalangna Lambe-Lambe, diang arriang appe" Napo. Menurut pahaman to diolo", arriang appe" to"o andiang mala mikkede mesa Napo. Tapi di te"e ri"e, carita-carita to diolo" mulai makurang dipau-pauang, iyamo sababuna parallu dipappole lao di ana" cucu. Di te"e ri"e, tau le"ba naissang Pakkamisang daripada Lambe-Lambe. Padahal, anu resmi masuk ri sejarah anna resmi menjari sangana dusung iyamo Lambe-Lambe. Tapi mengapa tau lebih naissang "Pakkamisang"? Apa" kata dasarna pole di "Kammis". Diolo", diang pasar ri wilayah Lambe-Lambe. Pasar to"o dipau "Pasar Pakkammisang" apa" allo pasarna iyamo allo Kammis. Wattu gerombolan Maroa datang ri pasar to"o, pasar Pakkammisang lebih rame daripada Tinambung. Tau-tau ma"jua" biasa membayar biaya operasional pasar memakai ara" tumaru. Ara" tumaru diolo" dipake sabagai biaya operasional pasar, apa" andiang jama-jamangang seperti di te"e ri"e. Iyamo tu"u sebabna pasar to"o dipaissang "Pakkammisang", apa" pasarna berlangsung tiap allo Kammis. Lambat-laun, wilayah sekitar pasar menjari pakkapungan anna tau mulai maung "Pakkamisang". Iyamo caritana tentang asal-usul Lambe-Lambe anna Pakkamisang. Semoga carita diolo" di te"e mala dipahami anna dipappole lao di generasi mambali, supaya sejarah anna budaya to diolo" andiang mala ilang. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Banyak orang bertanya mengapa sebuah wilayah disebut sebagai kampung, padahal di daerah tersebut tidak terdapat persawahan ataupun masyarakat yang bekerja sebagai petani sawah. Oleh karena itu, kisah ini perlu diceritakan kepada masyarakat. Dusun Lambe-Lambe merupakan sebuah dusun yang berada di antara wilayah Banua Kayyang Napo dan Banua Kayyang Samasundu. Nama "Lambe-Lambe" berasal dari istilah lambe pissang. Dahulu, masyarakat menyebut daerah itu sebagai tempat pertemuan atau penghubung antara wilayah Napo dan Samasundu. Kata "lambe" di sini bukan berarti pohon secara harfiah, melainkan hanya sebuah perumpamaan. Pohon lambe diibaratkan sebagai tempat berteduh, tempat berlindung, dan tempat yang memberi kesejukan. Karena itulah Lambe-Lambe dianggap sebagai tempat penengah atau penghubung antara dua Banua Kayyang, yaitu Napo dan Samasundu. Menurut cerita orang terdahulu, sejak dahulu Lambe-Lambe memang dikenal sebagai wilayah penghubung antara kedua daerah tersebut. Hal itu menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memiliki hubungan erat dengan Napo dan Samasundu. Pada suatu masa, Desa Napo dan Desa Samasundu mulai menentukan batas wilayah masing-masing. Ketika Lambe-Lambe mulai berkembang, para tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menentukan batas wilayahnya. Jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Samasundu, maka batasnya dimulai dari puncak bukit hingga ke Buttu Ra"bah. Namun, jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Napo, maka batasnya dimulai dari daerah Tallasa hingga Sumail dan Kamba Jawa. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memang merupakan wilayah penghubung antara Napo dan Samasundu. Di wilayah Lambe-Lambe juga terdapat empat sumber mata air milik Napo. Menurut pemahaman masyarakat dahulu, keempat sumber air tersebut tidak dapat dipisahkan dari wilayah Napo. Akan tetapi, pada masa sekarang cerita-cerita lama mulai jarang disampaikan sehingga perlu diwariskan kembali kepada generasi muda. Saat ini masyarakat lebih mengenal nama "Pakkamisang" daripada "Lambe-Lambe". Padahal, nama resmi yang tercatat dalam sejarah dan menjadi nama dusun adalah Lambe-Lambe. Namun masyarakat lebih mengenal istilah "Pakkamisang" karena berasal dari kata "Kammis". Dahulu terdapat pasar di wilayah Lambe-Lambe yang dikenal dengan nama Pasar Pakkammisang karena hari pasarnya berlangsung setiap hari Kamis. Pada masa itu, Pasar Pakkammisang bahkan lebih ramai dibandingkan Pasar Tinambung. Para pedagang yang berjualan di pasar tersebut biasanya membayar biaya operasional menggunakan ara" tumaru. Ara" tumaru pada masa dahulu digunakan sebagai biaya operasional pasar karena belum ada sistem pekerjaan dan pengelolaan seperti sekarang. Oleh sebab itu, pasar tersebut dikenal dengan nama Pakkammisang karena berlangsung pada hari Kamis. Lama-kelamaan wilayah di sekitar pasar berkembang menjadi perkampungan sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Pakkamisang. Demikianlah kisah tentang asal-usul Lambe-Lambe dan Pakkamisang. Semoga cerita lama seperti ini dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar sejarah dan budaya masyarakat terdahulu tidak hilang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ambas

admin Baca