Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar

ASAL MULA PAKKAMMISANG

23 June 2026 -3.472319, 119.020990
ASAL MULA PAKKAMMISANG

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Nanaeke mindiwoe naua sawa mengapa disanga mesa kappung, apa" andang diang kappung dini di kappungta anu andang diang sawana, anna diang sangana sanging makkesawa. Iyamo sababu"na upamaccaritangan lao diita nasang.
Pertama, Dusung Lambe-Lambe merupakan mesa dusung ri lalang wilayah Banua Kayyang Napo anna Banua Kayyang Samasundu. Tau maung mengapa disanga "Lambe-Lambe" apa" iyamo di tappui lambe pissang. Diolo", tau maung Lambe-Lambe apa" di situ diang lambe"na Napo anna lambe"na Samasundu. Jadi, "lambe" di te"e tania ponna ayu seperti pemahaman tau di te"e, tapi iyamo kiasan lao di ponna ayu. Ponna lambe e mawuwang pettulung, marakka, anna macoa pappinadingna.
Iyamo tu"u sebabna Lambe-Lambe dipaissang sabagai pettulungan dadua Banua Kayyang, iyaitu Napo anna Samasundu. Menurut carita to diolo", selama-lamana ri"e, Lambe-Lambe memang diissang sabagai lambena Napo anna lambena Samasundu. Iyamo membuktikan mua" Lambe-Lambe andiang kaitanna siola dadua wilayah to"o.
Mesa wattu, Desa Napo anna Desa Samasundu dipapiang batas wilayahna. Wattu di mekkaromi Lambe-Lambe, para pemuka masyarakat massolo-solo menentukan batasna. Mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Samasundu, maka batasna dimulai di puncak tanete lambi sau di Buttu Ra"bah. Tapi mua" Lambe-Lambe dimasukkan lao di wilayah Napo, maka batasna dimulai di tondomainna Tallasa lambi sau di Sumail anna Kamba Jawa.
Iyamo tu"u menjari bukti mua" Lambe-Lambe memang lambena Napo anna lambena Samasundu. Ri lalangna Lambe-Lambe, diang arriang appe" Napo. Menurut pahaman to diolo", arriang appe" to"o andiang mala mikkede mesa Napo. Tapi di te"e ri"e, carita-carita to diolo" mulai makurang dipau-pauang, iyamo sababuna parallu dipappole lao di ana" cucu.
Di te"e ri"e, tau le"ba naissang Pakkamisang daripada Lambe-Lambe. Padahal, anu resmi masuk ri sejarah anna resmi menjari sangana dusung iyamo Lambe-Lambe. Tapi mengapa tau lebih naissang "Pakkamisang"? Apa" kata dasarna pole di "Kammis".
Diolo", diang pasar ri wilayah Lambe-Lambe. Pasar to"o dipau "Pasar Pakkammisang" apa" allo pasarna iyamo allo Kammis. Wattu gerombolan Maroa datang ri pasar to"o, pasar Pakkammisang lebih rame daripada Tinambung. Tau-tau ma"jua" biasa membayar biaya operasional pasar memakai ara" tumaru.
Ara" tumaru diolo" dipake sabagai biaya operasional pasar, apa" andiang jama-jamangang seperti di te"e ri"e. Iyamo tu"u sebabna pasar to"o dipaissang "Pakkammisang", apa" pasarna berlangsung tiap allo Kammis. Lambat-laun, wilayah sekitar pasar menjari pakkapungan anna tau mulai maung "Pakkamisang".
Iyamo caritana tentang asal-usul Lambe-Lambe anna Pakkamisang. Semoga carita diolo" di te"e mala dipahami anna dipappole lao di generasi mambali, supaya sejarah anna budaya to diolo" andiang mala ilang.
"Tamma"!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Banyak orang bertanya mengapa sebuah wilayah disebut sebagai kampung, padahal di daerah tersebut tidak terdapat persawahan ataupun masyarakat yang bekerja sebagai petani sawah. Oleh karena itu, kisah ini perlu diceritakan kepada masyarakat.
Dusun Lambe-Lambe merupakan sebuah dusun yang berada di antara wilayah Banua Kayyang Napo dan Banua Kayyang Samasundu. Nama "Lambe-Lambe" berasal dari istilah lambe pissang. Dahulu, masyarakat menyebut daerah itu sebagai tempat pertemuan atau penghubung antara wilayah Napo dan Samasundu. Kata "lambe" di sini bukan berarti pohon secara harfiah, melainkan hanya sebuah perumpamaan. Pohon lambe diibaratkan sebagai tempat berteduh, tempat berlindung, dan tempat yang memberi kesejukan.
Karena itulah Lambe-Lambe dianggap sebagai tempat penengah atau penghubung antara dua Banua Kayyang, yaitu Napo dan Samasundu. Menurut cerita orang terdahulu, sejak dahulu Lambe-Lambe memang dikenal sebagai wilayah penghubung antara kedua daerah tersebut. Hal itu menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memiliki hubungan erat dengan Napo dan Samasundu.
Pada suatu masa, Desa Napo dan Desa Samasundu mulai menentukan batas wilayah masing-masing. Ketika Lambe-Lambe mulai berkembang, para tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menentukan batas wilayahnya. Jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Samasundu, maka batasnya dimulai dari puncak bukit hingga ke Buttu Ra"bah. Namun, jika Lambe-Lambe dimasukkan ke wilayah Napo, maka batasnya dimulai dari daerah Tallasa hingga Sumail dan Kamba Jawa.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa Lambe-Lambe memang merupakan wilayah penghubung antara Napo dan Samasundu. Di wilayah Lambe-Lambe juga terdapat empat sumber mata air milik Napo. Menurut pemahaman masyarakat dahulu, keempat sumber air tersebut tidak dapat dipisahkan dari wilayah Napo. Akan tetapi, pada masa sekarang cerita-cerita lama mulai jarang disampaikan sehingga perlu diwariskan kembali kepada generasi muda.
Saat ini masyarakat lebih mengenal nama "Pakkamisang" daripada "Lambe-Lambe". Padahal, nama resmi yang tercatat dalam sejarah dan menjadi nama dusun adalah Lambe-Lambe. Namun masyarakat lebih mengenal istilah "Pakkamisang" karena berasal dari kata "Kammis".
Dahulu terdapat pasar di wilayah Lambe-Lambe yang dikenal dengan nama Pasar Pakkammisang karena hari pasarnya berlangsung setiap hari Kamis. Pada masa itu, Pasar Pakkammisang bahkan lebih ramai dibandingkan Pasar Tinambung. Para pedagang yang berjualan di pasar tersebut biasanya membayar biaya operasional menggunakan ara" tumaru.
Ara" tumaru pada masa dahulu digunakan sebagai biaya operasional pasar karena belum ada sistem pekerjaan dan pengelolaan seperti sekarang. Oleh sebab itu, pasar tersebut dikenal dengan nama Pakkammisang karena berlangsung pada hari Kamis. Lama-kelamaan wilayah di sekitar pasar berkembang menjadi perkampungan sehingga masyarakat menyebutnya sebagai Pakkamisang.
Demikianlah kisah tentang asal-usul Lambe-Lambe dan Pakkamisang. Semoga cerita lama seperti ini dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar sejarah dan budaya masyarakat terdahulu tidak hilang.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Ambas

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Samasundu, Kec. Limboro, Kab. Polewali Mandar