Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 3 cerita rakyat terarsip di sistem.
TOMOASU (PEMBURU)
Ahake boi mesa tohodolu anu isanganei lekbak moasu, sola kasi indona yaho di dasana. Sia daiaha na ande aka sisangallo. Nawwammi nawwa dindeo indo", "Ana", lekbak manpeang kinande." Lekbak ung tallubengi tallungallo metanete, melembang mampeang kinande. Dataha pisanganna inde talumbengi, lekoak dalolo. Ke aha nalambik mebang suli diyaho ditanete. Nonea indee melau dalle ana", nawwa, "Aha"ade kinande"? Kubaha membalik naung di indo"ku, lambi bajabaja suledang jonga na nennek-nennenna, noa dang noa. "Oh indo", inde" dang neik lakubunoh anna malai kubahang indoku." Nabunoh indoo jonga. Daimasae tibubu tau maik di noa-noa ladipateio dinoa aka mampateio indee. Dai tei malah dipatei indee, aka indee tei tadia i ite jonga indee. Tau ya pisanganna noadang, nawwa yaumbang kasi lakupanoa. Aka indona hoi namesa laumpateia, yaaka laku babe da laumpatei. Napo"na kenang-kenang, indi bale jonga. Na disusanggi lau pak kampung, umbahang tuung indomu ampo laumbolikmi sule lolo mampeang jonga. Membalik naung di kampungna mambaha bale jonga. Nabahammi indo"na tutuang naande hoi nanasu sola membalik indoo jonga anu napatei ingena na donga-dongai. Nawwa akana ahai indee jonga, "Aka haling koo kupatei, dia liu deik indee." Indona noa umbasanganoa, noa ampok pembalimo. Akamoi kupatei matekang, kek kupatei lolo o yah teppu. Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang ayahnya telah lama meninggal dunia. Ia tinggal bersama ibunya di rumah mereka. Setiap hari mereka hidup serba kekurangan dan sulit mendapatkan makanan. Suatu hari sang anak berkata kepada ibunya, "Ibu, saya sangat lapar." Sudah tiga malam dan tiga hari mereka tidak makan dengan layak. Mereka hanya memiliki pisang yang belum matang dan masih mentah. Itulah satu-satunya makanan yang bisa mereka masak di rumah. Anak itu terus diliputi rasa lapar dan kembali bertanya, "Apa yang bisa saya makan"? Ibunya hanya bisa membalikkan badan dengan perasaan sedih, sementara anak itu semakin lemah, kurus, dan tak berdaya. Anak itu berkata, "Ibu, lebih baik saya mati saja daripada terus kelaparan." Mendengar kata-kata itu, sang ibu diliputi keputusasaan. Dalam kebingungan dan penderitaan yang mendalam, terjadilah peristiwa tragis yang menyebabkan kematian anak tersebut. Sesungguhnya anak itu tidak pantas mati, karena ia sama sekali tidak bersalah. Penyebab semua ini hanyalah kemiskinan dan ketiadaan makanan yang berkepanjangan. Ibunya kemudian menyesali perbuatannya. Ia menangis dan terus mengenang anaknya, sambil menyadari bahwa apa yang terjadi tidak akan pernah bisa diperbaiki. Kisah ini kemudian diceritakan kepada orang-orang kampung agar menjadi pelajaran. Cerita itu disampaikan turun-temurun sebagai peringatan tentang penderitaan akibat kelaparan dan kemiskinan. Sang ibu terus hidup dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam, mengenang anaknya yang telah tiada sambil meratapi perbuatannya. Ia berkata dalam hatinya, "Bukan karena benci aku melakukannya, tetapi karena penderitaan hidup." Namun penyesalan itu tidak dapat menghidupkan kembali anaknya. Kisah ini pun berakhir sebagai pengingat pahit tentang arti kasih sayang, kesabaran, dan kemanusiaan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Hasmiati
TOSIPULIBULANG (GERHANA BULAN)
Nde allo lako pa"ceritangkoa kadahianna iyowaang tosipulibulang. Nde aha diowaang tosipulibulang aka napasang di anakna ma"ke to kiama"i bulang, anna pa"da: "A anakku, ya"dango peanga ma"ke to ahai tanda-tanda diang to ndii." Pissanganna, lambi wattunna kiama" bulang, moning pattongang, moni padaling, moni asang liu, sama moni-moniang naponi masyarakat dahi nde nenek pa"dakale dipetindoangna. Pissanganna ndee diitai neik dikalempei dihoi" petindoangna, aka dahi batunna dihoi salassa diang ndoo di owaang tosipulibulang. Dahi ndee nenek tosipulibulang dai aha mayatna dilamung, ampo batu supu sola panganna, peco-pecoangna, anna sampa-sampana. Kasassi anna ndee batu dinde dinoa di lembangna Indo Kada Nenek di Tapako", diang nde naongei kadahianna tosipulibulang. "Puhang Dolu!" Terjemahan Bahasa Indonesia Konon ada sebuah cerita tentang kejadian yang disebut Tosipulibulang. Yang disebut tosipulibulang bahwa ada pesan yang diberikan kepada anaknya. nenek itu berkata: "Anakku, nanti akan ada gerhana bulan kalau saya hilang pertanda itulah saya." Akhirnya, gerhana bulan itu terjadi, terdengarlah suara kentongan, suara gong dan berbagai bunyian yang dibunyikan oleh masyarakat dan nenek itu menghilang di tempat tidurnya. Nenek itu dicari dibawah tempat tidurnya ternyata sudah menjadi batu dibawa rumah Salassa. Nenek tosipulibulang tidak dkuburkan karena sudah menjadi batu lengkap dengan alat tumbuk daun sirih, Sampai sekarang, batu itu masih ada dan disimpan di kampung Indo Kada Nenek di Tapako", sebagai bukti adanya cerita tentang tosipulibulang tersebut. "Selesai! Diceritakan kembali oleh Tanang
ADHANG PATTEKE (KUDA PEMBAWA KELAPA)
Maikoa ampo"ku, anna ku patuhodoluangkoa aka pengalaman. Aha adahang dedua mesa mattake sia anna mesa mattake kahu-kahu. Pisanan nde sitindo na eje lolo nde kasi anu nde mambaha sia aka matingi. Nawwa yaiyo aha toboi koa te dio masussa. Pisanan nde lambang uhai buntu uhai aka dake aha tete lambang ndo"o, sanganna nde inda mesa jembatan. Ma hehe nel sia labu pissanganna neik. Kahukahu na pentama i nei uhai, dai mala labu kende, sohong mai adahang. Nawwa: "Dang bo muhamma nde matinginna sanga kahukahu ka napembolongi uhai." Naranwa dang ndo adahang anu: "Kami todak mahingan kan aka nabang kami uhai sia." Nawwa daangiyo ya" malantei ya, kami bisa. Dahi nawwa pengalaman mi ndo dai tau. Manggeje solake masusai dai tau, mala manggeje solake. Inde dai tau mala maganu padang tasappa keahai masussa dal mala dieje. Keahai makodong allinganna ta kamua-kamuai. Kita dahi pada Indo laungkiemulemu, mapiyai boh. Dahi diang tei ndo anakku ampoku. Bo puhang ndo pengalaman. "Puhang!" Terjemahan Bahasa Indonesia Mari cucuku, saya akan menceritakan sebuah pengalaman. Ada dua ekor kuda, yang satu membawa garam dan yang satu lagi membawa kapuk. Pada suatu hari, kedua kuda itu berjalan bersama. Kuda yang membawa kapuk mengejek kuda yang membawa garam karena bebannya terasa sangat berat. Namun kuda pembawa garam berkata, "Suatu saat nanti, kamu juga akan mengalami kesusahan." Suatu hari mereka menyeberangi sungai karena pada waktu itu belum ada jembatan. Garam yang dibawa kuda pertama hanyut terbawa air. Sedangkan kapuk yang dibawa kuda lainnya terendam air sehingga menjadi berat dan tidak bisa hanyut. Kuda pembawa kapuk pun muncul dengan susah payah. Ia berkata, "Astaga, kapuk ini sekarang sangat berat karena sudah terendam air." Lalu kuda yang membawa garam berkata, "Beban milikku justru menjadi ringan karena sudah terbawa air." Ia pun berkata dengan tenang, "Sekarang aku bisa berjalan dengan ringan." Dari peristiwa itulah menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran bagi manusia. Janganlah kita mengejek orang lain yang sedang mengalami kesusahan, karena kita sendiri bisa mengalami hal yang sama di kemudian hari. Jika ada yang sakit atau susah, kita harus saling peduli dan saling mengasihi. Kita sesama manusia harus hidup dengan kasih sayang. Itulah pesan dan pengalaman yang ingin disampaikan, anak dan cucuku. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Hanuba