Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Kelurahan Aralle, Kec.Aralle, Kab. Mamasa

TOMOASU (PEMBURU)

22 May 2026 -2.873229, 119.150945
TOMOASU  (PEMBURU)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Ahake boi mesa tohodolu anu isanganei lekbak moasu, sola kasi indona yaho di dasana. Sia daiaha na ande aka sisangallo. Nawwammi nawwa dindeo indo", "Ana", lekbak manpeang kinande."
Lekbak ung tallubengi tallungallo metanete, melembang mampeang kinande. Dataha pisanganna inde talumbengi, lekoak dalolo. Ke aha nalambik mebang suli diyaho ditanete.
Nonea indee melau dalle ana", nawwa, "Aha"ade kinande"? Kubaha membalik naung di indo"ku, lambi bajabaja suledang jonga na nennek-nennenna, noa dang noa.
"Oh indo", inde" dang neik lakubunoh anna malai kubahang indoku." Nabunoh indoo jonga. Daimasae tibubu tau maik di noa-noa ladipateio dinoa aka mampateio indee. Dai tei malah dipatei indee, aka indee tei tadia i ite jonga indee. Tau ya pisanganna noadang, nawwa yaumbang kasi lakupanoa.
Aka indona hoi namesa laumpateia, yaaka laku babe da laumpatei. Napo"na kenang-kenang, indi bale jonga. Na disusanggi lau pak kampung, umbahang tuung indomu ampo laumbolikmi sule lolo mampeang jonga. Membalik naung di kampungna mambaha bale jonga.
Nabahammi indo"na tutuang naande hoi nanasu sola membalik indoo jonga anu napatei ingena na donga-dongai. Nawwa akana ahai indee jonga, "Aka haling koo kupatei, dia liu deik indee." Indona noa umbasanganoa, noa ampok pembalimo. Akamoi kupatei matekang, kek kupatei lolo o yah teppu.

Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang ayahnya telah lama meninggal dunia. Ia tinggal bersama ibunya di rumah mereka. Setiap hari mereka hidup serba kekurangan dan sulit mendapatkan makanan. Suatu hari sang anak berkata kepada ibunya, "Ibu, saya sangat lapar."
Sudah tiga malam dan tiga hari mereka tidak makan dengan layak. Mereka hanya memiliki pisang yang belum matang dan masih mentah. Itulah satu-satunya makanan yang bisa mereka masak di rumah.
Anak itu terus diliputi rasa lapar dan kembali bertanya, "Apa yang bisa saya makan"? Ibunya hanya bisa membalikkan badan dengan perasaan sedih, sementara anak itu semakin lemah, kurus, dan tak berdaya.
Anak itu berkata, "Ibu, lebih baik saya mati saja daripada terus kelaparan." Mendengar kata-kata itu, sang ibu diliputi keputusasaan. Dalam kebingungan dan penderitaan yang mendalam, terjadilah peristiwa tragis yang menyebabkan kematian anak tersebut. Sesungguhnya anak itu tidak pantas mati, karena ia sama sekali tidak bersalah. Penyebab semua ini hanyalah kemiskinan dan ketiadaan makanan yang berkepanjangan.
Ibunya kemudian menyesali perbuatannya. Ia menangis dan terus mengenang anaknya, sambil menyadari bahwa apa yang terjadi tidak akan pernah bisa diperbaiki. Kisah ini kemudian diceritakan kepada orang-orang kampung agar menjadi pelajaran. Cerita itu disampaikan turun-temurun sebagai peringatan tentang penderitaan akibat kelaparan dan kemiskinan.
Sang ibu terus hidup dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam, mengenang anaknya yang telah tiada sambil meratapi perbuatannya. Ia berkata dalam hatinya, "Bukan karena benci aku melakukannya, tetapi karena penderitaan hidup." Namun penyesalan itu tidak dapat menghidupkan kembali anaknya. Kisah ini pun berakhir sebagai pengingat pahit tentang arti kasih sayang, kesabaran, dan kemanusiaan.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Hasmiati

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Kelurahan Aralle, Kec.Aralle, Kab. Mamasa