Kelurahan Aralle, Kec.Aralle, Kab. Mamasa
ADHANG PATTEKE (KUDA PEMBAWA KELAPA)
22 May 2026
-2.914119, 119.125257
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Maikoa ampo"ku, anna ku patuhodoluangkoa aka pengalaman. Aha adahang dedua mesa mattake sia anna mesa mattake kahu-kahu. Pisanan nde sitindo na eje lolo nde kasi anu nde mambaha sia aka matingi. Nawwa yaiyo aha toboi koa te dio masussa.
Pisanan nde lambang uhai buntu uhai aka dake aha tete lambang ndo"o, sanganna nde inda mesa jembatan. Ma hehe nel sia labu pissanganna neik. Kahukahu na pentama i nei uhai, dai mala labu kende, sohong mai adahang.
Nawwa: "Dang bo muhamma nde matinginna sanga kahukahu ka napembolongi uhai."
Naranwa dang ndo adahang anu: "Kami todak mahingan kan aka nabang kami uhai sia."
Nawwa daangiyo ya" malantei ya, kami bisa. Dahi nawwa pengalaman mi ndo dai tau. Manggeje solake masusai dai tau, mala manggeje solake. Inde dai tau mala maganu padang tasappa keahai masussa dal mala dieje.
Keahai makodong allinganna ta kamua-kamuai. Kita dahi pada Indo laungkiemulemu, mapiyai boh. Dahi diang tei ndo anakku ampoku. Bo puhang ndo pengalaman.
"Puhang!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Mari cucuku, saya akan menceritakan sebuah pengalaman. Ada dua ekor kuda, yang satu membawa garam dan yang satu lagi membawa kapuk. Pada suatu hari, kedua kuda itu berjalan bersama. Kuda yang membawa kapuk mengejek kuda yang membawa garam karena bebannya terasa sangat berat. Namun kuda pembawa garam berkata, "Suatu saat nanti, kamu juga akan mengalami kesusahan."
Suatu hari mereka menyeberangi sungai karena pada waktu itu belum ada jembatan. Garam yang dibawa kuda pertama hanyut terbawa air. Sedangkan kapuk yang dibawa kuda lainnya terendam air sehingga menjadi berat dan tidak bisa hanyut. Kuda pembawa kapuk pun muncul dengan susah payah.
Ia berkata, "Astaga, kapuk ini sekarang sangat berat karena sudah terendam air."
Lalu kuda yang membawa garam berkata, "Beban milikku justru menjadi ringan karena sudah terbawa air."
Ia pun berkata dengan tenang, "Sekarang aku bisa berjalan dengan ringan." Dari peristiwa itulah menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran bagi manusia. Janganlah kita mengejek orang lain yang sedang mengalami kesusahan, karena kita sendiri bisa mengalami hal yang sama di kemudian hari.
Jika ada yang sakit atau susah, kita harus saling peduli dan saling mengasihi. Kita sesama manusia harus hidup dengan kasih sayang. Itulah pesan dan pengalaman yang ingin disampaikan, anak dan cucuku.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Hanuba
Pisanan nde lambang uhai buntu uhai aka dake aha tete lambang ndo"o, sanganna nde inda mesa jembatan. Ma hehe nel sia labu pissanganna neik. Kahukahu na pentama i nei uhai, dai mala labu kende, sohong mai adahang.
Nawwa: "Dang bo muhamma nde matinginna sanga kahukahu ka napembolongi uhai."
Naranwa dang ndo adahang anu: "Kami todak mahingan kan aka nabang kami uhai sia."
Nawwa daangiyo ya" malantei ya, kami bisa. Dahi nawwa pengalaman mi ndo dai tau. Manggeje solake masusai dai tau, mala manggeje solake. Inde dai tau mala maganu padang tasappa keahai masussa dal mala dieje.
Keahai makodong allinganna ta kamua-kamuai. Kita dahi pada Indo laungkiemulemu, mapiyai boh. Dahi diang tei ndo anakku ampoku. Bo puhang ndo pengalaman.
"Puhang!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Mari cucuku, saya akan menceritakan sebuah pengalaman. Ada dua ekor kuda, yang satu membawa garam dan yang satu lagi membawa kapuk. Pada suatu hari, kedua kuda itu berjalan bersama. Kuda yang membawa kapuk mengejek kuda yang membawa garam karena bebannya terasa sangat berat. Namun kuda pembawa garam berkata, "Suatu saat nanti, kamu juga akan mengalami kesusahan."
Suatu hari mereka menyeberangi sungai karena pada waktu itu belum ada jembatan. Garam yang dibawa kuda pertama hanyut terbawa air. Sedangkan kapuk yang dibawa kuda lainnya terendam air sehingga menjadi berat dan tidak bisa hanyut. Kuda pembawa kapuk pun muncul dengan susah payah.
Ia berkata, "Astaga, kapuk ini sekarang sangat berat karena sudah terendam air."
Lalu kuda yang membawa garam berkata, "Beban milikku justru menjadi ringan karena sudah terbawa air."
Ia pun berkata dengan tenang, "Sekarang aku bisa berjalan dengan ringan." Dari peristiwa itulah menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran bagi manusia. Janganlah kita mengejek orang lain yang sedang mengalami kesusahan, karena kita sendiri bisa mengalami hal yang sama di kemudian hari.
Jika ada yang sakit atau susah, kita harus saling peduli dan saling mengasihi. Kita sesama manusia harus hidup dengan kasih sayang. Itulah pesan dan pengalaman yang ingin disampaikan, anak dan cucuku.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Hanuba