Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 6 cerita rakyat terarsip di sistem.
KODO MALILLING (MISTERI KERA GAIB)
Konon, napo"na tau, ada to penjual kue. Sattu allo, dia mai" pa"jenguk ponakanna na jatuh sakit di Tataleng. Tapi waktu lalanna, dia melo"na le"ba Ratte. Te"na napalei tau jalanna, jadi te"na nalambi belokan na di Rante Buda, na"ba belokan ke Kariango. Jadi terusmo"o dia lalang ke arah Toraja. Di tengnga" lalanna, tiba-tiba ada tau napokada, "Antarikka" ke lembangku." Jadi na"naikkanmi, na"boncengmi. Napokada to"e, "Aku to Makassar, to mai di le"ba." To le"ba duka"e, konon, dulu jarang kalihat, tapi allo-allo belakangan biasa munculmi, na"lingkarmo di pinggir jalan. Te"na lama sanganna, penjual kue to"e jatuh sakit. Waktu napotanya tau, napokada, na"ita di sattu tampa ada kera balinna, tettongmi. Te"na sanga-sanga caritana, karena masih hidupmo"o tau"e, biasa menjual kue di samping tempatna Pak Bahar. Karena kasian, ku"pokada istri"na, "Ba"pa" mai bawa sirih, pinang, lengkapna, sesuai adat." Di situ biasa tau mamme" sirih. Dibawa"mi lalu diletakkan di tampa kejadian, di Rante Buda, di dekat kayu pinus, tampa biasa tau lalang. Dipassambayangmo"o, dipominta supaya salama" suami"na, karena te"na disengaja kejadian"e. Syukur Alhamdulillah, napo"na waktu, suami"na sembuhmo"o. Memang masih ada bekasna, jalanna agak pincang, sanga-sanga seperti kena stroke dulu. Tapi secara keseluruhan, salama"mi. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Konon, pernah terjadi sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang penjual kue. Pada suatu hari, ia hendak menjenguk ponakannya yang jatuh sakit di daerah Tataleng. Namun dalam perjalanan, ia melewati jalur menuju Ratte. Karena tidak terlalu mengenal jalan, ia tidak melihat belokan menuju Tataleng yang berada di wilayah Rante Buda, tepatnya ke arah Kariango. Ia terus melaju ke arah Toraja. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang meminta tolong untuk diantar ke kampungnya. Penjual kue itu pun berhenti dan mengizinkan orang tersebut naik dan dibonceng. Orang itu kemudian berkata bahwa ia adalah orang Makassar dan berasal dari hutan. Sosok seperti itu, menurut cerita orang-orang tua, dahulu jarang terlihat, tetapi akhir-akhir ini mulai sering muncul dan berkeliaran di pinggir jalan. Setelah kejadian itu, penjual kue tersebut jatuh sakit. Anehnya, ketika ia ditanya, ia mengatakan bahwa di tempat tertentu ia melihat seekor kera besar berdiri tegak. Peristiwa ini bukan sekadar cerita, karena orangnya masih hidup dan dikenal sebagai penjual kue yang biasa berjualan di dekat tempat Pak Bahar. Karena kasihan, saya menyarankan istrinya untuk membawa persembahan berupa daun sirih, pinang, dan kelengkapan lainnya"sebagaimana kebiasaan masyarakat setempat"dan meletakkannya di lokasi kejadian, di sekitar Rante Buda, dekat pohon-pohon pinus yang sering dilewati orang. Persembahan itu dimaksudkan sebagai permohonan agar suaminya diberi kesembuhan, karena kejadian tersebut tidak disengaja. Syukur Alhamdulillah, setelah itu kondisi suaminya berangsur membaik. Ia memang sempat mengalami gangguan fisik, bahkan seperti terkena stroke ringan, sehingga jalannya agak pincang. Namun secara keseluruhan, ia sudah kembali sehat. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Mardia
TOPEMBUNI (ORANG YANG BERSEMBUNYI)
Naala" di lino"na inde" tau" ma"paissanganna Topembuni. Mesa" tau" naola mai di Pinrang, melo" ma"gatta" utang barangna ia na"pa"lettu di toko-toko. Naola ia pakke motor. Nakke" sore, naola melo" mulai. Tapi waktu ia lako di olonna banua anna toko, naparasa" ia te" mapia. Meskipun susi, tetap ia melo" mulai. Nalambi" ia di jembatan pokok, hape-na tiba-tiba tae" na"kamma" dihubungi. Istrina naparasa" bingung anna mangalloi, natelepon sala" mesa" langgananna. Naissanganna tau"na, napassanganna: "Sore tadi naola"na mulai bapak." Tapi hati istrina tetap tae" mapia, nasanga" ada pa"la"bianganna. Akhirna, diadua" di polisi. Polisi mancari anna ma"cek, naparandai" kalau sinyal terakhirna ada di jembatan pokok. Tapi tae" ia nadua". Tolu" bulan parallu, ia napokada" di Kendari, sibawa motornna. Motorna masih mapia, tae" pa"dadianna, anna doi"na tetap ada di jok motor. Naissanganna tau" ma"pissang, tau"na dipokada" di lindona tau" Topembuni. Anak-ku mandapo" ma"sang: "Inde" to lindona tau" Pembuni." Polisi mangpokada" motornna saba" naala"na laporan hilang, anna plate-na susi napokada". Nalambi" di polisi, napetanna: "Mai mana iko"? Tapi ia bingung, tae" naissang napattantu. Polisi mangalloi istrina, lalu naantari ia mulai lako Polewali atau Mamuju. Nalambi"na di situ, ia patanda susi tau" bingung, susi tau" naola" mai di ale"na belantara. Naissanganna tau" lain, pa"la"bianganna susi inde" sering dadi. Mesa" temanna ma"sang: sering muncul tau" susi inde" di ale"na. Tolu" bulan ia tae" napokada", istrina diang ma"bunting sampai naola" melahirkan, baru suaminna napokada". "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pernah terjadi di daerah ini sebuah peristiwa yang diyakini berkaitan dengan keberadaan Topembuni. Seorang laki-laki dari daerah Pinrang datang ke wilayah ini untuk menagih utang barang dagangan yang sebelumnya telah ia titipkan di beberapa toko. Ia datang menggunakan sepeda motor. Setelah selesai menagih pada sore hari, ia berniat pulang. Namun, ketika berada di depan sebuah rumah yang juga terdapat toko, ia tiba-tiba merasa tidak enak hati. Meski begitu, ia tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di sekitar jembatan utama, ponselnya tiba-tiba tidak bisa lagi dihubungi. Istrinya yang merasa cemas kemudian menelepon salah satu langganan suaminya. Dari keterangan orang tersebut, suaminya dikatakan sudah pulang sejak sore hari. Namun, firasat sang istri tetap mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak wajar. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. Dari hasil pelacakan, nomor ponsel terakhir terdeteksi berada di sekitar jembatan utama. Pencarian dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Hingga tiga bulan kemudian, orang tersebut justru ditemukan di daerah Kendari bersama sepeda motornya. Yang mengherankan, sepeda motor itu masih dalam kondisi baik, dan uangnya masih tersimpan utuh di dalam jok motor. Menurut cerita yang beredar, orang tersebut ditemukan di wilayah yang diyakini sebagai tempat bermukimnya Topembuni. Anak penutur juga mengatakan bahwa daerah itu memang dikenal sebagai wilayah Topembuni. Polisi yang menemukan motor tersebut sebelumnya telah menerima laporan kehilangan dengan ciri-ciri kendaraan yang sama. Setelah diamankan oleh polisi, orang tersebut ditanya berasal dari mana, namun ia tampak bingung dan tidak dapat menjelaskan dengan jelas. Polisi kemudian menghubungi istrinya dan mengantarnya kembali ke Sulawesi Barat, hingga akhirnya bertemu kembali dengan keluarganya di Polewali atau Mamuju. Keadaannya terlihat seperti orang yang linglung, seolah-olah baru keluar dari hutan. Beberapa orang mengatakan bahwa kejadian seperti ini sering terjadi. Ada teman yang menyebut bahwa orang-orang tertentu kerap "muncul dan menghilang" di kawasan hutan tersebut. Selama tiga bulan menghilang, sang istri bahkan dalam keadaan hamil hingga akhirnya melahirkan sebelum suaminya ditemukan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Mardia
TONGKO??? MOHAE LAN GAM MAKKASA??? (KATAK HENDAK KE MAKASSAR)
Deem mesa tongko" mahassam mentingallo sola solana. Napasindum ma" pikki"-pikki", ya ma"kadam lako solana naua, "Kupelele buda kasisi" si kasalle yabo Makkasa", dadi mohae a" inde la lao langam ma"saleo-leo dipasindum dipetua" battu tappa" si"da hi." Nauam indo solana natimba", "La maaka susi anna malako langam Makkasa""? Natimba" naua, "La mengkattibe a" langam pollo"na oto pangkoja" baham." Iya tappa mengkalao siaham lao mupea oto. Sulena lako bihim lalam, iya liu siaham duka" mesa oto. Tappa mengkattibe indo tongko" langam indo oto sapo" mambela sugali pengkattibena, sampe mulebam indo oto. Tahhuk ia oto mellao sapo" tohho liu ia tongko" pirit. Ya balinna eta too, nakutanai pole oom indo solana naua, "Iya la muakam susi anna malako lao langam Makkasa""? Natimba"i naua, "La membuni tama a" inde tasa"na ponggaba." Iya le"ba"um tama indo tasa". Masiai, lessu" indo ponggaba langam Makkasa", sapo" muihi tanapandam mubaba indo tasa"na. Lessu" ponggaba langam Makkasa", tonta tohho tongko" illam tasa". Nakutanai pole oom indo solana naua, "La muakam pole" susi anna malako langam Makkasa""? Natimba" i naua, "La membuni a" tama inde dio kahum cengke, aka la dibaba siam langam makale"." Iya le"ba" um tama indo kahum. Sapo" aka indo oto mukoja"i ponno sagalim, ya ta" mala dibaba asam indo kahum. Susi dukak indo kahum to naongei tongko", tak um sihua oto. Mekutana oom indo solana naua, "Ya la muakam susi anna malako langam"? Natimba"i naua, "La lu langam a" pani/na bunia." Anna mane lao mupea bunia. Ullambi" bunia, ya le"ba"um langam to" pani"na. Mentia" indo bunia sola tongko", sapo" aka kasalle pepabi ia mettoba ia indo tongko". Mentia" liu ia bunia, sapo" ta"um ia tahhuk tongko" ka mettoba hi pirit. Mekutana oom indo solana naua, "Ya la muakam pole" susi langam Makkasa""? Natimba" naua, "La mellao bitti" pissam a"." Anna mane napahandu"i mengkattibe lao. Lambanam mengkattibe, mane mengkabe oi. Hatui yabo Makkasa", mulambi"um tongko" sengak to inna tohho yabom. Mekutanam indo tongko" sengak naua, "Aka inde kala pattujummu anna mane ammui kuita lemba" inde Makkasa" sola"? Nauam indo tongko" natimba", "Aka kuhingngi buda adek kasisi" si kasalle inde Makkasa". Ian to inde mubaba a" sulea aka kala muhae a" dukak kuita indo kasisi" kasalle madommik tappa medea"-dea"i hi ia." Natimba" indo tongko" to inna yabom Makkasa" naua, "Indo kasisi" kasalle anna malompo ta" tia tohho inde Makkasa", aka anggam tia kasisi"-sisi" bahinni" inde. Makak kemupea ko kasisi" kasalle ya anggam tia tohho illam pangala"." Nahingnginnai ya too, mengkattibe sule tongko" ma"pasule lako banuanna. Indo tongko" ka tongko" pangala", ya ma"pasule tamam sule pangala". Sulei tama banuanna, muitam solana mahassam mentingallo. Ma"tula"um tongko" lako solana naua, "Ta" hia palae" mapia puha lako ongeam senga". Ta"um duka" deem mupadai ongeam kale." Napatudu ki" pada-pada inde toyolo naua mui la maaka teem mambelammu mupea kamasannangam tama tonda" senga", tontako la musikdim mamalli" lako tonda"mu. Aka ta" deem mupadai kamasannangam ke tohho dioi tau dukak ongeam lamungam tabunimmu, ongeammu siita kamasannangam sola tomatua anna sola paningomu. "Puha!" Terjemahan Bahasa Indonesia Ada seekor katak sedang berjemur bersama temannya. Sambil berpikir-pikir, ia berkata kepada temannya, "Saya dengar banyak lalat besar di Makassar. Jadi, saya ingin ke sana." "Tetapi, bagaimana kamu bisa pergi ke Makassar"? tanya temannya. "Saya akan melompat ke belakang truk pengangkut," jawabnya. Lalu katak itu berangkat mencari truk. Baru saja ia tiba di pinggir jalan, sebuah truk melewati tempat itu. Katak mencoba melompat ke atas truk, tetapi lompatannya terlalu jauh. Truk pun berjalan tanpa katak. Setelah itu, temannya kembali bertanya, "Sekarang bagaimana kamu mau ke Makassar"? Sejenak ia berpikir, kemudian melihat seorang bapak yang bersiap hendak ke Makassar. Lalu ia berkata, "Saya akan bersembunyi di dalam tas bapak itu." Kemudian ia beranjak dari tempatnya dan masuk bersembunyi ke dalam tas tersebut. Keesokan harinya, ketika bapak itu berangkat, ia terburu-buru sampai lupa membawa tasnya yang di dalamnya berisi si katak. Bapak itu pun pergi tanpa katak. "Sekarang, bagaimana kamu hendak ke Makassar"? tanya temannya sekali lagi. "Saya akan masuk ke dalam karung yang berisi cengkeh-cengkeh yang akan diantar ke Makassar," jawabnya. Lalu ia masuk dan bersembunyi di dalam karung. Namun, truk terlalu penuh sehingga tidak semua karung bisa diangkut, termasuk karung tempat katak bersembunyi. Truk itu pun pergi tanpa katak. Kembali temannya bertanya, "Sekarang bagaimana kamu mau ke Makassar"? Katak kembali berpikir sejenak dan tiba-tiba berkata, "Saya akan naik ke atas sayap burung elang." Ia kemudian bergegas mencari burung elang. Saat menemukan seekor elang, katak itu naik di atas sayapnya. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia terjatuh karena hembusan angin yang sangat kencang. Akhirnya, burung elang pun pergi tanpa katak yang telah terjatuh. Untuk kesekian kalinya, teman katak berkata, "Jadi sekarang apa yang harus kamu lakukan supaya bisa ke Makassar"? "Saya akan pergi sendiri," jawabnya, lalu melompat-lompat ke arah kota. Katak itu terus melompat dan melompat. Sesampainya di Makassar, sekelompok katak lain yang memang berada di sana bertanya kepadanya, "Apa yang membawamu ke mari"? "Saya dengar bahwa di daerah ini ada begitu banyak lalat besar dan gemuk, sehingga saya memberanikan diri berusaha untuk mencapai daerah ini," jawabnya. "Lalat-lalat besar dan gemuk? Mereka tidak tinggal di sini," jawab katak kota itu. "Hanya beberapa lalat kecil yang tinggal di Makassar. Lalat yang besar dan gemuk adanya di dalam hutan," lanjutnya. Mendengar hal itu, katak pun tertunduk dan melompat kembali ke hutan, ke rumahnya sendiri. Sesampainya di sana, ia melihat teman-temannya sedang berjemur. Kemudian ia berkata kepada temannya, "Ternyata keadaan di tempat lain tidak selalu lebih baik." Cerita ini menggambarkan kehidupan kita dan ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa sejauh apa pun seseorang pergi dari kampung halamannya, akan selalu ada rasa rindu, karena tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah sendiri. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Dicky Roland/Yudha Arfianto
ODO DI TOBAN
Baine di kurung, uncerita dua anak-anak bangasawan ma" rara ma" biru dio Kabupaten Mamasa. Jo anakna oh na pakamayasigali tomatuanna la"binna papa"na. Inde anakna muane di sangga Bongga, anna inde anakna baine di sangga Arru". Inde Bongga anna barinni" pa si kutanai papa"na nakua "la mendadi aka ko iko?", na timba" Bongga "la dadi polisi na" kao papa"". Anna inde anakna baine, maka si nakutanai papa"na la dadi aka ko iko, si nakua: "liu ai la dadi penari na" kao". Sapo" inde cita-citanna e tae" na porai papa"na. Mengkalao mi dio dio oh aka na tekan papa"na, na polalan inde do" Arru" e mendadi tattasan. Inde anna kamai mo Bongga anna do" Arru", Bongga ia berhasil dadi polisi. Anna do" Arru" ia jo attu umurna kira-kira sapulo kasera taunna, tama mesa sanggar seni yao Mamasa, inde do" Arru" e berhasil dadi penari malekkek. Sapo dio talentana oh tae" na porai papa"na, pikki"na papa"na jo penari tae" dengan gunana. Si nakuanni papa"na la dadi ya roko to yao yato malanna ma"guna lako kalemu anna lako tu senga". Na polalan Arru" ma pa"di" penawa. Anna tanda di pakamayanna, setiap la suun banua si nakawal liu anggota na papa"na moi lao ma"saleo sola solana. Dengan pissan attu inde Arru" e mengeh menari sola solana na lambi" anggotana papa"na, anna paksa ih sule lako banua. Mengkalao mi dio dio oh na parnduk tattasan mi inde do" Arru" e. Mengkalao dio mi dio oh na kambela asan mi sola solana do Arru" aka inde do" Arru" eh tokke mi si menari kalena mesai. Mane sadar ri uka tomatuanna kumua inde do" Arru" e la lao di pakuli ih, sapo la di aka ih aka masae sigali mi di pa"di" penawa na polalan ta" mo mala di pakuliih sakinna, yamo pole di ngei toban mi. Inde anna pira-pira bulan mon di toban e, tokke" mi sadar papa"na kumua "salah mo" kao to oh tokke untekan sigali na ankku yamo nagei dadi susi mo dio oh". Ende anna mangka mo messalu-salu papa"na e, aka masaki mi uka, tokke mi sadar sule do" Arru" anna malapu" uka sule papa"na aka mangka mi mangaku kumua salahna. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini menceritakan tentang dua orang anak bangsawan atau berdarah biru di Kabupaten Mamasa. Kedua anak ini tumbuh di bawah tekanan yang sangat besar dari orang tua mereka, khususnya sang ayah. Anak laki-lakinya bernama Bongga dan anak perempuannya bernama Arru". Saat masih kecil, sang ayah bertanya kepada Bongga tentang cita-citanya, dan ia menjawab ingin menjadi polisi. Sementara itu, ketika Arru" ditanya hal yang sama, ia selalu menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ia ingin menjadi seorang penari. Namun, cita-cita kedua anak tersebut, terutama Arru", sangat tidak disukai oleh ayahnya. Penolakan keras dan tekanan yang terus-menerus dari sang ayah mulai membebani batin Arru". Sejak saat itulah, tekanan jiwa yang dialaminya semakin berat hingga perlahan-lahan ia mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan jiwa atau menjadi gila (tattasan). Setelah dewasa, Bongga berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi anggota polisi. Sementara itu, Arru" yang telah menginjak usia 19 tahun bergabung dengan sebuah sanggar seni di Mamasa dan berhasil menjadi penari yang hebat. Sayangnya, bakat luar biasa Arru" tetap tidak mendapat dukungan. Ayahnya menganggap menjadi penari adalah hal yang sia-sia dan menuntutnya menjadi orang yang "berguna" menurut standarnya. Karena statusnya sebagai anak bangsawan yang sangat disegani, ruang gerak Arru" dibatasi; setiap kali ia keluar rumah untuk bermain, ia selalu diawasi ketat oleh orang-orang suruhan ayahnya. Suatu hari, ketika Arru" sedang asyik berlatih menari bersama teman-temannya, orang-orang suruhan ayahnya datang menyergap. Ia dipaksa pulang secara kasar ke rumah. Peristiwa traumatis itu menjadi titik balik yang menghancurkan mentalnya sepenuhnya, hingga akhirnya Arru" benar-benar jatuh ke dalam kondisi gila (tattasan). Sejak saat itu, teman-temannya menjauh karena perilaku Arru" yang semakin aneh. Orang tuanya baru menyadari bahwa ia butuh pengobatan, namun karena tekanan batin sudah berlangsung terlalu lama, sakitnya sulit disembuhkan hingga ia pun harus dipasung (di toban). Setelah beberapa lama dalam pasungan, sang ayah akhirnya sadar bahwa ambisinya telah menghancurkan anaknya. Ayahnya pun mengakui kesalahannya (messalu-salu). Setelah pengakuan tulus dan penyesalan sang ayah, keajaiban terjadi; Arru" perlahan pulih kesadarannya, dan kesehatan sang ayah yang sempat menurun pun ikut membaik. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ra"tun
DARAM PITU ULUNNA PENDUAM PITU TALINGANNA (KUDA BERKEPALA TUJUH DAN BERTELINGA DUA KALI TUJUH)
Pissam waktu dio mesa tondak dio birim lekbok, deem mesa tondak napimpin mesa tomaraja. Ya indo tomaraja deem pitu anakna simalekkek. Pissam waktu deem naringngi karena inde tomaraja naua deem adek daram pitu ulun na penduam pitu telinganya dia apak lekbok. Ya indo tomaraja maelok naala indo daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ya natambai asam mi sengganna isinya indo tondak, sengganna muane, ya sule asammi. Ya nahan tomaraja "ya too mala na nabaam ak sule inde daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ya iyan too ku hadiahi 100 babi, 100 tedom, 100 doik koin emas, anna budapi 100 sengakna". Ya silakbak-lakbak um inde mai anak muane mengkasillam naak apak lekbok ampo mane sapaik anna mak pasulem aka pusak. Ya bali asanni ya naua tomaraja "anggam isanga inde tau Lee, tak um isanga deem sengakna, aka tak deem tau mala naak inde lekbok". Naua indo mesa tolak tondak naua "deem pi eta illauk anak muane mesa ampo dalam tia ditambai aka tak siam la nabela naak aka barinnik-rinnik inde taunya disangai bokkok-bokkok". Ya naua tomaraja " ya lao siam ko too tambai aka berkualifikasi pi dukak aka sanga muane". Ya naua inde pengawal na tomaraja ya lain tetau sauk ditambai, ya laom ditambai inde bokkok-bokkok. Siapa sule i inde bokkok-bokkok ya mengkasillam mi naak lekbok, ya masakdik dia mpai tak deem mak pasulem. Ya sia sangaka i jaanna ya naua tomaraja "tak um tia diampai aka balim tia limmik, balim tia naande bau". Ya sementara inde bokkok-bokkok mengkaja liu naak inde apak lekbok. Ratu i naak apak lekbok ya mulambik um daratan dia, susi pantai, ya sitammum mesa tobarak-barak ya nauam inde tobarak-barak "la umba ko ngei anak muane", nauam "nasua ak inde tomaraja la lao muala daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ampo umba amo ngei inde la dipangngalai". Ya nauam indo tobarak-barak "ee diperkirakan siam eta inde, dipe inde tanda libanna salu, ampo maparrik aka tokepoppak mupuanganni", ya nauam bokkok-bokkok "ya akan isanga polek la dipogauk", ya nauam inde tobarak-barak "ee aka moi dukak mulambam inde salu maparrik aka inde salu, ya salu metidak, makak ditambah ya mala polo bittik, ampo la ku beem ko inde tekkem, makak too ke mutossak um naak inde salu anna malubui, mala too mulambam, makak too ke marandai ya tak too mala mulambam aka indana poloi bittik mu". Ya na alam bokkok-bokkok, na beem pi dukak indo tobarak-barak Bali dan, inde Bali dan semacam susi pesalo, naua "makak too dakok anna nalabak ko ke mak pasulem ko indo pua na aka tokepoppak ya pentibeanni anna dadi i ulak balu, ya malam naande, ya malam koak taruk. Anna inde pi dukak minyak illalam botok-botok, ke nalabak liu ko ya pentibeanni anna malai dadi pullam ya malam nalimmikam", ya na alam bokkok-bokkok. Ya nauam bokkok-bokkok " lao pak yolo". Natossak naak salu indo tekkem bokkok-bokkok ya malubu ya nalambammi bokkok-bokkok indo salu. Ya ratu i libam tanda libanna salu ya mualmbik rante kallukbak, illalam indo tanga-tanga na rante deem banua gege dia tingkat. Lekbak um libam bokkok-bokkok indo banua ya nauam tama indo banua "keissi rokokak puan na banua", mentimbak um subum baine naua "iyo taruk ko mai". Inde baine ya anakna indo tokepoppak, pua na indo daram. Ya tarruk um tama bokkok-bokkok indo banua, disangka indo baine ojo-ojo, naua indo baine " pembunuh eta ko inde, yani inde lotem, aka indana naande ko papak ku sola mamak ku ke sulem aka tokepoppak". Ya sia karubem i, sulem indo mamak na sola papak na mu baba babi. Natunum indo babi, anna mutarakanni kinande, bali i natarakam indo kinande, ya nabaam mi langam kinande inde anak na indo ojo-ojo. Na baba langam 2 pirim, sola dua tangkik naua "alaiak inde". Naua indo ojo-ojo "aka anna dua ri iko tangkik anna dua pirim mubabannak, sangat innak mesa-mesa ak", naua indo mamak na ojo-ojo " ee ala Jammi matim". Ya anuin na baba oom sule mangkok-mangkok sola pembaseam dua. Naua " alaiak inde", ya naua oom ojo-ojo " akari iko massok mu mubaba inde main dua pembaseam sangat mesa-mesa ak". Ya nauam mamak na " ala Jammi". Ya na ala siam inde ojo-ojo. Pissanganna dakok ya inde ojo-ojo sola bokkok-bokkok siporae. Ya natulakammi bokkok-bokkok naua " ia too inde battuangam ku sule, aka la sule ak kuala indo dalam pitu ulun na pendiam pitu talianganna, indo akanna papak mu sola mamak mu". Ya nauam ojo-ojo " ya kalau maparrik tia polek aka makak tia ke mualai indo dalam pitu ulun na pendiam pitu talianganna ya na ade ko", ya nauam " La mususun tau rencana". Sia membengi i ya nauam inde ojo-ojo muaam naak papak na sola mamak na " masaki ak too, masantak ak", ya nauam inde papak na sola mamak na " la matim tetau di petuak ko". Ya nauam ojo-ojo " daa mu main aka makak mau ko ya mate ak". Ya sia bali i naua inde ojo-ojo, ya nauam papak na sola mamak na " ya la diaka ri teem dipakuli i ko",ya nauam " lako ko pangngalak, anna mualannak tallu daum pao, ampo inde daum pao tak mala diala yang mau lolona, harus toba yang mai anna tanpa yang inde lolo sura, harus musura dia ibikna". Ya nauam papak na sola mamak na " la lao sik dan tetau", ya lekbak um lako pangngalak. Ya sia ratui lako pangngalak, ya inde ojo-ojo sola bokkok-bokkok na ala indo daram anna lekbak i napessakei. Ya sule lako la bengi kalem, ya tak liu deem inde daum pao la mala toba yabo lolo sura, ya piss anna ram naua indo kado aja yabo lolona pao "gak-gak-gak la malemi daram pitu maleman dara matti", ya nauam indo muane na akaka tia naua yabo kadoaja, aka katia massok na", ya nauam indo baine na la muka ori iko yabo kadoaja tak tia di islam". Ya nauam indo kadoaja "gak-gak-gak lamalemi daram pitu malemian dara matti", ya nauam indo baine na " aka anna naua ria parak daram pitu", ya tingkeduk polek muane na naua " tak ka lessuk um indo daram pitu ulun na nabab indo tosabe ta", ya nauam " pasarrak ko alai itim tallu daum pao anna mupayabo i itim lolo sura, anna lao kik tapetuak aka pakde sikda sia aram". Kumonda indo dua tokepoppak lako banuanna, ya ratu i lako, ya lomba banuanna, lekbak um lako bokok banua na petuak, pakde indo daram. Ya lekbak polek nalabak, tak pahala aka matirrik indo tokepoppak ya la naisso ram engkokna indo daram, napentibeam mi bokkok-bokkok indo tekkem, to na baba ingenak, ya dadi ulak bali, torrom indo tokepoppak naande indo ulak, ya tarruk inde bokkok-bokkok sola ojo-ojo. Ya tak pahala nalabak oram, ya la nalambik oram, napentibeam bokkok-bokkok indo balida ya dadi saba gege, ya torro oom inde tokepoppak naande indo saba. Ya nalabak lusiam, sia la nalambik kale i, napentibeam polem indo minyak illalam botok-botok, ya dadi polek pulkam, ya limmik polek mate. Ratu i langam kalantangam indo ojo-ojo sola bokkok-bokkok mupessakei daram pitu ulun na penduam pitu talianganna. Ratu i langam kalantangam, mini inde daram dio depan istana na tomaraja, tingkeduk tomaraja tanda kasalle na moninna. Ya mak kassi-kassi polek tomaraja, diberi polek saratuk tedok, saratuk babi, saratuk doik koin emas anna budaya pi saratuk sengakna, anna dipasila bokkok-bokkok sola ojo-ojo. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu waktu di sebuah kampung di pinggir laut, ada sebuah kampung yang di pimpin oleh seorang raja. Raja tersebut mempunyai tujuh orang anak yang ganteng dan cantik. Di suatu waktu raja tersebut mendengar sebuah berita bahwa ada seekor kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telingah, di dasar laut. Raja tersebut menginginkan kuda yang memiliki tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga, maka dari itu di panggil lah seluruh laki-laki yang menghuni daerah kekuasaanya. Maka datanglah seluruh laki-laki dalam kampung itu. Maka raja tersebut berkata kepada semua laki-laki yang hadir pada saat itu "barangsiapa yang bisa membawakan aku kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinganya maka akan saya berikan hadiah, 100 ekor babi, 100 ekor kerbau, 100 koin emas, dan masih banyak 100 lainnya". Maka semua laki-laki yang hadir pada saat itu bergantian untuk masuk kedalam dasar laut namun tidak ada yang berhasil. Maka raja berkata " Hanya inikah laki-laki yang ada di kampung ini, tidak adakah yang lain, karena tidak ada seorang pun yang dapat sampai di dasar laut", maka seorang dari mereka berkata " masih ada seorang laki-laki disana namun ia tidak perlu dipanggil karena karena tubuhnya kecil, yang bernama bokkok-bokkok". Maka raja berkata " panggillah dia sebab dia juga seorang laki-laki". Maka pengawal raja pergi untuk memanggilnya. Ketika bokkok-bokkok datang, ia langsung menyelam ke dasar laut, setelah lama menunggu, dia tak kelihatan juga. Setelah beberapa jam menunggu, maka raja berkata " kita tidak perlu menunggu dia, karena dia pasti sudah tenggelam, sudah dimakan ikan". Sementara itu, dia terus menyelam sampai ke dasar laut. Setelah sampai di dasar laut, dia mendapat sebuah daratan seperti sebuah pantai. Maka bertemu lah ia dengan seorang nenek, maka nenek tersebut bertanya, "kamu mau kemana anak-anaknya muda"?, maka orang tersebut menjawab " saya disuruh raja untuk mengambil seekor kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga, namun aku tidak tau dimana harus mengambilnya". Maka nenek tersebut menjawab " kuda tersebut ada di sebrang sungai, namun sungai itu adalah sungai yang ketika kita menyebrangi nya kaki kita akan putus dan pemilik dari kuda tersebut adalah seorang kanibal". Maka pemuda itu menjawab "aku harus bagaimana supaya bisa mendapatkan kuda itu", maka nenek itu menjawab "aku akan memberikanmu sebuah tongkat, ketika kamu menyebrangi sungai itu, kamu harus menggunakan tongkat ini, ketika air yang ada di sungai itu keru, maka kamu dapat menginjakkan kaki di air keru itu supaya kakimu tidak patah. Nenek itu juga memberikan balida, benda itu semacam spatula dan berpesan, ketika kamu kembali dan dikejar pemilik kuda itu, maka lempar lah benda ini sehingga menjadi seekor ular besar, sehinnga ia bisa memakannta dan kamu bisa melanjutkan perjalanan mu. Aku juga akan memberikan minyak dalam botol, ketika kamu masih dikejar oleh pemiliknya, maka buanglah ini ke arahnya, sehingga menjadi lumpur, supaya mereka bisa tenggelam". Maka pemuda itu mengambil semua yang diberikan nenek itu dan melanjutkan perjalanannya. Ketika pemuda dia mengulurkan tongkatnya ke sungai itu, setiap air yang keruh disitu, ia meletakkan kakinya sehingga tidak patah. Setelah ia sampai di seberang sungai, ia mendapat ia mendapat sebuah daratan yang sangat luas. Di tengah-tengah daratan tersebut ada sebuah rumah yang sangat besar, sehingga bokkok-bokkok menuju ke rumah tersebut dan berteriak " apakah ada orang dalam rumah ini", kemudian seorang perempuan dari dalam rumah itu menjawab "iya, silahkan masuk". Perempuan itu adalah anak dari pemilik kuda yang sedang di cari raja. Maka ia pun segra masuk dalam rumah, dan perempuan itu pun berkata " silahkan kamu bersembunyi diatas lantai dua rumah ini karena nanti engkau dimakan oleh orang tuaku ketika mereka datang karena mereka adalah kanibal. Nama dari perempuan itu adalah ojo-ojo. Pada sore hari, orang tua dari ojo-ojo pun datang, mereka membawa babi, mereka pun membakar babi yang mereka bawah, kemudian menyiapkan makanan. Setelah menyiapkan makanan, mereka pun membawakan makanan tersebut kepada anaknya. Mereka membawa dua porsi makanan dan berkata "ambiilah makanan ini", maka putrinya pun bertanya " kenapa ada dua porsi makanan sedangkan saya sendirian", maka ibunya menjawab "ambil saja dan makan", maka putrinya pun mengambil makanan tersebut. Setelah beberapa hari kemudian, bokkok-bokkok dan ojo-ojo mencintai. Bokkok-bokkok pun menjelaskan tujuannya datang bahwa ia akan mengambil kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga milik orang tuamu". Maka ojo-ojo menjawab bahwa untuk mengambil kuda itu sangatlah susah karena ketika kamu mengambil kuda miliknya, maka kamu akan dimakan oleh orang tuaku". Maka ojo-ojo berkata mereka harus menyusun rencana. Pada saat pagi hari, ojo-ojo berkata dari lantai dua kepada orang tuanya bahwa ia sedang sakit parah. Maka orang tuanya menjawab " kami akan kesitu untuk menjenguk mu", maka ojo-ojo menjawab " jangan kesini, sebab jika kalian kesini saya akan meninggal", orang tuanya pun menjawab " bagaimana caranya kami mengobati engkau", ojo-ojo menjawab " pergilah ke hutan ambilkan lah daun mangga, tetapi daun mangga ini tidak bisa diambil dari pohonnya melainkan harus jatuh di sebuah bambu yang lancip", maka orang tuanya berkata " kita pergi sekarang", maka pergilah mereka ke hutan. Sesampainya kedua orang tuanya di hutan, ojo-ojo dan bokkok-bokkok mengambil kuda tersebut dan pergi dengan menunggangi nya. Setelah hari sudah menjelang malam, tidak satu pun daun mangga yang jatuh diatas ujung bambu lancip tersebut. Tiba-tiba seekor gagak berbunyi diatas pohon, ia berkata " gak-gak-gak la malemi daram pitu malemian dara matti", maka suaminya berkata " apa maksud dari bunyi gagak tersebut", maka istrinya menjawab " kamu tidak perlu memperhatikan bunyi dari gagak tersebut". Setelah itu burung gagak tersebut berbunyi lagi "gak-gak-gak lamalemi daram pitu malemian dara matti". Maka istrinya berkata " kenapa ada nama kuda kepala tujuh".maka suaminya kaget dan berkata " apa mungkin kuda itu dibawa pergi tamu kita, maka cepatlah kamu ambil daun itu dan letakkan di ujung bambu lancip karena sipa tau kuda itu dibawah pergi tamu kita". Maka berlarilah mereka untuk pulang ke rumah, sampai disana mereka mendapati rumah yang sedang kosong, maka mereka langsung menuju belakang rumah dan tidak melihat kuda itu, maka mereka langsung mengejar ojo-ojo dan bokkok-bokkok. Tak lama setelah itu, mereka hampir menyentuh ekor dari kuda tersebut, namun bokkok-bokkok langsung melempar tongkat yang dibawah dan langsung menjadi ular yang besar, maka mereka tinggal untuk menyantap ular tersebut, sehingga bokkok-bokkok dan ojo-ojo dapat melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah itu, kedua orang tersebut hampir meyentuhnya, namun bokkok-bokkok melemparkan balida dan menjadi biasakan yang besar (catatan: mungkin maksudnya biawak), sehingga kedua orang tersebut berhenti untuk memakan biawak tersebut dan bokkok-bokkok pun melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah itu orang tua ojo-ojo kembali mengejar dan hampir menyentuh kuda itu, namun bokkok-bokkok melemparkan minyak dalam botol dan senja di lumpur (catatan: mungkin maksudnya menjadi lumpur) sehingga kedua kanibal tersebut mati tenggelam. Ketika ojo-ojo dan bokkok-bokkok sampai di daratan sambil menggangu kuda kepala tujuh dan telingah dua kali tujuh, mereka langsung menuju depan isatana raja, raja pun kaget kerna begitu besar bunyi dari kuda tersebut. Raja menjadi senang, sehingga bokkok-bokkok diberikan 100 bai, 100 kerbau, dan 100 uang koin emas, dan masih banyak 100 lainnya, serta dinikahkan dengan kekasihnya yaitu ojo-ojo. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Priska Enjelin/Erni Roswanti
BIKKATOE DAN LEMPAN SUGI
Pissan ade" toyolo dengan ade" to dua ana"na disanga Bikkattoe" mesa anna Lempan Sugi". Ya nakuamo ade" indona sola ambena indemokoa" te e lalaokan mangngambok nakua ade" o lalaokan mak seleo-leo ambe" sola indo" nakua adek o ya io lamakamia maka ta"rakan sae kale musaemora ummande nakuami ukak ade" ana"na io. Ya siaraiko allo ta"liura dengan sae ambena sola induna ak untunu bai mangngambo" anna tadea"mo ade" ana"na. O anna ta"liumo inde sae ambe" sola indo" ie tadea"mia tau. Umbillang ade" bo"bo"na dosamboi anna awang ra ia jo pirina duai bassi nabukai ade" anna bassi awang mora jo pirina disamboi. Anna bo"bo"na ade" nasondaian sabanuanna, naala bo"bo"na nasondaian awang nasamboi. Nakua ade" aya matari" napakamase-mase miki" kita inde ambe" sola indo" e lamaakamiki" kita anata pengkalabusan i. Ma"kariri" ade" duai umbawa asan porewana ya anna le"ba. Sae adek induna sola ambena o Bikkattoe" sola Lempan Sugi" o anna ta"ra ia dengan tau yao banua nakua ade" umbamote nola e. Le"ba ade" napelalan ya untetu"-tetu" ade" manik bulawanna ummola lalan "Bikkattoe" Lempan sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu!" Le"ba liumi ade" jo na ruttuk o mambela naola. Nakua liumo ade" jo ambena sola induna mak gelong-gelong o "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu!" Ya nakualiumo ade" jo ambena sola induna mak gelong-gelong o mambela nola. Sia pura ade" jo manikna o na sembu" sembu" o. Ullambik ade" batu gege jo anakna o nakua ade" lama"aka miki" kita anna lanalambik miki" indok sola ambe" aya umbamokita latangei membuni. Nakuamo adek Bikkattoe" ya kela dengan tangei membuni inde tama batu e membuniki", mak kak-kak ade" kaduaya yao nakua ade" o kaduaya ta"dulanan pakan inde batu lakiola membuni aka indana lambi"kan indo" sola ambe" e nakua ade" aya lakubela kao pole" nakua ade" taek aka lamembunikan i napakamase-masekan indoki awang nasamboian kan ji piringki lakiande ade" nakua ade" ya disandak mammo nata"dulan ade" kaduaya mapa"di" lente"na nakua ade" o mapa"di" babang mi lente"ta o kemaniammua" iko mesua untakdulan batu anna ladibela mia unta"dulan batu. Ya sia masemi ade"le ullilingngi liu omi ade" batu se ade" tiku"-tiku" mak "Cik, cik, cik, cik." Nakua ade" "O tiku"-tiku", makari, takdulanan pakan inde batu lakingei membuni e indana lambi"kan indokie aka napakamase masekan indoki sola ambeki napajoankan awang jo piringki napatodo"yankan buku rekko" lakiande ade". Nakua ade" tiku"-tiku" "Ya kaduayada" kamai-mai siapia anna te"nabela mapa"di"mi lente"na o taek sandak mammi aka lanalambik kalemokan indoki aka le"ba liumi ade"te induna sola ambena untetuk lalan e "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu". Sia narangngi mo ade" nakua ade" o sandakri tiku"-tiku" aka mandappi"mi indo" sola ambe", nata"dulan ade" tiku"-tiku" tipa"dua jo batu o naola tama. Nakua ade" itin moko tuo ammu bukaikan kele"bai sule ambe" sola indo". Tiku"-tiku" langngan tondon batu yoliumi uka" ade" mak cik cik cik. Ullilingngi liumi ade" batu aka katampakan jomi ade" manik na sembu" o ta"mo dengan napeang senga" semilako lalanna ta"mo dengan katampakan jomi jo batu o, jo liumi iko ade" nalilingngi mengeliu siami ade" induna sola ambena "Bikkattoe" Lempan Sugi ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu" ya sia nakua ade" induna sola ambena ole talaomo ta"moa dengan diita umbamoa nola lao, le"ba ade" sule. Sia le"ba I ade" natakdulan sule tiku"-tiku" tibillang o le"ba illan mai ya le"ba" o ade" duai le"ba tama pangngala". Sia tadea"I ade" ullambik mi bela"na tau sapo simarirring paona nakuamo ade" ole tateka"I pao tadea" mia tau. Unteka"I ade" pao sia bassi langngan mo menteka" sia saemo adek bai ala" jo to"na ummande bua pao le sapo umbalellengan ria uka" ade" piso pangnganna indona nakua ade" ole akajora bai pada gege a ladiaka miao anna jo liumoao. Nakua ade" anu patamanni itin pao piso anna andei o uma ke bonnok I o nakuamo ukak ade" adinna io patamai nakua ade" ikomo patamai napatama ade" jo piso napentossokan o anna dondonan I rokko naande ade" bai. Nabuno iko ade" ma"kalumpiri"-piri" lengan jo bai o bonno" le"bami ade" turun aka ya amabi mak bongi yao moa jo lolok pao reken aka bongi mia ade" spoa aka masiangmi nakuamo ade" ya lataakami kita bainta le nakua de" aya io. Le"ba ade" ma"parandan nakua talaopa umpetua" tokerambu aka lakerambumi te tau ya aka mebongngi" mi nakua ade" anna ta"ra deen nakua ade" ungkuan adinna penteka"ko itin langngan kayu umparandanni o nakua ade" ya io. Menteka" omi iko ade" Bikkattoe" nakua ade" o uillau"ria liu jo sapo mabellang talao umpelalan I. Le"ba liu omi iko ade"le umpelalan jo tokerambu o ya sia karuen polomo ia se lako ya nakuamo iko ade" aya anna bongimoa le anna mabela-bela paia sia se ade" lakojo toma"banua o tomatua ra yao nakua ade" o toma"banua te" ade" nasumui nakua liumo ade" o toma"banua nakua ade" o sia natungka" I ade" o anna ana"dara ra duai nakua ade" jo tomatua-tua baine o karuen mi o nakua de" saekan umpelau api bengankan apimmu nakua o jokoa" mai le"ba ade" langngan banua nakua ade" simesa rokoka iko indo" nakua o ya le"ba omia" to ambemu a aka bongimi anu sile"ba iya ke bongi anu papakayuan ade" jo muanena o aya laindemikia" te ya e nakua ade" aya marea"kan kami lako ambe" ke saemi indana me ande o tae" sia masiang I ade" se omi uka" ade" jo ambena o umbakku" bale ya membuni ade nasamboi lako para-parana nakuannia ade" jomokoa" te membuni e. Pira-pira bongi I ade" jo o aka jo ade allo o yanna le"bamo ade" jo bongi o si mangkayomi curiga mi uka" ade" jo tomatua muane o nakua ade" anna makayo kayo moa pole" inde da"e nakua ade" den daka iko anakmu si sae ke le"bana" nakua ade" aya benna keanak da" sia se polei ade" nakuamo ade" lako bainena ah dengan inde anakmu si sae e nakua ade" anna akara butau-tau butolino-lino le"le" nakua ade" ah balemu. Sia nalambi" ade" jo tomato muane lanande tongan mia tokke" le"ba iko ade" silarian sia ullambik ade" salu spo denganria tendan sikondongan ade" lian ya lian uka" ade"jo tomatua muane o aka kamainna ka ade" tau aka papakayu kaiya sia tamai ade" tangnga salu nakua siamo ade jo Lempan Sugi" o tatta"-tatta" palele ya polo siamiko ade" jo tendan o le"ba melammu" jo tomatua o. Ya le"ba" ya uka" jo Bikkattoe" sola adinna o le"ba liumi ade" le"ba liumi siara iko anna tondokna moa natitubakki summi illan mai pangngala" ya naita ade" induna sola ambena lee anna Bikkattoe" moa sola Lempan Sugi" jo awa" tondok lo ade" natambai ya nabalangngan banuanna sule ya naceritami jo kumua makaria anna le"bakoa" iko mengkalabu" o naceritami kumua anna awang iko toa" musamboian kan sola buku rekko" mupajoan kan piringki yamoto kingei lari o e" le"baliukan le"baliukan o ya napabuai mi iko ade" induna sola ambena sule akaiko aka dore"mi ya mangkanna jo mak bua" napantunui bai untambai asan ya uka" satondokna o ya suppik toyolo. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang memiliki dua orang anak Bernama Bikkattoe" dan Lempan Sugi". Suatu Ketika sepasang suami istri ini berkata kepada kedua anaknya kalian di rumah saja karena kami akan pergi untuk menabur benih. Kedua anaknya pun berkata "tidak!" Bapak dan ibu, kami akan pergi bermain. Orang tuanya pun berkata baiklah kalau begitu, jika kami lambat pulang kalian datang saja makan. Pada saat hari sudah siang orang tua mereka belum juga pulang karena mereka memotong babi untuk menabur benih. Pulanglah anak mereka ke rumah dan berkata "Kenapa bapak sama ibu belum pulang juga yah? Padahal kita sudah lapar." Pada saat mereka membuka nasi mereka di piring yang ditutup ternyata yang ada di bawah piring bukan nasi melainkan dedak bersama dengan tulang kering. Ternyata nasinya diganti oleh tetangganya dengan dedak. Mereka pun berkata "Mengapa kita disiksa bapak sama ibu? Bagaimana kalau kita pergi saja meninggalkan mereka"? Mereka pun bersiap siap lalu pergi membawa semua barang-barang mereka. Ketika orang tua mereka pulang mereka pun memanggil-manggil nama anaknya dan ternyata tidak ada orang di dalam rumah padahal pintu terbuka. Orang tua mereka pun bertanya-tanya, "Kemana ini anak-anak pergi"? Orang tua mereka pun pergi mencarinya dengan menyebar kalung emasnya di jalan dan berkata "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu anna bumbu paisumu!" (Tunggulah kaki babimu dengan bumbunya). Orang tua mereka berkata seperti itu sampai kalung mereka habis disebar di jalan. Di sisi lain, anak mereka mendapati sebuah batu besar. Mereka mengatakan "Apa yang harus kita lakukan? Bapak dan ibu akan menemukan kita. Dimana kita harus sembunyi"? Berkatalah Bikkattoe" "Seandainya ada tempat kita untuk bersembunyi di dalam batu ini"" Bersamaan dengan itu seekor burung gagak bunyi di atas mereka. Mereka pun menyeru kepada gagak "Hai gagak tendanglah batu ini untuk kami bersembunyi!" Gagak pun berkata "Aku tidak akan kuat!" Mereka memohon "Bantulah kami karena kami disiksa oleh orang tua kami. Mereka memberi kami dedak untuk kami makan." Gagak pun akhirnya mencoba. "Baiklah aku akan mencobanya." Gagak pun menendang batu itu dan kakinya sakit. "Lihat ini, kakiku patah gara-gara kalian menyuruhku menendang batu!" Mereka pun mengelilingi batu itu. Tidak lama kemudian datang seekor burung kecil bunyi-bunyi "Cik, cik, cik cik." Mereka berkata kepada burung kecil itu "Tendanglah batu ini untuk kami sembunyi! Jangan sampai orang tua kami menemukan kami, sebab kami tidak ingin disiksa!". Burung itu berkata "Gagak saja lebih besar tidak kuat apalagi aku ini hanya seekor burung kecil!" Mereka tetap bersikeras untuk menyuruh burung kecil menendang batu, "Tidak, coba saja dulu, nanti bapak dan ibu menemukan kami!" Tidak lama kemudian, mereka mendengar orang tua mereka memanggil-manggil mereka. "Dengarlah hai burung kecil orang tua kami sudah dekat. Burung kecil itu pun menendang batu itu sehingga batu itu terbelah dan mereka masuk untuk sembunyi. Anak-anak itu meminta kepada burung kecil untuk tetap di sana agar ketika orang tua mereka sudah pergi, burung kecil dapat membuka kembali batu itu. Ketika orang tua mereka sampai di batu itu mereka mengelilingi batu itu sambil terus berkata "Bikkatoe"! Lempan sugi!" ampai lente" baimmu sola bumbu paisumu" (tunggu kaki babimu dengan bumbunya). Orang tua mereka pun berkata "Kita pulang saja karena kita tidak tahu kemana mereka pergi". Ketika mereka pergi burung kecil itu menendang batu itu dan mereka pun keluar dari batu itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Mereka pun masuk ke hutan. Ketika mereka lapar mereka mendapatkan kebun orang dan melihat pohon mangga yang berbuah dan banyak yang matang mereka berdua pun memanjat pohon. Tidak lama kemudian, datang seekor babi hutan di bawah mereka memakan buah mangga tetapi mereka juga membawa pisau kecil dan mengucapkan "Masukkanlah pisau itu ke dalam mangga supaya dia memakannya, siapa tahu babi itu mati". Mereka pun memasukkan pisau ke dalam mangga dan membuang ke bawah dan babi itu pun memakan mangga yang berisi pisau itu sehingga dia mati karena teriris pisau yang ada di dalam mangga tersebut. Mereka pun turun dari pohon karena sudah pagi. "Apa yang akan kita buat pada babi ini"? Mereka pun pergi melihat-lihat untuk mencari apakah ada asap di sekitar mereka. Mereka merasa akan ada asap sebab sudah pagi, namun mereka tidak melihat apapun. Berkatalah lempan sugi" kepada akiknya "Panjatlah pohon itu untuk melihat sekitar siapa tau ada asap!" Maka Bikkattoe" pun memanjat dan mengatakan "Ternyata ada di sana, tapi jauh sekali. Mari kita pergi ke sana!" Mereka pun pergi namun hari sudah sore sedangkan asal asap tadi itu belum mereka temukan. Walaupun masih jauh mereka terus melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, pada saat mereka menemukan rumah itu. Ternyata yang ada di atas itu adalah seorang perempuan tua. Orang tua itu pun berkata "Siniki"!" Kedua anak itu mengatakan maksud mereka, "Kami datang meminta api!" Orang tua itu berkata "Naiklah ke atas rumah!" Bikkatoe" dan Lempan Sugi" bertanya kepada orang tua itu "Apakah nenek tinggal sendiri disini? Orang tua itu pun menjawab "Tidak, tapi pergi mi (telah pergi) ke lagi" (langit) itu suamiku. Suamiku pergi terus. Ia akan pulang jika sudah malam!" Suaminya ternyata adalah seorang parakang (makhluk/manusia jadi-jadian yang telah mempelajari ilmu hitam dan tersesat). Nenek tua itu meminta agar kedua anak itu tinggal untuk sementara di rumah itu, namun mereka menolak. "Tidak! Karena kami takut sama suami nenek. Nanti kami dijadikan makanannya." Namun, nenek tua itu berkata tidak apa-apa. Hari sudah pagi, maka datanglah suami nenek itu. Ia membawa daging. Bikkatoe" dan Lempan Sugi" segera bersembunyi. Beberapa hari kemudian suami nenek tua itu mulai curiga dan berkata kepada istrinya "Apakah anakmu yang datang setiap aku pergi"? Nenek tua menjawab, "Tidak ada anak yang datang ke sini!" Berapa hari kemudian suami nenek tadi mulai curiga. Ketika suatu hari suaminya telah pulang lagi, ia pun mengatakan "Ada anak yang datang ke rumah ini!" Istrinya berkata "Tidak!" Lalu suaminya menjawab lagi "Tapi kenapa aku mencium baunya? Tak lama kemudian, ia mencari bau kedua anak itu. Pada saat kakek tua itu menemukan Bikkatoe" dan Lempan Sugi", ia langsung ingin memakan mereka. Kedua bersaudara itu berlari ketakutan. Mereka terus berlari hingga ke tepi sungai. Mereka menyeberang sungai menggunakan jembatan. Ketika kakek tua itu juga sudah memasuki jembatan, tiba-tiba saja jembatan itu putus sehingga kakek itu terjatuh ke dalam sungai dan terbawa arus. Mereka pun akhirnya pergi dan melanjutkan pelariannya. Ketika mereka keluar dari hutan ternyata mereka tiba di kampung mereka sendiri. Orang tua Bikkatoe" dan Lempan Sugi" menemukan mereka. Orang tua mereka sangat lega sebab anak-anak mereka baik-baik saja dan membawanya pulang ke rumah. Bikkatoe" dan Lempan Sugi" diberikan makanan yang banyak. Orang tua mereka pun mengadakan syukuran sebab anak mereka Kembali. "Tamat!" Diceritakan kembali oleh Bonga Puang