Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

MASENGO-SENGO PARE (KIDUNG PADI)

22 May 2026 -3.148166, 119.298102
MASENGO-SENGO PARE (KIDUNG PADI)

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Masengo-sengo pare inde dipa"gawaianna anna pare makkelo-kelo, inna sanganna inde tomatua, seandainya manusiamu anna inde"na mapia dewasa, tapi sule-sulemi mapasau. Iya inde"na pa"gawaianna sira-sira, disanga:
"Sira-sira moko bobo, nalambi moko karimo, ukande-ukande aye."
Anna inde waktu paceklik, pangananna disanga kande utambe ayu, iya panganan inde"na dipatammi, tapi dipalukui di alang-alang, di laso", di salu. Inde anna melo dipa"ande, malai belut, inda"na diang liana.
Pare inde massengo-sengo, iya dipa"gawaianna berjenjang. Anna to napakutta uai, anna to napangngapa" pare, diang sorakanna:
"Oi, tammangarromoo, tammakkaromoo!"
Sama sule-sulemi anna inde disanga massira-sira, iya diang pa"gawaianna disanga ma"karingi, mepare, anna sengo-sengo. Diang kidungna, disanga:
"Usanga bittoeng ra" tu anna" sarongna tomepare sikaluku bai-bai."
Lambimi dipare, diang sule ritualna: anna dikumpul, anna dijemur, anna dibawa tama banua. Pare inde jatuh dio laso" pun, inde"na la dipalukui biasa, tapi dipa"ritualkan sule.
Anna lambimi tama banua, pare disimpan dio alang (lumbung), diang sule ritualna sampe ditutu"i. Anna to la"angki pa"ala" pare, diang sule ritualna anna mantrana.
Mantra disanga:
"Diala" tang seno-seno, diseok tang seno-seno, dia datang kritikan."
Iya sanganna tomatua inde, pare mara"na diong, tapi mampuanna bertahun-tahun. Inde disanga sule, aka pare dihargai tongan-tongan, inde"na bo"oi diinjak, aka asal-usulna pare inde dari manusia.
"Suppik!"

Terjemahan Bahasa Indonesia
Masengo-sengo pare dilakukan ketika padi mulai menghijau, ibarat manusia yang sudah beranjak remaja tetapi belum sepenuhnya dewasa. Pada tahap ini dilakukan ritual sira-sira dengan ucapan:
"Semoga padi ini cepat berisi dan cepat matang, karena masa paceklik sudah datang."
Pada masa paceklik, makanan yang dikonsumsi disebut kande utambe ayu, yaitu sayur-sayuran liar yang tidak ditanam. Makanan dicari di alam karena tidak ada pilihan lain, dan yang paling sering dimakan hanyalah belut.
Proses massengo-sengo pare dilakukan secara bertahap. Saat mulai memasukkan air dan mengerjakan sawah, ada teriakan adat:
"Oi, tammangarromoo, tammakkaromoo!"
yang berarti pemberitahuan kepada semua orang bahwa pekerjaan sawah telah dimulai.
Sebagaimana dalam ritual massira-sira, terdapat tahapan seperti ma"karingi, mepare, dan sengo-sengo. Dalam proses itu dinyanyikan kidung:
"Usanga bittoeng ra" tu anna" sarongna tomepare sikaluku bai-bai,"
yang menggambarkan perempuan-perempuan pengambil padi dan padi yang dikumpulkan di pematang.
Setelah padi dipanen, masih ada ritual lanjutan: saat pengumpulan, penjemuran, hingga padi dibawa ke kampung. Bahkan padi yang jatuh ke tanah tidak boleh diambil begitu saja, tetapi harus melalui ritual.
Sesampainya di kampung, padi disimpan di lumbung dan ditutup dengan ritual. Ketika padi hendak diambil pertama kali, dilakukan lagi ritual dan mantra khusus.
Mantra tersebut bermakna:
"Diambil tetapi tidak habis, digunakan tetapi tidak membawa dampak buruk."
Itulah sebabnya orang-orang tua dahulu walaupun padinya sedikit, tetapi bisa bertahan bertahun-tahun. Padi sangat dihargai dan tidak boleh diinjak, karena menurut cerita asal-usulnya, padi berasal dari manusia.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Ilang Paliwanan

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa