Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 4 cerita rakyat terarsip di sistem.

MASENGO-SENGO PARE (KIDUNG PADI)
Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

MASENGO-SENGO PARE (KIDUNG PADI)

Masengo-sengo pare inde dipa"gawaianna anna pare makkelo-kelo, inna sanganna inde tomatua, seandainya manusiamu anna inde"na mapia dewasa, tapi sule-sulemi mapasau. Iya inde"na pa"gawaianna sira-sira, disanga: "Sira-sira moko bobo, nalambi moko karimo, ukande-ukande aye." Anna inde waktu paceklik, pangananna disanga kande utambe ayu, iya panganan inde"na dipatammi, tapi dipalukui di alang-alang, di laso", di salu. Inde anna melo dipa"ande, malai belut, inda"na diang liana. Pare inde massengo-sengo, iya dipa"gawaianna berjenjang. Anna to napakutta uai, anna to napangngapa" pare, diang sorakanna: "Oi, tammangarromoo, tammakkaromoo!" Sama sule-sulemi anna inde disanga massira-sira, iya diang pa"gawaianna disanga ma"karingi, mepare, anna sengo-sengo. Diang kidungna, disanga: "Usanga bittoeng ra" tu anna" sarongna tomepare sikaluku bai-bai." Lambimi dipare, diang sule ritualna: anna dikumpul, anna dijemur, anna dibawa tama banua. Pare inde jatuh dio laso" pun, inde"na la dipalukui biasa, tapi dipa"ritualkan sule. Anna lambimi tama banua, pare disimpan dio alang (lumbung), diang sule ritualna sampe ditutu"i. Anna to la"angki pa"ala" pare, diang sule ritualna anna mantrana. Mantra disanga: "Diala" tang seno-seno, diseok tang seno-seno, dia datang kritikan." Iya sanganna tomatua inde, pare mara"na diong, tapi mampuanna bertahun-tahun. Inde disanga sule, aka pare dihargai tongan-tongan, inde"na bo"oi diinjak, aka asal-usulna pare inde dari manusia. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Masengo-sengo pare dilakukan ketika padi mulai menghijau, ibarat manusia yang sudah beranjak remaja tetapi belum sepenuhnya dewasa. Pada tahap ini dilakukan ritual sira-sira dengan ucapan: "Semoga padi ini cepat berisi dan cepat matang, karena masa paceklik sudah datang." Pada masa paceklik, makanan yang dikonsumsi disebut kande utambe ayu, yaitu sayur-sayuran liar yang tidak ditanam. Makanan dicari di alam karena tidak ada pilihan lain, dan yang paling sering dimakan hanyalah belut. Proses massengo-sengo pare dilakukan secara bertahap. Saat mulai memasukkan air dan mengerjakan sawah, ada teriakan adat: "Oi, tammangarromoo, tammakkaromoo!" yang berarti pemberitahuan kepada semua orang bahwa pekerjaan sawah telah dimulai. Sebagaimana dalam ritual massira-sira, terdapat tahapan seperti ma"karingi, mepare, dan sengo-sengo. Dalam proses itu dinyanyikan kidung: "Usanga bittoeng ra" tu anna" sarongna tomepare sikaluku bai-bai," yang menggambarkan perempuan-perempuan pengambil padi dan padi yang dikumpulkan di pematang. Setelah padi dipanen, masih ada ritual lanjutan: saat pengumpulan, penjemuran, hingga padi dibawa ke kampung. Bahkan padi yang jatuh ke tanah tidak boleh diambil begitu saja, tetapi harus melalui ritual. Sesampainya di kampung, padi disimpan di lumbung dan ditutup dengan ritual. Ketika padi hendak diambil pertama kali, dilakukan lagi ritual dan mantra khusus. Mantra tersebut bermakna: "Diambil tetapi tidak habis, digunakan tetapi tidak membawa dampak buruk." Itulah sebabnya orang-orang tua dahulu walaupun padinya sedikit, tetapi bisa bertahan bertahun-tahun. Padi sangat dihargai dan tidak boleh diinjak, karena menurut cerita asal-usulnya, padi berasal dari manusia. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ilang Paliwanan

ahmadridhai Baca
ASSALNA PARE (ASAL-USUL PADI)
Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

ASSALNA PARE (ASAL-USUL PADI)

Nakua tomatua-to matua, pare taena tomai tannang biasa, tapi tomai tau. Iya inde"na, pare dipandang suci, aka dipa"gandenganni salama" tau. Ianna mulanna, diang baine mahamil, sangngalemo tahun, tapi taena malahir, taena todi pallua anak. Sangngalemo allo, baine i maimpimpi. Nakua impinnae: "Mua iko umminum susuna tedong, iko umbe" malahir." Baine i tau miskin pisan. Nakua baine i: "Diang inde" susuna tedong? Aka inna ku tau miskin pisan." Lami-lami napissangngi baine i, diang tau kaya di sissanna mepuna tedong. Tulumi baine i umpepeminta susuna tedong, dikasi"mi susuna. Napinumai susuna tedong, lambunna mepallua, anakna malahir. Taena lami, kira-kira tallu bulan anakna, tau kaya i mantunu ulang mepinta susuna tedong. Akhirna, baine i makasalai. Anakna i, tallu bulan umurna, ditama"i tama wajan, dilubur, dilallang. Apa na"dadi i dibawami tama tau mepuna tedong. Nakua tau kaya i: "Di mana iko umala susuna tedong"? Nakua baine i: "Ianne anakku, kupeluburmi." Apa na"dadi i ditumpami ianna lubang-lubang tedong, kubangana tedong. Taena lami, makering, lalu tumbuhmi pare. Pare i dimangngemi manuk. Tau mallambi i, napelihara pare i, dadi pangan tau. Iya inde"na, pare dikembangkan, dipakasalamma". Dewata pare disanga Toti Boyong, tomatua, leluhur. Nakua alukta, aka pare tomai tau, mua diang tau mate, taena mala mangan nasi, tapi untuk pemujaan saja. Waktu umpotong pare, taena mabela menghadap Timur. Leluhur di Barat, iya inde"na ritual potong pare menghadap Barat. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Menurut cerita para leluhur, padi bukanlah tanaman biasa, melainkan berasal dari manusia. Karena itu, padi dipandang sebagai tanaman yang suci dan memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia. Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan yang telah lama hamil, bertahun-tahun lamanya, tetapi tidak juga dapat melahirkan. Suatu malam, perempuan itu bermimpi. Dalam mimpinya ia diberi pesan bahwa ia akan bisa melahirkan jika meminum susu kerbau. Perempuan itu sangat miskin. Ia pun berkata dalam hatinya, "Bagaimana mungkin aku mendapatkan susu kerbau, sedangkan aku orang paling miskin"? Setelah beberapa waktu, ia mengetahui bahwa di sebelah sana ada orang kaya yang memiliki kerbau. Ia pun pergi meminta susu kerbau tersebut, dan orang kaya itu memberikannya. Setelah meminum susu kerbau itu, perempuan tersebut akhirnya melahirkan seorang anak. Namun, tidak lama kemudian"sekitar tiga bulan setelah kelahiran anak itu"orang kaya tersebut kembali menagih susu kerbaunya. Karena tidak mampu membayar, perempuan itu terpaksa mengorbankan anaknya. Anak yang masih berusia tiga bulan itu dimasukkan ke dalam wajan dan dilebur. Hasil dari peleburan itu kemudian dibawa kepada pemilik kerbau. Ketika ditanya dari mana susu itu berasal, perempuan itu menjawab bahwa susu itu berasal dari anaknya sendiri. Sisa cairan itu kemudian ditumpahkan ke lubang-lubang tempat kerbau biasa berkubang. Setelah mengering, dari tempat itu tumbuh tanaman padi. Padi itu kemudian dimakan ayam. Setelah diperhatikan, manusia mulai memeliharanya hingga akhirnya padi menjadi makanan manusia. Sejak saat itulah padi dikembangkan dan dihormati. Dewi atau roh padi dikenal dengan nama Toti Boyong, yang dipandang sebagai leluhur. Karena padi berasal dari manusia, dalam kepercayaan aluk, orang yang meninggal tidak boleh langsung memakan nasi, melainkan hanya digunakan dalam pemujaan. Dalam ritual pemotongan padi, arah Timur tidak digunakan. Ritual dilakukan menghadap ke Barat karena leluhur berada di arah Barat. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ilang Paliwanan

ahmadridhai Baca
PA???GANNA PARE DI SAWA  (PENGOLAHAN PADI SAWAH)
Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

PA???GANNA PARE DI SAWA (PENGOLAHAN PADI SAWAH)

Umpatama"na pangngala" padi sawah, yolo naula" umba" tampo sawah, dipa"baiki yolo saluran wai. Dio inde"e ria ritual disanga matamu palepang atawa mattammu palepang, artinna wai naletang tama sawah. Ria duka" ritual disanga mattammuai, artinna umpasangngi wai to laletang tama sawah. Ritual matamu palepang dipogau ri mata wai. Yolo, palepang artinna pa"tengnganan atawa saluran wai. Dio ritual inde"e dipake manuk bolong (manuk bulu hitam) sola manuk rame (manuk baine). Le"ba wai tama sawah, dipogau duka" ritual ri sawah. Le"ba wai tama sawah, napolalan tahap ummabbaro" bine padi. Yolo ummabbaro", dipogau yolo ritual ri banua. Dio borong, dipotong manuk bolong. Allo"na, bine padi nabbaro" ri sawah. Wattu bine padi la"ditanami, dipogau duka" ritual ri banua, biasanna dipake duka" manuk bolong. Wattu padi le"ba mabua anna massang, dipogau ritual disanga matokei. Ritual inde"e dipogau mesa tondok. Dio matokei, angga to napoande sawah ma"mesa tama ri banua passobok. Tomatua adak yamo umpangngala ritual. Susi"na, dipake bai atawa manuk. Sesaji diparanduk ri banua, napolalan dipa"bawa lako sawah anna dipa"gantung ri liling sawah. Le"ba inde"e, tau mangkanna umpaissanni panen. Yolo panen, dipogau ritual disanga makrambu, dipake tallo", sola ande putih to dibungkus daun, disanga lappa. Le"ba panen anna gabah massang, yolo tama lumbung dipogau duka" ritual dipake tallo". Sesaji dipatokko" ri daun bere-bere. Tallo" massak dipotong-potong anna dipa"tarang ri pira-pira tampo. Yolo ha"lan ummande hasill panen, dipogau ritual disanga makkaringi. Dio makkaringi, dipake bau susi ikan atawa manuk, tanda pasukuran atas hasill panen. Wattu gabah dipatama ri lumbung anna wattu yolo ummala gabah ri lumbung, musti yolo dipogau ritual dipake tallo". Inde"e dipogau terus saba" paissanan tau Mesawa. Wattu gabah dipatama ri lumbung anna wattu yolo ummala gabah ri lumbung, musti yolo dipogau ritual dipake tallo". Inde"e dipogau terus saba" paissanan tau Mesawa. Tau Mesawa maissanni, angga sawahna tae balo susi sawah ri pesisir, tapi saba" aluk anna ritual inde"e, panenna mala massugi anna lino tetap ma"timbangan. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pengelolahan padi sawah dimulai sebelum turun ke sawah. Tahap awal adalah memperbaiki dan menyiapkan saluran air. Pada tahap ini dilakukan sebuah ritual yang disebut matamu palepang atau mattammu palepang, yang berarti memasukkan air ke sawah. Ada pula ritual mattammuai, yaitu ritual menyambut air yang akan mengalir ke sawah. Ritual Matamu Palepang dilakukan di sumber air. Dahulu palepang berarti bendungan atau saluran air. Dalam ritual ini digunakan ayam berbulu hitam yang disebut bolong, serta ayam betina yang disebut rame. Setelah air masuk ke sawah, dilakukan kembali ritual di sawah tersebut. Setelah air masuk ke sawah, tahap berikutnya adalah penaburan benih padi. Sebelum benih ditabur, dilakukan ritual di rumah pada malam hari dengan memotong ayam berbulu hitam. Keesokan harinya barulah benih padi ditabur. Ketika benih sudah siap ditanam, dilakukan lagi ritual di rumah, biasanya masih menggunakan ayam berbulu hitam. Setelah padi tumbuh dan mulai berbuah serta menguning, dilakukan ritual yang disebut matokei. Ritual ini dilakukan secara bersama-sama oleh satu kampung. Dalam ritual matokei, semua pemilik sawah berkumpul di rumah passobok (rumah pemangku adat). Ritual dipimpin oleh tokoh adat. Kadang menggunakan babi, kadang ayam, tergantung kesepakatan. Sesaji disiapkan di rumah, lalu dibawa ke sawah dan digantung di sekitar sawah. Setelah itu masyarakat menunggu masa panen. Sebelum panen dilakukan ritual yang disebut makrambu, menggunakan telur dan nasi putih yang dibungkus daun, seperti buras atau lappa. Sesudah panen dan gabah sudah kering, sebelum disimpan di lumbung dilakukan lagi ritual dengan telur. Sesaji diletakkan di atas alas daun yang disebut daun bere-bere. Telur yang telah dimasak dan dipotong-potong diletakkan di beberapa bagian. Sebelum hasil panen dimakan untuk pertama kali, diadakan syukuran yang disebut makkaringi. Syukuran ini bisa menggunakan ikan atau ayam sebagai tanda rasa syukur atas hasil panen. Saat gabah disimpan di lumbung dan ketika gabah diambil pertama kali dari lumbung, selalu didahului ritual menggunakan telur. Ritual ini dilakukan terus-menerus sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat. Masyarakat Mesawa meyakini bahwa meskipun sawah mereka kecil dan tidak seluas sawah di daerah pantai, dengan menjalankan ritual-ritual adat ini, hasil panen tetap terjaga dan kehidupan tetap seimbang. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ilang Paliwanan

ahmadridhai Baca
SIRONDONG TOMAROKU
Dusun Battasawa, Desa Sasakan, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa

SIRONDONG TOMAROKU

Pissan toyolo, deem mesa sapulo duai ma"si"rondong. Sapulo mesa"e sanggin masokan anna matata", sa"po" inde anak sapulo duai"e yamo tomarona tau lanlino. Karana yamo tomarona, indo sirondong-rondongna napatomoroi pissan. Tae ia dipopasi kola, disuah ia ma"pande-pande tedong sola pariu uma. Na tarima pa"pa lakona sirondongna sola na sabaran. Yate karana mendadi tomakaka inde lan rumpuna, sola tambah buda pacouan. Na pogau" ya mo rodi sangga lantondok. Pissan attu, dipopa" mesa-mesa anggana ma"sirondong. Sa"po" inde sirondong tomarona tae dio. Inde le"ba" lao makambi tedong lako pasang. Dipopa" mesa-mesa inde dibenni pacouan dipasandai, sa"po" tae ia dikilalai inde mesa le"ba" lao makambi. Saei lako banua, na kumua: "Umbara kao tawa ku"? Na kuami indo"na: "Tae miko to dengan tawaku mu aka tae moko iko dikilalai anggena." Na paranduk mapadi penawanna lako sirondongna sola lako indo ambena. Karana tae ma"papada-pada kasihna. Iya le"ba pellei banua lao tuo-tuo mesa. Na pogau" pondok le"ba" mesa, garanga uka lantang-lantang liana. Tau-tau naporai aka maleke pepangkaranganna. Pissan allo bongi, buda dassi sisae rampo yaoh papa banuanna. Tae naissan mamma" tonggan karana millik mebongi. Kondokanna allo. Naita buda kotoran dassi. Na pasiri"i, anna naita lise lemo sirau inde kotoranna. Na tanani lise lemo inde. Sule" allo sule", tumbo" anna mabua. Wattu dibukka lemo, sanggin emas inde lisena. Tambah buda bua inde lemo. Tambah tomakaka indo sirondong tomarona. Inde sirondongna umpurai ewanan, napake lao ma poya-poya, sanggin lendu" ewananna. Pissan attu, bonno ambe indo"na. Tae mo ewanan inde sirondongna la napake untomate. Le"ba" mi lao umpellambi inde sirondong tomarona. Na kumua: "Bonno mi indo ambeta, umbamo ladi patengan"? Na kumua inde: "Tae marea", aku to umbali" patengan." Tumagi asan mi inde sirondongna. To tae diangga lan rumpuna, iya to mallun indo ambena sola tomakaka. "Puha!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, ada sebuah keluarga yang memiliki dua belas orang anak. Sebelas anak di antaranya tampan dan cantik, tetapi anak yang paling bungsu adalah yang paling buruk rupa. Karena itulah ia selalu direndahkan oleh saudara-saudarinya. Ia tidak disekolahkan, melainkan disuruh menggembala kerbau dan membajak sawah. Semua perlakuan itu ia terima dengan sabar dan lapang dada. Berkat kerja kerasnya, keluarga itu menjadi kaya dan terpandang, serta dihormati oleh masyarakat kampung. Suatu hari, semua saudara dikumpulkan untuk pembagian warisan. Namun saudara yang paling jelek tidak hadir, karena sedang menggembala kerbau di ahoo . Harta warisan dibagikan kepada semua saudara, tetapi saudara yang jelek itu dilupakan. Ketika pulang ke rumah, ia bertanya, "Ibu, Ayah, di mana bagian saya"? Ibunya menjawab, "Kamu tidak mendapat bagian karena tidak hadir saat pembagian." Hatinya sangat sakit dan kecewa kepada saudara-saudarinya dan orang tuanya. Karena kasih sayang tidak dibagi secara adil. Ia pun pergi meninggalkan rumah untuk hidup sendiri. Ia membangun pondok kecil untuk dirinya sendiri. Karena terbiasa bekerja keras, masyarakat pun menyukai hasil kerjanya. Suatu malam, banyak burung pipit bertengkar di atas atap pondoknya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ributnya. Keesokan paginya, ia melihat banyak kotoran burung di halaman. Saat membersihkannya. Ia menemukan biji jeruk di antara kotoran itu. Biji jeruk itu ia tanam dengan baik. Hari demi hari tumbuh dan berbuah. Ketika dibelah, ternyata bijinya adalah emas. Buah jeruk itu semakin banyak. Saudara yang dahulu diremehkan kini menjadi sangat kaya. Sementara itu saudara-saudarinya menghabiskan warisan, hidup berpoya-poya, hingga harta mereka habis. Suatu hari orang tuanya meninggal dunia. Namun saudara-saudarinya tidak lagi memiliki harta untuk mengadakan upacara kematian. Mereka pun datang menemui saudara yang dahulu diremehkan. Mereka berkata, "Ibu dan ayah kita telah meninggal, apa yang harus kita lakukan"? Ia menjawab dengan tenang, "Jangan khawatir, saya yang akan menanggung semuanya." Mendengar itu, saudara-saudarinya menangis penuh penyesalan. Anak yang dahulu tidak dianggap dalam keluarga, justru dialah yang menguburkan orang tuanya dengan upacara bangsawan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Meryati/Ana

ahmadridhai Baca