Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset
Desa Puttada, Kec. Sendana, Kab. Majene

PUPANDER

11 June 2026 -3.355742, 118.860711
PUPANDER

Naskah Dokumen Digital (PDF)

Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara

Buka / Unduh Naskah PDF
Diang mesa curita, diang isanga tau ka Pander anna kondo Pander. Jama-jamanna kondo Pander na manette, mua kama"na manguma. Mesa allo kama"na napauanni lao bainena, "Iya de" lao di uma. Balao"e dale ba nasanga, mubengani lao ana"mu mua polei mangino. Mau cera nala ubai mata, indang lao ubengani."
Indang lao masae, pole ana"na melo balao"e. Napauangi inna"na, "Inna", benganni balao"e." Ana"na mearra, cera tongang nala ubai mata. Sedih sanna inna"na maita. Nabei balao"e, natunuang, nabenni lao ana"na.
Indang lao masae pole kama"na. Maite balao"e indang mi diaya. Napauangi bainena, "Apa pa"da di"e balao e"? Mauangmi bainena, "Ualai tori utunuang ana"mu, apa cera nala ubai mata." Sementarai manette, kama"na nabeso mai panette, nabisa naung ulunna bainena. Mesa daing sau di tasi, mesa daing dibulang, akkuasana Puang.
Bongi-bonginnao ana"na melo apa masusu. Kaka"na napau, "Apamo di e nanipogau"? Mauangmi tau, "Bawai lao di bonde, ma elong:
"Kondo tomenjari duyung pasu-pasusuanda, tori kandi u, inda ulle nasangiang nasangiang bongi allo."
Pole tongang inna"na napasusu kandi"na.
Tallu allo tallu bongi kaka"na nababai kandi"na lao di bonde ma elong. Tallu kali pole inna"na napasusu. Pura napasusu, mauangmi, "Indangmo lao pole, apa bandangku mesissimi."
Mauangmi inna"na, "Lao di wai, carii tebu melayang. Perre uaina, benganni lao kandi"mu." Kaka"na lao, ma elong-elong di wai, napolei tebu, naperre uaina, nabenganni lao kandi"na.
Marondong lao di ulu wai, naitai boyang. Tama di boyang, diang inene mauang, "Mai muanakku, masae sannal kuantingammu." Inene"e mammesa ana"na, mappandei, anna diami siola inene.
Mesa allo inene lao di wai. Pole kalloaya mauang, "Inene"mu lao ma asah kanukunna, mappogau atemu." Kalloaya napasanga pitu kutu di ba"ba, kamar, dapur, tapang, anna di tempat laing. Ana"na napanaik di atap, mabbaba parang, bacci, anna linggis.
Pole inene, macari ana"na. Kutu-kutu menjawab dari berbagai tempat. Akhirna inene naitai ana"na di atap. Napanai tangga, tapi linggis nappalappa lao ulunna. Matei inene.
Ana"na mauang, "Mua diang darah bangsawan di ateku, diang jalan lao di langi." Tiba-tiba pole jalan lao di langi. Di bulan, naitai tau manumbuk pare. Akhirna naitai indo"na, iya to di"e diolo sau di tasi anna dibulang. Marayai sanna ana"na siola indo"na. Kama"na polei lao macari ana"na. Diberi ujian pitu rupa, tapi akkuasana Puang nabbantu. Akhirna nasio ana"na, bainena, anna ana"na. Siossang bomi polei.
"Pura!"

Terjemahan Bahasa Mandar
Ada sebuah cerita tentang seorang ayah bernama Pander dan istrinya, Ibu Pander. Pekerjaan sang istri adalah menenun, sedangkan suaminya berkebun. Suatu hari sang suami berkata, "Saya pergi ke kebun. Tikus yang tergantung itu jangan diberikan kepada anakmu, walaupun dia menangis. Bahkan kalau dia menangis darah, jangan kau berikan."
Tak lama kemudian, anak mereka meminta tikus itu. Ia berkata, "Ibu, berikan tikus itu." Anak itu menangis sampai keluar darah. Ibunya sangat sedih melihatnya. Akhirnya tikus itu diambil, dibakar, lalu diberikan kepada anaknya untuk dimakan.
Tak lama kemudian, suaminya pulang dan melihat tikus itu sudah tidak ada. Ia bertanya, "Ke mana tikus yang saya gantung"? Istrinya menjawab, "Saya masakkan untuk anakmu, karena dia menangis darah." Saat istrinya sedang menenun, suaminya mengambil alat tenun dan membelah kepala istrinya. Dengan kuasa Tuhan, separuh tubuhnya jatuh ke laut dan separuhnya lagi terbang ke bulan.
Pada malam hari anak itu menangis karena masih menyusu. Kakaknya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan"? Orang-orang berkata, "Bawa adikmu ke pantai dan nyanyikan:
Ibu yang menjadi duyung, datanglah menyusui adik kami, yang tak berhenti menangis siang dan malam."
Benar saja, ibunya datang dari laut dan menyusui anaknya.
Selama tiga hari tiga malam kakaknya membawa adiknya ke pantai dan bernyanyi. Tiga kali ibunya datang menyusui. Setelah itu ibunya berkata, "Besok tidak usah datang lagi, tubuhku sudah bersisik."
Ibunya berkata, "Pergilah ke sungai, cari tebu yang hanyut. Peras airnya dan berikan kepada adikmu." Kakaknya pergi, menemukan tebu hanyut, memeras airnya, dan memberikannya kepada adiknya.
Mereka berjalan sampai ke hulu sungai dan melihat sebuah rumah. Di dalamnya ada seorang nenek yang berkata, "Masuklah, cucuku, sudah lama aku menunggu." Nenek itu memberi mereka makan dan mereka tinggal bersamanya.
Suatu hari nenek pergi ke sungai. Seekor gagak datang dan berkata, "Nenekmu pergi mengasah kukunya untuk memakan hati kalian." Gagak menyuruh mereka menaruh tujuh kutu di beberapa tempat di rumah. Anak-anak itu naik ke atap sambil membawa parang, kapak, dan linggis. Ayah mereka akhirnya menyusul ke langit dan diberi beberapa ujian. Dengan pertolongan Tuhan, ia berhasil melewatinya. Akhirnya ayah, ibu, dan anak-anak itu kembali bersatu sebagai keluarga.
Nenek pulang dan mencari mereka. Kutu-kutu menjawab seolah-olah anak-anak itu ada di berbagai tempat. Akhirnya nenek melihat mereka di atap dan mencoba naik. Mereka melempar linggis yang mengenai kepala nenek hingga ia meninggal.
Anak-anak itu berkata, "Jika benar kami keturunan bangsawan, pasti ada jalan ke langit." Tiba-tiba muncul jalan ke langit. Di bulan mereka bertemu seseorang, dan akhirnya bertemu ibu mereka yang dahulu terbelah ke laut dan ke bulan. Mereka sangat bahagia.
"Selesai!"

Diceritakan kembali oleh Masdar

Lokasi Geografis Cerita

Bagikan Cerita Ini:

Cerita Terkait di Desa Puttada, Kec. Sendana, Kab. Majene