Desa Puttada, Kec. Sendana, Kab. Majene
SUMUR JODOH
11 June 2026
-3.355521, 118.860813
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Jari yamo naissangngi Sumur Jodoh, sumur anu nasanga toi Sumur Obat, iya di e napadadi kepercayaan tau di kampung. Awal mula caritana, Papa Harun siola tatte"na lao maita mesa sumur anu diaya di passawwang kaluku, tana"na keluarga nene"na. Tattena maita lao di sumur e, maitami di dalamna diang mesa tandang kaluku, bunga-bunga, burewe pinang, anna burewe kaluku.
Tatte"na nawwa, "Idai tia na mala niala uwaina, Papa Harun, apa diang diong pauli"? Apa naissangngi diang anu nasanga pauli di dalam sumur e. Papa Harun nawwa, "Ya mori anna nama alai tau, apa diang diong pauli. Indang na maala bahaya." Jari pole di situmo naola uwai di e sumur e.
Pole di e, sumur e naissangngi tau anu mallabai lao di e sumur e mambawa pauli, anna diang to toi anu mallabai lao di e passawwang nge melo napa jari jodohna. Diang tau anu lao, diang anu jari napa jari, diang toi anu paulianna nabawa. Diang toi carita tau Jeneponto melo lao Makka napa jari, anna diang toi tau melo kaweng napa jari toi.
Jari lambimi sumur e nasanga Sumur Jodoh, apa di situo tau mallabai mambawa hajatna masing-masing. Di awalna, sumur e nipassallengi toma tutua anu massigi, anu toi napogau mappauli tau. Pole toma tutua e mate, passallena naala ibu Mina, iya simata mambawa tau lao di sumur e, mambantu tau anu mallabai pauli.
Meskipun di awalna diang tau marakke apa diang diong pauli di sumur e, Papa Harun nawwa indang perlu marakke. Apa pauli e indang maala bahaya, tapi malai mambawa barakka. Jari yamo Sumur Jodoh e nasanga sumur anu mambawa kasalamatan, kasembuhan, anna harapan hidup tau.
"Tamma!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Sumur Jodoh, yang juga dikenal sebagai Sumur Obat, merupakan salah satu situs yang dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual oleh masyarakat setempat. Penamaan sumur ini bermula dari sebuah peristiwa yang dialami oleh Bapak Harun bersama saudari perempuannya ketika mereka mendatangi sebuah sumur yang terletak di area kebun kelapa milik keluarga nenek mereka.
Saat itu, saudari Bapak Harun melihat ke dalam sumur dan menemukan berbagai benda di dalamnya, seperti satu tandan kelapa, bunga-bunga, mayang pinang, dan mayang kelapa. Melihat kondisi tersebut, ia menyampaikan kekhawatirannya kepada Bapak Harun bahwa air sumur tersebut tidak dapat diambil karena diyakini mengandung "obat" atau unsur tertentu. Ia mempertanyakan apakah air sumur itu aman untuk digunakan. Menanggapi hal tersebut, Bapak Harun justru menyampaikan keyakinannya bahwa air sumur tersebut boleh diambil karena keberadaan "obat" di dalamnya tidak membawa bahaya, melainkan kebaikan.
Seiring berjalannya waktu, sumur tersebut mulai dikenal luas oleh masyarakat. Banyak orang datang ke sumur itu dengan membawa hajat dan harapan tertentu. Ada yang datang dengan niat mendapatkan jodoh, ada pula yang berharap memperoleh kesembuhan atau keberkahan hidup. Beberapa kisah yang berkembang secara turun-temurun menyebutkan adanya seseorang dari Jeneponto yang datang dengan niat untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah dan akhirnya berhasil mewujudkan niat tersebut. Ada pula kisah tentang seseorang yang datang dengan harapan memperoleh jodoh dan mengaku bahwa harapannya terkabul.
Pada awalnya, sumur ini dijaga oleh seorang tokoh tua yang juga berperan dalam mengobati masyarakat yang datang untuk berobat. Setelah tokoh tersebut meninggal dunia, peran penjagaan dan pelayanan di sumur ini dilanjutkan oleh Ibu Mina, yang hingga kini masih membantu masyarakat yang datang dengan berbagai keperluan.
Meskipun pada awalnya terdapat rasa takut di kalangan masyarakat karena adanya benda-benda yang dianggap sebagai "obat" di dalam sumur, keyakinan Bapak Harun menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir. Sumur ini justru dipercaya sebagai sumber pengobatan, keberkahan, dan harapan hidup. Oleh karena itu, hingga kini Sumur Jodoh tetap dipandang sebagai simbol kepercayaan masyarakat terhadap rezeki, kesehatan, dan jodoh.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sanaria
Tatte"na nawwa, "Idai tia na mala niala uwaina, Papa Harun, apa diang diong pauli"? Apa naissangngi diang anu nasanga pauli di dalam sumur e. Papa Harun nawwa, "Ya mori anna nama alai tau, apa diang diong pauli. Indang na maala bahaya." Jari pole di situmo naola uwai di e sumur e.
Pole di e, sumur e naissangngi tau anu mallabai lao di e sumur e mambawa pauli, anna diang to toi anu mallabai lao di e passawwang nge melo napa jari jodohna. Diang tau anu lao, diang anu jari napa jari, diang toi anu paulianna nabawa. Diang toi carita tau Jeneponto melo lao Makka napa jari, anna diang toi tau melo kaweng napa jari toi.
Jari lambimi sumur e nasanga Sumur Jodoh, apa di situo tau mallabai mambawa hajatna masing-masing. Di awalna, sumur e nipassallengi toma tutua anu massigi, anu toi napogau mappauli tau. Pole toma tutua e mate, passallena naala ibu Mina, iya simata mambawa tau lao di sumur e, mambantu tau anu mallabai pauli.
Meskipun di awalna diang tau marakke apa diang diong pauli di sumur e, Papa Harun nawwa indang perlu marakke. Apa pauli e indang maala bahaya, tapi malai mambawa barakka. Jari yamo Sumur Jodoh e nasanga sumur anu mambawa kasalamatan, kasembuhan, anna harapan hidup tau.
"Tamma!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Sumur Jodoh, yang juga dikenal sebagai Sumur Obat, merupakan salah satu situs yang dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual oleh masyarakat setempat. Penamaan sumur ini bermula dari sebuah peristiwa yang dialami oleh Bapak Harun bersama saudari perempuannya ketika mereka mendatangi sebuah sumur yang terletak di area kebun kelapa milik keluarga nenek mereka.
Saat itu, saudari Bapak Harun melihat ke dalam sumur dan menemukan berbagai benda di dalamnya, seperti satu tandan kelapa, bunga-bunga, mayang pinang, dan mayang kelapa. Melihat kondisi tersebut, ia menyampaikan kekhawatirannya kepada Bapak Harun bahwa air sumur tersebut tidak dapat diambil karena diyakini mengandung "obat" atau unsur tertentu. Ia mempertanyakan apakah air sumur itu aman untuk digunakan. Menanggapi hal tersebut, Bapak Harun justru menyampaikan keyakinannya bahwa air sumur tersebut boleh diambil karena keberadaan "obat" di dalamnya tidak membawa bahaya, melainkan kebaikan.
Seiring berjalannya waktu, sumur tersebut mulai dikenal luas oleh masyarakat. Banyak orang datang ke sumur itu dengan membawa hajat dan harapan tertentu. Ada yang datang dengan niat mendapatkan jodoh, ada pula yang berharap memperoleh kesembuhan atau keberkahan hidup. Beberapa kisah yang berkembang secara turun-temurun menyebutkan adanya seseorang dari Jeneponto yang datang dengan niat untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah dan akhirnya berhasil mewujudkan niat tersebut. Ada pula kisah tentang seseorang yang datang dengan harapan memperoleh jodoh dan mengaku bahwa harapannya terkabul.
Pada awalnya, sumur ini dijaga oleh seorang tokoh tua yang juga berperan dalam mengobati masyarakat yang datang untuk berobat. Setelah tokoh tersebut meninggal dunia, peran penjagaan dan pelayanan di sumur ini dilanjutkan oleh Ibu Mina, yang hingga kini masih membantu masyarakat yang datang dengan berbagai keperluan.
Meskipun pada awalnya terdapat rasa takut di kalangan masyarakat karena adanya benda-benda yang dianggap sebagai "obat" di dalam sumur, keyakinan Bapak Harun menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir. Sumur ini justru dipercaya sebagai sumber pengobatan, keberkahan, dan harapan hidup. Oleh karena itu, hingga kini Sumur Jodoh tetap dipandang sebagai simbol kepercayaan masyarakat terhadap rezeki, kesehatan, dan jodoh.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Sanaria