Desa Bonde, Kec. Campalagian, Kab. Polewali Mandar
TAU MNJARI TABARO (ORANG MENJADI TABARO)
23 June 2026
-3.479246, 119.147552
Naskah Dokumen Digital (PDF)
Transkrip lengkap atau naskah asli Lontara
Diang mesa wattu, diang mesa to pumbaine. Saban pole muanena ma"jama, andanggi dio boyanna pumbaine. Muanena lapar pole ma"jama, tapi andena andanggi disiapang. Pirang allomi lambi", jari macaimi muanena. Awalna andanggi dipogau, tapi tappana tallu bongi boyanna lo"bang terus, andena andanggi nayappanggi. Jari na"alangmi muanena balo"-balo" (papan) mappake" pumbaine. Meindongmi pumbaine, napangngalangi muanena.
Meindongmi tarrus, jari nalambi" towanggi. Naua pumbaine, "Mua meindong ya, andang mala tongan kupellei." Maitami lemba-lembang (uwae), jari napattinroi di uwae. Polemi muanena, napake"de pumbaine, tapi andang mala mekke"de. Naua muanena, "Inggae sau, mala sumanggi anaqmu." Naua pumbaine, "Andang mala, iyau naoroi dio."
Meitami muanena naong dipulokko"na, mass"mi membuake naong di lalangna. Tappana tarrusmi dio di lemba-lembang, iyamo tu"u penjarianna Tabaro. Jari mua diang Tabaro, peitamo uwainna. Uwae tu"u iyamo asal penjarianna. Mua andang namakanyang, ciumo Tabaro tu"u; andang bau busuk, tapi membau" sappa anaq-ana".Iyamo tu"u napeillongang Tabaro.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada suatu waktu, ada seorang perempuan. Setiap kali suaminya pulang bekerja, istrinya tidak berada di rumah. Suaminya pulang dalam keadaan lapar, tetapi makanan tidak pernah disiapkan. Kejadian itu berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya suaminya marah. Awalnya ia hanya diam, tetapi setelah tiga malam rumah selalu kosong dan makanan tidak diperhatikan, ia pun mengambil papan untuk memukul istrinya. Istrinya lalu melarikan diri, dan suaminya mengejarnya.
Perempuan itu terus berlari hingga merasa kelelahan. Ia berkata dalam hati bahwa walaupun ia terus berlari, ia tetap akan tertangkap. Ia kemudian melihat sebuah sungai dan duduk di tepinya. Tak lama kemudian suaminya tiba dan mencoba membangunkan serta menariknya berdiri, tetapi tidak berhasil. Suaminya berkata, "Ayo pulang, nanti anakmu menangis." Perempuan itu menjawab bahwa ia akan tetap tinggal di tempat itu.
Suaminya melihat bagian bawah tubuh istrinya mulai berakar ke tanah. Tubuhnya menyatu dengan alam dan menetap di sungai tersebut. Dari situlah asal-usul Tabaro. Konon, jika melihat Tabaro, perhatikanlah airnya. Air itulah yang menjadi tanda asal kejadiannya. Jika tidak percaya, ciumlah Tabaro itu"airnya tidak berbau busuk, melainkan memiliki bau khas seperti bau anak kecil. Itulah sebabnya cerita ini dikenal sebagai asal-usul Tabaro.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Yahya HRB/Miftahul Ahmad
Meindongmi tarrus, jari nalambi" towanggi. Naua pumbaine, "Mua meindong ya, andang mala tongan kupellei." Maitami lemba-lembang (uwae), jari napattinroi di uwae. Polemi muanena, napake"de pumbaine, tapi andang mala mekke"de. Naua muanena, "Inggae sau, mala sumanggi anaqmu." Naua pumbaine, "Andang mala, iyau naoroi dio."
Meitami muanena naong dipulokko"na, mass"mi membuake naong di lalangna. Tappana tarrusmi dio di lemba-lembang, iyamo tu"u penjarianna Tabaro. Jari mua diang Tabaro, peitamo uwainna. Uwae tu"u iyamo asal penjarianna. Mua andang namakanyang, ciumo Tabaro tu"u; andang bau busuk, tapi membau" sappa anaq-ana".Iyamo tu"u napeillongang Tabaro.
"Tamma"!"
Terjemahan Bahasa Indonesia
Pada suatu waktu, ada seorang perempuan. Setiap kali suaminya pulang bekerja, istrinya tidak berada di rumah. Suaminya pulang dalam keadaan lapar, tetapi makanan tidak pernah disiapkan. Kejadian itu berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya suaminya marah. Awalnya ia hanya diam, tetapi setelah tiga malam rumah selalu kosong dan makanan tidak diperhatikan, ia pun mengambil papan untuk memukul istrinya. Istrinya lalu melarikan diri, dan suaminya mengejarnya.
Perempuan itu terus berlari hingga merasa kelelahan. Ia berkata dalam hati bahwa walaupun ia terus berlari, ia tetap akan tertangkap. Ia kemudian melihat sebuah sungai dan duduk di tepinya. Tak lama kemudian suaminya tiba dan mencoba membangunkan serta menariknya berdiri, tetapi tidak berhasil. Suaminya berkata, "Ayo pulang, nanti anakmu menangis." Perempuan itu menjawab bahwa ia akan tetap tinggal di tempat itu.
Suaminya melihat bagian bawah tubuh istrinya mulai berakar ke tanah. Tubuhnya menyatu dengan alam dan menetap di sungai tersebut. Dari situlah asal-usul Tabaro. Konon, jika melihat Tabaro, perhatikanlah airnya. Air itulah yang menjadi tanda asal kejadiannya. Jika tidak percaya, ciumlah Tabaro itu"airnya tidak berbau busuk, melainkan memiliki bau khas seperti bau anak kecil. Itulah sebabnya cerita ini dikenal sebagai asal-usul Tabaro.
"Selesai!"
Diceritakan kembali oleh Yahya HRB/Miftahul Ahmad