Katalog Cerita Rakyat
Ditemukan 33 cerita rakyat terarsip di sistem.
TOMOURAKAM ADINNA (KAKAK YANG MEREBUS ADIKNYA)
Pissam attu tubo mesa saraupu. Deem illalan indok anna dua anak baine. Indo na inde baine dua dipasangai "Daja" batuanganna to matua baine to matoro, mapia, anna makusaha kale. Anna anak maneana buttu dio mai indokna dipasangai Melati sapulo annam taunna, anna anak kapenduanna dipasangai anak tampak pitu taunna. Pissam attu inde indona lalao lako belakna limbak mambelanna mupellei banua. Inde indona makpepasam lako anak pempisanna: "Ke tadeak adimmu, nasuanni aho!". Tak mambela mupellai banua, inde anak pissam kutambai indona: "Indo, indo, indo". Indona mak kada naua: "Aka lusiang"?. Abana mekutana pole lako indona: "Aka lakunasu ke adingku tadeak, Bu"?. Indona mantimba: "Nasuanni aho ke tadeak i!" Naringngi paktulakna indona, illalan penabanna inde kakanna makpepasam: "Nasuanni adimmu ke tadeak i". Indona napatarruk pellaonna. Pira-pira dako, inde kakanna musua adinna lao mupea kaju tunu. Adinna napasirak-um lao mampea kaju. Tak masae suler-am mubaba kaju buda-buda. Kakanna naala indo kaju anna napalanganni palandoan. Inde kakanna musua adinna anna mendioki. Balinna anak tampak mendiok, inde kakanna napea lalanna anna balek mammak I adinna. Napaealak-elak-um napadende lako ngeam sibiasa nangei mammak mesa-mesa. Purai naita adinna mammak, Melati naparanduk mupalekke api, kaju tunu napake. Lekkei api, kakanna muparanduk-um nalussui wai bali reda. Napaealak-elak-um naakak tama wai rede. Tak masae inde kakanna naalam subum wai rede, tak-um menaba. Inde kakanna napokok-um dio Sali inde adinna, naputuk-um daun punti ubaik 1,5 meter. Inde kakanna napadedam langan palandoam. Siakarubem, sulem indona diomai belak. Muapkaadaim anakna: "Anaku selamak!" Inde kakanna mubukai bakba, aman makalika guntuk dio olona indona, mane sumarroi naua: "Pakdappanganni anakmu indo". Naua: "Aka isanga itim mutulak"? Nau polem inde kakanna: "Pakdappangannak indok aka mupogauk-ak kasalaan tak laku kara anna mane, balim kurakam adingku". Diringngi paktulakna kakanna, indona muala kaju anna nattuki ulunna. Napasinduk suammarro siam, naua: "Tak kuaku ke tak-I tubo sule". Inde kakanna maktulak sumarro siam naua: "Iyo indo, kubaba tia sule makalek dio olomu susi lessuk". Penaba menosso indona nattuk lusiang anak pissanna. Inde indona napatorrom mu tuttuki anakna. Anna inde anak napatoka asama parrurunna anna mubabai lao adinna. Makalekna inde kakanna mubaba lao adinna limbak mambelanna mupellei paktondakan. Lambinna lako ngeam indo lanangei, inde kakanna napokok-um yabo batu papam. Inde kakanna mualam pitu daun baulu napadekke lako bibinna anna dua tullu manuk dio sakde adinna. Inde kakanna sumarro, tokdo wai matanna nakanna lindona adinna. Pisanganna inde adinna millik-um tappa mupetuak kakanna. Inde kakanna tappa mukalapuk-I adinna napasindum siam sumarro nau: "Pakdappangnak, lako kalemu tak kupalako anna mane". Nasuam adinna mellao. Balinna muita adinna mellao susi lessuk, makpasulem lako banuannai. Tak masae ratum lako banunna. Inde kakanna mutumbak-um bakba nau siam: "Sulem kam indo". Naringngi paktulakna, inde indona naala polek kaju anna muttuk-I inde kakanna aka tak gannam, inde anak tampakna la mala tubo sule. Balinna etatoo nabukkaim bakba mane muita ri polek anak tampakna mala tubo sule, napasindum sumarro siam mukalapuk-I anakna. Maktulak dam kakanna nau: "Lalao-ak kao indo aka balimak mupatei adingku". Apok nauam indona: "Tak-ko mala lao! Lasola liau kiak torro aka iko dukak anakku". Ya tubom masannam susi yolona. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga, yang terdiri dari seorang ibu dan kedua anak perempuannya. Ibu dari kedua anak tersebut bernama "Daja" yang menurut kepercayaan orang tua nama tersebut memiliki arti, yaitu Seorang perempuan tangguh, cantik, dan mampu berusaha sendiri. Sedangkan anak pertama dari sang ibu tersebut bernama Melati yang berusia 16 Tahun, sedangkan anak keduanya bernama Bungsu yang berusia 7 Tahun. Suatu hari, Sang Ibu hendak pergi ke kebun miliknya yang sangat jauh dari Rumah. Sebelum sang Ibu berangkat, ia berpesan kepada anak sulungnya; "Apabila Adikmu lapar, masaklah jagung untuknya!". Tak jauh dari rumah, sang kakak memanggil-manggil ibunya; "ibu, ibu, ibu". Ibunya pun menjawab iya nak ada apa lagi? Anaknya pun bertanya kepada sang ibu "Apa yang harus aku masak jika adikku lapar Bu"? Sang ibu pun menjawab "masaklah jagung apabila adikmu lapar!" Mendengar perkataan sang ibu, dalam benak sang kakak bahwa ibunya berpesan "masaklah adikmu apabila ia lapar". Sang ibu pun kembali melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian, sang kakak pun menyuruh adiknya untuk mencari kayu bakar. Sang adik pun segera bergegas dan melaksanakan perintah dari kakaknya. Beberapa saat kemudian si Bungsu pun tiba dirumah dengan membawa kayu bakar yang lumayan banyak, dan sang kakak pun mengambil kayu itu dan menaruhnya di atas tempat kayu bakar. Sang kakak kembali menyuruh adiknya untuk mandi. Setelah si Bungsu mandi, Sang kakak pun berusaha membuat sang adik tidur, dan perlahan-halahan mengangkat dan menaruh adiknya di tempat yang biasa mereka tempati tidur bersama. Setelah sang kakak melihat bahwa si Bungsu sudah tertidur lelap, Melati pun mulai menyalakan api, menggunakan kayu bakar. Setelah api menyala, sang kakak mulai memanaskan air. Setelah air tersebut mendidih, Sang kakak kembali berusaha perlahan-lahan mengangkat adiknya, dan memasukkan ke dalam air mendidih tersebut. Tak lama kemudian sang Kakak mengeluarkan adiknya dari dalam air mendidih itu dengan keadaan sang adik sudah tidak bernyawa lagi. Sang kakak pun menaruh adiknya di lantai, dan membungkus adiknya dengan selembar daun pisang yang berukuran kurang lebih 1,5 meter. Setelah adiknya terbungkus dengan daun pisang, kakak memindahkan sang adik ke atas tempat kayu bakar atau yang biasa disebut dengan "Palandoam". Sore pun tiba, sang ibu pun pulang dari kebunnya. Setibanya di rumah sang ibu berseru "Nak, nak, nak ibu sudah pulang". Sahut sang ibu. Sang kakak pun membuka pintu dan mulai bersujud didepan sang ibu, sambil menangis dan berkata "Ibu-ibu maafkan anakmu ini bu". Sang ibu pun menjawab apa yang sedang kamu ahoo na nak? Sang kakak kembali menjawab maafkan aku Bu karena aku telah berbuat kesalahan yang seharusnya aku tidak lakukan. Aku telah merebus adikku sendiri. Mendengar perkataan Sang kakak, Sang ibu terkejut, dan mengambil sepotong kayu dan mencambukkannya kepada anak sulungnya sambil menangis dan berkata, katanya "ibu tidak mau tahu kamu harus bisa membuat anak bungsuku hidup kembali". Sang kakak menjawab ibunya sambil menangis kesakitan, katanya "Iya, ibuku berjanji akan membawa si bungsu ke suatu tempat hari esok, dan akan membawanya kembali didepan ibu dengan keadaan seperti semula." kata sang kakak sambil menangis. Dan dengan hati kecewa sang ibu masih terus mencambuk anak sulungnya. Saat ibunya berhenti mencambuk anak sulungnya, Sang kakak pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi membawa adiknya keesokan hari. Keesokan harinya sang kakak pun pergi dan membawa adiknya ke suatu tempat yang sangat jauh dari perkampungan. Setelah mereka tiba di tempat yang mereka tuju, sang kakak menaruh si Bungsu di atas sebuah batu papan, sang kakak menaruh tujuh lembar daun sirih dan dua butir telur ayam di samping adiknya. Sang kakak pun menangis, setetes air mata sang kakak jatuh dan mengenai muka sang adik. Tiba-tiba si Bungsu terbangun dan menatap sang kakak dengan wajah yang cerah. Sang kakak pun memeluk adiknya, dan berkata "Ampunilah kakakmu ini yang telah berbuat kesalahan kepadamu yang tidak semestinya kakak lakukan." katanya sambil menangis. Untuk memastikan keadaan sang adik, Sang kakak pun menyuruh adiknya untuk berjalan-jalan. Setelah sang adik berjalan-jalan dan sang kakak melihat bahwa keadaan sang adik sudah kembali seperti semula, mereka pun kembali pulang ke rumah. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah. Sang kakak mengetuk pintu dan sambil berkata katanya "ibu, ibu, kami sudah kembali." Mendengar seruan sang kakak, Sang ibu kembali mengambil sepotong kayu karena ia tidak percaya bahwa anak sulungnya dapat hidup kembali. Setelah sang ibu membuka pintu, dan melihat anak bungsunya telah hidup kembali sang ibu terkejut dan menangis sambil memeluk si bungsu. Sang kakak pun berkata kepada ibunya, katanya "Ibu aku harus pergi. aku telah membunuh adikku sendiri" Tetapi sang ibu menjawab tidak, tidak. Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus tetap tinggal bersama dengan kami, karena bagaimanapun juga kamu adalah anak ibu. Mereka pun hidup bahagia seperti sediakala. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Devton Demmarimpa
SIRONDONG TOMAROKU
Pissan toyolo, deem mesa sapulo duai ma"si"rondong. Sapulo mesa"e sanggin masokan anna matata", sa"po" inde anak sapulo duai"e yamo tomarona tau lanlino. Karana yamo tomarona, indo sirondong-rondongna napatomoroi pissan. Tae ia dipopasi kola, disuah ia ma"pande-pande tedong sola pariu uma. Na tarima pa"pa lakona sirondongna sola na sabaran. Yate karana mendadi tomakaka inde lan rumpuna, sola tambah buda pacouan. Na pogau" ya mo rodi sangga lantondok. Pissan attu, dipopa" mesa-mesa anggana ma"sirondong. Sa"po" inde sirondong tomarona tae dio. Inde le"ba" lao makambi tedong lako pasang. Dipopa" mesa-mesa inde dibenni pacouan dipasandai, sa"po" tae ia dikilalai inde mesa le"ba" lao makambi. Saei lako banua, na kumua: "Umbara kao tawa ku"? Na kuami indo"na: "Tae miko to dengan tawaku mu aka tae moko iko dikilalai anggena." Na paranduk mapadi penawanna lako sirondongna sola lako indo ambena. Karana tae ma"papada-pada kasihna. Iya le"ba pellei banua lao tuo-tuo mesa. Na pogau" pondok le"ba" mesa, garanga uka lantang-lantang liana. Tau-tau naporai aka maleke pepangkaranganna. Pissan allo bongi, buda dassi sisae rampo yaoh papa banuanna. Tae naissan mamma" tonggan karana millik mebongi. Kondokanna allo. Naita buda kotoran dassi. Na pasiri"i, anna naita lise lemo sirau inde kotoranna. Na tanani lise lemo inde. Sule" allo sule", tumbo" anna mabua. Wattu dibukka lemo, sanggin emas inde lisena. Tambah buda bua inde lemo. Tambah tomakaka indo sirondong tomarona. Inde sirondongna umpurai ewanan, napake lao ma poya-poya, sanggin lendu" ewananna. Pissan attu, bonno ambe indo"na. Tae mo ewanan inde sirondongna la napake untomate. Le"ba" mi lao umpellambi inde sirondong tomarona. Na kumua: "Bonno mi indo ambeta, umbamo ladi patengan"? Na kumua inde: "Tae marea", aku to umbali" patengan." Tumagi asan mi inde sirondongna. To tae diangga lan rumpuna, iya to mallun indo ambena sola tomakaka. "Puha!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu, ada sebuah keluarga yang memiliki dua belas orang anak. Sebelas anak di antaranya tampan dan cantik, tetapi anak yang paling bungsu adalah yang paling buruk rupa. Karena itulah ia selalu direndahkan oleh saudara-saudarinya. Ia tidak disekolahkan, melainkan disuruh menggembala kerbau dan membajak sawah. Semua perlakuan itu ia terima dengan sabar dan lapang dada. Berkat kerja kerasnya, keluarga itu menjadi kaya dan terpandang, serta dihormati oleh masyarakat kampung. Suatu hari, semua saudara dikumpulkan untuk pembagian warisan. Namun saudara yang paling jelek tidak hadir, karena sedang menggembala kerbau di ahoo . Harta warisan dibagikan kepada semua saudara, tetapi saudara yang jelek itu dilupakan. Ketika pulang ke rumah, ia bertanya, "Ibu, Ayah, di mana bagian saya"? Ibunya menjawab, "Kamu tidak mendapat bagian karena tidak hadir saat pembagian." Hatinya sangat sakit dan kecewa kepada saudara-saudarinya dan orang tuanya. Karena kasih sayang tidak dibagi secara adil. Ia pun pergi meninggalkan rumah untuk hidup sendiri. Ia membangun pondok kecil untuk dirinya sendiri. Karena terbiasa bekerja keras, masyarakat pun menyukai hasil kerjanya. Suatu malam, banyak burung pipit bertengkar di atas atap pondoknya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ributnya. Keesokan paginya, ia melihat banyak kotoran burung di halaman. Saat membersihkannya. Ia menemukan biji jeruk di antara kotoran itu. Biji jeruk itu ia tanam dengan baik. Hari demi hari tumbuh dan berbuah. Ketika dibelah, ternyata bijinya adalah emas. Buah jeruk itu semakin banyak. Saudara yang dahulu diremehkan kini menjadi sangat kaya. Sementara itu saudara-saudarinya menghabiskan warisan, hidup berpoya-poya, hingga harta mereka habis. Suatu hari orang tuanya meninggal dunia. Namun saudara-saudarinya tidak lagi memiliki harta untuk mengadakan upacara kematian. Mereka pun datang menemui saudara yang dahulu diremehkan. Mereka berkata, "Ibu dan ayah kita telah meninggal, apa yang harus kita lakukan"? Ia menjawab dengan tenang, "Jangan khawatir, saya yang akan menanggung semuanya." Mendengar itu, saudara-saudarinya menangis penuh penyesalan. Anak yang dahulu tidak dianggap dalam keluarga, justru dialah yang menguburkan orang tuanya dengan upacara bangsawan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Meryati/Ana
ANA DAHA MENDADI TAU-TAU
Pissannia ade", deem mesa to balu baine. Indo to balu baine deem "n""na mesa baine isanga Nita. Angga onnia duka" pengk"h"nganna allo-allo lao muala kaju tunuam tama pangngala" anna le"ba" oi nabalu lako kota. T"" m"s"e lobo"um indo "n""na mendadi "n" daha maleke. Sapo" aka ohi kadakena indo Nita aka si malangka penaba. Pissam wattu indo Nita napelau lako indona la le"ba" lako kota umpe" pengk"h"ngam. Uhuna t" nap"b"i indona sapo" aka naala kiaha", katampasanna nap"b"i siam indona le"ba". Pissananna dioi indo kota Nita sola mesa to makaka anna mapia penaba indo tau. Iya indo Nita naangga" "n" ikale, nabeem poheba mapi"d"" anna napakam"jj". Setonganna la pahallu natilalla"i Nita ia too aka mullambi ongeam mapia. Sapo" aka hi si napogau" indo Nita tuttuam malangka" penaba hia, anna t"" si naaku umpasola "n""na to masemase. Pissam wattu nasua indo punggabana Nita la lao umpessitai indona nauaam: "Laoko oll"i indomu aka umbai nakamalli"i sugali"ungko". Mane mahassam muola lalam Nita anna sitammu ham indona ma"poheba k"d"kke anna sesse-sesse. Muitanna indona Nita iya ta" deem pada samasihi, lambi napasihha ma"pasule lako keta. Pissananna sabulanni nasua pole oom indo punggabana Nita la le"ba" muoll"i indona. Iya nabeemmi ande-ande mammi" naua: "Indem la umbabaam indomu anna mala tilalla". Sapo" wattu eta too palauham, iya sangngim malubellu" lalam. Ta" naaku Nita la naisso hoss" talanana sola sapatunna. Dadi naala indo hoti nababa anna si natibei lako olona. Wattu eta too deem mesa tomatua-tua lao tumimba. Iya naua siaham Nita: "Mala haka umbenn"" uwaimmu kubaseiam pohebaku nene""? Pissananna toko nab"hh""i lako kalena napas"ndum nakeaha i naua: "Indem uwai "n" to seda!" Wattu eta siam, indo Nita tappa t" mala kahiu-hiu, anna te d"-te"d" b"b"m mendadi tau-tau. Indo tau-tau allo-allo lola uwai matanna tanda kamapi"disanna. "Puha!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu waktu hiduplah seorang janda. Janda itu memiliki seorang anak perempuan bernama Nita. Setiap hari mereka pergi ke hutan mencari kayu bakar, kemudian dibawa ke kota untuk dijual. Tak terasa waktu berlalu, anak itu tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Namun sayangnya, Nita berubah menjadi gadis yang sombong. Suatu hari Nita meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke kota mencari pekerjaan. Awalnya ibunya tidak mengizinkan karena merasa berat melepaskannya, tetapi karena Nita terus memaksa, akhirnya ibunya mengizinkan. Sesampainya di kota, Nita tinggal bersama keluarga kaya yang baik hati. Ia dianggap seperti anak mereka sendiri, diberi pakaian yang indah-indah dan selalu dimanjakan. Seharusnya Nita bersyukur atas kehidupan baik yang ia terima. Namun justru kesombongannya semakin menjadi-jadi, hingga ia tidak mau bergaul dengan anak-anak yang miskin. Suatu hari orang tua angkat Nita memintanya pulang menjenguk ibunya dan berkata, "Pulanglah dulu, ibumu pasti sangat merindukanmu." Di tengah perjalanan, Nita bertemu dengan ibunya yang berpakaian compang-camping. Melihat itu, Nita merasa sangat malu dan segera berbalik kembali ke kota. Sebulan kemudian, orang tua angkat Nita kembali menyuruhnya pulang menjenguk ibunya. Ia dibekali roti yang lezat dan berpesan, "Berikanlah ini kepada ibumu agar ia senang." Saat itu musim hujan sehingga jalanan menjadi berlumpur. Nita tidak mau sepatunya kotor, maka roti yang dibawanya dilempar ke tanah dan dijadikan alas pijakan. Saat itu datang seorang nenek membawa air. Nita berkata, "Bolehkah saya minta air untuk membersihkan pakaian saya, Nek"? Tiba-tiba nenek itu menyiramkan air ke tubuh Nita sambil berkata, "Inilah air untuk anak durhaka!" Seketika tubuh Nita menjadi kaku dan tidak bisa bergerak, perlahan-lahan berubah menjadi patung. Setiap hari patung itu mengeluarkan air mata sebagai tanda penyesalan. "Selesai!"
ODO DI TOBAN
Baine di kurung, uncerita dua anak-anak bangasawan ma" rara ma" biru dio Kabupaten Mamasa. Jo anakna oh na pakamayasigali tomatuanna la"binna papa"na. Inde anakna muane di sangga Bongga, anna inde anakna baine di sangga Arru". Inde Bongga anna barinni" pa si kutanai papa"na nakua "la mendadi aka ko iko?", na timba" Bongga "la dadi polisi na" kao papa"". Anna inde anakna baine, maka si nakutanai papa"na la dadi aka ko iko, si nakua: "liu ai la dadi penari na" kao". Sapo" inde cita-citanna e tae" na porai papa"na. Mengkalao mi dio dio oh aka na tekan papa"na, na polalan inde do" Arru" e mendadi tattasan. Inde anna kamai mo Bongga anna do" Arru", Bongga ia berhasil dadi polisi. Anna do" Arru" ia jo attu umurna kira-kira sapulo kasera taunna, tama mesa sanggar seni yao Mamasa, inde do" Arru" e berhasil dadi penari malekkek. Sapo dio talentana oh tae" na porai papa"na, pikki"na papa"na jo penari tae" dengan gunana. Si nakuanni papa"na la dadi ya roko to yao yato malanna ma"guna lako kalemu anna lako tu senga". Na polalan Arru" ma pa"di" penawa. Anna tanda di pakamayanna, setiap la suun banua si nakawal liu anggota na papa"na moi lao ma"saleo sola solana. Dengan pissan attu inde Arru" e mengeh menari sola solana na lambi" anggotana papa"na, anna paksa ih sule lako banua. Mengkalao mi dio dio oh na parnduk tattasan mi inde do" Arru" e. Mengkalao dio mi dio oh na kambela asan mi sola solana do Arru" aka inde do" Arru" eh tokke mi si menari kalena mesai. Mane sadar ri uka tomatuanna kumua inde do" Arru" e la lao di pakuli ih, sapo la di aka ih aka masae sigali mi di pa"di" penawa na polalan ta" mo mala di pakuliih sakinna, yamo pole di ngei toban mi. Inde anna pira-pira bulan mon di toban e, tokke" mi sadar papa"na kumua "salah mo" kao to oh tokke untekan sigali na ankku yamo nagei dadi susi mo dio oh". Ende anna mangka mo messalu-salu papa"na e, aka masaki mi uka, tokke mi sadar sule do" Arru" anna malapu" uka sule papa"na aka mangka mi mangaku kumua salahna. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Kisah ini menceritakan tentang dua orang anak bangsawan atau berdarah biru di Kabupaten Mamasa. Kedua anak ini tumbuh di bawah tekanan yang sangat besar dari orang tua mereka, khususnya sang ayah. Anak laki-lakinya bernama Bongga dan anak perempuannya bernama Arru". Saat masih kecil, sang ayah bertanya kepada Bongga tentang cita-citanya, dan ia menjawab ingin menjadi polisi. Sementara itu, ketika Arru" ditanya hal yang sama, ia selalu menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ia ingin menjadi seorang penari. Namun, cita-cita kedua anak tersebut, terutama Arru", sangat tidak disukai oleh ayahnya. Penolakan keras dan tekanan yang terus-menerus dari sang ayah mulai membebani batin Arru". Sejak saat itulah, tekanan jiwa yang dialaminya semakin berat hingga perlahan-lahan ia mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan jiwa atau menjadi gila (tattasan). Setelah dewasa, Bongga berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi anggota polisi. Sementara itu, Arru" yang telah menginjak usia 19 tahun bergabung dengan sebuah sanggar seni di Mamasa dan berhasil menjadi penari yang hebat. Sayangnya, bakat luar biasa Arru" tetap tidak mendapat dukungan. Ayahnya menganggap menjadi penari adalah hal yang sia-sia dan menuntutnya menjadi orang yang "berguna" menurut standarnya. Karena statusnya sebagai anak bangsawan yang sangat disegani, ruang gerak Arru" dibatasi; setiap kali ia keluar rumah untuk bermain, ia selalu diawasi ketat oleh orang-orang suruhan ayahnya. Suatu hari, ketika Arru" sedang asyik berlatih menari bersama teman-temannya, orang-orang suruhan ayahnya datang menyergap. Ia dipaksa pulang secara kasar ke rumah. Peristiwa traumatis itu menjadi titik balik yang menghancurkan mentalnya sepenuhnya, hingga akhirnya Arru" benar-benar jatuh ke dalam kondisi gila (tattasan). Sejak saat itu, teman-temannya menjauh karena perilaku Arru" yang semakin aneh. Orang tuanya baru menyadari bahwa ia butuh pengobatan, namun karena tekanan batin sudah berlangsung terlalu lama, sakitnya sulit disembuhkan hingga ia pun harus dipasung (di toban). Setelah beberapa lama dalam pasungan, sang ayah akhirnya sadar bahwa ambisinya telah menghancurkan anaknya. Ayahnya pun mengakui kesalahannya (messalu-salu). Setelah pengakuan tulus dan penyesalan sang ayah, keajaiban terjadi; Arru" perlahan pulih kesadarannya, dan kesehatan sang ayah yang sempat menurun pun ikut membaik. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Ra"tun
MESA ULA SAWA
Mekkalao lan tondok disanga Banua Sawa, den mesa" ula" sawa mandu kapua. Mallei tu ula" ummolai Salu Mamasa mbaik sekitar puluhan kilo kalandona, na lambi" mo mesa" tondok mbaik la nangei torro. Leppangmo tu ula" sawa inde to tondok mbaik dua tahun masaenna. Nakanganga tu sadangna susi lokko" batu. Den mesa" to rumangngan kenden duka" mentiongan lu tama lokko", sapo ya tu lokko" tannia lokko" tongan, sapo sadangna sawa. Ya tu to rumangngan umperrandukan dokena, na tappa kedo siami ya tu sawa annu naditi" doke lilana. Tikkedu" ii lari mi tu tau tassu" lammai sadang sawa. Naalai pa"dangna na mane umba"ta ya tu sawa. Lari mo tu ula" dokko salu. Iamo na disangai tu tondok Battasawa. Makkanna na ba"ta tu torumangngan, umpatarru pole lalanna ummolai salu mbaik ratusan kilo kalandona na olai. Lambi" omo mesa" tondok mbaik. Sapo ma" sule-sule liu tu ula", ummolai Salu Randanan, makka lu lako Salu Sumule, makka lu lako mi Salu Sakka". attappakanna umpatarru lalanna ummolai Salu Sakka" na unduk liu sae tama ulunna Salu Sakka". Uttombon kalena umpandanni inde to salu. Masae-masae pole" dadi batu motu ula" sawa. Na mane di sangai mo pole tu tondok katappakan nangei torro disanga Messawa temo. Ya tu ula" mendadi batu napemali" mo to dolo, mendadi nangei ma"aluk kabiasaanna lembang Messawa. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala di sebuah kampung bernama Banua Sawa (di daerah Sindagamanik), hiduplah seekor ular piton yang sangat besar. Suatu ketika, ular tersebut pergi meninggalkan sarangnya, menyusuri aliran Sungai Mamasa sejauh puluhan kilometer, hingga akhirnya ia tiba di sebuah kampung yang sunyi untuk beristirahat. Ular piton itu beristirahat di kampung kosong tersebut selama dua tahun lamanya. Ia berdiam diri dengan mulut terbuka lebar menyerupai sebuah gua batu. Suatu hari, seorang pemburu yang kelelahan lewat dan melihat "gua" tersebut. Ia masuk untuk berteduh sejenak, tanpa menyadari bahwa yang dimasukinya bukanlah gua sungguhan, melainkan mulut sang ular piton yang sedang menanti. Di dalam keremangan "gua" itu, si pemburu menancapkan tombaknya ke bawah, mengira itu adalah tanah. Ternyata, tombak itu menusuk lidah sang ular. Ular itu tersentak hebat karena kesakitan. Si pemburu terkejut bukan main menyadari kesalahannya, lalu lari pontang-panting keluar dari mulut ular. Dengan panik, ia mencabut parangnya dan menebas tubuh ular tersebut. Ular yang terluka itu segera melarikan diri ke sungai. Karena kejadian penebasan itulah, kampung tersebut kemudian dinamai Battasawa (tempat menebas). Setelah terluka akibat tebasan parang pemburu, ular itu kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai hingga ratusan kilometer jauhnya. Ia tiba di daerah baru yang tak berpenghuni. Namun, ular itu kebingungan mencari tempat peristirahatan terakhir. Ia mondar-mandir di antara aliran sungai; dari Sungai Randanan, beralih ke Sungai Sumule, dan kemudian menuju Sungai Sakka". Akhirnya, ia memutuskan untuk terus menyusuri Sungai Sakka" hingga tiba di hulunya yang kecil. Di sanalah ia membentangkan tubuh raksasanya di sungai, melingkar dengan posisi kepala di bagian paling atas. Lama-kelamaan, tubuh ular piton itu perlahan berubah menjadi batu. Kampung tempat berakhirnya perjalanan ular itulah yang kini dikenal dengan nama Messawa. Batu jelmaan ular tersebut kemudian dikeramatkan oleh penduduk setempat. Tempat itu menjadi lokasi bagi para tetua adat penganut kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) di Lembang Messawa untuk melakukan ritual meminta berkat dan perlindungan. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Silele Buritta/Lidia Lepong/Sura'
DARAM PITU ULUNNA PENDUAM PITU TALINGANNA (KUDA BERKEPALA TUJUH DAN BERTELINGA DUA KALI TUJUH)
Pissam waktu dio mesa tondak dio birim lekbok, deem mesa tondak napimpin mesa tomaraja. Ya indo tomaraja deem pitu anakna simalekkek. Pissam waktu deem naringngi karena inde tomaraja naua deem adek daram pitu ulun na penduam pitu telinganya dia apak lekbok. Ya indo tomaraja maelok naala indo daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ya natambai asam mi sengganna isinya indo tondak, sengganna muane, ya sule asammi. Ya nahan tomaraja "ya too mala na nabaam ak sule inde daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ya iyan too ku hadiahi 100 babi, 100 tedom, 100 doik koin emas, anna budapi 100 sengakna". Ya silakbak-lakbak um inde mai anak muane mengkasillam naak apak lekbok ampo mane sapaik anna mak pasulem aka pusak. Ya bali asanni ya naua tomaraja "anggam isanga inde tau Lee, tak um isanga deem sengakna, aka tak deem tau mala naak inde lekbok". Naua indo mesa tolak tondak naua "deem pi eta illauk anak muane mesa ampo dalam tia ditambai aka tak siam la nabela naak aka barinnik-rinnik inde taunya disangai bokkok-bokkok". Ya naua tomaraja " ya lao siam ko too tambai aka berkualifikasi pi dukak aka sanga muane". Ya naua inde pengawal na tomaraja ya lain tetau sauk ditambai, ya laom ditambai inde bokkok-bokkok. Siapa sule i inde bokkok-bokkok ya mengkasillam mi naak lekbok, ya masakdik dia mpai tak deem mak pasulem. Ya sia sangaka i jaanna ya naua tomaraja "tak um tia diampai aka balim tia limmik, balim tia naande bau". Ya sementara inde bokkok-bokkok mengkaja liu naak inde apak lekbok. Ratu i naak apak lekbok ya mulambik um daratan dia, susi pantai, ya sitammum mesa tobarak-barak ya nauam inde tobarak-barak "la umba ko ngei anak muane", nauam "nasua ak inde tomaraja la lao muala daram pitu ulun na penduam pitu talinganna, ampo umba amo ngei inde la dipangngalai". Ya nauam indo tobarak-barak "ee diperkirakan siam eta inde, dipe inde tanda libanna salu, ampo maparrik aka tokepoppak mupuanganni", ya nauam bokkok-bokkok "ya akan isanga polek la dipogauk", ya nauam inde tobarak-barak "ee aka moi dukak mulambam inde salu maparrik aka inde salu, ya salu metidak, makak ditambah ya mala polo bittik, ampo la ku beem ko inde tekkem, makak too ke mutossak um naak inde salu anna malubui, mala too mulambam, makak too ke marandai ya tak too mala mulambam aka indana poloi bittik mu". Ya na alam bokkok-bokkok, na beem pi dukak indo tobarak-barak Bali dan, inde Bali dan semacam susi pesalo, naua "makak too dakok anna nalabak ko ke mak pasulem ko indo pua na aka tokepoppak ya pentibeanni anna dadi i ulak balu, ya malam naande, ya malam koak taruk. Anna inde pi dukak minyak illalam botok-botok, ke nalabak liu ko ya pentibeanni anna malai dadi pullam ya malam nalimmikam", ya na alam bokkok-bokkok. Ya nauam bokkok-bokkok " lao pak yolo". Natossak naak salu indo tekkem bokkok-bokkok ya malubu ya nalambammi bokkok-bokkok indo salu. Ya ratu i libam tanda libanna salu ya mualmbik rante kallukbak, illalam indo tanga-tanga na rante deem banua gege dia tingkat. Lekbak um libam bokkok-bokkok indo banua ya nauam tama indo banua "keissi rokokak puan na banua", mentimbak um subum baine naua "iyo taruk ko mai". Inde baine ya anakna indo tokepoppak, pua na indo daram. Ya tarruk um tama bokkok-bokkok indo banua, disangka indo baine ojo-ojo, naua indo baine " pembunuh eta ko inde, yani inde lotem, aka indana naande ko papak ku sola mamak ku ke sulem aka tokepoppak". Ya sia karubem i, sulem indo mamak na sola papak na mu baba babi. Natunum indo babi, anna mutarakanni kinande, bali i natarakam indo kinande, ya nabaam mi langam kinande inde anak na indo ojo-ojo. Na baba langam 2 pirim, sola dua tangkik naua "alaiak inde". Naua indo ojo-ojo "aka anna dua ri iko tangkik anna dua pirim mubabannak, sangat innak mesa-mesa ak", naua indo mamak na ojo-ojo " ee ala Jammi matim". Ya anuin na baba oom sule mangkok-mangkok sola pembaseam dua. Naua " alaiak inde", ya naua oom ojo-ojo " akari iko massok mu mubaba inde main dua pembaseam sangat mesa-mesa ak". Ya nauam mamak na " ala Jammi". Ya na ala siam inde ojo-ojo. Pissanganna dakok ya inde ojo-ojo sola bokkok-bokkok siporae. Ya natulakammi bokkok-bokkok naua " ia too inde battuangam ku sule, aka la sule ak kuala indo dalam pitu ulun na pendiam pitu talianganna, indo akanna papak mu sola mamak mu". Ya nauam ojo-ojo " ya kalau maparrik tia polek aka makak tia ke mualai indo dalam pitu ulun na pendiam pitu talianganna ya na ade ko", ya nauam " La mususun tau rencana". Sia membengi i ya nauam inde ojo-ojo muaam naak papak na sola mamak na " masaki ak too, masantak ak", ya nauam inde papak na sola mamak na " la matim tetau di petuak ko". Ya nauam ojo-ojo " daa mu main aka makak mau ko ya mate ak". Ya sia bali i naua inde ojo-ojo, ya nauam papak na sola mamak na " ya la diaka ri teem dipakuli i ko",ya nauam " lako ko pangngalak, anna mualannak tallu daum pao, ampo inde daum pao tak mala diala yang mau lolona, harus toba yang mai anna tanpa yang inde lolo sura, harus musura dia ibikna". Ya nauam papak na sola mamak na " la lao sik dan tetau", ya lekbak um lako pangngalak. Ya sia ratui lako pangngalak, ya inde ojo-ojo sola bokkok-bokkok na ala indo daram anna lekbak i napessakei. Ya sule lako la bengi kalem, ya tak liu deem inde daum pao la mala toba yabo lolo sura, ya piss anna ram naua indo kado aja yabo lolona pao "gak-gak-gak la malemi daram pitu maleman dara matti", ya nauam indo muane na akaka tia naua yabo kadoaja, aka katia massok na", ya nauam indo baine na la muka ori iko yabo kadoaja tak tia di islam". Ya nauam indo kadoaja "gak-gak-gak lamalemi daram pitu malemian dara matti", ya nauam indo baine na " aka anna naua ria parak daram pitu", ya tingkeduk polek muane na naua " tak ka lessuk um indo daram pitu ulun na nabab indo tosabe ta", ya nauam " pasarrak ko alai itim tallu daum pao anna mupayabo i itim lolo sura, anna lao kik tapetuak aka pakde sikda sia aram". Kumonda indo dua tokepoppak lako banuanna, ya ratu i lako, ya lomba banuanna, lekbak um lako bokok banua na petuak, pakde indo daram. Ya lekbak polek nalabak, tak pahala aka matirrik indo tokepoppak ya la naisso ram engkokna indo daram, napentibeam mi bokkok-bokkok indo tekkem, to na baba ingenak, ya dadi ulak bali, torrom indo tokepoppak naande indo ulak, ya tarruk inde bokkok-bokkok sola ojo-ojo. Ya tak pahala nalabak oram, ya la nalambik oram, napentibeam bokkok-bokkok indo balida ya dadi saba gege, ya torro oom inde tokepoppak naande indo saba. Ya nalabak lusiam, sia la nalambik kale i, napentibeam polem indo minyak illalam botok-botok, ya dadi polek pulkam, ya limmik polek mate. Ratu i langam kalantangam indo ojo-ojo sola bokkok-bokkok mupessakei daram pitu ulun na penduam pitu talianganna. Ratu i langam kalantangam, mini inde daram dio depan istana na tomaraja, tingkeduk tomaraja tanda kasalle na moninna. Ya mak kassi-kassi polek tomaraja, diberi polek saratuk tedok, saratuk babi, saratuk doik koin emas anna budaya pi saratuk sengakna, anna dipasila bokkok-bokkok sola ojo-ojo. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada suatu waktu di sebuah kampung di pinggir laut, ada sebuah kampung yang di pimpin oleh seorang raja. Raja tersebut mempunyai tujuh orang anak yang ganteng dan cantik. Di suatu waktu raja tersebut mendengar sebuah berita bahwa ada seekor kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telingah, di dasar laut. Raja tersebut menginginkan kuda yang memiliki tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga, maka dari itu di panggil lah seluruh laki-laki yang menghuni daerah kekuasaanya. Maka datanglah seluruh laki-laki dalam kampung itu. Maka raja tersebut berkata kepada semua laki-laki yang hadir pada saat itu "barangsiapa yang bisa membawakan aku kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinganya maka akan saya berikan hadiah, 100 ekor babi, 100 ekor kerbau, 100 koin emas, dan masih banyak 100 lainnya". Maka semua laki-laki yang hadir pada saat itu bergantian untuk masuk kedalam dasar laut namun tidak ada yang berhasil. Maka raja berkata " Hanya inikah laki-laki yang ada di kampung ini, tidak adakah yang lain, karena tidak ada seorang pun yang dapat sampai di dasar laut", maka seorang dari mereka berkata " masih ada seorang laki-laki disana namun ia tidak perlu dipanggil karena karena tubuhnya kecil, yang bernama bokkok-bokkok". Maka raja berkata " panggillah dia sebab dia juga seorang laki-laki". Maka pengawal raja pergi untuk memanggilnya. Ketika bokkok-bokkok datang, ia langsung menyelam ke dasar laut, setelah lama menunggu, dia tak kelihatan juga. Setelah beberapa jam menunggu, maka raja berkata " kita tidak perlu menunggu dia, karena dia pasti sudah tenggelam, sudah dimakan ikan". Sementara itu, dia terus menyelam sampai ke dasar laut. Setelah sampai di dasar laut, dia mendapat sebuah daratan seperti sebuah pantai. Maka bertemu lah ia dengan seorang nenek, maka nenek tersebut bertanya, "kamu mau kemana anak-anaknya muda"?, maka orang tersebut menjawab " saya disuruh raja untuk mengambil seekor kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga, namun aku tidak tau dimana harus mengambilnya". Maka nenek tersebut menjawab " kuda tersebut ada di sebrang sungai, namun sungai itu adalah sungai yang ketika kita menyebrangi nya kaki kita akan putus dan pemilik dari kuda tersebut adalah seorang kanibal". Maka pemuda itu menjawab "aku harus bagaimana supaya bisa mendapatkan kuda itu", maka nenek itu menjawab "aku akan memberikanmu sebuah tongkat, ketika kamu menyebrangi sungai itu, kamu harus menggunakan tongkat ini, ketika air yang ada di sungai itu keru, maka kamu dapat menginjakkan kaki di air keru itu supaya kakimu tidak patah. Nenek itu juga memberikan balida, benda itu semacam spatula dan berpesan, ketika kamu kembali dan dikejar pemilik kuda itu, maka lempar lah benda ini sehingga menjadi seekor ular besar, sehinnga ia bisa memakannta dan kamu bisa melanjutkan perjalanan mu. Aku juga akan memberikan minyak dalam botol, ketika kamu masih dikejar oleh pemiliknya, maka buanglah ini ke arahnya, sehingga menjadi lumpur, supaya mereka bisa tenggelam". Maka pemuda itu mengambil semua yang diberikan nenek itu dan melanjutkan perjalanannya. Ketika pemuda dia mengulurkan tongkatnya ke sungai itu, setiap air yang keruh disitu, ia meletakkan kakinya sehingga tidak patah. Setelah ia sampai di seberang sungai, ia mendapat ia mendapat sebuah daratan yang sangat luas. Di tengah-tengah daratan tersebut ada sebuah rumah yang sangat besar, sehingga bokkok-bokkok menuju ke rumah tersebut dan berteriak " apakah ada orang dalam rumah ini", kemudian seorang perempuan dari dalam rumah itu menjawab "iya, silahkan masuk". Perempuan itu adalah anak dari pemilik kuda yang sedang di cari raja. Maka ia pun segra masuk dalam rumah, dan perempuan itu pun berkata " silahkan kamu bersembunyi diatas lantai dua rumah ini karena nanti engkau dimakan oleh orang tuaku ketika mereka datang karena mereka adalah kanibal. Nama dari perempuan itu adalah ojo-ojo. Pada sore hari, orang tua dari ojo-ojo pun datang, mereka membawa babi, mereka pun membakar babi yang mereka bawah, kemudian menyiapkan makanan. Setelah menyiapkan makanan, mereka pun membawakan makanan tersebut kepada anaknya. Mereka membawa dua porsi makanan dan berkata "ambiilah makanan ini", maka putrinya pun bertanya " kenapa ada dua porsi makanan sedangkan saya sendirian", maka ibunya menjawab "ambil saja dan makan", maka putrinya pun mengambil makanan tersebut. Setelah beberapa hari kemudian, bokkok-bokkok dan ojo-ojo mencintai. Bokkok-bokkok pun menjelaskan tujuannya datang bahwa ia akan mengambil kuda yang mempunyai tujuh kepala dan dua kali tujuh telinga milik orang tuamu". Maka ojo-ojo menjawab bahwa untuk mengambil kuda itu sangatlah susah karena ketika kamu mengambil kuda miliknya, maka kamu akan dimakan oleh orang tuaku". Maka ojo-ojo berkata mereka harus menyusun rencana. Pada saat pagi hari, ojo-ojo berkata dari lantai dua kepada orang tuanya bahwa ia sedang sakit parah. Maka orang tuanya menjawab " kami akan kesitu untuk menjenguk mu", maka ojo-ojo menjawab " jangan kesini, sebab jika kalian kesini saya akan meninggal", orang tuanya pun menjawab " bagaimana caranya kami mengobati engkau", ojo-ojo menjawab " pergilah ke hutan ambilkan lah daun mangga, tetapi daun mangga ini tidak bisa diambil dari pohonnya melainkan harus jatuh di sebuah bambu yang lancip", maka orang tuanya berkata " kita pergi sekarang", maka pergilah mereka ke hutan. Sesampainya kedua orang tuanya di hutan, ojo-ojo dan bokkok-bokkok mengambil kuda tersebut dan pergi dengan menunggangi nya. Setelah hari sudah menjelang malam, tidak satu pun daun mangga yang jatuh diatas ujung bambu lancip tersebut. Tiba-tiba seekor gagak berbunyi diatas pohon, ia berkata " gak-gak-gak la malemi daram pitu malemian dara matti", maka suaminya berkata " apa maksud dari bunyi gagak tersebut", maka istrinya menjawab " kamu tidak perlu memperhatikan bunyi dari gagak tersebut". Setelah itu burung gagak tersebut berbunyi lagi "gak-gak-gak lamalemi daram pitu malemian dara matti". Maka istrinya berkata " kenapa ada nama kuda kepala tujuh".maka suaminya kaget dan berkata " apa mungkin kuda itu dibawa pergi tamu kita, maka cepatlah kamu ambil daun itu dan letakkan di ujung bambu lancip karena sipa tau kuda itu dibawah pergi tamu kita". Maka berlarilah mereka untuk pulang ke rumah, sampai disana mereka mendapati rumah yang sedang kosong, maka mereka langsung menuju belakang rumah dan tidak melihat kuda itu, maka mereka langsung mengejar ojo-ojo dan bokkok-bokkok. Tak lama setelah itu, mereka hampir menyentuh ekor dari kuda tersebut, namun bokkok-bokkok langsung melempar tongkat yang dibawah dan langsung menjadi ular yang besar, maka mereka tinggal untuk menyantap ular tersebut, sehingga bokkok-bokkok dan ojo-ojo dapat melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah itu, kedua orang tersebut hampir meyentuhnya, namun bokkok-bokkok melemparkan balida dan menjadi biasakan yang besar (catatan: mungkin maksudnya biawak), sehingga kedua orang tersebut berhenti untuk memakan biawak tersebut dan bokkok-bokkok pun melanjutkan perjalanan. Tak lama setelah itu orang tua ojo-ojo kembali mengejar dan hampir menyentuh kuda itu, namun bokkok-bokkok melemparkan minyak dalam botol dan senja di lumpur (catatan: mungkin maksudnya menjadi lumpur) sehingga kedua kanibal tersebut mati tenggelam. Ketika ojo-ojo dan bokkok-bokkok sampai di daratan sambil menggangu kuda kepala tujuh dan telingah dua kali tujuh, mereka langsung menuju depan isatana raja, raja pun kaget kerna begitu besar bunyi dari kuda tersebut. Raja menjadi senang, sehingga bokkok-bokkok diberikan 100 bai, 100 kerbau, dan 100 uang koin emas, dan masih banyak 100 lainnya, serta dinikahkan dengan kekasihnya yaitu ojo-ojo. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Priska Enjelin/Erni Roswanti
MANAPALU
Deem mesa keluarga disanga Ambena Manapalu anna bainena sola mesa anakna disanga Toba Poso. Karanganna indo Manapalu silao mupekam bau. Pissam waktu lekbak om inde Manapalu lako belakna aka silekbak munasu baunna. Ya lekbak um bainena sola indo anakna na abunni ya naringngi naua ilalam lanta sangngakik too. Sipaktulak kalena ya mutimbak i kalena naua sapuloki Anna mesa. Ya mualam pirim sapulo mesa, anna nagosok i naande mesa-mesanna. Ya sia lapura kalem naande. Ya nauam bainena yabo tondom lanta "tokke!" Ya kapetuak tuak um indo manapalu. Ya naua polem bainena tokke Manapalu, mengkatibe polek nak Allah kurra, bini-bini mandam kalena naala polek bainena indo baunna budapi nababa lako banuanna, ya tak masae suleram Manapalu basa-basa kalena ya nauammi bainena akari manapalu. Ya nauam aka si naua lako tondom lanta tokke. Ya mengkatibe babamak kua lalakoak sule banua. Ya sia masia polei ya nauam Manapalu "Tunuannak ilalam baungku." Anna lekbak aka mupakkaroangam aka lamatemmak ya tak i masae matem Manapalu aka balusam lium. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Suatu saat tinggallah seseorang yang bernama Manapalu bersama istri, serta anaknya yang bernama Toba poso. Pekerjaan Manapalu tiap hari pergi memancing ikan. Suatu saat Manapalu pergi ke pondoknya. Ia selalu pergi sendiri untuk memasak ikan hasil tangkapannya. Ia tidak mengajak istrinya dan anaknya. Suatu ketika ia pergi lagi memasak ikannya, istri serta anaknya pergi mengikutinya dengan bersembunyi. Tak lama dia mendengar Manapalu ini berbicara sendiri. Ia berkata "Disini kita ada sebelas orang yang akan makan, hahaha"." Kemudian dia mengambil sebelas piring (ikannya) lalu ia makan sendiri sampai kenyang. Ketika makanannya mau habis, istrinya yang bersembunyi itu menakut nakuti Manapalu dengan berkata "tokkee" setelah mendengar itu manapalupun ketakutan. Karena dia sangat takut/kaget, sampai ia melompat sehingga Manapalu ini terluka. Kemudian isri dan anaknya ini turun untuk mengambil ikan yang masih tersisa kemudian mereka membawanya ke rumah. Tak lama kemudian Manapalu datang ke rumahnya, dan berkata kepada istrinya "Aku sangat ketakutan mungkin tak lama lagi aku akan meninggal." Karena lukanya yang sangat para sehingga tak lama itu ia meninggal dunia. "Tamat!" Diceritakan kembali oleh Yulman dan Dolinsa
TOKESAN ULU
"Tokesan Ulu" ludiomai dua kada yamo tokesan anna ulu, situru' pa'pikadanna tomatua unggaraga mesa benteng nangei sirari tomatua, tokesan ulu. Yatonna lino yolopao inde tomatua sipawali-wali dengan uka' to Mamasa anna Toraya sisae ma'bundu napaolan inde tokesan ulu,si nangei untoke' ulunna walinna, yamo kedengan omi napatei nabawa omi sae natoke' yao tanete. Napolan inde sidingei untoke' ulu disangai tokesan ulu, napolan inde tokesan ulu tama anna kaissanan tiku lao. Kumua inde tokesan sidigeiria untoke ulu lako to'pabarani,inde tomatua yoloee taek iya naissan dikuan marea'rea' lah umpatei tau lambi lanapoli ulunna, anna inde tomatua e tae'iya lao siala bu'dak ii sapo siangga simesai ii, aka'dengan uka' ade' sinapake kela umpatei omi walinna. Inde tomatua yoloe sikabassi to Mamasa anna to Toraya, sola sisikabasi liupi ke saeii to Toraya sae inde Mamasa tokke dengan liupi unganjal penawanna susi tomi duka to to Toraya kedengan to Mamasa lao tama Toraya. Inde tomatua yoloe taek tongan dengan marea' rea lako walinna, anna mane inde tomatua yolo e e taek denga dukua ma' kada manappa. Tokke siumpongko tau lambi na alainni ulunna anna lao untoke langgab tanete dikuan tokesan ulu lambi sae lako temo digara dikuan pariwisata, yamo dengei unggara anggenan aja' situr sanganna. "Puhang!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu para orang tua selalu berperang antar suku Mamasa dengan Toraja. Mereka berperang antarsuku dan setiap musuh yang kalah akan digantung kepalanya. Tokesan Ulu ini adalah tempat untuk menggantung kepala musuh. Para pendahulu pada saat pulang dari peperangang mereka menggantung kepala lawan di sebuah gunung dan gunung inilah dinamakan "Tokesan Ulu." Setelah menggantung kepala-kepala lawan, para pendahulu membunyikan gendang sebagai tanda bahwa ada kepala yang digantung di bukit tersebut. Mereka akan merayakan kemenangan karena sudah puas setelah menggantung kepala musuh. Tidak sampai di situ, para pendahulu ini belum puas. Selalu ada dendam antarsuku Mamasa dan Toraja. Setiap kali masyarakat Mamasa pergi ke Tana Toraja mereka selalu bermusuhan begitupun orang Toraja yang datang di Mamasa. Para orang tua dari Mamasa memiliki cara unik dalam menandai dan memilih target mereka. Mereka mencari orang-orang yang dianggap pemberani dan kaya, lalu merencanakan aksi pemenggalan kepala dengan cermat. Dengan keberanian yang luar biasa, mereka mampu melaksanakan aksi tersebut sendirian tanpa bantuan banyak orang. Keberanian dan kekuatan mereka menjadi legenda, namun begitu juga dengan kekejaman yang mereka lakukan. Dalam dunia yang diwarnai oleh kekerasan dan dendam, para pejuang Mamasa tidak mengenal kata maaf. Bagi mereka, membalas dendam adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan kehormatan suku. Kepala-kepala yang digantung di Gunung Tokesan Ulu menjadi simbol dari keberanian dan kekejaman yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang Tokesan Ulu ini menggambarkan betapa dalamnya kebencian dan dendam yang ada antara suku Mamasa dan Toraja. Di sisi lain, cerita ini juga menunjukkan keberanian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh para pejuang Mamasa. Gunung Tokesan Ulu, dengan kepala-kepala yang tergantung, menjadi saksi bisu dari sejarah kelam namun heroik dari suku Mamasa. "Tamat!" Diceritakan kembali oleh Yusuf
BIKKATOE DAN LEMPAN SUGI
Pissan ade" toyolo dengan ade" to dua ana"na disanga Bikkattoe" mesa anna Lempan Sugi". Ya nakuamo ade" indona sola ambena indemokoa" te e lalaokan mangngambok nakua ade" o lalaokan mak seleo-leo ambe" sola indo" nakua adek o ya io lamakamia maka ta"rakan sae kale musaemora ummande nakuami ukak ade" ana"na io. Ya siaraiko allo ta"liura dengan sae ambena sola induna ak untunu bai mangngambo" anna tadea"mo ade" ana"na. O anna ta"liumo inde sae ambe" sola indo" ie tadea"mia tau. Umbillang ade" bo"bo"na dosamboi anna awang ra ia jo pirina duai bassi nabukai ade" anna bassi awang mora jo pirina disamboi. Anna bo"bo"na ade" nasondaian sabanuanna, naala bo"bo"na nasondaian awang nasamboi. Nakua ade" aya matari" napakamase-mase miki" kita inde ambe" sola indo" e lamaakamiki" kita anata pengkalabusan i. Ma"kariri" ade" duai umbawa asan porewana ya anna le"ba. Sae adek induna sola ambena o Bikkattoe" sola Lempan Sugi" o anna ta"ra ia dengan tau yao banua nakua ade" umbamote nola e. Le"ba ade" napelalan ya untetu"-tetu" ade" manik bulawanna ummola lalan "Bikkattoe" Lempan sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu!" Le"ba liumi ade" jo na ruttuk o mambela naola. Nakua liumo ade" jo ambena sola induna mak gelong-gelong o "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu!" Ya nakualiumo ade" jo ambena sola induna mak gelong-gelong o mambela nola. Sia pura ade" jo manikna o na sembu" sembu" o. Ullambik ade" batu gege jo anakna o nakua ade" lama"aka miki" kita anna lanalambik miki" indok sola ambe" aya umbamokita latangei membuni. Nakuamo adek Bikkattoe" ya kela dengan tangei membuni inde tama batu e membuniki", mak kak-kak ade" kaduaya yao nakua ade" o kaduaya ta"dulanan pakan inde batu lakiola membuni aka indana lambi"kan indo" sola ambe" e nakua ade" aya lakubela kao pole" nakua ade" taek aka lamembunikan i napakamase-masekan indoki awang nasamboian kan ji piringki lakiande ade" nakua ade" ya disandak mammo nata"dulan ade" kaduaya mapa"di" lente"na nakua ade" o mapa"di" babang mi lente"ta o kemaniammua" iko mesua untakdulan batu anna ladibela mia unta"dulan batu. Ya sia masemi ade"le ullilingngi liu omi ade" batu se ade" tiku"-tiku" mak "Cik, cik, cik, cik." Nakua ade" "O tiku"-tiku", makari, takdulanan pakan inde batu lakingei membuni e indana lambi"kan indokie aka napakamase masekan indoki sola ambeki napajoankan awang jo piringki napatodo"yankan buku rekko" lakiande ade". Nakua ade" tiku"-tiku" "Ya kaduayada" kamai-mai siapia anna te"nabela mapa"di"mi lente"na o taek sandak mammi aka lanalambik kalemokan indoki aka le"ba liumi ade"te induna sola ambena untetuk lalan e "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu". Sia narangngi mo ade" nakua ade" o sandakri tiku"-tiku" aka mandappi"mi indo" sola ambe", nata"dulan ade" tiku"-tiku" tipa"dua jo batu o naola tama. Nakua ade" itin moko tuo ammu bukaikan kele"bai sule ambe" sola indo". Tiku"-tiku" langngan tondon batu yoliumi uka" ade" mak cik cik cik. Ullilingngi liumi ade" batu aka katampakan jomi ade" manik na sembu" o ta"mo dengan napeang senga" semilako lalanna ta"mo dengan katampakan jomi jo batu o, jo liumi iko ade" nalilingngi mengeliu siami ade" induna sola ambena "Bikkattoe" Lempan Sugi ampai lentek baimmu sola bumbu paisumu" ya sia nakua ade" induna sola ambena ole talaomo ta"moa dengan diita umbamoa nola lao, le"ba ade" sule. Sia le"ba I ade" natakdulan sule tiku"-tiku" tibillang o le"ba illan mai ya le"ba" o ade" duai le"ba tama pangngala". Sia tadea"I ade" ullambik mi bela"na tau sapo simarirring paona nakuamo ade" ole tateka"I pao tadea" mia tau. Unteka"I ade" pao sia bassi langngan mo menteka" sia saemo adek bai ala" jo to"na ummande bua pao le sapo umbalellengan ria uka" ade" piso pangnganna indona nakua ade" ole akajora bai pada gege a ladiaka miao anna jo liumoao. Nakua ade" anu patamanni itin pao piso anna andei o uma ke bonnok I o nakuamo ukak ade" adinna io patamai nakua ade" ikomo patamai napatama ade" jo piso napentossokan o anna dondonan I rokko naande ade" bai. Nabuno iko ade" ma"kalumpiri"-piri" lengan jo bai o bonno" le"bami ade" turun aka ya amabi mak bongi yao moa jo lolok pao reken aka bongi mia ade" spoa aka masiangmi nakuamo ade" ya lataakami kita bainta le nakua de" aya io. Le"ba ade" ma"parandan nakua talaopa umpetua" tokerambu aka lakerambumi te tau ya aka mebongngi" mi nakua ade" anna ta"ra deen nakua ade" ungkuan adinna penteka"ko itin langngan kayu umparandanni o nakua ade" ya io. Menteka" omi iko ade" Bikkattoe" nakua ade" o uillau"ria liu jo sapo mabellang talao umpelalan I. Le"ba liu omi iko ade"le umpelalan jo tokerambu o ya sia karuen polomo ia se lako ya nakuamo iko ade" aya anna bongimoa le anna mabela-bela paia sia se ade" lakojo toma"banua o tomatua ra yao nakua ade" o toma"banua te" ade" nasumui nakua liumo ade" o toma"banua nakua ade" o sia natungka" I ade" o anna ana"dara ra duai nakua ade" jo tomatua-tua baine o karuen mi o nakua de" saekan umpelau api bengankan apimmu nakua o jokoa" mai le"ba ade" langngan banua nakua ade" simesa rokoka iko indo" nakua o ya le"ba omia" to ambemu a aka bongimi anu sile"ba iya ke bongi anu papakayuan ade" jo muanena o aya laindemikia" te ya e nakua ade" aya marea"kan kami lako ambe" ke saemi indana me ande o tae" sia masiang I ade" se omi uka" ade" jo ambena o umbakku" bale ya membuni ade nasamboi lako para-parana nakuannia ade" jomokoa" te membuni e. Pira-pira bongi I ade" jo o aka jo ade allo o yanna le"bamo ade" jo bongi o si mangkayomi curiga mi uka" ade" jo tomatua muane o nakua ade" anna makayo kayo moa pole" inde da"e nakua ade" den daka iko anakmu si sae ke le"bana" nakua ade" aya benna keanak da" sia se polei ade" nakuamo ade" lako bainena ah dengan inde anakmu si sae e nakua ade" anna akara butau-tau butolino-lino le"le" nakua ade" ah balemu. Sia nalambi" ade" jo tomato muane lanande tongan mia tokke" le"ba iko ade" silarian sia ullambik ade" salu spo denganria tendan sikondongan ade" lian ya lian uka" ade"jo tomatua muane o aka kamainna ka ade" tau aka papakayu kaiya sia tamai ade" tangnga salu nakua siamo ade jo Lempan Sugi" o tatta"-tatta" palele ya polo siamiko ade" jo tendan o le"ba melammu" jo tomatua o. Ya le"ba" ya uka" jo Bikkattoe" sola adinna o le"ba liumi ade" le"ba liumi siara iko anna tondokna moa natitubakki summi illan mai pangngala" ya naita ade" induna sola ambena lee anna Bikkattoe" moa sola Lempan Sugi" jo awa" tondok lo ade" natambai ya nabalangngan banuanna sule ya naceritami jo kumua makaria anna le"bakoa" iko mengkalabu" o naceritami kumua anna awang iko toa" musamboian kan sola buku rekko" mupajoan kan piringki yamoto kingei lari o e" le"baliukan le"baliukan o ya napabuai mi iko ade" induna sola ambena sule akaiko aka dore"mi ya mangkanna jo mak bua" napantunui bai untambai asan ya uka" satondokna o ya suppik toyolo. "Suppik!" Terjemahan Bahasa Indonesia Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang memiliki dua orang anak Bernama Bikkattoe" dan Lempan Sugi". Suatu Ketika sepasang suami istri ini berkata kepada kedua anaknya kalian di rumah saja karena kami akan pergi untuk menabur benih. Kedua anaknya pun berkata "tidak!" Bapak dan ibu, kami akan pergi bermain. Orang tuanya pun berkata baiklah kalau begitu, jika kami lambat pulang kalian datang saja makan. Pada saat hari sudah siang orang tua mereka belum juga pulang karena mereka memotong babi untuk menabur benih. Pulanglah anak mereka ke rumah dan berkata "Kenapa bapak sama ibu belum pulang juga yah? Padahal kita sudah lapar." Pada saat mereka membuka nasi mereka di piring yang ditutup ternyata yang ada di bawah piring bukan nasi melainkan dedak bersama dengan tulang kering. Ternyata nasinya diganti oleh tetangganya dengan dedak. Mereka pun berkata "Mengapa kita disiksa bapak sama ibu? Bagaimana kalau kita pergi saja meninggalkan mereka"? Mereka pun bersiap siap lalu pergi membawa semua barang-barang mereka. Ketika orang tua mereka pulang mereka pun memanggil-manggil nama anaknya dan ternyata tidak ada orang di dalam rumah padahal pintu terbuka. Orang tua mereka pun bertanya-tanya, "Kemana ini anak-anak pergi"? Orang tua mereka pun pergi mencarinya dengan menyebar kalung emasnya di jalan dan berkata "Bikkattoe" Lempan Sugi" ampai lentek baimmu anna bumbu paisumu!" (Tunggulah kaki babimu dengan bumbunya). Orang tua mereka berkata seperti itu sampai kalung mereka habis disebar di jalan. Di sisi lain, anak mereka mendapati sebuah batu besar. Mereka mengatakan "Apa yang harus kita lakukan? Bapak dan ibu akan menemukan kita. Dimana kita harus sembunyi"? Berkatalah Bikkattoe" "Seandainya ada tempat kita untuk bersembunyi di dalam batu ini"" Bersamaan dengan itu seekor burung gagak bunyi di atas mereka. Mereka pun menyeru kepada gagak "Hai gagak tendanglah batu ini untuk kami bersembunyi!" Gagak pun berkata "Aku tidak akan kuat!" Mereka memohon "Bantulah kami karena kami disiksa oleh orang tua kami. Mereka memberi kami dedak untuk kami makan." Gagak pun akhirnya mencoba. "Baiklah aku akan mencobanya." Gagak pun menendang batu itu dan kakinya sakit. "Lihat ini, kakiku patah gara-gara kalian menyuruhku menendang batu!" Mereka pun mengelilingi batu itu. Tidak lama kemudian datang seekor burung kecil bunyi-bunyi "Cik, cik, cik cik." Mereka berkata kepada burung kecil itu "Tendanglah batu ini untuk kami sembunyi! Jangan sampai orang tua kami menemukan kami, sebab kami tidak ingin disiksa!". Burung itu berkata "Gagak saja lebih besar tidak kuat apalagi aku ini hanya seekor burung kecil!" Mereka tetap bersikeras untuk menyuruh burung kecil menendang batu, "Tidak, coba saja dulu, nanti bapak dan ibu menemukan kami!" Tidak lama kemudian, mereka mendengar orang tua mereka memanggil-manggil mereka. "Dengarlah hai burung kecil orang tua kami sudah dekat. Burung kecil itu pun menendang batu itu sehingga batu itu terbelah dan mereka masuk untuk sembunyi. Anak-anak itu meminta kepada burung kecil untuk tetap di sana agar ketika orang tua mereka sudah pergi, burung kecil dapat membuka kembali batu itu. Ketika orang tua mereka sampai di batu itu mereka mengelilingi batu itu sambil terus berkata "Bikkatoe"! Lempan sugi!" ampai lente" baimmu sola bumbu paisumu" (tunggu kaki babimu dengan bumbunya). Orang tua mereka pun berkata "Kita pulang saja karena kita tidak tahu kemana mereka pergi". Ketika mereka pergi burung kecil itu menendang batu itu dan mereka pun keluar dari batu itu dan melanjutkan perjalanan mereka. Mereka pun masuk ke hutan. Ketika mereka lapar mereka mendapatkan kebun orang dan melihat pohon mangga yang berbuah dan banyak yang matang mereka berdua pun memanjat pohon. Tidak lama kemudian, datang seekor babi hutan di bawah mereka memakan buah mangga tetapi mereka juga membawa pisau kecil dan mengucapkan "Masukkanlah pisau itu ke dalam mangga supaya dia memakannya, siapa tahu babi itu mati". Mereka pun memasukkan pisau ke dalam mangga dan membuang ke bawah dan babi itu pun memakan mangga yang berisi pisau itu sehingga dia mati karena teriris pisau yang ada di dalam mangga tersebut. Mereka pun turun dari pohon karena sudah pagi. "Apa yang akan kita buat pada babi ini"? Mereka pun pergi melihat-lihat untuk mencari apakah ada asap di sekitar mereka. Mereka merasa akan ada asap sebab sudah pagi, namun mereka tidak melihat apapun. Berkatalah lempan sugi" kepada akiknya "Panjatlah pohon itu untuk melihat sekitar siapa tau ada asap!" Maka Bikkattoe" pun memanjat dan mengatakan "Ternyata ada di sana, tapi jauh sekali. Mari kita pergi ke sana!" Mereka pun pergi namun hari sudah sore sedangkan asal asap tadi itu belum mereka temukan. Walaupun masih jauh mereka terus melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, pada saat mereka menemukan rumah itu. Ternyata yang ada di atas itu adalah seorang perempuan tua. Orang tua itu pun berkata "Siniki"!" Kedua anak itu mengatakan maksud mereka, "Kami datang meminta api!" Orang tua itu berkata "Naiklah ke atas rumah!" Bikkatoe" dan Lempan Sugi" bertanya kepada orang tua itu "Apakah nenek tinggal sendiri disini? Orang tua itu pun menjawab "Tidak, tapi pergi mi (telah pergi) ke lagi" (langit) itu suamiku. Suamiku pergi terus. Ia akan pulang jika sudah malam!" Suaminya ternyata adalah seorang parakang (makhluk/manusia jadi-jadian yang telah mempelajari ilmu hitam dan tersesat). Nenek tua itu meminta agar kedua anak itu tinggal untuk sementara di rumah itu, namun mereka menolak. "Tidak! Karena kami takut sama suami nenek. Nanti kami dijadikan makanannya." Namun, nenek tua itu berkata tidak apa-apa. Hari sudah pagi, maka datanglah suami nenek itu. Ia membawa daging. Bikkatoe" dan Lempan Sugi" segera bersembunyi. Beberapa hari kemudian suami nenek tua itu mulai curiga dan berkata kepada istrinya "Apakah anakmu yang datang setiap aku pergi"? Nenek tua menjawab, "Tidak ada anak yang datang ke sini!" Berapa hari kemudian suami nenek tadi mulai curiga. Ketika suatu hari suaminya telah pulang lagi, ia pun mengatakan "Ada anak yang datang ke rumah ini!" Istrinya berkata "Tidak!" Lalu suaminya menjawab lagi "Tapi kenapa aku mencium baunya? Tak lama kemudian, ia mencari bau kedua anak itu. Pada saat kakek tua itu menemukan Bikkatoe" dan Lempan Sugi", ia langsung ingin memakan mereka. Kedua bersaudara itu berlari ketakutan. Mereka terus berlari hingga ke tepi sungai. Mereka menyeberang sungai menggunakan jembatan. Ketika kakek tua itu juga sudah memasuki jembatan, tiba-tiba saja jembatan itu putus sehingga kakek itu terjatuh ke dalam sungai dan terbawa arus. Mereka pun akhirnya pergi dan melanjutkan pelariannya. Ketika mereka keluar dari hutan ternyata mereka tiba di kampung mereka sendiri. Orang tua Bikkatoe" dan Lempan Sugi" menemukan mereka. Orang tua mereka sangat lega sebab anak-anak mereka baik-baik saja dan membawanya pulang ke rumah. Bikkatoe" dan Lempan Sugi" diberikan makanan yang banyak. Orang tua mereka pun mengadakan syukuran sebab anak mereka Kembali. "Tamat!" Diceritakan kembali oleh Bonga Puang
Menampilkan halaman 3 dari total 3 halaman