Portal Digitalisasi Cerita Rakyat & Warisan Tradisi Lisan Sulawesi Barat
PusakaDigital Sulawesi Barat
Beranda Katalog Cerita Peta Budaya Agenda Riset

Katalog Cerita Rakyat

Ditemukan 4 cerita rakyat terarsip di sistem.

LOMBENG SUSU
Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

LOMBENG SUSU

Die caritae daduai versi. Iya dio mesao nasangami tau "Lombeng Susu." Mangapai nasanga Lombeng Susu? Sawa" die towaine malombengi susunna atau malakkai susunna. Nasanga seiya mua meloi napasusu ana"na walaupun di pondonai die ana"nae, iya die ammanae nasappeang tappami dai di pali-palinna lambi"mi lao pondo"na anna malami napasusu ana"na. Iyamo nasangami towaine malombeng susunna (versi pertama). Versi keduana, nisangami "Lombeng Susu" sawa" macoai taunna. Andiani melo maita tau masussa, tambai, atau mamarang. Innai-innai naita masussa tatami natulung I Lombeng Susu. Innai-innaimo pa"banua tama di Tande anna nasa"ding tambai atau mamarani pasti nebengani ande I Lombeng Susu. Andani tia naissang immatino innaio die, tau biasa, luuare atau tania, tattai tau nabengang ande anna" uwai. Iyamo die nagallartau Lombeng Susue sawa lewai macoanna. Tatta"i tia mattulung tau masussa, terutama mua to natambai. "Pura!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita ini memiliki dua versi. Versi pertama menjelaskan bahwa tokoh tersebut disebut "Lombeng Susu" karena memiliki payudara yang sangat panjang. Dalam kisah ini, ia digambarkan sebagai seorang ibu dengan keunikan fisik yang luar biasa. Ketika hendak menyusui anaknya, meskipun sang anak berada di belakang tubuhnya, ia tidak perlu berbalik badan. Ia cukup mengayunkan payudaranya ke belakang hingga mencapai anaknya, lalu menyusuinya dengan mudah. Karena keistimewaan tersebut, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Lombeng Susu, yang berarti perempuan dengan payudara panjang. Versi kedua menjelaskan bahwa penamaan Lombeng Susu bukan didasarkan pada ciri fisiknya, melainkan pada sifat dan kepribadiannya yang sangat baik. Dalam versi ini, ia digambarkan sebagai perempuan yang berhati mulia dan tidak tega melihat orang lain hidup dalam kesusahan, kelaparan, atau kehausan. Siapa pun yang ditemuinya dalam keadaan menderita pasti akan ia tolong. Setiap orang yang datang ke wilayah Tande dan mengalami kelaparan atau kehausan akan ia sambut dengan penuh kepedulian. Ia menyediakan makanan dan minuman tanpa membedakan asal-usul, status sosial, ataupun hubungan kekerabatan. Karena kemurahan hati dan kepeduliannya terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kelaparan dan kehausan, masyarakat pun mengenalnya dengan sebutan Lombeng Susu. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam

admin Baca
PUA' SADDING
Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

PUA' SADDING

Die caritae pole di Kappung Parappe, Majene, Sulawesi Barat. Kappung biring sasi andai karao pole engeatta matteliti. Die Kappung Parappe e diomi di biring sasi" anna" pakkappunna rata-rata posasi". Die caritai nawariskanmi secara lisan (pau-pau) lao di pakkappung. Tolo" ilalanna die alitang e nisangami "Pua" Saddiang," posasi totuna kasi-asi. Dicaritanna, diang mesa allo Pua" Saddiang nalambami mosasi, tapi andandiang bosena. Ya, maindangmi bosena tosiapper boyangna. Iya die tosiapper boyannae ya napeindangngimi, mene malami lamba mosasi Pua" Saddiang maitai bau. Tappana, di wattunnamo dio di tangnga sasi", tiba-tiba reppo dio boseo, tibare dadua. Iyamo die passale menjari salengosang anna" balisami Pua" Saddiang, sawa nailalaimi andiang pallambianna namassalle bose iya pura reppo". Sawa" bassanami die, Pua" Saddiang membali lao di potta nabawami dio bose reppo" o. Napalambimi lao di tobose assitonganna. Tapi, die toibose e mokai mattarima bose reppo"na anna" napauanni lao harusi mupepembali die bose sittenganna mendiolo sebelum naindang. Die paunna tosiapper boyannae pale-pale mappamabei pikkiranna Pua" Saddiang, sawa maingarang lao atunganna lewa" parri"na andiammi namala massokong die bose reppo daduae. Di mabeinna pikkiranna Pua" Saddiang, nabawami die bose malai lao membali di sasi. Wattuna dio polemic kapa", matamba urang, mairi tomi, anna sitimbe dala" guttur. Iyamo die mappepelattoang sussana nyawana Pua" Saddiang cappu" rannu. Tappana lao meraumi lao di Puang Allah Ta"ala mala nabengang tangalalang. Nasanga seiya, Pua" Saddiang nasa"dimmi diang pappesangkana Puang Allah Ta"ala. Nasiomi mappasilambi" membali dio bose reppoe sambil nata"e sambil merau lao di Puang. Tappana lao nalappasangmi pattu"galanna, dio boseo tappa siande macoa membali. Die passale naangga"mi pallambianna Puang sawa" mapute atena Pua" Sadiang merau lao di Puang. Iya die passale massawai Pua" Saddiang merau sukkur lao di Puang. Membalimi lao di pottana mane napepembalimi dio bose lao di toianu. Tappana puramo naparessa, toibose napepennassami mua siandemi membali die bose e. Alhasil passal namappacappu rannu die Pua" Saddiang purami naselesaikan. Iya tomo die massawai ilalang alawena Pua" Sa"diang, mua perauang mattongang-tongang lao di Puang diang nabawa karomah untuk mappasiande membali anu reppo. Keyakinanna die andani sangga titappa lao di barang-barang, tapi mala toi napatitappa lao di batang alawena rupa tau mua" diang toreppo", bassa lima atau lette". Alhasil berkembang menjari passandoanganna toreppo". Alhasil, menari maidi tau pole massando di Kappuang Parappe merau tulung lao di Pua" Saddiang. Iya immae pakkappunge yakini mua pa"doanganna Pua" Saddiang malai napamassau ianggannana toreppo". Die alitane tentang Pua" Saddiang mappunnai karomah sekaligus menjari figure penting ilalanna passandoangang toreppo lambi lao di a"janganna. "Cappumi Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita rakyat berikut berasal dari Kampung Parappe, Majene, Sulawesi Barat. Sebuah perkampungan pesisir yang terletak tidak jauh dari lokasi penelitian, sekitar satu kilometer dari wilayah ini. Kampung Parappe secara geografis berada di kawasan pantai dan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Cerita ini diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari tradisi tutur masyarakat setempat. Tokoh utama dalam cerita tersebut adalah Pua" Saddiang, seorang nelayan miskin yang dikenal hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Pua" Saddiang hendak melaut, namun ia tidak memiliki dayung. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia meminjam sebuah dayung milik tetangganya. Tetangga tersebut bersedia meminjamkan dayung itu, sehingga Pua" Saddiang dapat pergi ke laut untuk mencari ikan. Akan tetapi, ketika sedang berada di tengah laut, tanpa sebab yang jelas, dayung yang digunakannya tiba-tiba patah menjadi dua bagian. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan dan kegelisahan pada diri Pua" Saddiang, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mengganti dayung yang rusak tersebut. Dalam kondisi batin yang kacau, Pua" Saddiang memutuskan untuk kembali ke darat sambil membawa dayung yang telah patah. Ia kemudian menyampaikan kejadian tersebut kepada pemilik dayung dengan penuh kejujuran. Namun, pemilik dayung menolak menerima dayung itu dalam kondisi rusak dan menegaskan bahwa dayung tersebut harus dikembalikan dalam keadaan utuh seperti pada saat dipinjam. Permintaan tersebut semakin memperberat beban pikiran Pua" Saddiang, mengingat keterbatasan hidup yang dialaminya membuatnya mustahil untuk mengganti dayung tersebut dengan yang baru. Dalam keadaan bingung dan tertekan, Pua" Saddiang membawa kembali dayung yang patah ke laut. Pada saat itu, kondisi alam digambarkan tidak bersahabat, dengan hujan lebat, angin kencang, dan petir yang menyambar secara bertubi-tubi. Situasi ini mempertegas suasana batin tokoh yang penuh kesedihan dan keputusasaan. Di tengah kondisi tersebut, Pua" Saddiang memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya. Menurut cerita, Pua" Saddiang kemudian merasakan adanya petunjuk batin. Ia diminta untuk menyatukan kembali dua bagian dayung yang patah dengan cara memegangnya erat-erat sambil terus berdoa. Setelah beberapa saat, ketika pegangan tersebut dilepaskan, dayung itu diyakini telah tersambung kembali seperti sedia kala. Peristiwa ini dipahami oleh masyarakat setempat sebagai bentuk campur tangan ilahi yang terjadi melalui ketulusan doa dan kepasrahan Pua" Saddiang. Kejadian tersebut, Pua" Saddiang mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Ia kemudian kembali ke darat dan menyerahkan dayung yang telah tersambung itu kepada pemiliknya. Setelah dilakukan pemeriksaan, pemilik dayung memastikan bahwa dayung tersebut benar-benar telah kembali utuh. Dengan demikian, persoalan yang sebelumnya menimbulkan kecemasan bagi Pua" Saddiang dapat terselesaikan. Peristiwa ini kemudian menumbuhkan keyakinan dalam diri Pua" Saddiang bahwa doa yang dipanjatkannya memiliki kekuatan untuk menyambungkan sesuatu yang patah. Keyakinan tersebut tidak hanya berlaku pada benda mati, tetapi juga diyakini dapat diterapkan pada tubuh manusia, khususnya dalam menyembuhkan orang yang mengalami patah tulang pada bagian tubuh tertentu, seperti kaki atau tangan. Seiring waktu, keyakinan ini berkembang menjadi praktik pengobatan tradisional. Dalam perkembangannya, banyak orang dari berbagai daerah datang ke Kampung Parappe untuk meminta pertolongan kepada Pua" Saddiang. Masyarakat meyakini bahwa melalui doa dan mantra yang dimilikinya, Pua" Saddiang mampu menyembuhkan berbagai jenis patah tulang. Cerita ini menegaskan posisi Pua" Saddiang sebagai sosok yang memiliki kelebihan spiritual sekaligus menjadi figur penting dalam sistem pengobatan tradisional masyarakat setempat hingga akhir hidupnya. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam

admin Baca
BAU ANNA' MANU SISAMMUANE (IKAN DAN AYAM BERSAHABAT)
Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

BAU ANNA' MANU SISAMMUANE (IKAN DAN AYAM BERSAHABAT)

Awal mula carita iyare" naissangngi asal-usul napa"kedianna bulu manu" jadi umpan nelayan Mandar. Menurut carita to diolo", bau (ikan) anna manu" (ayam) naola" sipakarajai, sanna" sipamula" siparondoi. Manu" biasa ma"gading di biring tasi", si pau-pau anna si bau, sipakkutana, sipakarajai di pinggir laut. Sebagai tanda persahabatanna, bau" napajari manu" cara ma"renang di tasi", sehingga manu" bisa malolong di wai. Sebalikna, manu" napajari bau" cara ma"ola" di darat, supaya inda" gancang naluppei bahaya. Iya diang carita iyare" ma"gambari sipakainga" anna sipakarajai antara manu" anna bau". Na" diang mesa waktu, bau" mendai" pole di darat ma"temmui sahabatanna, manu". Pada waktu iyare", kondisi tasi" sanna" jahat: ombak bolong, petir mapaccereng. Manu" naissang firasat, napada bau" supaya inda" pole dulu ke tasi", saba" nalolong bahaya. Manu" mapada: "Mottommo bau, bermalamlah iko di sini." Manu" matindo di attasang kayu, anna bau" matindo di bawanna. Manu" napa"janji ma"banguni bau" waktu subu", sangnging manu" ma"kokok. Akan tetapi, karena cuaca sanna" dinging (maringing sanna"), manu" anna bau" sama-sama matindo sanna". Naluppei bangun. Pada waktu mata allo" mulai ma"paccera, diang tau-tau lewat, nalolo"ngi bau" ma"gerombol di bawang kayu. Tau-tau iyare" nangallei semua bau", besar kecil, inda" diang sisa. Bau" iyare" naallei anna najual di pasar. Namun, diang mesa bau" nalolos, pole ke tasi". Bau" iyare" napolei laporang ke mara"diya-na, mapada bahwa bau" naallei tau-tau, dipetengi lek manu", ande-andemmi tundanna, sehingga cappu iluluare"ta. Mendengar laporang iyare", macai mara"diya bau". Ia pole ma"temmui mara"diya manu" di darat. Pertemuan mara"diya bau" anna mara"diya manu" mapettu" perselisihan bolong. Sejak waktu iyare", persahabatan manu" anna bau" naissang siwaro sanna". Dari situmi nairrangngi ba"banua assiwaroange manu" anna bau". Tau-tau naola" pikiran bahwa mua diang bau" mendai" di pottana, inda" naola" siwaro lagi. Bulunna manu" napara"bue" jadi alat, immay nelayan diolo" napake bulu manu" jadi umpan. Mua" dicelup bulu manu" di ruanna posasi, bau" masirumunni, napake napokkoi, sehingga tertangkaplah ikan. "Tamma"!" Terjemahan Bahasa Indonesia Cerita ini menjelaskan asal-usul penggunaan bulu ayam sebagai umpan oleh nelayan Mandar. Menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, pada masa lampau ikan (bau) dan ayam (manu) hidup dalam hubungan persahabatan yang sangat erat. Ayam sering bermain dan bercengkerama di tepi pantai bersama ikan. Mereka saling berbincang, saling menemani, dan menjalin kebersamaan di pinggir laut. Sebagai bukti persahabatan tersebut, ikan mengajarkan ayam cara berenang di laut hingga ayam mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan perairan. Sebaliknya, ayam mengajarkan ikan bagaimana cara bertahan hidup di darat agar tidak mudah mengalami bahaya. Pertukaran pengetahuan ini menjadi simbol saling menjaga dan saling menolong antara ikan dan ayam. Pada suatu waktu, ikan kembali naik ke darat untuk menemui sahabatnya, ayam. Saat itu kondisi laut sedang sangat buruk. Ombak besar dan petir yang menggelegar membuat ayam merasa khawatir. Berdasarkan firasatnya, ayam melarang ikan kembali ke laut karena takut ikan tidak mampu menghadapi kondisi alam yang ekstrem. Ayam berkata, "Ikan, bermalamlah di sini." Ayam pun tidur di atas pohon, sementara ikan tidur di bawah naungan pohon tersebut. Ayam berjanji akan membangunkan ikan saat subuh, ketika ayam berkokok. Namun, karena cuaca yang sangat dingin, baik ayam maupun ikan tertidur sangat lelap hingga terlambat bangun. Ketika pagi menjelang, beberapa orang melintas dan melihat banyak ikan berkumpul di bawah pohon. Orang-orang itu kemudian menangkap seluruh ikan, baik yang besar maupun yang kecil, tanpa menyisakan seekor pun. Ikan-ikan tersebut dibawa dan dijual ke pasar. Akan tetapi, satu ekor ikan berhasil lolos dan kembali ke laut. Ikan yang selamat tersebut kemudian melapor kepada rajanya (mara"diya), menyampaikan bahwa seluruh ikan telah ditangkap akibat peristiwa yang melibatkan ayam hingga habis tak bersisa. Mendengar laporan itu, mara"diya ikan menjadi sangat marah dan memutuskan untuk menemui mara"diya ayam di darat. Pertemuan antara mara"diya ikan dan mara"diya ayam berujung pada perselisihan besar. Sejak saat itu, persahabatan antara ayam dan ikan berubah menjadi permusuhan. Dari peristiwa inilah muncul keyakinan masyarakat bahwa ikan tidak lagi boleh dibiarkan bebas ketika berada di darat bersama ayam. Dalam cerita ini diyakini bahwa bulu ayam kemudian dimanfaatkan sebagai alat untuk menangkap ikan. Nelayan zaman dahulu mulai menggunakan bulu ayam sebagai umpan. Ketika bulu ayam dicelupkan ke laut, ikan akan mendekat, sehingga mudah ditangkap. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam

admin Baca
BATU TOYANG RI TANDE (BATU APUNG DI TANDE)
Lingk. Lipu, Kel. Labuang Utara, Kec. Banggae Timur, Kab. Majene

BATU TOYANG RI TANDE (BATU APUNG DI TANDE)

Diang towaine di Tande, iya dio napogau maitai ayu nanapakei meapi. Die towaine e tuomi siola kindo"na apa" kama"na mendolomi. Tuttu aloi nalandurri Batu Toyang. Ruami wattu nalandurri dio Batu Toyango maitai ayu, maitami tommuane tapi andani naissang innai dio tommuaneo. Tapi andani diissang tappa mala sissang, anna siala. Taummi naola pamboyangang, andappa diang nabengang Puang ana". Tappan lao, die muanena lambami tama di roppong maitai andeangang. Die towainee situyui dio di pepattoang mane peangimmi, anging pole di sasi. Sawa die anging madzingi-dzingini andallao masae tappa matindo di pepattoang. Tappa mangipi napolei mesa towaine sinrupa kindo"na. Pole kindo"na nabisi" lao ana"na sawa andappa diang ana"na. Tomabubeng anu di pangipinna nasiomi lamba maala dadua batu-batu keccu" mane nabawanaung di daunna batu, napatekkemi tama di rindingna dio batu. Andiang lao masae pole muanena. Pangipinna dio nacuritai lao di muanena tapi andani makanynyang bega tia muanena. Die muanenae sangga nabali/napissanni mua mambawai andeangang anna nasiomi mapparessu bainena dio andeo. Bassami die naua muanenao, ya pura ummande matindomi. Die bainenae napogaumi apa napesoang muanena. Naparessumi dio andeangang andammasae ya laomi matindo. Tapi dei bainenae massemi matindo, simata balisami naanna pangimpinna. Tappana lao subuh, nacuritangallaemmi muanena "Andaiana mala matindo simata uingarani pangipiu, harusa mambawa die lao apa-apa di pappange." Sawa samata menani bainena, die muanenae nalorangi mappogau. Ya napogaumi apa anu pura napangipi. Andiang masae lao, tappana pura napogau anu napangipiang, die bainenae massa"dingmi ingga"na diangmo tandana namattambu", tibo"omi, tiluami, mangallomi ulunna. Alhasil, malami nipauangang die o dzi biasang mua diyakini malai mambawa barakka. Die bainenae battangmi mane meana tongangmi kasi". "Pura Carita!" Terjemahan Bahasa Indonesia Dahulu kala, hiduplah seorang gadis di Kampung Tande. Setiap hari ia bekerja mencari ranting kayu untuk dijadikan kayu bakar. Ia hidup bersama ibunya karena ayahnya telah meninggal dunia. Dalam kesehariannya, gadis ini selalu melewati sebuah tempat bernama Batu Toyang saat mencari kayu. Pada suatu waktu, ketika sedang berada di Batu Toyang, ia melihat seorang laki-laki, namun tidak mengetahui siapa dirinya. Entah bagaimana ceritanya, mereka saling mengenal, kemudian menikah dan hidup bersama. Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan ini belum juga dikaruniai anak. Suatu hari, sang suami pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan. Sementara itu, si istri duduk di dekat jendela rumah. Angin sejuk bertiup dari arah laut, membuatnya tertidur di sana. Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi seorang perempuan yang diyakini sebagai ibunya. Dalam mimpi tersebut, ibunya membisikkan pesan agar ia mengambil dua batu kecil, membawanya ke tebing Batu Toyang, lalu menempelkan batu itu pada dinding batu yang curam. Tidak lama kemudian, sang suami pulang. Si istri menceritakan mimpinya, tetapi suaminya tidak begitu percaya. Suami hanya meminta istrinya memasak makanan yang dibawanya. Setelah makan bersama, mereka pun beristirahat. Namun, si istri tidak bisa tidur karena terus teringat mimpi tersebut. Menjelang subuh, ia kembali menceritakan mimpinya dengan penuh desakan, hingga akhirnya suaminya mengizinkan untuk melakukannya. Setelah melakukan ritual sesuai petunjuk dalam mimpi, tidak lama kemudian si istri merasakan tanda-tanda kehamilan, seperti mual, muntah, dan pusing. Hal ini dipercaya sebagai bukti bahwa ritual tersebut membawa berkah. Akhirnya, sang istri benar-benar mengandung dan melahirkan seorang anak. "Selesai!" Diceritakan kembali oleh Rustam

admin Baca